Posts filed under 'Tarbiyah'
SHADAQAH YANG TERCEDERAI
SHADAQAH YANG TERCEDERAI
إنّ الحمد لله نحمده ونستعينه ونستغفره، ونعوذ بالله من شرور أنفسنا
ومن سيّئات أعمالنا، من يهده الله فلا مضلّ له، ومن يضلل فلا هادي له،
وأشهد أن لا إله إلا الله وحده لا شريك له، وأشهد أنّ محمدا عبده
ورسوله
أما بعد
Alhamdulillah, segala puji hanya untuk Allah Rabb semesta ‘alam yang telah mengizinkan kepada kita untuk bermuwajahah, yang telah memperkenankan kita untuk saling mengikatkan tali kasih sayang di antara kita, dan yang telah memberikan kesempatan kepada kita untuk saling nasehat menasehati dalam kebenaran dan kesabaran. Alhamdulillah yang telah memberikan kepada kita nikmat hidayah dan sepercik iman, yang dengan itu pula Allah telah menggerakkan hati dan melangkahkan kaki kita untuk selalu mengerjakan amal kebajikan.
Sholawat serta salam semoga senantiasa tercurah kepada junjungan kita, qudwah hasanah kita, murabbi umat, panglima besar revolusi kemanusiaan, nabi Muhammad saw, yang akhlaknya adalah alqur’an, yang paling dermawan, yang paling berani, yang memberi bagaikan orang yang tidak pernah takut akan kefakiran, yang rumahnya senantiasa terbuka bagi siapapun yang singgah, yang senantiasa memberi makan orang yang lapar dari makanannya, yang pernah mengatakan kepada kita semua: “aku tidak diutus untuk (melontarkan) kutukan, tetapi sesungguhnya aku diutus sebagai (pembawa) rahmat.” 1)
Rahmat Allah inilah, ya ayyuhal Ikhwah, yang sedang kita rasakan di bulan ramadhan ini, bulan pelipatgandaan amal. Dan dirasakan oleh umat beriman lainnya. Betapa tidak dengan datangnya bulan ramadhan ini, kita yang tidak pernah baca Al-qur’an di luar bulan ramadhan, di bulan suci ini kita kembali kepada al-qur’an untuk membacanya. Kita yang tidak pernah shalat malam di luar bulan ramadhan, di bulan penuh keberkahan ini kita mendirikan malam-malamnya setidaknya melaksanakan shalat tarawih dan witirnya. Kita yang tidak pernah datang ke masjid, berbondong-bondong kita ke masjid di bulan penuh rahmat ini. Dan kita yang dikuasai dengan kebakhilan di luar ramadhan, dengan datangnya ramadhan mubarok ini kebakhilan gantian menjadi budak kita dengan tanda berupa entengnya kita dalam mengeluarkan shadaqah.
Continue Reading 3 comments Thursday, 3 September 2009
THAGHUT ITU KECIL!!!
THAGHUT ITU KECIL!!!
Sebenarnya kisah ini sudah pernah saya baca, dulu, dulu sekali. Kisah tentang detik-detik menjelang digantungnya Sayyid Quthb. Dan pagi ini saya menemukannya kembali artikel tersebut saat saya sedang berselancar di dunia maya. Kali ini kesan yang saya tangkap begitu berbeda. Ada bening-bening kaca di mata saat membacanya lagi. Apatah lagi saat membaca apa yang diucapkan oleh Sayyid Quthb ketika ia menolak penawaran pengampunan dari rezim Mesir yang berkuasa saat itu.
Berikut saya kutip sebagian kisah itu.
Di tengah suasana ‘maut’ yang begitu mencekam dan menggoncangkan jiwa itu, aku menyaksikan peristiwa yang mengharukan dan mengagumkan. Ketika tali gantung telah mengikat leher mereka, masing-masing saling bertausiyah kepada saudaranya, untuk tetap tsabat dan shabr, serta menyampaikan kabar gembira, saling berjanji untuk bertemu di Surga, bersama dengan Rasulullah tercinta dan para Shahabat. Tausiyah ini kemudian diakhiri dengan pekikan, “ALLAHU AKBAR WA LILLAHIL HAMD!” Aku tergetar mendengarnya.
Continue Reading 3 comments Thursday, 30 July 2009
BERTEMU MARK TWAIN
BERTEMU MARK TWAIN
Pedagang buku bekas di Stasiun Kalibata itu sudah barang tentu hapal dengan muka saya. Setiap sore sambil menunggu kereta rel listrik (KRL) yang menuju Bogor datang, saya selalu berdiri di lapaknya yang menjejerkan banyak buku dan majalah.
Beberapa tahun lalu ketika saya masih melaju dengan naik motor dan hanya sesekali naik dengan KRL, saya sempat membeli buku bagus di sana. Buku cetakan tahun 1986 itu berjudul Kerajaan Petrodolar Saudi Arabia
yang ditulis oleh
Robert Lacey. Sampai kemarin buku itu masih ada satu eksemplar lagi.
