JAKARTA – INDRAMAYU 13,5 JAM
JAKARTA – INDRAMAYU 13,5 JAM
Jum’at, 18 September 2009
Dari kilometer 0 tepat pukul 05.56 WIB kami memulai perjalanan mudik ini. Sedari awal kami sudah niatkan bahwa mudik ini buat ibadah. Bukan untuk apa-apa. Jadi perjalanan panjang pun harus diiringi dengan ibadah itu. Maka kami pun bertekad walaupun Islam memberikan keringanan untuk tidak berpuasa bagi para musafir, kami tidak akan memanfaatkan fasilitas itu.
Dengan banyak alasan tentunya. Yang paling utama adalah rasa beratnya mengganti puasa di luar bulan ramadhan. Di saat orang lain tidak berpuasa dan miliu kebaikan tidak sekental di bulan Ramadhan. Alasan lain, kami ingin merasakan kenikmatan yang luar biasa di saat berbuka puasa di tengah perjalanan mudik. Bagaimana dengan nikmatnya nanti akan saya ceritakan kemudian.
Dari rumah sampai tol Cikampek perjalanan kami lancar. Walaupun selalu diberitakan dari radio yang saya pantau bahwa di ujungnya akan terdapat kemacetan yang mengular panjang. Tetapi kami bertekad perjalanan itu jangan sampai dibelokkan dari jalur yang tidak pernah saya lalui, misalnya melalui jalur alternatif Sadang.
Dan betul Allah selalu memudahkannya, ketika kendaraan-kendaraan lain diarahkan ke jalur alternatif, eh…pas untuk kendaraan saya tetap diarahkan ke jalur utama. Dua kali saya mengalaminya. Tetapi resikonya benar-benar berat.
Continue Reading Add comment Monday, 28 September 2009
SHADAQAH YANG TERCEDERAI
SHADAQAH YANG TERCEDERAI
إنّ الحمد لله نحمده ونستعينه ونستغفره، ونعوذ بالله من شرور أنفسنا
ومن سيّئات أعمالنا، من يهده الله فلا مضلّ له، ومن يضلل فلا هادي له،
وأشهد أن لا إله إلا الله وحده لا شريك له، وأشهد أنّ محمدا عبده
ورسوله
أما بعد
Alhamdulillah, segala puji hanya untuk Allah Rabb semesta ‘alam yang telah mengizinkan kepada kita untuk bermuwajahah, yang telah memperkenankan kita untuk saling mengikatkan tali kasih sayang di antara kita, dan yang telah memberikan kesempatan kepada kita untuk saling nasehat menasehati dalam kebenaran dan kesabaran. Alhamdulillah yang telah memberikan kepada kita nikmat hidayah dan sepercik iman, yang dengan itu pula Allah telah menggerakkan hati dan melangkahkan kaki kita untuk selalu mengerjakan amal kebajikan.
Sholawat serta salam semoga senantiasa tercurah kepada junjungan kita, qudwah hasanah kita, murabbi umat, panglima besar revolusi kemanusiaan, nabi Muhammad saw, yang akhlaknya adalah alqur’an, yang paling dermawan, yang paling berani, yang memberi bagaikan orang yang tidak pernah takut akan kefakiran, yang rumahnya senantiasa terbuka bagi siapapun yang singgah, yang senantiasa memberi makan orang yang lapar dari makanannya, yang pernah mengatakan kepada kita semua: “aku tidak diutus untuk (melontarkan) kutukan, tetapi sesungguhnya aku diutus sebagai (pembawa) rahmat.” 1)
Rahmat Allah inilah, ya ayyuhal Ikhwah, yang sedang kita rasakan di bulan ramadhan ini, bulan pelipatgandaan amal. Dan dirasakan oleh umat beriman lainnya. Betapa tidak dengan datangnya bulan ramadhan ini, kita yang tidak pernah baca Al-qur’an di luar bulan ramadhan, di bulan suci ini kita kembali kepada al-qur’an untuk membacanya. Kita yang tidak pernah shalat malam di luar bulan ramadhan, di bulan penuh keberkahan ini kita mendirikan malam-malamnya setidaknya melaksanakan shalat tarawih dan witirnya. Kita yang tidak pernah datang ke masjid, berbondong-bondong kita ke masjid di bulan penuh rahmat ini. Dan kita yang dikuasai dengan kebakhilan di luar ramadhan, dengan datangnya ramadhan mubarok ini kebakhilan gantian menjadi budak kita dengan tanda berupa entengnya kita dalam mengeluarkan shadaqah.
