dedaunan di ranting cemara

The Final Destination

Posted in CATATAN SENIN KAMIS by dirantingcemara on Thursday, 16 February 2012

The Final Destination

Empat bulan sudah surat elektronik itu terkirim kepada seseorang. Itu sebelas hari sebelum kami berangkat meninggalkan Indonesia untuk menapaktilasi jejak-jejak ayahanda para nabi, Ibrahim AS. Sekadar penyesalan dan permintaan maaf atas sebuah tingkah laku. Agar tanpa beban kepergian kami itu dan musnahlah semua yang menjadi mimpi buruk saya selama bertahun-tahun ini. Tapi yang ada adalah senyap dari jawab. Tak ada balas. Persis akhir baratayudha di Kurusetra.

Di sana, di sebuah tempat yang tiada hijab antara diri, doa, dan Sang Penerima Harap, dengan membayangkan wajahnya saya tak henti-henti meminta agar ia di suatu saat dapat mengikhlaskan dan memaafkan atas segala salah. Dan…doa itu tergantung di langit. Enggan untuk turun ke bumi menuju the final destination. Atau sedang menunggu saat yang tepat? Persis Pasopati yang siap lepas dari busur Arjuna menuju tubuh Adipati Karna.

Empat bulan sudah berlalu, kemarin, balasan surat itu muncul. Sebuah kesyukuran yang tiada terkira, ia sudi memaafkan saya. Sebenarnya sudah dari dulu katanya, tapi tak pernah terucap dan tersampaikan. Atau saya yang sudah lupa? Persis Amangkurat I yang lupa sejarah kalau bapaknya—Sultan Agung—adalah musuh sejati VOC, sedangkan ia adalah karib dari kumpeni.

Memaafkan jelas dan yakin tak bisa direkayasa secara artifisial dengan sekadar kata-kata. Ia membutuhkan energi besar untuk melupakan sesuatu yang menyakitkan yang pernah terjadi. Dan Muhammad Sang Teladan adalah contoh mutlak dari sebuah sosok yang gemar untuk menaburkan ribuan butir-butir maaf kepada semua yang telah memberikan rasa sakit berpuncak dan derita berlipat-lipat kepada dirinya di suatu ketika, di masa lalu. Tanyakan kepada sejarah atas kesaksian Abu Sufyan dan Wahsyi.

Memaafkan adalah Shalahuddin yang membiarkan ribuan Kristen pergi dari benteng Yerusalem dengan tenang. Sedangkan 88 tahun sebelumnya, di kota tua itu, darah Muslim dan Yahudi bahkan Kristen menjadi banjir, amis, dan anyir. Dibuang percuma oleh kebiadaban yang dibawa dari Eropa.

clip_image001

Memaafkan adalah upaya keras membuang ke dasar laut motivasi dendam berkepanjangan. Asal ia keluar dari hati yang putih. Dan itu bukan laku sia-sia. Ia mendamaikan dan menyatukan dua pribadi atau bahkan dua bangsa. Kalau saja memaafkan menjadi pakaian kebesaran buat Kurawa bahkan buat Pandawa sekalipun, walau hanya topeng, maka perang besar itu tidak akan pernah terjadi.

Sungguh layaklah seorang sahabat Nabi saw mendapat sebuah predikat yang membuat sahabat yang lain menjadi bukan apa-apa dan siapa-siapa: Ahli Surga. Tiga hari penyelidikan seorang sahabat yang lain menegaskan sahabat berpredikat itu tak mempunyai amalan utama sedikitpun. Kerja akhirat yang ia lakukan adalah biasa dilakukan oleh kebanyakan orang. Tetapi ada satu yang menjadi pembeda. Dan pembeda itulah yang menentukan: ia memaafkan semua orang di saat malam telah larut, saat kantuk akan mendapatkan tempatnya.

Kemarin itu, seseorang telah menjadi Shalahuddin abad ini—bagi saya tentunya. Ia membiarkan kerak-kerak pekat pelan-pelan keluar tenang dari kota suci hati dan pikiran saya. Untuk jangan kembali. Agar bersih dengan tatanan dan era baru. Kibar panji terima kasih telah berdiri tegak di atas sudut-sudut benteng. Hilang sudah langit hitam. Akan selalu ada ketenangan setelah badai.

Terima kasih kepadanya. Semoga Allah membalas dengan surga. Setelahnya, kapan saya akan menjadi Shalahuddin? Atau kapan pula Anda semua menjadi Shalahuddin buat saya?