Kini setelah tiga bulan lebih menjadi pengguna KRL Depok Kalibata pulang pergi, rutinitias melihat-lihat buku itu selalu saya lakukan. Memang saya cuma melihat-lihat saja. Karena sampai kemarin sore saya belum menemukan buku yang benar-benar bagus. Walaupun murah harganya—berkisar antara 10 ribu hingga 20 ribu rupiah—saya tak mau membuang uang dengan percuma. Kalau menuruti hawa nafsu, saya inginnya membeli banyak buku di sana tapi saya khawatir buku tersebut tak terbaca dan hanya jadi aksesoris lemari belaka. Makanya saya selektif sekali. Saya hanya akan membeli buku yang benar-benar menarik dan pasti dibaca sampai selesai.
Continue Reading 5 comments Friday, 5 June 2009
JADILAH IKAN SEGAR!!!
JADILAH IKAN SEGAR!!!
Ayyuhal Ikhwah, kalau saja Ki Dalang tidak membuka kotak surat elektronik kemarin sore, bisa saja Ki Dalang tidak tahu bahwa pada hari ini adalah waktunya Ki Dalang kasih itu yang namanya taujih. Terimakasih kepada Kang Mas Sukeri yang telah mengingatkan Ki Dalang untuk nanggap pertunjukkan di Shalahuddin.
Ki Dalang semalaman tidak tahu lakon apa yang kudu dimainkan untuk taujih ini. Buka-buka buku selemari tak mampu memberikan cahaya pada ujung terowongan gagasan. Kemampuan Ki Dalang untuk nanggap semakin menurun karena jarang diasah. Masalahnya pada waktu yang dimiliki Ki Dalang—sebenarnya ini cuma alasan yang dibuat-buat, karena betapa banyak orang yang mampu untuk menuliskan ide di kepalanya dalam waktu sempit yang dipunyainya.
Tapi pada akhirnya Ki Dalang tahu ketika berkecimpung langsung di masyarakat, energi seakan tercurah dan tersedot untuk memikirkan dan mempersiapkan lahirnya prajurit-prajurit atau kader-kader yang mampu menegakkan syari’at Allah tegak di tengah-tengahnya. Dan mengesampingkan untuk sementara menuangkan kreatifitas di atas kertas.
Ayyuhal Ikhwah inilah yang membedakan Al-Banna dengan Al-Albani. Al-Albani, ahli hadits itu banyak melahirkan karya tulis tetapi tidak melahirkan kader. Sebaliknya Al-Banna sebagaimana pengakuannya ia tidak menulis buku tapi menulis laki-laki. Artinya ia tidak ingin terfokus melahirkan buku-buku yang berisikan pikiran, gagasan, dan seluruh pengalamannya. Tetapi yang lebih ia perhatikan adalah bagaimana melahirkan kader-kader yang akan meneruskan perjuangan yang telah ia rintis; perjuangan yang sesungguhnya tak akan pernah redup.
Ki Dalang yakin Al-Albani dengan melahirkan banyak buku tidak serta merta lalu ia meninggalkan diri dari medan laga perjuangan pembentukan kader-kadernya. Tidak. Begitupula dengan Hasan Al-Banna meskipun pernah mengatakan bahwa ia tidak menulis buku, tapi bukan berarti ia sama sekali tidak menulis. Ia juga menulis buku untuk mengabadikan pemikiran dan pengalamannya. Beberapa buku yang menjadi warisan untuk Islam khususnya kader Ikhwan, adalah buku hasil dari kumpulan ceramah dan khutbahnya. Diantaranya adalah: Ahâdîtsul Jum’ah, Da’watunâ, Ilâ asy-Syabâb, Da’watunâ fî Thaurin Jadîd dan masih banyak yang lainnya. 1)
Continue Reading 2 comments Wednesday, 3 June 2009
USTADZ DAN KELEDAI
USTADZ DAN KELEDAI
Malam ini saya bangun tidak biasanya. Pukul 01.40 WIB. Mungkin ini dikarenakan saya tidur tidak terlalu larut. Ada yang saya pikirkan memang. Sesuatu yang amat mengganjal dan ingin saya tuliskan di sini. Sebuah fenomena seminggu jelang pemilu 2009 yang dilakukan oleh para ustadz, guru, kyai, habib atau panggilan kehormatan lainnya dalam strata masyarakat kita kepada orang yang mempunyai kapasitas mengajarkan kebaikan atau nilai-nilai agama.
Tidaklah masalah bila mereka mengajak orang untuk memilih calon anggota legislatif (caleg) yang menurut mereka ideal. Karena banyak para caleg mendompleng ketenaran mereka. Ada poster caleg dari salah satu partai politik yang menampilkan tokoh-tokoh keagamaan mereka. Tidak masalah sih. Tapi sungguh ironi jika dengan menggencet saudara-saudara muslim lainnya. Dengan menyeru untuk tidak memilih partai ini dan partai itu. Orang ini dan itu. Dibilang pemerkosalah, antimaulidlah, antiyasinanlah, antitahlilanlah, munafiklah, dan masih banyak lagi yang lainnya di hadapan ribuan jama’ahnya.
Fitnah, cacian, makian, hinaan, gossip, ghibah pun bertaburan keluar dari mulutnya yang senantiasa menyenandungkan dzikir-dzikir maulid Nabi SAW. Apatah lagi dengan serius menyebarkan selebaran-selebaran fitnah itu di angkot-angkot kepada masyarakat umum. Ya Allah ya Robbi.