Continue Reading 3 comments Thursday, 3 September 2009
MBAH SURIP DAN ANAK SAYA
MBAH SURIP DAN ANAK SAYA
Kematian Mbah Surip bagi saya biasa-biasa saja. Tidak semengejutkan dengan kematian Michael Jackson. Dan memang tak bisa untuk dibanding-bandingkan antara mereka berdua. Tapi sebagai seorang muslim saya tetap mendoakan semoga Allah menerima segala amal Mbah Surip, mengampuni segala dosanya, dan menempatkannya di tempat yang terbaik.
Kemarin sore, dari kantor, saya menelepon anak saya yang ada di rumah untuk menanyakan apakah baret pramukanya sudah terbeli atau belum? Yang menerima telepon adalah Ayyasy, anak kedua saya, baru kelas 2 SD, satu sekolah dengan anak sulung saya, Haqi.
“Bi, tadi pulang mobil jemputannya ziarah dulu ke makamnya Mbah Surip,” katanya.
“Memangnya makamnya deket dengan sekolah Ayyasy?”tanya saya.
“Enggak jauh. Tadi habis do’a di kuburannya masak Haqi nyanyi ‘tak gendong’!” kata Ayyasy dengan polos.
Itu adalah sedikit pembicaraan kami.
Pagi ini, seperti biasa saya berangkat ke kantor. Dari rumah di Citayam naik motor ke Stasiun Depok untuk naik Kereta Rel Listrik (KRL) Ekspress jurusan Tanah Abang dan Bekasi. Di KRL sambil menggelar kursi lipat saya membaca Koran Media Indonesia yang harganya cuma seceng (Rp1.000,00), harga khusus kereta. Lumayan buat menghabiskan waktu di perjalanan.
Kereta berhenti di Stasiun Cawang, dan saya bersama dengan banyak kawan pajak anggota KRL Mania pindah peron untuk melanjutkan perjalanan dengan KRL yang menuju Stasiun Kalibata. Sambil menunggu KRL yang segera tiba saya melihat-lihat koran yang dijual pedagang koran yang ada di peron tersebut. Satu persatu saya baca headline masing-masing koran tersebut. Berita Antasari dan Mbah Surip masih mendominasi.
Dan mata saya langsung terpaut pada judul besar yang terpampang di halaman pertama Harian Umum Berita Kota, Kamis 06 Agustus 2009, headlinenya adalah Anak Mbah Surip Ngamuk. Tapi yang membuat saya terkeju dan tidak percaya adalah foto yang terpampang di bawah judul besar itu. Di sana ada foto anak saya yang sedang berdoa di makamnya Mbah Surip.
“Haqi Masuk Koran!!!” seruku pada teman sebelah. Langsung saja saya beli koran tersebut. Di sana tergambar sejumlah pelajar SD Al-Hikmah yang sedang berdoa di makam Mbah Surip. Anak saya kedua dari kiri. Yang ketiganya adalah anak tetangga saya, Abdan—hari Ahad sore kemarin dia gabung pertama kalinya di kelompok pengajian anak-anak di rumah saya.
Langsung saya kirim pesan pendek kepada omnya Haqi yang masih ada dirumah. Balasannya bahkan mengejutkan, Omnya Haqi bilang Haqi tadi masuk di berita pagi SCTV. Saya coba lihat di situsnya SCTV untuk mengunduh video itu, tapi gak bisa. Nanti sajalah.
Bagi saya, terus terang saja, ini sesuatu yang mengejutkan. He…he…he…
Sekarang kematian Mbah Surip jadi tidak biasa bagi saya.
Turut berduka cita buat keluarga Mbah Surip.
Itu saja dari saya.
Ini fotonya:
dedaunan di ranting cemara
riza almanfaluthi
11.25 06 Agustus 2009
2 comments Thursday, 6 August 2009
THAGHUT ITU KECIL!!!
THAGHUT ITU KECIL!!!
Sebenarnya kisah ini sudah pernah saya baca, dulu, dulu sekali. Kisah tentang detik-detik menjelang digantungnya Sayyid Quthb. Dan pagi ini saya menemukannya kembali artikel tersebut saat saya sedang berselancar di dunia maya. Kali ini kesan yang saya tangkap begitu berbeda. Ada bening-bening kaca di mata saat membacanya lagi. Apatah lagi saat membaca apa yang diucapkan oleh Sayyid Quthb ketika ia menolak penawaran pengampunan dari rezim Mesir yang berkuasa saat itu.
Berikut saya kutip sebagian kisah itu.
