dedaunan di ranting cemara

KATA ORANG IA DIMAKAN BUAYA

Posted in CATATAN SENIN KAMIS by dirantingcemara on Sunday, 9 June 2013

KATA ORANG IA DIMAKAN BUAYA

Waktu saya masih SMP apa yang selalu dinanti di setiap hari menjelang sore? Berenang di Sungai Cimanuk. Mulai jam 2 siang sampai mau maghrib. Makanya kulit saya jadi item begini. Kalau musim kemarau, sungai terbesar di Jawa Barat ini kering menyisakan hamparan dasarnya yang berpasir. Di sanalah saya dan teman-teman membuat bola-bola pasir yang dikeraskan lalu diadu sama lain dengan cara menjatuhkan bola pasir itu ke bola pasir lawan. Bola yang masih utuh dan tidak pecah itulah pemenangnya.

    Biasanya kami berenang berempat: saya, adik saya, teman saya dan kakaknya. Kami punya tempat khusus berenang di sana. Dekat batu cadas yang sering jadi tempat penyeberangan bagi warga desa sebelah—Desa Bangkaloa—menuju Jatibarang. Awalnya tidak banyak yang berenang di sana, karena kami memulainya di kemudian hari banyak juga yang pada ikutan berenang di tempat itu. Dan lama kelamaan tempat itu jadi semakin dalam. Waktu saya sekolah SMA di Palimanan, kabar terakhir tempat itu telah memakan korban satu orang tenggelam. Kata orang ia dimakan buaya.

    Ada yang khas di Sungai Cimanuk yang melintasi Jatibarang ini. Di bagian sisinya ada bangunan beton panjang yang menjorok ke sungai. Tingginya bisa sampai lima meter dari permukaan air Sungai Cimanuk di saat kering. Kami sering menyebutnya “baro” atau “paku alam”. Jarak baro yang satu dengan yang lain kurang lebih 50 Meter.

Fungsi baro ini untuk menahan derasnya air agar tidak menggerus tepian sungai. Nah, biasanya baro ini jadi papan loncat tempat kami terjun bebas ke sungai. Tidak semua baro bisa jadi tempat kami terjun karena kami harus melihat-lihat lokasinya. Yang jelas-jelas dalam dan tak seorang pun mandi di sana tentu bukan jadi pilihan. Ingat, Sungai Cimanuk yang mengalir mulai dari Garut, Sumedang, Majalengka, Cirebon, dan Indramayu ini memang sering kali makan korban.

060913_1621_KATAORANGIA1.png

Beginilah saya dulu kalau loncat terjun ke sungai. Biasanya gaya batu. Sumber gambar: Sini

Selain berenang saya sering main layangan di sana, adu layangan juga. Pernah suatu saat saya terbangkan layangan tinggi-tinggi. Seng ada lawan. Makanya benang saya ulur terus. Tinggi dan semakin tinggi. Tidak terasa kalau benangnya sudah habis mentok ke kalengnya. Pas ngelamun benang lepas dari tangan, ya sudah akhirnya layang-layang itu terbang membawa kalengnya juga. Saya cuma melongo. Saya kejar tak bisa ketangkep itu benang. Yang paling bahagia adalah anak kampung sebelah yang membawa galah panjang. Dengan penuh suka cita dan kemenangan ia menangkap benang itu dengan gampangnya. Sepertinya ia ikhlas menerima rezeki nomplok itu. Saya meringis.

Kalau banjir Sungai Cimanuk ini mengerikan. Airnya deras. Tingginya sampai benar-benar mencapai permukaan tanggul paling tinggi. Ladang-ladang di pinggirannya sampai tenggelam. Baronya juga. Tak ada orang yang berani menyeberangnya. Bahkan dengan jukung (sampan) sekalipun. Tapi ini jarang terjadi.

060913_1630_KATAORANGIA3.png

Di pertigaan jalan–berwarna kuning di peta–itu rumah saya dulu. Nyebrang jalan langsung dah bisa main ke Sungai Cimanuk

Sampai sekarang saya masih merasakan bau sampah terbakar di pinggir sungai pemasok irigasi bagi kawasan Cirebon dan Indramayu ini. Bau ubi terbakar yang kami cabut dari pinggir-pinggirnya. Dan tentunya teringat dengan cemberutan ibu yang jengkel karena anak-anaknya baru pulang mefet-mefet mepet-mepet maghrib.

Saya tak tahu lagi kondisi Sungai Cimanuk tempat berenang saya dulu sekarang. Sudah lama tidak melihatnya lagi. Cuma lewat doang kalau mudik lebaran. Tapi Cimanuk sudah membuat banyak kenangan buat saya. Tak bisa terlupakan.

***

Riza Almanfaluthi

dedaunan di ranting cemara

tanpa edit sebab ngantuk

23:18 9 Juni 2018.