***

Riza Almanfaluthi

dedaunan di ranting cemara

sepi menjadi pecundang

11.54 16 Februari 2012

Gambar diambil dari sini.

KARENA SA’D BERDOA

Posted in Opini by dirantingcemara on Wednesday, 19 December 2007

Suatu hari salah seorang sahabat Rasulullah, Sa’d bin Abi Waqqash, berkata pada Rasulullah SAW: “Wahai Rasulullah, doakan saya agar saya menjadi orang yang senantiasa dikabulkan doanya oleh Allah.” Lalu Rasulullah berkata: “Wahai Sa’d, Perbaikilah makananmu (makanlah makanan yang halal) niscaya engkau akan menjadi orang yang selalu dikabulkan doanya.”
Dan Allah mengabulkan doa Rasulullah SAW. Sepeninggal Rasulullah, saat Sa’d menjadi Gubernur Kufah di Irak pada masa pemerintahan Umar bin Khatthab ia diadukan oleh warganya kepada Khalifah yang berada di Madinah. Dengan sebuah pengaduan bahwa ia tidak beres saat menjadi imam sholat mereka.
Sahabat Umar tidak serta merta mempercayai pengaduan itu, karena ia tahu benar tentang kemuliaan akhlak Sa’d. Ia mengutus beberapa sahabat terpercayanya untuk mengecek kebenaran laporan tersebut. Berangkatlah beberapa sahabat dari Madinah menuju Kufah. Sampai di sana mereka langsung bekerja melakukan investigasi dengan mendatangi masjid-masjid yang ada di Kufah.
Para ahlul masjid saat ditanya tentang Sa’d maka mereka menjawab bahwa Sa’d adalah orang yang adil dan mereka senantiasa mendoakan kebaikan untuk Sa’d. Hampir semua masjid di kota Kufah berpendapat yang sama tentang Sa’d. Terkecuali satu masjid yang berbeda dan salah satu jama’ahnya berdiri dan berkata:
“Tentang Sa’d, Wallahi, dia adalah orang yang tidak adil, tidak merata dalam pembagian ghanimah, dan tidak pernah pergi bersama pasukannya.”
Mendengar perkataan orang tersebut, Sa’d langsung berdiri dan berkata: “Ya Allah, jikalau orang ini berbicara secara dusta, riya’ dan ingin pamer, maka panjangkanlah umurnya, kekalkanlah kefakirannya, dan tetapkanlah atas dia fitnah.”
Seorang perawi meriwayatkan ia melihat orang yang didoakan oleh Sa’d itu betapa panjang umurnya. Alisnya menjulur hingga menutupi kedua matanya karena tua rentanya. Pekerjaan orang itu hanya menghadang para gadis di jalan-jalan kota Kufah, seraya menggoda mereka, dan berucap: “aku adalah orang yang tidak tahu diri karena do’a Sa’d.”
Subhanallah, Sa’d menjadi orang yang senantiasa dikabulkan doanya oleh Allah SWT. Karena ia makan dari makanan yang halal. Maka salah satu syarat agar doa kita senantiasa dikabulkan oleh Allah adalah demikian.
Pernah merasa betapa banyak doa yang kita panjatkan tetapi tak satu pun jua yang terkabul? Ini bisa menjadi sarana muhasabah bagi kita sendiri, bahwa ternyata: “makanan yang halal—baik dzat dan cara memperolehnya—menjadi tolok ukur diterimanya doa dan seluruh ibadah kita”, kata Imam Ibnu Katsir. Begitu pula sebaliknya.
Sebuah perenungan memerangkap kesenyapan dan menjadikannya lebih senyap karena saya sedang berfikir: “Akankah saya seperti Sa’d? Semoga apa yang selalu Allah kabulkan kepada saya bukanlah sebuah pembiaran. Ampunilah aku ya Allah.”
***
“Seorang laki-laki yang telah berkelana jauh dengan rambutnya yang kusut masai dan pakaian yang penuh debu, ia menengadahkan tangannya ke langit sambil berdo’a; ‘Ya Allah, ya Allah’, sedang makanannya dari yang haram, pakaiannya dari yang haram, dan dibesarkan dengan makanan haram, bagaimana Allah akan mengabulkan do’anya itu”. (HR Muslim).
“Janganlah salah seorang dari kamu mengatakan; ‘Ya Allah, ampunilah aku jika Engkau menghendaki, rahmatilah aku jika Engkau menghendaki’, tetap hendaklah berkeinginan kuat dalam permohonannya itu karena sesungguhnya Allah tiada sesuatu pun yang memaksa-Nya untuk berbuat sesuatu.” (HR. Abu Dawud).

