<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	xmlns:georss="http://www.georss.org/georss" xmlns:geo="http://www.w3.org/2003/01/geo/wgs84_pos#" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/"
	>

<channel>
	<title>dedaunan di ranting cemara &#187; Resensi</title>
	<atom:link href="http://dirantingcemara.wordpress.com/category/resensi/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://dirantingcemara.wordpress.com</link>
	<description>ranah untuk kejayaan Islam dan peradabannya</description>
	<lastBuildDate>Mon, 16 Nov 2009 01:37:13 +0000</lastBuildDate>
	<generator>http://wordpress.com/</generator>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<cloud domain='dirantingcemara.wordpress.com' port='80' path='/?rsscloud=notify' registerProcedure='' protocol='http-post' />
<image>
		<url>http://www.gravatar.com/blavatar/237a24c06ceaf1eca551bc64da3ebd26?s=96&#038;d=http://s.wordpress.com/i/buttonw-com.png</url>
		<title>dedaunan di ranting cemara &#187; Resensi</title>
		<link>http://dirantingcemara.wordpress.com</link>
	</image>
			<item>
		<title>LASKAR PELANGI THE MOVIE: JEMPOL KE BAWAH</title>
		<link>http://dirantingcemara.wordpress.com/2008/10/20/laskar-pelangi-the-movie-jempol-ke-bawah/</link>
		<comments>http://dirantingcemara.wordpress.com/2008/10/20/laskar-pelangi-the-movie-jempol-ke-bawah/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 20 Oct 2008 03:35:14 +0000</pubDate>
		<dc:creator>dirantingcemara</dc:creator>
				<category><![CDATA[Opini]]></category>
		<category><![CDATA[Resensi]]></category>
		<category><![CDATA[Sejumput Rintih]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://dirantingcemara.wordpress.com/2008/10/20/laskar-pelangi-the-movie-jempol-ke-bawah/</guid>
		<description><![CDATA[LASKAR PELANGI THE MOVIE: JEMPOL KE BAWAH


 
Saya mungkin termasuk orang-orang yang tidak terpengaruh pada eforia  kemunculan sebuah buku baru yang menghebohkan. Heboh di milis atau forum diskusi atau di perbincangan ala warung kopi. Karena saya berpikir bisa jadi itu hanyalah taktik pemasaran dari para penerbit untuk membuat laris dagangannya. Dan itu wajar saja.

    Oleh karenanya [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=dirantingcemara.wordpress.com&blog=1612705&post=459&subd=dirantingcemara&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p style="text-align:center;"><strong>LASKAR PELANGI THE MOVIE: JEMPOL KE BAWAH<br />
</strong></p>
<p style="text-align:center;">
 </p>
<p style="text-align:justify;">Saya mungkin termasuk orang-orang yang tidak terpengaruh pada eforia  kemunculan sebuah buku baru yang menghebohkan. Heboh di milis atau forum diskusi atau di perbincangan ala warung kopi. Karena saya berpikir bisa jadi itu hanyalah taktik pemasaran dari para penerbit untuk membuat laris dagangannya. Dan itu wajar saja.
</p>
<p style="text-align:justify;">    Oleh karenanya saya memang terlambat untuk membaca novel Ayat-Ayat Cinta (AAC). Padahal teman sudah mau meminjamkan buku itu atau versi ebooknya sudah tersimpan dalam komputer. Tapi itu tidak menggoda saya untuk membacanya segera. Baru saya baca buku itu saat filmnya sudah mulai diputar di bioskop-bioskop, saat orang mulai histeria dengan segala yang berbau AAC. Setelah menyelesaikannya saya cukup berkomentar dengan satu kata tulus, &#8220;bagus&#8221;.