Aih…entah kemana ayat-ayat Al-Qur’an yang ia hafal dan ia berusaha transfer untuk ditiru oleh jama’ahnya. Bukankah seorang ulama hendaknya menunjukkan keteladanan dan ketinggian akhlak? Kalau saya jadi ustadz itu saya takut untuk melakukannya? Mengapa? Karena beberapa sebab ini:
Saya takut dengan apa yang saya lontarkan dari mulut saya dan belum jelas kebenarannya itu nanti akan menyebabkan banyak orang yang tersakiti dan terzalimi. Dan doa’ dari orang-orang yang terzalimi tidak ada hijab antara dirinya dengan Rabbnya.
Bukankah ayat-ayat Al-Qur’an sudah banyak menjelaskan cara-cara yang terbaik dalam menerima suatu berita, fatabayyanu, periksalah dengan teliti agar tidak terjadi suatu penyesalan.
Bukankah pula dalam kitab mulia itu kita sesama saudara beriman dilarang untuk merendahkan segolongan saudara-saudara kita yang lain dikarenakan belum tentu kita lebih baik dari mereka bahkan bisa jadi kita lebih buruk dari mereka.
Bukankah sudah dibilang pula bahwa kita kudu menjauhi kebanyakan purba sangka, karena sebagian purba sangka adalah dosa Dan janganlah mencari-cari keburukan orang dan janganlah menggunjingkan satu sama lain. Adakah seorang diantara kita yang suka memakan daging saudaranya yang sudah mati? Maka tentulah kita merasa jijik kepadanya.
Saya khawatir ketika saya melakukan semua fitnahan itu, cacian itu, hinaan itu, ejekan itu maka ketika itu tidak benar dengan apa yang saya tuduhkan maka semuanya akan kembali kepada diri saya lagi. Na’udubillah.
Sahabat Ibnu Umar ra berkata: Rasulullah saw pada suatu ketika naik mimbar, lalu dengan suara lantang beliau memanggil: “Wahai orang yang beriman hanya dengan lisan, dan perkataan iman itu tidak sampai di hati, janganlah kamu menyakiti kaum muslimin dan jangan pula membuka rahasia mereka. Barangsiapa membuka rahasia sesama muslim, maka Allah akan membuka rahasia dirinya. Dan barangsiapa suka membuka rahasia orang lain, pasti rahasia dirinya akan terbuka dengan lebih keji sekalipun rahasia itu berada di dalam perut binatang kendaraannya.” (HR. Tirmidzi).
Dan terakhir yang saya takutkan adalah hisab di yaumil akhir, ketika optimis tiket ke surga sudah ada di tangan dan tinggal berusaha melangkahkan kaki saya ke surga-Nya Allah ternyata dihambat dengan tuntutan dari banyak orang yang disakiti dengan lisan saya waktu di dunia. Akhirnya pengadilan yang sebenar-benarnya pengadilan itu akan bertambah lama lagi di sana. Satu hari di sana seperti 1000 tahun di dunia. Allah Karim.
Ya Allah saya hanya meminta kepada-Mu janganlah engkau jadikan aku keledai yang menggendong banyak kitab di atas punggungnya, atau seperti manusia yang banyak hafalan ayat Alqur’an dalam tempurung otak tetapi tidak diamalkan. Bukankah murka-Mu sungguh besar?
Hasbunallah wa ni’mal wakiil… Cukuplah Allah menjadi Penolong kami dan Allah adalah sebaik-baik Pelindung.
Ni’mal maula wani’mannashiir… Dia adalah sebaik-baik Pelindung dan sebaik-baik Penolong.
***
Maraji’: 3-173 dan 8:40 serta 22:47
riza almanfaluthi
dedaunan di ranting cemara
catatan sepertiga malam terakhir
03:00 04 April 2009
1 comment Monday, 6 April 2009
JANGAN KAYAK ANJING
JANGAN SEPERTI ANJING YANG MEMAKAN MUNTAHANNYA
Dir, seorang al-akh dari kami, hidupnya serba kekurangan. Sampai ia punya anak lima tak punya rumah untuk ditempati. Selama ini ia hanya menempati rumah yang tidak ditinggali oleh al-akh yang lainnya. Tapi hafalannya banyak, juga aktivitas dakwahnya jangan ditanya. Ia siap untuk berkeringat bahkan berdarah-darah kalau diminta untuk memasang panji-panji dakwah di seantero Pabuaran.
Suatu ketika ia terpaksa untuk menjual telepon genggamnya (HP) untuk sekadar menyambung hidup. Otomatis banyak al-akh yang membutuhkan tenaganya tidak bisa menghubunginya. Komunikasi pun terputus berbulan-bulan. Alhamdulillah ada dana dari kami—tepatnya dana dari teman kami di Jakarta guna kepentingan dakwah di Pabuaran—untuk membelikannya sebuah HP murah. Yang terpenting ia bisa dihubungi dan kembali beraktivitas kembali untuk dakwah.
Lalu kami serahkan HP baru itu kepadanya. Beberapa minggu sebelumnya tanpa sepengetahuan kami ternyata Akh Dir juga sudah menerima pemberian al-akh lainnya sebuah HP untuk digunakan olehnya. Walhasil ia memiliki dua HP saat ini.