Di tengah suasana ‘maut’ yang begitu mencekam dan menggoncangkan jiwa itu, aku menyaksikan peristiwa yang mengharukan dan mengagumkan. Ketika tali gantung telah mengikat leher mereka, masing-masing saling bertausiyah kepada saudaranya, untuk tetap tsabat dan shabr, serta menyampaikan kabar gembira, saling berjanji untuk bertemu di Surga, bersama dengan Rasulullah tercinta dan para Shahabat. Tausiyah ini kemudian diakhiri dengan pekikan, “ALLAHU AKBAR WA LILLAHIL HAMD!” Aku tergetar mendengarnya.
Continue Reading 3 comments Thursday, 30 July 2009
BERTEMU MARK TWAIN
BERTEMU MARK TWAIN
Pedagang buku bekas di Stasiun Kalibata itu sudah barang tentu hapal dengan muka saya. Setiap sore sambil menunggu kereta rel listrik (KRL) yang menuju Bogor datang, saya selalu berdiri di lapaknya yang menjejerkan banyak buku dan majalah.
Beberapa tahun lalu ketika saya masih melaju dengan naik motor dan hanya sesekali naik dengan KRL, saya sempat membeli buku bagus di sana. Buku cetakan tahun 1986 itu berjudul Kerajaan Petrodolar Saudi Arabia
yang ditulis oleh
Robert Lacey. Sampai kemarin buku itu masih ada satu eksemplar lagi.
Kini setelah tiga bulan lebih menjadi pengguna KRL Depok Kalibata pulang pergi, rutinitias melihat-lihat buku itu selalu saya lakukan. Memang saya cuma melihat-lihat saja. Karena sampai kemarin sore saya belum menemukan buku yang benar-benar bagus. Walaupun murah harganya—berkisar antara 10 ribu hingga 20 ribu rupiah—saya tak mau membuang uang dengan percuma. Kalau menuruti hawa nafsu, saya inginnya membeli banyak buku di sana tapi saya khawatir buku tersebut tak terbaca dan hanya jadi aksesoris lemari belaka. Makanya saya selektif sekali. Saya hanya akan membeli buku yang benar-benar menarik dan pasti dibaca sampai selesai.
Continue Reading 5 comments Friday, 5 June 2009
JADILAH IKAN SEGAR!!!
JADILAH IKAN SEGAR!!!
Ayyuhal Ikhwah, kalau saja Ki Dalang tidak membuka kotak surat elektronik kemarin sore, bisa saja Ki Dalang tidak tahu bahwa pada hari ini adalah waktunya Ki Dalang kasih itu yang namanya taujih. Terimakasih kepada Kang Mas Sukeri yang telah mengingatkan Ki Dalang untuk nanggap pertunjukkan di Shalahuddin.
Ki Dalang semalaman tidak tahu lakon apa yang kudu dimainkan untuk taujih ini. Buka-buka buku selemari tak mampu memberikan cahaya pada ujung terowongan gagasan. Kemampuan Ki Dalang untuk nanggap semakin menurun karena jarang diasah. Masalahnya pada waktu yang dimiliki Ki Dalang—sebenarnya ini cuma alasan yang dibuat-buat, karena betapa banyak orang yang mampu untuk menuliskan ide di kepalanya dalam waktu sempit yang dipunyainya.
Tapi pada akhirnya Ki Dalang tahu ketika berkecimpung langsung di masyarakat, energi seakan tercurah dan tersedot untuk memikirkan dan mempersiapkan lahirnya prajurit-prajurit atau kader-kader yang mampu menegakkan syari’at Allah tegak di tengah-tengahnya. Dan mengesampingkan untuk sementara menuangkan kreatifitas di atas kertas.
Ayyuhal Ikhwah inilah yang membedakan Al-Banna dengan Al-Albani. Al-Albani, ahli hadits itu banyak melahirkan karya tulis tetapi tidak melahirkan kader. Sebaliknya Al-Banna sebagaimana pengakuannya ia tidak menulis buku tapi menulis laki-laki. Artinya ia tidak ingin terfokus melahirkan buku-buku yang berisikan pikiran, gagasan, dan seluruh pengalamannya. Tetapi yang lebih ia perhatikan adalah bagaimana melahirkan kader-kader yang akan meneruskan perjuangan yang telah ia rintis; perjuangan yang sesungguhnya tak akan pernah redup.