</p>
<p style="text-align:justify;">Tetapi tetap saja buku itu kembali tergeletak bersama tumpukan buku yang lain. Mudah dilupakan. Tidak ada yang membekas. Bahkan tak mampu menggerakkan hati dan kaki saya melangkahkan kaki ke bioskop. Pun saat filmnya diputar di televisi beberapa waktu lalu tak mampu menahan saya untuk tetap menonton film itu  dan tak mampu menahan saya untuk tidak menekan tombol remote untuk mencari saluran lain.  &#8220;Tidak bagus&#8221;, itu kata tulus dari saya.
</p>
<p style="text-align:justify;">Begitu pula dengan Laskar Pelangi. Tak menggerakkan hati saya untuk segera membacanya saat pertama kali kemunculannya atau lagi hangat-hangatnya diperbincangkan di mana saja, atau saat muncul dalam salah satu acara talk show, atau saat teman menawarkan bukunya untuk dibaca oleh saya setahun lalu, atau ketika ebooknya sudah bertebaran di dunia maya bahkan dengan dua novel lanjutannya yang sudah tersimpan dalam komputer atau dengan filmnya yang membuat orang harus antri  hingga bapak Presiden yang terhormat sempat-sempatnya menonton di tengah riak-riak tsunami ekonomi global yang mulai menerpa republik ini. Tidak, ia tidak mampu menggerakkan hati saya.
</p>
<p style="text-align:justify;">Tapi kali ini dam kecuekan saya terhadap novel lascar Pelangi itu runtuh di suatu hari. Ya, di suatu hari, ba&#8217;da dzuhur di suatu masjid, di syawal yang masih sepi, saat teman saya terpercaya bilang mengomentari film itu, &#8220;luar biasa bagus buat anak-anak.&#8221;  Ia bercerita film itu membuat anak sulungnya menangis. Dan sinyal alarm dalam diri saya langsung berdering, pekak, kalau berkaitan dengan masalah anak. Bagus buat anak-anak, empat kata itu terngiang-ngiang di telinga saya. Ah, masak?
</p>
<p style="text-align:justify;">Saya tidak bersegera untuk mengakuinya sebelum membaca bukunya terlebih dahulu—ah ini cuma alasan karena tidak dapat tiket menonton film itu selama berminggu-minggu. Tapi saya tetap menjumput buku itu. Mengamatinya perlahan dari sampulnya kemudian membaca <em>endorsement</em> dari berbagai orang, lalu membacanya pelan halaman demi halaman.
</p>
<p style="text-align:justify;">Biasa saja.
</p>
<p style="text-align:justify;">Tapi tidak…tunggu dulu. Menarik. Ya menarik sekali buku ini.
</p>
<p style="text-align:justify;">Tapi tidak…tunggu dulu. Imajinasi itu mulai tumbuh membawa saya tersedot ke Belitong, di masa itu.
</p>
<p style="text-align:justify;">Aih. Saya tak dapat menghentikan keinginan membacanya walaupun cuma  sejenak. Tidak saya tak sanggup. Saya terus menerus membacanya. Tertawa terkekeh-kekeh hingga air mata yang mengucur dan terbanting-banting dalam alunan metaforanya. Kurang dari 24 jam saya membacanya. Dan saya jujur mengakui novel ini dengan tulus,  &#8220;dahsyat man.&#8221;  Inspiratif.  Hasil metamorphosis dari hati. Memberi banyak perenungan.
</p>
<p style="text-align:justify;">Saya mengalami <em>trance. </em> Segala sesuatu yang berbau Laskar Pelangi saya cari dan tanyakan kepada Jeng Google. Tentang Belitong, Andrea Hirata, tentang Ibu Muslimah.  Tayangan talk shownya saya putar ulang.  Tidak berhenti sampai di situ, Sang Pemimpi (novel lanjutan Laskar Pelangi) saya libas. Apatah lagi Edensor (novel ketiga dari tetralogi Laskar Pelangi). Maryamah Karpov pun saya tunggu-tunggu kedatangannya. Dan kalau saya bisa memberi peringkat dari tiga novelnya yang sudah ada itu maka yang terbaik adalah Laskar pelangi, Edensor kedua, dan  Sang pemimpi menduduki peringkat ketiga. Pelajaran moral pertama dari ketiga novel itu: <strong><em>Man Jadda wa Jadaa</em></strong>. Siapa bersungguh-sungguh ia mendapatkannya.