Maraji:
1. Cambuk Hati, ‘Aidh Al Qorni
2. Makanan Haram, Ummu Fathin, Republika, 19 Mei 2006

Riza Almanfaluthi
dedaunan di ranting cemara
11:35 02 Oktober 2007

Tagged with: , ,

FALATEHAN

Posted in History by dirantingcemara on Tuesday, 18 December 2007

FALATEHAN

Ada lagi perbincangan menarik antara kyai dan santrinya. Tidak lagi tentang wanita idaman si Santri. Tapi, kini si Santri mulai memperbincangkan hal lainnya. Tentang sebuah sejarah masa lalu yang masih suram bagi dirinya.
Dan perbincangan itu tidak dilakukan di waktu ba’da subuh seperti dulu saat pagi masih bermandikan cahaya. Mereka berbincang-bincang saat mereka rehat di saung di tengah sawah setelah berlumpur-lumpur ria membersihkan tanaman padi dari rumput-rumput liar yang mengganggu.
Santri : Ki, kemarin dalam sebuah diskusi, seorang teman masih saja percaya bahwa sesungguhnya Fatahillah yang menakhlukkan Sunda Kelapa adalah Sunan Gunung Jati itu sendiri. Padahal dari sejarah yang saya baca dan juga dari film yang saya tonton dulu, Fatahillah dan Sunan Gunung Jati adalah orang yang berbeda. Mohon penjelasannya Ki?
Kyai : Kok tanyanya ke saya?
Santri : Ah, saya tahu Kyai sangat paham betul tentang sejarah ini. Di lemari buku Kyai saya lihat banyak sekali buku-buku sejarah. Apalagi kalau tidak salah Kyai juga keturunan Elang Cirebon.
Kyai : Kalau sudah tahu ada buku-buku sejarah di sana, mengapa tidak kau baca buku itu sendiri?
Santri : He…he…he…saya lagi malas baca Kyai. Tinggal mendengarkan saja dari Kyai kan enak.
Kyai : Jang…jang…Santri model kayak kamu inilah yang biasanya enggak akan eksis nanti setelah keluar dari pesantren. Dan hanya menjadi korban dari imperialisme dan kolonialisme gaya baru. Inginnya serba instan, cepat, dan ending oriented. Proses terabaikan.
Santri : Iya Kyai, saya kan sudah mengaku. Tapi cobalah Kyai sempatkan berbagi kepada saya tentang itu. Bisa kan Kyai?
Kyai : Tapi untuk kali ini saja. Lain kali kau bisa membacanya langsung. Tak perlu bertanya kepada saya lagi. Kecuali memang ada hal-hal yang tidak kau mengerti atau pertanyaan yang diawali “mengapa”.
Santri : Insya Allah Kyai.
Kyai : Seringkali orang menyamakan Fatahillah dengan Syarif Hidayatullah atau Sunan Gunung Jati. Padahal keduanya merupakan orang yang berbeda. Namun masih mempunyai kekerabatan dari hasil perkawinan. Fatahillah adalah menantu dari Syarif Hidayatullah, Penguasa Cirebon dan Banten. Syarif Hidayatullah sendiri adalah cucu Raja Pajajaran yang amat berkuasa pada masanya yaitu Prabu Siliwangi. Awalnya dari perkawinan Prabu Siliwangi dengan Nyai Subang Larang, lahirlah Raden Walangsungsang, Nyai Lara Santang, dan Raja Sengara.
Setelah meninggalnya ibu mereka, Raden Walangsungsang dan adik perempuannya belajar agama Islam kepada Syaikh Datu Kahfi di Gunung Ngamparan Jati. Mereka diperintahkan gurunya untuk pergi haji ke Mekkah setelah tiga tahun belajar bersamanya.
Santri : Hebat juga, anak-anak dari Prabu Siliwangi memilih keluar dari keraton dan memilih Islam sebagai petunjuk hidupnya.
Kyai : Ohya tentu, karena pada saat itu Islam menjadi tamaddun yang diperhitungkan oleh bangsa-bangsa di dunia. Walaupun Andalusia baru jatuh, tetapi muncul kekhalifahan baru yang masih membuat peradaban Islam masih tetap bercahaya cemerlang, yaitu Kekhalifahan Utsmani.