Senin pagi, hari libur memperingati Maulid Nabi Muhammad SAW, ada sebuah syuro ikhwah Pabuaran. Di sana tercetus ide dari saya untuk meminta kembali HP tersebut darinya dan diberikan kepada al-akh lainnya yang kebetulan hilang dua hp yang ia miliki saat sholat Jum’at di Istiqlal. Karena saya berpikir HP itu adalah untuk kemaslahatan dakwah maka demi kemaslahatan dakwah yang lebih luas lagi maka HP itu akan lebih berguna lagi di tangan al-akh yang lainnya. Pun, saya berpikir Al-Akh Dir masih punya HP yang satunya lagi. Tapi syuro tidak mengagendakan ide saya ini sampai ke sebuah keputusan. Tidaklah mengapa bagi saya.
Siangnya saya tidur siang. Baru kali itu selama tiga hari libur panjang saya menyempatkannya. Sore hari saya bangun. Sambil masih terbengong-bengong karena kesadaran belum juga penuh—mungkin ruh saya yang bepergian selama tidur tadi belum sepenuhnya merasuki tubuh—saya duduk di meja makan. Di sana ada kitab Riyadhus Shalihin jilid 2 karangan Imam Nawawi. Iseng saya membukanya. Sekali buka mata saya langsung terantuk pada sebuah judul subbab dalam kitab itu. Subhanallah. Apa coba?
Judulnya? Makruh Menarik Kembali Sesuatu Yang Telah Diberikan. Hurufnya kapital semua dan ditebalkan. Saya membaca dua hadits Rasulullah SAW yang ada di sana. Berikut haditsnya:
Dari Ibnu Abbas ra. bahwasanya Rasulullah saw bersabda: “Orang yang menarik kembali pemberiannya, bagaikan anjing yang memakan muntahannya.” (HR. Bukhari dan Muslim). Dalam riwayat lain dikatakan: “Perumpamaan orang yang menarik kembali sedekahnya, bagaikan anjing yang muntah kemudian mencari kembali tumpahannya (muntahannya) lantas dimakannya.” Dalam riwayat lain dikatakan: “Orang yang menarik kembali pemberiannya adalah bagaikan orang yang memakan muntahannya.”
Hadits lainnya. Dari Umar bin Khaththab ra. ia berkata: “Saya menyedekahkannya seekor kuda kepada seseorang yang berjuang di jalan Allah, tetapi kuda itu disia-siakan olehnya, maka saya bermaksud membelinya dan saya berprasangka bahwa ia mau menjualnya dengan harga murah, kemudian saya menanyakan hal itu kepada Nabi saw., beliau lantas bersabda: “Janganlah kamu membeli dan janganlah kamu menarik kembali sedekahmu itu, walaupun ia memberikan kepadamu dengan harga satu dirham, karena sesungguhnya orang yang menarik kembali sedekahnya, bagaikan orang yang memakan kembali muntahannya. (HR. Bukhari dan Muslim)
Coba bayangkan anjing yang sedang memakan muntahannya. Jijay banget gitu lohhhh (tolong mengucapkannya dengan gaya anak muda zaman sekarang, o-nya diperlebar, h-nya dipanjangkan agar terdengar desahannya). Bahkan kalau membeli kembali sedekah yang kita berikan pun dianggap sama dengan laku binatang tadi.
Benar-benar nih Allah memberi teguran kepada saya langsung. Pas banget. Pagi bicara masalah ini. Sore ditunjukkan jalannya. Sekali kebet. Ada dua peringatan itu. Ustadz yang ada di sono pernah bilang, “jangan berlebihan dengan sesuatu yang mubah karena akan menjerumuskan diri kepada hal yang makruh. Jangan berlebihan dengan sesuatu yang makruh karena akan menjerumuskan diri kepada hal-hal yang haram.” Nah loh…
Satu saja dari saya akhirnya: “jangan kayak anjing”.
riza almanfaluthi
dedaunan di ranting cemara
17:41 09 Maret 2009
maulid nabi muhammad saw
3 comments Tuesday, 10 March 2009
KEMBANG API PETAKA
KEMBANG API PETAKA
Kamis Malam
Tengah malam itu, sendiri saya berdiri di selasar masjid, di atas ketinggian. Menyaksikan pemandangan indah percikan-percikan kembang api yang menghiasi pergantian tahun baru masehi. Nun jauh di sana terdengar pula suara terompet saling bersautan meningkahi deru musik dan kegembiraan yang tampak dari orang-orang yang bersengaja untuk melek dan mengenyangkan perut dengan sebiji dua biji jagung bakar, satu potong atau dua potong ayam bakar, atau secuil dua cuil potongan daging kambing guling.
Kesendirian mengakibatkan saya begitu menikmati pemandangan indah penuh warna di atas langit yang bergemintang. Saya memang terbangun di tengah malam itu beberapa saat sebelum detik-detik pergantian tahun mulai bergulir. Karena suara ledakan kembang api yang membahana tentunya. Tapi teman saya yang menemani mabit di masjid tetap bergeming merenangi lautan mimpinya. Tak tergugah.
Pada akhirnya sambil tetap menatap keindahan itu saya terbawa kepada sebuah perenungan. Sebuah ironi. Di sini, ketika semua orang berlomba-lomba untuk menghiasi langit dengan percikan api maka muaranya adalah kegembiraan, kesenangan, dan kebahagiaan. Tapi, puluhan ribu kilometer ke arah barat daya Indonesia, di Jalur Gaza, dalam waktu yang sama, percikan api yang terbang ke angkasa bukanlah sebuah muara kebahagiaan tetapi adalah sebuah tanda petaka dan kepedihan. Ia adalah tanda luncuran mortir atau rudal yang akan menghantam rumah mereka atau rumah tetangga mereka. Atau diri mereka sendiri. Hingga bayi-bayi mereka , anak-anak mereka, istri-istri mereka, kakek-nenek mereka, suami-suami mereka terkapar di jalanan dengan bagian tubuh yang terpotong-potong atau menjadi satu dengan timbunan bagian-bagian gedung lainnya.