</p>
<p style="text-align:justify;">Cukup di situ? Tidak, ianya membuat saya rakus membaca fiksi.  Selesai trilogy itu saya baca novel lain, Kisah 47 Ronin, hingga sekarang Hafalan Shalat Delisa. Jelas sudah seminggu ini saya tidak henti-hentinya membaca sebagai sebuah kegiatan yang amat serius. Dan saya bertekad untuk terus membaca di setiap harinya (sebuah kegiatan yang sudah berbulan-bulan saya tinggalkan karena kesibukan). Pelajaran moral kedua yang bisa diambil: baca novel ini untuk bisa  <em>kesurupan</em> dalam membaca. Halah…
</p>
<p style="text-align:justify;">Dan pada akhirnya malam itu, kami menginjakkan kaki ke tempat yang biasanya saya hindari, bioskop. Tapi lagi-lagi ini karena saya terjerambab pada empat kata di atas  yang sudah saya sebutkan di awal dan dikatakan oleh teman saya itu: bagus buat anak-anak. Pula karena Andrea Hirata—penulisnya sendiri yang mengakui betapa bagusnya film itu. Lalu film Laskar Pelangi itu kami tonton.
</p>
<p style="text-align:justify;">Betul, istri saya terisak-isak saat melihat Lintang yang duduk termangu menanti ayahnya yang tak kunjung tiba dari melaut. Anak saya, Haqi pun demikian. Menangis saat Lintang pergi dari sekolah untuk selama-selamanya dengan diiringi tatapan mata sembab Bu Mus dan teman-temannya dan dari kejaran Ikal yang sia-sia untuk menahan Lintang.  Lintang tidak sekolah untuk menggantikan peran ayahnya memberi makan adik-adiknya.
</p>
<p style="text-align:justify;">Tapi saya, sepanjang film itu diputar, hanya menggeleng-geleng kepala dan menyeringai sahaja. Ya, seringai kekecewaan. Kecewa karena tidak mendapatkan sesuatu sebagaimana yang diharapkan. Tidak seperti yang saya bayangkan.  Filmnya tak mampu menyamakan imajinasi yang ada dalam benak. Filmnya hanya mampu digambarkan dengan jempol yang menunjuk tidak ke atas tapi ke bawah.  Filmnya tak sebagaimana yang digembar-gemborkan banyak orang walaupun sarat pesan moral dan mampu membuat istri, anak sulung saya menangis. Pula mampu membuat anak kedua saya tertidur melingkar di kursi bioskop. Entah karena ngantuk atau kedinginan.
</p>
<p style="text-align:justify;"> Semua subjektifitas ini saya katakan tanpa mengurangi rasa hormat saya kepada mereka yang telah bersusah payah membuat film itu eksis di muka bumi. Pelajaran moral ketiga: kalau tidak mau kecewa menonton film adaptasi dari novel, jangan baca dulu bukunya.
</p>
<p style="text-align:justify;">Dan sampai saat ini cukup saya katakan trilogy Lord of the Ring, JRR Tolkien-lah yang mampu mendahsyatkan dua-duanya, novel dan filmnya.
</p>
<p style="text-align:justify;">Pak dan Mak Cik semua, itu saja dari saya. Boleh bukan kalau saya berbeda pandangan dengan kalian tentang ini. Yang pasti saya katakan novelnya amat bagus tapi tidak untuk filmnya. Kini saya masih menunggu Maryamah Karpov, menunggu <span style="text-decoration:line-through;">jandanya</span> kedatangannya.