Santri : Ngomong-ngomong tamaddun itu apa?
Kyai : Peradaban. Lanjut. Jadi seperti zaman sekarang, kalau sudah disebut nama Amerika kita langsung membayangkannya sebagai negara paling modern, maju, kaya, dan pusat ilmu pengetahuan. Begitu pula dengan saat itu, Islam menjadi sesuatu yang diperbincangkan di banyak tempat. Apalagi dengan para pedagang Muslim yang mengembara ke berbagai tempat di belahan dunia lainnya untuk berniaga sekaligus membawa misi Islam.
Juga Mekkah dan Madinah walaupun tidak lagi menjadi sebuah pusat kekuasaan politik Islam sejak Khalifaturrasyidin terakhir, tetapi sebagai pusat kesempurnaan rukun Islam dan napak tilas sirah nabawiyyah maka kedua tempat itu adalah sesuatu tempat yang harus mereka kunjungi sebagai muallaf yang bersemangat dalam berislam. Sebagaimana kota-kota Islam terkenal lainnya seperti Kairo, Damaskus, Baghdad, dan Istanbul. Wajar kedua anak Prabu Siliwangi ini pun pergi ke tanah Arab.
Santri : Terus bagaimana Kyai?
Kyai : Setelah menunaikan haji Raden Walangsungsang kembali ke tanah Jawa dan menjadi juru labuhan di Pasambangan, yang masih merupakan kekuasaan Pajajaran. Pasambangan kemudian berkembang menjadi Cirebon, dan Raden Walangsungsang memperoleh gelar Pangeran Cakrabuana.
Sedangkan Nyai Lara Santang dilamar oleh bangsawan Arab dari Bani Hasyim, yaitu Maulana Sultan Mahmud (Syarif Abdullah). Dan melahirkan anak yang ia beri nama Syarif Hidayatullah. Setelah dewasa Syarif memilih berdakwah ke Jawa daripada menetap di tanah Arab. Lalu ia pergi ke Cirebon menemui pamannya. Setelah pamannya wafat, Syarif menggantikan kedudukan pamannya dan berhasil meningkatkan status Cirebon menjadi sebuah kesultanan dan dikenal sebagai Sunan Gunung Jati.
Santri : Wah, Sunan Gunung Jati keturunan Suku Quraisy juga ya Ki?
Kyai : Dari silsilahnya demikian. Lalu setelah Cirebon resmi berdiri sebagai sebuah kerajaan Islam dan lepas dari pengaruh Pajajaran, ia meluaskan pengaruhnya kepada kerajaan-kerajaan yang belum mengenal Islam seperti Majalengka, Kuningan, Kawali (Galuh), Sunda Kelapa, dan Banten. Dan ini didukung oleh Demak.
Berhubung pada saat itu Demak sedang berkonfrontasi dengan Portugis, dan Pajajaran bersekutu dengan Portugis dalam penguasaan perdagangan rempah-rempah, juga dikarenakan Banten—yang merupakan wilayah Pajajaran—merupakan pelabuhan yang strategis dan ramai yang dikunjungi oleh para pedagang dari dalam dan luar negeri, maka menarik minat Demak untuk menguasai Banten.
Diutuslah panglima perang Kerajaan Demak sekaligus menantunya sendiri yaitu Fatahillah untuk menyerbu Banten. Sebelum ke Banten, Fatahillah mampir ke Cirebon ke rumah mertuanya.
Pasukan Demak dan Cirebon bergabung di bawah pimpinan Sunan Gunung Jati , Fatahillah, Dipati Keling, dan Dipati Cangkuang menuju Banten. Di sana, anaknya Sunan Gunung Jati bernama Maulana Hasanuddin yang menjabat sebagai bupati juga melakukan pemberontakan kepada penguasa Pajajaran, sehingga mereka tidak menemui kesulitan untuk merebut Banten.