Allah Karim. Tega nian berpesta dan menari di atas luka saudara-saudaranya. Tragedi kebiadaban Israel itu terulang kembali hingga mewarnai hari-hari dan malam-malamnya. Tayangan-tayangan di televisi membuat terbelalak mata dunia akan kebiadaban itu. Tak terasa air mata pun jatuh menetes. Dan tak ada yang bisa diperbuat oleh saya yang cuma berdiri terperangah sambil berucap: “Allahummansur mujaahidiina wa ikhwana fi Filistin”.
Jum’at Siang
Sang ustadz yang seharusnya menjadi khotib sholat jum’at di masjid kami itu ternyata tidak datang hingga waktunya tiba. Tatapan mata jama’ah mengarah kepada saya—seperti sebuah permintaan—untuk bangkit dan maju ke depan sebagai pengganti sang ustadz.
Saya pun berdiri di atas mimbar dan mengucapkan salam laiknya seorang ustadz. Aih, ini sebuah amanah dan kesempatan besar untuk menasehati diri saya. Agar ia selaras antara kata dan perbuatan. Saya ungkapkan pesan taqwa, bahwa Allah sesungguhnya telah menegaskan setiap mukmin adalah bersaudara. Muslim di seluruh dunia adalah bagaikan satu tubuh, yang ketika ada yang sakit maka anggota bagian tubuh yang lain pun akan merasakan sakitnya.
Ketika ada yang teraniaya maka saudara muslim yang lainnya akan bangkit dan membantu. Inilah hakekatnya ukhuwah, yang level paling bawah darinya adalah musnahnya segala prasangka kepada saudara muslim yang lainnya. Hatinya lapang. Salamatus Sadr. Sedangkan level tertingginya adalah itsar mendahulukan kepentingan saudaranya daripada kepentingan dirinya.
Keprihatinan pada penyikapan malam tahun baru dan kemubadzirannya pun saya ungkapkan. Pula, perlunya dukungan dari seluruh jama’ah baik doa, dana, empati, sikap mental, hingga pengorbanan dalam bentuk-bentuk lainnya. Ya iyalah, karena untuk saat ini hanya ini saja yang bisa dilakukan. Tapi semoga berarti di mata Allah.
Pada akhirnya quwwatul ukhuwah (kekuatan persatuan) adalah hal yang hilang dari kaum muslimin saat ini hingga ia hanya menjadi buih-buih yang tak berarti, hingga ia hanyalah menjadi santapan rebutan banyak kaum dan kepentingan.
Barakallahuli walaakum…
***
“Za, tak perlulah engkau banyak cakap,” bisik hati yang terdalam.
Riza Almanfaluthi
dedaunan di ranting cemara
02:09 06 Januari 2009
Add comment Tuesday, 6 January 2009
TETANGGA ITU MENINGGALKAN KAMI
TETANGGA ITU MENINGGALKAN KAMI
(IN MEMORIAM SERTU MARINIR SUYADI BIN MUSTOFA, 1967-2008)
Tetangga saya itu orang baik. Dengan segala kekurangan dan kelebihannya sebagai manusia saya menganggapnya demikian. Setelah delapan tahun lamanya kami bertetangga dengan segala pernak-perniknya, Allah memanggilnya dalam usia yang masih muda (41 tahun). Meninggalkan seorang istri dengan dua anak perempuannya yang masih kecil dan belum beranjak dewasa—sulung kelas satu SMP sedangkan yang bungsu masih kelas satu SD.
Operasi otak untuk mengangkat pecahan selongsong peluru tak cukup mampu menahan takdir Allah. Kesedihan itu tentu hinggap pada diri saya. Syukurnya saya sempat dua kali datang menjenguknya. Mendoakannya dan berusaha mengamalkan apa yang disunnahkan oleh Rasulullah SAW dalam adab menjenguk orang sakit. Sambil mengelus-elus tangannya berharap-harap responnya dalam koma saya berdoa: Laa ba’tsa, thohurun, insya Allah. Tidak apa-apa, sehat, Insya Allah.
Seminggu sebelumnya ia sempat menolong saya memegang tangga yang saya naiki untuk mengecek dan memperbaiki lampu yang padam. Pula ia bersemangat dalam membantu panitia kurban menguliti sapi sebanyak lima ekor itu di halaman Masjid Al-Ikhwan (Semoga ini mejadi penanda khusnul khotimahnya).
Saya pun teringat saat ia didaulat untuk memimpin sholat berjamaah. Bacaan surat yang senantiasa ia lantunkan adalah Adhdhuha dan Alam Nasyroh. Aktif dalam kegiatan RT dan pengajian, Panitia Agustusan, kegiatan RW dan tentunya pula kegiatan masjid. Jikalau tidak sedang bertugas sering saya minta ia untuk menjadi Qari’ dalam acara-acara yang diselenggarakan Masjid Al-Ikhwan. Suaranya merdu dan menggugah.