</p>
<p style="text-align:justify;">
 </p>
<p style="text-align:justify;">Riza Almanfaluthi
</p>
<p style="text-align:justify;">dedaunan di ranting cemara
</p>
<p style="text-align:justify;">10.24 24 Oktober 2008</p>
  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/dirantingcemara.wordpress.com/459/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/dirantingcemara.wordpress.com/459/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/dirantingcemara.wordpress.com/459/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/dirantingcemara.wordpress.com/459/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/dirantingcemara.wordpress.com/459/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/dirantingcemara.wordpress.com/459/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/dirantingcemara.wordpress.com/459/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/dirantingcemara.wordpress.com/459/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/dirantingcemara.wordpress.com/459/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/dirantingcemara.wordpress.com/459/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=dirantingcemara.wordpress.com&blog=1612705&post=459&subd=dirantingcemara&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://dirantingcemara.wordpress.com/2008/10/20/laskar-pelangi-the-movie-jempol-ke-bawah/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>23</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/3ddf1c3ba1bfa227c6b07072605b8a11?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">dedaunan</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>ISLAM MELARANG HUMOR?</title>
		<link>http://dirantingcemara.wordpress.com/2008/06/02/islam-melarang-humor/</link>
		<comments>http://dirantingcemara.wordpress.com/2008/06/02/islam-melarang-humor/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 02 Jun 2008 03:58:32 +0000</pubDate>
		<dc:creator>dirantingcemara</dc:creator>
				<category><![CDATA[Opini]]></category>
		<category><![CDATA[Resensi]]></category>
		<category><![CDATA[Tarbiyah]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://dirantingcemara.wordpress.com/2008/06/02/islam-melarang-humor/</guid>
		<description><![CDATA[ISLAM MELARANG HUMOR?


 
Preambule

Ikhwatifillah, ada yang bilang kalau sudah memahami Islam dengan benar atau dengan kata lain sudah tobat dari segala perbuatan dosa dan mau kembali melaksanakan semua ajaran Allah dan rasul-Nya itu maka otomatis kita harus memutuskan seluruh diri kita dari segala kehidupan dunia yang melenakan.

Bahkan sampai kita memutuskan diri dari kefitrahan yang telah diberikan [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=dirantingcemara.wordpress.com&blog=1612705&post=376&subd=dirantingcemara&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p style="text-align:center;"><span style="font-size:12pt;"><strong>ISLAM MELARANG HUMOR?<br />
</strong></span></p>
<p>
 </p>
<p><span style="font-size:12pt;"><strong>Preambule<br />
</strong></span></p>
<p style="text-align:justify;"><span style="font-size:12pt;">Ikhwatifillah, ada yang bilang kalau sudah memahami Islam dengan benar atau dengan kata lain sudah tobat dari segala perbuatan dosa dan mau kembali melaksanakan semua ajaran Allah dan rasul-Nya itu maka otomatis kita harus memutuskan seluruh diri kita dari segala kehidupan dunia yang melenakan.<br />
</span></p>
<p style="text-align:justify;"><span style="font-size:12pt;">Bahkan sampai kita memutuskan diri dari kefitrahan yang telah diberikan Allah kepada kita seperti bersenda gurau, bercanda, berhumor, tertawa, atau menghibur diri. Kita dilarang untuk melakukan itu. Sehingga yang tampak dari diri kita adalah kekakuan, wajah yang tak pernah disinggahi dengan senyuman, dan kesuraman yang menjadi hiasan setiap hari. Pada akhirnya pergaulan dengan masyarakat pun terganggu. Walaupun mereka yang kaku-kaku tersebut nantinya selalu berkilah dan bersembunyi pada sebuah dalil bahwa Islam itu asing maka wajarlah mereka diasingkan oleh masyarakatnya. Betulkah?<br />