Di Banten, Sunan Gunung Jati meletakkan dasar bagi pengembangan Islam dan perdagangan orang-orang Islam di Banten pada tahun 1525 atau 1526. Ketika ia pulang ke Cirebon, Banten diserahkan kepada kembali anaknya Maulana Hasanuddin. Di tahun 1527 itulah atas prakarsa Sunan Gunung Jati penyerangan ke Sunda Kelapa dilakukan. Dipimpin juga oleh Fatahillah.
Santri : Panjang benar nih Kyai menerangkan. Sebenarnya bagi Demak Sunan Gunung Jati itu pengaruhnya seberapa besar sih?
Kyai : Oh tentu pengaruhnya besar sekali. Menurut Babad setempat yaitu Babad Purwaka Caruban Nagari yang ditulis oleh Pangeran Arya Cerbon pada tahun 1720, Sunan Gunung Jati adalah salah satu dari Wali Songo. Tentang ini kamu pasti sudah tahu Jang. Ia sangat dihormati oleh raja-raja lain di Jawa karena kepemimpinan dan keilmuannya sehingga sering disebut pula sebagai Raja Pandita. Ia pun adalah salah satu pembuat soko guru Masjid Demak, selain Sunan Ampel, Kalijaga, dan Bonang. Sekarang kamu sudah mengerti belum?
Santri : Alhamdulillah, Ki. Saya jadi paham kaitan antara Fatahillah dengan Sunan Gunung Jati. Mereka bukan orang yang sama.
Kyai : Tapi jangan salah loh, beberapa tahun yang lalu koran nasional sekaliber Republika pernah menulis bahwa Fatahillah itu adalah Sunan Gunung Jati. Argumentasinya adalah bahwa Sunan Gunung Jati punya banyak nama di antaranya adalah Muhammad Nurudin, Syekh Nurullah, Sayyid Kamil, Bulqiyah, Syekh Madzkurullah, Syarif Hidayatullah, Makdum Jati. Sedang menurut babad-babad (cerita), nama asli Sunan Gunung Jati sangatlah panjang, yaitu Syekh Nuruddin Ibrahim Ibnu Israil, Syarif Hidayatullah, Said Kamil, Maulana Syekh Makdum Rahmatullah. Jadi bisa jadi bahwa Fatahillah itu adalah Falatehan, dan Falatehan itu adalah Sunan Gunung Jati.
Tapi kalau saya baca dari tulisan itu amatlah lemah. Karena sisi historisnya digambarkan dengan alur yang loncat-loncat dan tidak bisa dimengerti. Jadi saya lebih memilih bahwa mereka bukanlah orang yang sama.
Santri : Kenapa nama Fatahillah juga disebut sebagai Falatehan, Ki?
Kyai : Salah seorang orientalis Barat yang terkenal bernama Dr BJO Schrieke, mengatakan bahwa dari hasil penyelidikannya nama Falatehan itu mungkin berasal dari perkataan Arab: Fatahillah. Kayaknya sudah cukup saya menerangkan ini kepada kamu. Kamu tinggal baca referensi yang lain.
Santri : Insya Allah tadi sudah cukup. Nanti kalau saya belum puas tentang sejarah Cirebon dan Banten saya akan baca di perpustakaannya Kyai. Boleh ‘kan Kyai?
Kyai : Boleh-boleh saja Jang. Tapi ingat, jangan melirik-lirik si Ai yah…
Santri : Lah dulu Kyai yang menawarkan. Saya boleh dong mengenal lebih dekat?
Kyai : Ah, inget aja kamu ya Jang. Ah pokoknya jangan nyerempet-nyerempet. Luruskan niat mau belajar. Bukan untuk yang lain.
Siang pun masih terik dengan matahari yang membakar. Sawah sudah mulai menyapa mereka agar menuntaskan pekerjaannya hingga senja kan jelang.
***
Maraji’:
1. http://www.republika.co.id/suplemen/cetak_detail.asp?mid=5&id=146425&kat_id=105&kat_id1=147&kat_id2=185
2. Sejarah Emas Muslim Indonesia, Sabili, No.9 Tahun X 2003;
3. Ensiklopedi Islam, Jilid 1 dan 5, Cetakan Keenam, PT Ictiar Baru Van Hoeve, Jakarta, 1999