Allah Karim. Semua kenangan itu terlintas selalu dalam ingatan. Apatah lagi saat mendengar kabar itu di tengah malam, saya cuma sering bergumam, “Ya Allah, Pak Yadi…Pak Yadi…” Satu hal yang mengganjal bagi diri saya sepeninggalnya adalah sudahkah saya telah memenuhi hak-haknya sebagai tetangga terdekatnya. Memuliakannya, mengiriminya hadiah, mendoakannya, memberikan masakan dan makanan yang ada, dan lain sebagainya. Saya berharap jawabannya “iya”. Tapi sejatinya hanya Allah yang mengetahui detil itu. Detil apakah amalan itu ditolak atau diterimaNya.
Pada akhirnya saya berusaha untuk memenuhi hak-haknya yang lain sebagai saudara muslim yang telah Allah panggil. Saya ikut memandikannya. Saya ikut mengafaninya. Saya ikut menyolatkannya. Saya ikut menguburkannya. Dalam hati yang paling dalam semoga Allah pun menerima amalan-amalan saya dan dirinya. Tentunya dengan doa berikut:
اَللَّهُمَّ اغْفِرْ لَهُ وَارْحَمْهُ وَعَافِهِ وَاعْفُ عَنْهُ، وَأَكْرِمْ نُزُلَهُ، وَوَسِّعْ مَدْخَلَهُ، وَاغْسِلْهُ بِالْمَاءِ وَالثَّلْجِ وَالْبَرَدِ، وَنَقِّهِ مِنَ الْخَطَايَا كَمَا نَقَّيْتَ الثَّوْبَ اْلأَبْيَضَ مِنَ الدَّنَسِ، وَأَبْدِلْهُ دَارًا خَيْرًا مِنْ دَارِهِ، وَأَهْلاً خَيْرًا مِنْ أَهْلِهِ، وَزَوْجًا خَيْرًا مِنْ زَوْجِهِ، وَأَدْخِلْهُ الْجَنَّةَ، وَأَعِذْهُ مِنْ عَذَابِ الْقَبْرِ [وَعَذَابِ النَّارِ]
[Alloohummaghfir lahu Warhamhu Wa 'Aafihi Wa'fu 'ahu, Wa Akrim Nuzulahu, Wa Wassi' Madkholahu, Waghsilhu Bil Maa'i WatsTsalji Wal Barodi, Wa Naqqihi Minal Khothooyaa Kamaa Naqqaitats Tsaubal Abyadho Minad Danasi, Wa Abdilhu Daaron Khoiron Min Daarihi, Wa Ahlan Khoiron Min Ahlihi, Wa Zaujan Khoiron Min Zaijihi, Wa Adkhilhul Jannata, Wa A'idhu Min 'Adzaabil Qabri]
Ya Allah, Ampunilah dia (dari beberapa hal yang tidak disukai), maafkanlah dia dan tempat-kanlah di tempat yang mulia (Surga), luaskan kuburannya, mandikan dia dengan air salju dan air es. Bersihkan dia dari segala kesalahan, sebagaimana Engkau membersihkan baju yang putih dari kotoran, berilah rumah yang lebih baik dari rumahnya (di dunia), berilah keluarga (atau istri di Surga) yang lebih baik daripada keluarganya (di dunia), istri (atau suami) yang lebih baik daripada istrinya (atau suaminya), dan masukkan dia ke Surga, jagalah dia dari siksa kubur dan Neraka.” (HR. Muslim 2/663)
اَللَّهُمَّ اغْفِرْ لِحَيِّنَا وَمَيِّتِنَا وَشَاهِدِنَا وَغَائِبِنَا وَصَغِيْرِنَا وَكَبِيْرِنَا وَذَكَرِنَا وَأُنْثَانَا. اَللَّهُمَّ مَنْ أَحْيَيْتَهُ مِنَّا فَأَحْيِهِ عَلَى اْلإِسْلاَمِ، وَمَنْ تَوَفَّيْتَهُ مِنَّا فَتَوَفَّهُ عَلَى اْلإِيْمَانِ، اَللَّهُمَّ لاَ تَحْرِمْنَا أَجْرَهُ وَلاَ تُضِلَّنَا بَعْدَهُ.
[Alloohumaghfir Lihayyinaa Wa Mayyitinaa Wa Syaahidinaa Wa Ghoo'ibinaa Wa Shoghiirinaa Wa Kabiirinaa Wa Dzakarinaa Wa Untsaanaa. Alloohumma Man Ahyaitahu Minnaa Fa Ahyihi 'Alal Islaam, Wa Man Tawaffaitahu Minnaa Fatawaffahu 'Alal Iimaan. Alloohumma Laa Tahrimna Ajrahu Wa Laa Tudhillanaa Ba'dahu]
“Ya Allah! Ampunilah kepada orang yang hidup di antara kami dan yang mati, orang yang hadir di antara kami dan yang tidak hadir ,laki-laki maupun perempuan. Ya Allah! Orang yang Engkau hidupkan di antara kami, hidupkan dengan memegang ajaran Islam, dan orang yang Engkau matikan di antara kami, maka matikan dengan memegang keimanan. Ya Allah! Jangan menghalangi kami untuk tidak memper-oleh pahalanya dan jangan sesatkan kami sepeninggalnya.” ( HR. Ibnu Majah 1/480, Ahmad 2/368, dan lihat Shahih Ibnu Majah 1/251)
اَللَّهُمَّ إِنَّ فُلاَنَ بْنَ فُلاَنٍ فِيْ ذِمَّتِكَ، وَحَبْلِ جِوَارِكَ، فَقِهِ مِنْ فِتْنَةِ الْقَبْرِ وَعَذَابِ النَّارِ، وَأَنْتَ أَهْلُ الْوَفَاءِ وَالْحَقِّ. فَاغْفِرْ لَهُ وَارْحَمْهُ إِنَّكَ أَنْتَ الْغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ.
