dedaunan di ranting cemara

Menjadi Hujan

Posted in Poem by dirantingcemara on Thursday, 6 March 2014

image

Tagged with: , , , ,

Obituary yang kupesan seminggu lalu

Posted in Poem by dirantingcemara on Friday, 27 September 2013

Obituary yang kupesan seminggu lalu

 

sang penulis doa sedang duduk-duduk
di depan rumahnya di senja yang tipis dan tua
penanya gesit menulis obituari
tintanya pelangi, pekat
suatu detik ada hitam yang menyelip
baunya mawar menjadi merpati kemana-mana
menempel di sudut kursi
di balik daun-daun
di ujung antena televisi
bahkan di lipatan tangannya yang pesulap
ah, ada yang salah tulis
ia ambil sedikit kepingan matahari
yang biasa ia simpan di saku baju
menjadikannya penghapus
dan membiarkan kertasnya penuh bola-bola api
kian mengecil dan lincah menulis sebuah nama:
aku…….

Riza Almanfaluthi

Di lantai 19

12 September 2013

14:37

 

gambar diambil dari sebuah blog.

Tagged with: , , , ,

Teh dan Cutter di Suatu Hari dengan Matahari Cuma Jadi Pajangan

Posted in Foto, Poem by dirantingcemara on Monday, 29 April 2013

2013-04-29 08.39.43

Setumpuk pekat teh dan gula pasir terajang cairan panas, menggeliat kesakitan. Uap nanahnya menguar kemana-mana terbang melayang, menyelinap, dan memberontak hingga masuk ke hidung berdebu dan minggat tanpa pamit ke langit-langit yang dengan duka-cita menyambut. Kurang ajar. Ia tak tahu kalau aku kedinginan semalam dan butuh kehangatannya. Sedetik yang baru saja lewat, kita tak tahu untuk apa kita minum teh? Merayakan senin atau membuang gulana yang sudah jadi daki di leher? Sampan di ujung dermaga kayu ini telah siap melayarkanmu, dan terjun bebas di Niagara. Selamat pagi.

 

Riza Almanfaluthi

dedaunan di ranting cemara

29 April 2013

 

 

mana minamu?

Posted in Poem by dirantingcemara on Sunday, 16 October 2011

mana minamu?

Sajakku di malam ini adalah diam yang mengelana ratusan kilometer, memasuki celah bawah pintu, merayap dinding-dinding rumahmu, menusuk lubang kunci kamar, dan membeku di depan cermin. Sebaskom air hujan dengan dua tiga riak kecil adalah berisik dari cermin yang mendadak retak. Sebuah gema: mana minamu?

***

Riza Almanfaluthi

dedaunan di ranting cemara

23.45 – 16 Oktober 2011

bakar pakuan

Posted in Poem by dirantingcemara on Tuesday, 20 September 2011

bakar pakuan

**

duduk di atas batu hitam curug cilember, aku menaruh harap pada prabu surawisesa, “bakar pakuan, agar tak ada derita.” deru debam air yang jatuh hanya jadi setetes kerikil bunga tidur.

duduk di atas batu hitam curug cilember, aku patahkan lidah, sebatang dingin menuliskan di atas lontar: aku diraja. berbilang ratusan tarikh prasasti menjadi kuncup.

bisiknya, mekarnya tak ada padamu
***

Riza Almanfaluthi

Dedaunan di ranting cemara

21.32 – 20 September 2011

K a n v a s 2

Posted in Poem by dirantingcemara on Monday, 19 September 2011

Kanvas 2

Coba tanya padaku, sosok busuk berkedok sobekan dari kitab suci, yang berjalan di setapak perkebunan teh Cianten ketika halimun berat untuk digendong di punggung.

Tak ada tanya, sekalipun. Lalu sebiji diam menjelma pohon kesunyian menyekat jabat tangan.

Tetap tangan yang hangat di dalam saku celana merasakan harum bau tanah yang kau peluk di malam sebelumnya. Aku berbisik pada pucuk-pucuk dedaunan yang basah saat kau bilang sudahlah: “hanya Affandi yang mampu melukis kanvas di senyummu.”

***

 

Riza Almanfaluthi

dedaunan di ranting cemara

akan banyak kanvas lagi

11.53—19 September 2011

 

 

 

Teh…

Posted in Poem by dirantingcemara on Sunday, 18 September 2011

Teh…

*

dengarkan:

Ada yang bertawaf dalam hatiku, tujuh putaran tamam,   ada yang berlari-lari kecil di dalam lorong-lorong benak, tujuh lintasan sempurna, ada yang menebas utuh surai sejarah, tanpa sisa.Semuanya itu tentang kau. Di waktu yang lelah berputar, di pungkasnya, aku adalah bangunan hitam yang ditinggal olehmu—masih akan ada cerita untukku, Teh?

***

Riza Almanfaluthi

dedaunan di ranting cemara

22.17 — 18 September 2011

Diunggah pertama untuk FLP Depok

Gambar dari sini.

ratkirani

Posted in Poem by dirantingcemara on Sunday, 18 September 2011

ratkirani

*

aku tuli dengan teja di barat

kau hanya bilang jangan terbang ke sana

aku buta dengan semerbak seruni

kau hanya bilang jangan sentuh ia

di bawah beringin bogor

ada banyak juntaian renjana

yang kau gantung untukku di malam itu

kau hanya bilang ada yang telah menjadi yudistira pada drupadi

–ratkirani untukmu kelopaknya jatuh satu-satu

guernica menjelma di dada

***

 

riza almanfaluthi

dedaunan di ranting cemara

00.32 – 18 September 2011

sekarat

Posted in Poem by dirantingcemara on Saturday, 13 August 2011

sekarat


kata orang
aku tak layak mengharap debu cintaMu
apatalah lagi mengharap remah kasih sayangMU
aku adalah pendosa di bawah kaki gunung maksiat

kata orang
aku tak layak berteduh di pohon maafMU
apatalah lagi berenang di samudera ampunanMu
aku adalah pendosa berbaju kesombongan

kata orang
aku tak layak mencium bau surgaMu
apatalah lagi meminum telaga KautsarMu
aku adalah pendosa buat para tetangga

tapi kataMu

rahmatMU adalah bilangan yang tak terhingga

pada hambaMu yang terpilih

oh, di tepian maut yang mencekik leher

aku sungkurkan hidupku yang tinggal sedikit

aku tak mau menjadi fir’aun

***

Riza Almanfaluthi

Dedaunan di ranting cemara

Diikutkan dalam lomba menulis puisi Al Amanah Fair Kementerian Keuangan

 

Gambar dari sini.

m u h a s a b a h

Posted in Poem by dirantingcemara on Wednesday, 10 August 2011

muhasabah


saat KAU tiada di hati

gelisah itu sudah pasti,

nelangsa apalagi,

sepi mesti,

sedih tak pernah menyisih,

perih tibalah merintih

apalagi setelah ini?

sajadah panjang dicari-cari

sepertiga malam ditelikung berdiri

untuk qalb menjadi suci

putih

itu jika taubatku KAU kehendaki

aduuuh

jika tak

hiduplah yang perlu disesali

Rabb, bisakah aku dapatkan pintu surgawi

dengan kantung penuh duniawi

bekal yang tanpa isi

di hari ini

dalam kesendirian di lain sisi

sebuah introspeksi

menjadi setengah mati

untuk menggapai cintamu Ilahi

terimalah

terimalah

terimalah

***

 

Riza Almanfaluthi

10.53 Lantai 19 24 Juni 2011

Diikutkan dalam Lomba Menulis Puisi Al Amanah Fair Kementerian Keuangan