Riza Almanfaluthi
dedaunan di ranting cemara
Citayam, 31 Juli 2007

Tagged with: , ,

Istriku: Aku Minta Izin Berpoligami

Posted in Poligami, Sejumput Rintih by dirantingcemara on Friday, 7 December 2007

21.7.2005 – Istriku: Aku minta ijin padamu untuk berpoligami (ternyata aku bukan mentari)

Poligami, salah satu perbendaharaan kata yang jauh dari pencapaian pemikiranku. Indah tak tergapai. Suci namun tak ringan. Pahala jika adil. Mengutip perkataanku sendiri di era kampus dulu: “tak terlihat tak tersentuh”.
Diskusi poligami pun selalu mentok dengan “andai itu terjadi, biarkan aku pulang ke rumah orang tuaku”. Lalu pada akhirnya aku pun harus berkata: “aku belum (aku harap takkan pernah) bisa berpisah denganmu.”
Lalu dengan ini: “Walaupun kau tidak rela, jangan sekali pun keluar dari bibirmu yang manis, bahwa kau menentangnya. Karena sesungguhnya ia adalah suatu hukum yang niscaya adanya, qoth’i. Ia pun adalah salah satu fragmen indah kehidupan Teladan Agung Rosululloh SAW.”
Tapi Sayangku…., itu bukan pembenaran untukku. Karena ia butuh syarat berat untuk memenuhinya. Pikirmu aku sudah punya akhlaq sekapasitas para sahabat nabi yang mereka semuanya berpoligami? Ah, tidak…aku tidak pernah membayangkan dapat dibandingkan dengan mereka. Namun aku pun punya cita-cita tertinggi meniru segala akhlaq mereka.
Tiba-tiba aku berpikir, kelak, saat kau mengizinkanku. “Akankah aku siap…? Entahlah…, lalu pada akhirnya aku pun harus berkata: “aku belum (aku harap takkan pernah) bisa berpisah denganmu.”
******
“Hei…pagi ini apa yang sedang kau lamunkan?”sisi lainku berkata. “Kenapa kau memikirkan ini…?”
” Ah tidak, soalnya tadi pagi aku menerima email lucu sebuah puisi dari seorang kawan di milis. Tentang poligami. Jadi merangsang syaraf kecil di sebelah kananku untuk sedikti menulis ini.”
“Bisa kau perdengarkan puisi itu…?” pinta sisi lainku.
“Oh tentu…buatmu tiada yang bisa aku tolak”.
Puisi suami yg minta ijin poligami :

Istriku,
jika engkau bumi, akulah matahari
aku menyinari kamu
kamu mengharapkan aku
ingatlah bahtera yg kita kayuh, begitu penuh riak gelombang
aku tetap menyinari bumi, hingga kadang bumi pun silau
lantas aku ingat satu hal
bahwa Tuhan mencipta bukan hanya bumi, ada planet lain yg juga mengharap
aku sinari
Jadi..
relakanlah aku menyinari planet lain, menebar sinarku
menyampaikan faedah adanya aku, karna sudah kodrati
dan Tuhan pun tak marah…

Balasan Puisi sang istri …

Suamiku,
bila kau memang mentari, sang surya penebar cahaya
aku rela kau berikan sinarmu kepada segala planet yg pernah TUHAN
ciptakan karna mereka juga seperti aku butuh penyinaran dan akupun juga
tak akan merasa kurang dengan pencahayaanmu
TAPIIIIIIII..
bila kau hanya sejengkal lilin yg berkekuatan 5 watt, jangan bermimpi
menyinari planet lain!!!
karena kamar kita yg kecil pun belum sanggup kau terangi
bercerminlah pd kaca di sudut kamar kita, di tengah remang-remang
pencahayaanmu yg telah aku mengerti utk tetap menguak mata
coba liat siapa dirimu… MENTARI atau lilin ? Plis deh gitu lho …
——Yuandi Oktarinda——
aku pikir aku bukan lah MENTARI, aku hanya sejengkal lilin 5 watt belaka (bahkan dalam krisis BBM ini aku terasa makin padam)
duh Rabb…
dedaunan di ranting cemara
dengan terburu-buru
di antara waktu yang memburuku untuk menyelesaikan SPMKP
08:08, 21 Juli 2005