[Alloohumma Inna Fulaanabna Fulaanin Fii Dzimmatika, Wa Habli Jiwaarika, Fa Qihi Min Fitnatil Qobri Wa 'Adzaabin Naari, Wa Anta Ahlal Wafaa'i Wal Haqqi. Faghfirlahu Warhamhu, Innaka Antal Ghofuurur Rohiim]
“Ya, Allah! Sesungguhnya Fulan bin Fulan dalam tanggunganMu dan tali perlindunganMu. Peliharalah dia dari fitnah kubur dan siksa Neraka. Engkau adalah Maha Setia dan Maha Benar. Ampunilah dan belas kasihanilah dia. Sesungguhnya Engkau, Tuhan Yang Maha Pengampun lagi Penyayang.” (HR. Ibnu Majah. Lihat Shahih Ibnu Majah 1/251 dan Abu Dawud 3/21)
اَللَّهُمَّ عَبْدُكَ وَابْنُ أَمْتِكَ احْتَاجَ إِلَى رَحْمَتِكَ، وَأَنْتَ غَنِيٌّ عَنْ عَذَابِهِ، إِنْ كَانَ مُحْسِنًا فَزِدْ فِيْ حَسَنَاتِهِ، وَإِنْ كَانَ مُسِيْئًا فَتَجَاوَزْ عَنْهُ.
[Alloohumma 'Abduka Wabnu Amatikahtaaja Ilaa Rohmatika, Wa Anta Ghoniyyun 'An 'Adzaabihi, In Kaana Muhsinan, Fa Zid Fii Hasanaatihi, Wa In Kaana Musii'an Fa Tajaawaz 'Anhu]
Ya, Allah, ini hambaMu, anak hambaMu perempuan (Hawa), membutuh-kan rahmatMu, sedang Engkau tidak membutuhkan untuk menyiksanya, jika ia berbuat baik tambahkanlah dalam amalan baiknya, dan jika dia orang yang salah, lewatkanlah dari kesalahan-nya. (HR. Al-Hakim. Menurut pendapatnya: Hadits ter-sebut adalah shahih. Adz-Dzahabi menyetujuinya 1/359, dan lihat Ahkamul Jana’iz oleh Al-Albani, halaman 125)
(saya kutip doa tersebut secara lengkap dari situs www.alsofwah.or.id)
Semoga ini adalah upaya kecil saya dalam memuliakan tetangga. Karena keberimanan saya pada Allah dan hari akhir salah satunya ditentukan dengan seberapa jauh saya telah memuliakan tetangga. Semoga ini bukanlah sebuah ‘ujub atau pemuliaan pada diri sendiri (na’udzubillah).
Terakhir….
Jadilah tetangga yang baik.
Riza Almanfaluthi
dedaunan di ranting cemara
7 hari sepeninggalnya
22 Desember 2008
3 comments Monday, 22 December 2008
HABYARIMANA, CARLOS D’ AMATO, DAN ‘ABDEL ‘AZIZ
HABYARIMANA, CARLOS D’ AMATO, DAN ‘ABDEL ‘AZIZ
Habyarimana adalah seorang budak yang berasal dari daerah tengah Afrika. Ia teramat takut dengan kekuasaan dan kekuatan yang dimiliki majikannya yang berkulit putih itu. Ada lecutan cambuk yang sering mendera punggungnya bila setiap kata yang keluar dari mulut majikannya tidak ia ikuti dengan lengkingan “daulat paduka”. Oleh karenanya ia menjadi seorang budak yang teramat patuh atas segala perintah majikannya. Disuruh ini ia mau. Disuruh itu ia taat. Pergi kesana ia pergi. Disuruh ikut ke sana ia pun kesana. Cuma satu alasannya karena ia tidak punya kemerdekaan. Ia seorang budak. Ia takut akan cambuk majikannya.
Carlos d’ Amato adalah majikan Habyarimana. Ia adalah seorang lelaki pedagang. Yang ada dalam otaknya hanyalah bagaimana dengan sumber daya yang ia miliki ia mendapatkan banyak keuntungan yang berlipat ganda. Ia akan melakukan sesuatu bisnis bila benar-benar akan menambah pundi-pundi kekayaannya. Bila tidak ia tetap bergeming seperti tokek menunggu serangga masuk dalam area jangkauan lidahnya. Ia jelas sekali tipe seorang kapitalis sejati. Untung rugi, dua kata itu adalah kata-kata paling sucinya.