Ki Dalang yakin Al-Albani dengan melahirkan banyak buku tidak serta merta lalu ia meninggalkan diri dari medan laga perjuangan pembentukan kader-kadernya. Tidak. Begitupula dengan Hasan Al-Banna meskipun pernah mengatakan bahwa ia tidak menulis buku, tapi bukan berarti ia sama sekali tidak menulis. Ia juga menulis buku untuk mengabadikan pemikiran dan pengalamannya. Beberapa buku yang menjadi warisan untuk Islam khususnya kader Ikhwan, adalah buku hasil dari kumpulan ceramah dan khutbahnya. Diantaranya adalah: Ahâdîtsul Jum’ah, Da’watunâ, Ilâ asy-Syabâb, Da’watunâ fî Thaurin Jadîd dan masih banyak yang lainnya. 1)
Continue Reading 2 comments Wednesday, 3 June 2009
ALI SEMBIRING TAUBAT
ALI SEMBIRING TAUBAT
Ali Sembiring cuma seorang tukang ojek. Tapi jangan sangka, ia dulu mantan orang kaya. Kontraktor beken di kota itu. Bahkan sempat menjadi anggota DPRD. Tapi seiring dengan pertikaian penentuan nomor urut sesama anggota partai yang mengantarkan dirinya menjadi golongan masyarakat terhormat, akhirnya ia keluar dari partai yang membesarkan dirinya itu.
Bersamaan dengan itu ia menclok ke partai lain. Ia berjuang dan membiayai sendiri agar dapat menduduki kembali kursi empuk wakil rakyat. Tapi ia bertemu dengan calo politik yang kerjaannya cuma bisa menipu dirinya. Ia dijanjikan ribuan suara yang akan memilihnya dari calo itu. Dan ia percaya hingga menggelontorkan puluhan juta kepadanya. Pada hari-H pencoblosan (karena pada saat itu belum ada istilah contreng) ternyata di TPS dengan calo politik sebagai saksinya itu bahkan ia tidak mendapatkan satu suara pun.
Tragis. Ia gagal menjadi wakil rakyat. Tidak berhenti di situ ia diutak-atik oleh kejaksaan negeri. Kali ini pada kasus korupsi yang menimpa dirinya dan sebagian sejawatnya. Ia pun sempat merasakan dinginnya tembok hotel prodeo. Dengan kekuatan uang yang masih tersisa ia bebas. Tapi ditebus dengan menjual sebelas rumahnya. Plus bisnisnya yang ikut hancur-hancuran. Kini dia hanya bisa mengontrak rumah petak. Kawan-kawannya sudah banyak yang meninggalkan dirinya.
Continue Reading 4 comments Monday, 1 June 2009
SITU CINTA
Situ Cinta
Cinta,
malam ini akan aku peluk engkau
dengan rindu yang telah menguning di hati
tanpa ada dengkul yang mencoba menghujat langit
kerana tak ada pelangi di gulitanya
Cinta,
cukup sekian kata yang berpeluh
dari aku yang mengukir lima hurufmu
di atas air situ
tanpa ada titik,koma, dan tanda seru
*
riza almanfaluthi
dedaunan di ranting cemara
25 Juni 2009
1 comment Monday, 25 May 2009
KPU BERBENAH SETELAH DITERIAKI
KISRUH DPT BOM WAKTU MASA LALU
Setelah banyak yang memprotes tentang Daftar Pemilih Tetap (DPT) pemilu legislatif (Pileg) 2009 dan dituduh bersekongkol dengan penguasa bahkan akan ada upaya gugatan kepadanya, Komisi Pemilihan Umum (KPU) mulai berbenah diri. Untuk pemilihan presiden nanti KPU akan berusaha memperbaiki DPT-nya dengan cara memberikan kesempatan seluas-luasnya bahkan semudah-mudahnya agar mereka yang berhak mengikuti pesta demokrasi dapat benar-benar ikut secara riil berpartisipasi.
Antara lain dengan melibatkan Ketua RW dan Ketua RT dalam penyusunannya. Yang semula hanya stelsel aktif, yang berarti pemilih secara aktif mendaftarkan diri sebagai pemilih ke kelurahan, kini KPU berusaha pula menggunakan stelsel pasif yaitu dengan melibatkan para Ketua RT dan RW tersebut untuk mendatangi para calon pemilih yang belum terdaftar. Bentuknya adalah dengan menyebarkan formulir yang harus diisi oleh calon pemilih tersebut. Dan untuk menyukseskannya KPU akan menyosialisasikannya kepada masyarakat melalui spanduk-spanduk. Diharapkan dengan hal ini tidak lagi ada suara-suara miring terhadap DPT untuk pemilihan presiden nantinya.
Continue Reading 3 comments Tuesday, 21 April 2009