Tagged with: , ,

Alhambra: Kenangan Sebuah Peradaban

Posted in History by dirantingcemara on Friday, 7 December 2007

20.7.2005 – ALHAMBRA: KENANGAN SEBUAH PERADABAN
Merahnya Alhambra, nama yang menggelitik. Tergerak dengan nama itu saya coba membuka berbagai rujukan antara lain Ensiklopedi Islam Jilid I terbitan PT Ichtiar Baru Van Houve (1999:107).
Ternyata diketahui bahwa Alhambra adalah sebuah istana dan benteng yang merupakan bangunan monumental paling indah dari peninggalan arsitektur Islam di kota Granada, Spanyol Selatan, dan salah satu bukti historis dari ketinggian peradaban dan kesenian Islam.
Dalam buku itu disebutkan bahwa nama Alhambra berasal dari kata Arab hamra, bentuk jamak dari ahmar (merah). Menurut suatu pendapat, istana itu disebut Alhambra karena tanah tempat berdirinya berwarna merah. Adapula yang berpendapat, istana itu dinamai demikian karena dindingnya terbuat dari batu merah. Pendapat lain lagi menyatakan, nama itu diambil dari al-Ahmar, nama pendirinya.
Saya buka kembali rujukan lain yakni buku yang berjudul Sejarah Kesenian Islam Jilid I terbitan PT Bulan Bintang (1978:226) yang ditulis oleh C. Israr ternyata isinya hampir sama dengan yang ada di ensiklopedi tersebut. “Jangan-jangan rujukan ensiklopedi tersebut adalah buku ini”, pikir saya.
Saya buka Ensiklopedi Islam jilid V yang ada halaman bibliografinya, ternyata benar rujukan ensiklopedi ini ternyata buku tulisan C Israr dengan tahun terbitan yang sama dengan buku yang saya punyai. Akhirnya saya berpikir lagi, “ensiklopedi yang gagah dan mahal itu ternyata dibangun oleh berpuluh-puluh literature yang mungkin saja kecil, sudah kumal, dan lapuk—saya membeli buku tersebut dalam sebuah perburuan buku-buku bekas di Senen, hanya dengan harga Rp7.500,00 saja di tahun 2001.
Saking luas dan indahnya Alhambra dibangun secara bertahap selama lebih dari 100 tahun pada abad ke-14 dan ke-15. Konstruksi pertama dibangun oleh Sultan Muhammad bin Al Ahmar I (1257-1323), keluarga Bani al-Ahmar atau Bani NAsr yang masih keturunan Sa’id bin Ubadah salah seorang sahabat Rosululloh SAW dari suku Khajraj di Madinah. Kemudian bangunan itu diperluas oleh sultan-sultan sesudahnya. (Ensiklopedi Islam I, 1999:107).
Saya beralih ke ensiklopedi lain yakni Ensiklopedi Keluarga terbitan PT Cipta Mitra Sanadi tahun 1991 di halaman 24 disebutkan tentang pendirian Alhambra yang berbeda dari ensikolepedi pertama tadi. Kalu disini disebutkan Alhambra didirikan penguasa-penguasa Islam Granada pada abad ke-13 dan ke-14.
Alhambra dilukiskan sebagai perbentengan yang megah, tetapi didalamnya seperti istana bidadari yang luas, dengan halaman yang indah, pancuran dan tiang-tiang yang ramping-ramping, hiasan halus pada dinding dan langit-langit, pepeohonan dan bunga-bungaan. Banyak bagian istana asli yang sudah lenyap kini, tetapi beberapa bangunan yang paling terkenal seperti Istana Singa, tidak berubah banyak dari rancangan asli arsitek Islam dahulu.
Di buku lain yang ditulis oleh A. Hasjmy yaitu Sejarah Kebudayaan Islam terbitan PT Bulan BIntang tahun 1995 pada halaman 205 disebutkan Alhambra adalah “kota” yang termasyhur di kota Granada yang sampai sekarang masih ada dan menjadi objeknya kaum turis. Kota ini dibangun oleh Ibnu Ahmad pada pertengahan abad ke-8 Hijriah di atas tanah seluas 35 hektar. Di sini terlihat perbedaan luasnya, kalau dilihat di Ensiklopedi Islam maka istana atau benteng ini hanya dibangun pada tanah yang seluas 14 hektar saja. Allohua’lam.
Sedangkan pada buku yang ditulis oleh Joesoef Sou’yb berjudul Sejarah Daulat Umayyah di Cordova Jilid II terbitan PT Bulan Bintang tahun 1977 di halaman 14 ditulis:
“bahwa Emir Abdurrahman I di Andalusia membangun istana yang megah dan masjid agung yang terkenal di Cordova itu, yaitu Masjid Alhambra. IA mengeluarkan pembiayaan yang sedemikian besarnya bagi pembangunan masjid agung itu, yang belum sempat selesai pada saat dia wafat, tetapi diselesaikan kemudian oleh puteranya Emir Hisyam I (788-796M).