Satu lagi, ‘Abdel ‘Aziz, perantau dari Yaman yang tubuhnya terjerembab di salah satu kota pusat perbudakan di Brazil, Pelourinho. Jiwanya yang merdeka dan menyenangi petualangan telah membawanya ke kota tua itu. Apa kata hatinya telah membawanya meninggalkan kota kelahirannya, Hadramaut. Telah banyak pengalaman ia timba sepanjang perjalanannya keliling dunia. Oleh karenanya ia tahu betul dua tipe yang dimiliki dari dua orang yang ia jumpai di pasar kota Pelourinho saat ia mau diminta menjual Khanjer-nya oleh Carlos d’Amato yang didampingi budaknya, Habyarimana.
Walaupun sudah dihargai tinggi menurut ukuran Carlos, ia tetap bersikukuh untuk tidak menjual pisau unik peninggalan kakeknya itu. Karena ia tahu selain pisau itu benda yang membuatnya terkenang-kenang pada masa lalunya, pun ia tahu Carlos hanyalah seorang pembual tentang masalah harga. Semua orang telah memberitahu dirinya saat pertama kali kakinya turun dari kapal laut, sebuah desas-desus tentang Carlos d’ Amato.
Dan ia menolak tawaran Carlos walaupun Carlos sudah menawarkan Habyarimana sebagai harga matinya. Pun ia tak takut dengan ancaman Carlos yang akan mengerahkan anak buah dari kenalannya seorang pejabat di kongsi kolonial kota itu untuk mengejar dirinya jika ia berani-beraninya meninggalkan kota dengan tetap membawa Khanjar itu, yang tak diketahui oleh ‘Abdel ‘Aziz sendiri bahwa pisau itu adalah petunjuk awal letak Harta Sulaiman.
***
Suatu siang, di Kalibata, di lantai atas Masjid Shalahuddin, di antara jejeran orang-orang bermartabat yang sedang kelelahan melawan kantuk, sayup-sayup terdengar suara seorang ustadzah menjelaskan kepada para jamaahnya tentang tiga tipe orang yang beribadah kepada Allah. Tipe pertama orang yang beribadah seperti budak, yang ia beribadah hanya (kata ini ditebalkan) karena ia takut pada siksanya Allah yang Mahakuat. Seorang pendengar di ruang bawah masjid bertanya pada dirinya sendiri: “Salah? Tentunya tidak karena Allah-lah satu-satunya yang wajib ditakuti oleh hambaNya yang merasa beriman.
Tipe kedua adalah orang yang beribadah kepada Allah layaknya seorang pedagang. Ia beribadah melihat untung rugi dari dikerjakan atau tidak dikerjakannya amal ibadahnya itu. Ia beribadah dengan tekun saat melihat adanya keuntungan yang Allah berikan baik di dunia apatah lagi di akhirat. Seorang pendengar di ruang bawah masjid bertanya lagi pada dirinya sendiri: “Salah? Tentunya tidak karena Allah melalui Alqur’an dan petunjuk RasulNya berupa sunnah sarat dengan pujian, penjelasan ganjaran moral, ganjaran material dan sosial, ganjaran duniawi dan ukhrawi pada hamba-hambaNya yang gemar melakukan amal kebaikan.”
Tipe terakhir adalah tipe orang yang beribadah kepada Allah layaknya seorang yang mendapatkan kemerdekaan. Ia bebas. Ia tidak terkungkung kerana adanya suatu keinginan. Ia beribadah kepada Allah tidak sekadar takut, pula tidak sekadar penuh harapan semata. Ia mampu menggabungkannya dengan cinta lalu ketiganya bersenyawa dalam jiwa dan ia serahkan sepenuhnya kepada Allah semua takutnya, semua harapnya, semua cintanya. Dan insya Allah inilah yang terbaik. Alamak…
Seorang pendengar di ruang bawah masjid bertanya lagi pada dirinya sendiri atau bahkan pada semuanya: “Ane, ente adalah Habyarimana, Carlos d’ Amato atau ‘Abdel ‘Aziz?”
***
Kita masing-masing yang bisa menjawabnya.
Riza Almanfaluthi
dedaunan di ranting cemara
3:30 04 November 2008
senjakalaning jagat
4 comments Tuesday, 4 November 2008
FRAGMEN JUM’AT
FRAGMEN JUM’AT
Pagi ini saya usahakan untuk tidak membuka apapun terkecuali program pengolah kata saat pertama kali menyalakan komputer. Sudah lama saya tidak menulis di pagi hari. Dan kemudian saya berpikir lagi ternyata di lain waktu pun saya tidak menulis juga. Artinya memang sudah beberapa hari atau hitungan pekan ini saya belum menemukan satu, dua atau banyak kepingan gagasan yang enak untuk dijadikan mozaik tulisan.
Tiba-tiba setelah membuka program pengolah kata itu saya teringat sebuah episode kelemahlembutan dan kerendahhatian yang ditunjukkan oleh seorang ulama. Tidak dibuat-buat, tulus, dan apa adanya. Dan ini membuat saya teramat terkesan padanya.
Suatu ketika, di hari Jum’at, Ia datang memenuhi undangan untuk menjadi khotib di masjid kantor pajak Kalibata. Ia sudah sering kami undang ke masjid kami itu seperti mengisi ceramah bulanan dan ramadhan. Sudah beberapa kali saya mendengar ceramahnya. Insya Allah sudah menjadi jaminan ceramahnya itu tidak membuat pendengarnya terkantuk-kantuk.
Continue Reading 2 comments Friday, 18 July 2008