Kesalahan kecil di awal buku ini adalah menjelaskan bahwa Alhambra terletak di Cordova, sedangkan pada halaman 64 buku itu di bawah foto yang melukiskan keindahan salah satu bangunan Alhambra dijelaskan Alhambra adalah bangunan termasyhur di Granada. Jadi memang Alhambra terlerak di Granada bukan di Cordova walaupun sama-sama terletak di selatan Andalusia.
Inilah ruangan-ruangan yang ada di Alhambra:
1. Sala De Los Reyes : Ruangan Al-Hukmy;
2. Rouda : Taman Bunga;
3. Sala De Los Abencerrayes : Ruangan Abi Siraj;
4. Patio De Los Leones : Taman Singa;
5. Sala De Los Dos Hermanas : Ruangan Ukhtain (Ruangan Dua Perempuan Bersaudara);
6. Mirador De Lindaraja : Ruangan Bas-Sufra’;
7. Jardin De Lindaraja : Taman As-Sufra’;
8. Torre : Menara;
9. Sala De Las Camas : Ruangan Istirahat;
10. Patio De Los Cireeses : Taman;
11. Sala De Los Banos : Ruangan Bersinar;
12. Patia De La Alberca : Kolom AlBirkah;
13. Sala De Barca : Ruangan Berkah (ingat tentang kesebelasan Barcelona…?)
14. Sala De Comares : Ruangan Duta;
15. Oratorio : Mesjid;
16. Torre : Menara.
Itulah Alhambra yang indahnya tiada tara, sampai oleh Victor Hugo—pujangga barat yang terbesar itu membayangkan keindahannya dalam sebuah sajak (Israr,1978: 226):
Alhambra oo Alhambra
Hanya mungkin dalam mimpi
Atau istana mambang dan peri
Yang telah menjelma
Bila purnama raya
Memandikanmu dengan cahaya
Gemerlapan berkejaran
Riak air berdesiran
Bisik hati akan bergema
Oo alangkah indahnya
Pangeran India menulis Alhambra dengan hanya sebuah kalimat pendek:
Andaikata firdaus ada di dunia
Maka firdaus itu ialah Alhambra
Sesungguhnya kalau diceritakan satu persatu mengenai keindahan dan kemewahan Alhambra, sudah tentu akan memerlukan halaman yang banyak karena masing-masing bangunan yang ada di sana mempunyai keindahan, kemewahan, dan sejarah yang berlain-lainan.
Itulah Alhambra, yang pada tahun 1492 jatuh ke tangan umat Kristen dan menjadi istana Kristen, pada saat Ferdinan dan Isabella memaksakan kepada setiap pemeluk agama Islam di sana, baik pun Muslim pribumi maupun Muslim non pribumi, supaya memeluk agama Kristen atau angkat kaki dengan pakaian di tubuh saja. Begitupun juga terhadap seluruh orang Yahudi.
Ingat tentang inkuisisi? Peristiwa pembakaran ribuan muslim yang tetap bertahan dengan akidahnya.
Biasanya pada bagian terrakhir tentang Alhambra, tentang Andalusia ini, saya pertama-tama harus menguatkan hati ini karena tidak tega untuk membaca keruntuhan sebuah peradaban. Karena di setiap keruntuhan itu selalu ada darah ribuan muslim terbantai, di aniaya, diperkosa dan lain sebagainya. PAhit dan memilukan bagi seorang muslim Tetapi dari “guru yang bengis tapi baik” itu yakni pengalaman sejarah itu, banyak butir pelajaran bisa dipungut.
Oh…ya saya teringat sebuah artikel yang saya sudah lupa dapatkan darimana. Ketika salah seorang wisatawan di Indonesia datang mengunjungi Alhambra, petugas di sana langsung berterus terang bahwa dirinya masih tetap muslim dan sudah turun temurun. Dia langsung bercerita karena percaya bahwa Indonesia adalah negara yang mayoritas penduduknya muslim. Dan ia sampai saat ini, untuk melakukan sholat di Alhambra masih tetap harus sembunyi-sembunyi. Ia pun masih menyembunyikan identitas keislamannya.
Subhanalloh….di setitik debu peninggalan peradaban, ada mutiara yang selalu menyinarkan kilaunya.
Itulah Alhambra, sekelumit….
Jadi apakah Alhambra yang sudah merah haruskah dijelaskan merahnya yang sudah merah. Merahnya Alhambra ….merahnya merah…..(sebuah buku sastra yang pernah saya baca waktu SMP dulu).
Allohuta’ala a’lamu bishshowab.
dedaunan di ranting cemara
dalam waktu yang mulai menusuk
20 Juli 2005

Tagged with: ,