</span></p>
<p style="text-align:justify;"><span style="font-size:12pt;">Saya jawab tidak! Karena Islam tidak mengajarkan demikian. Ada seorang ulama yang mengatakan bahwa Islam tidak mewajibkan seluruh yang keluar dari mulut-mulut kita adalah dzikir, tidak mewajibkan setiap diam mereka adalah pikir, tidak mesti yang didengar selalu ayat-ayat Alqur&#8217;an, dan tidak mengharuskan mereka untuk menghabiskan waktu-waktu senggangnya di masjid. Islam selalu mengakui fitrah dan kecenderungan yang telah diciptakan Allah dalam diri manusia. Bukankah Allah menciptakan mereka sebagai makhluk yang punya kebutuhan untuk berbahagia dan bergembira, tertawa, dan bermain sebagaimana Ia menciptakan manusia sebagai makhluk yang butuh makan dan minum?<br />
</span></p>
<p style="text-align:justify;"><span style="font-size:12pt;">Ikhwatifillah, para sahabat Rasulullah SAW  (semoga Allah meridhoi mereka semua) juga dulu mengira bahwa mereka harus melepaskan keduniaan mereka secara totalitas dengan melaksanakan ibadah secara ekstrim terus menerus tanpa jeda. Mereka juga menyangka berislam berarti memalingkan diri dari kenikmatan hidup dan kesenangan duniawi. Mata mereka selalu sembab karena terus menerus menangis takut kepada Allah, berdzikir, dan terus menerus khusyuk berdoa mengangkat kedua tangan. Bahkan ketika mereka meninggalkannya sekejap saja mereka langsung memvonis, mengutuki  diri mereka sendiri dengan sebutan munafik.<br />
</span></p>
<p style="text-align:justify;"><span style="font-size:12pt;">Dan apa yang dikatakan Rasulullah SAW  kepada Hanzhalah dan Abu Bakar menyikapi fenomena yang dilakukan dua orang sahabat mulia itu? Berikut perkataan makhluk mulia ini:<br />
</span></p>
<p style="text-align:justify;"><span style="font-size:12pt;"><em>&#8220;Demi dzat yang memiliki diriku! Kalau kalian selalu dalam keadaan seperti ketika bersamaku itu, atau selalu dalam dzikir, niscaya malaikat akan terus menerus menemani kalian di atas tempat tidur maupun di jalanan. Akan tetapi, wahai Hanzhalah, <strong>segala sesuatu ada waktunya</strong>. </em>(Riwayat Muslim)<br />
</span></p>
<p style="text-align:justify;"><span style="font-size:12pt;">Beliau mengulangi kalimat yang saya tebalkan tersebut tiga kali demi menekankan penting atau dalamnya makna kalimat tersebut.<br />
</span></p>
<p style="text-align:justify;"><span style="font-size:12pt;">Ikhwatifillah, lalu bagaimana Islam menyikap hiburan dan permainan itu? Memang ulama kita berbeda sikap mengenai masalah ini. Ada dua kubu yang berseberangan. Yaitu yang bersikap antara meringankan atau memperketat, antara yang cenderung toleran dan yang keras.<br />
</span></p>
<p style="text-align:justify;"><span style="font-size:12pt;">Yang bersikap keras secara berlebihan, mereka hampir mengharamkan semua bentuk hiburan dan permainan. Sementara yang terlampau lunak, hampir menghalalkan segalanya. Masyarakat pun terjebak antara dua penyikapan tersebut. Padahal yang terbaik adalah bersikap di antara keduanya, penyikapan yang moderat, tidak keras dan tidak terlalu meremehkan. Karena Islam adalah agama yang pertengahan, dan ini yang selalu Rasulullah SAW tekankan dalam setiap kesempatan seperti perkataan beliau berikut ini:<br />
</span></p>
<p style="text-align:justify;"><span style="font-size:12pt;">&#8220;Agar orang-orang Yahudi tahu bahwa dalam agama kita terdapat kelonggaran. Sesungguhnya aku diutus dengan agama yang lurus dan toleran.&#8221; (HR Ahmad)<br />
</span></p>
<p style="text-align:justify;">
 </p>
<p style="text-align:justify;"><span style="font-size:12pt;"><strong>Rasulullah SAW dan Sahabat adalah Sosok-sosok yang Humoris<br />
</strong></span></p>
<p style="text-align:justify;"><span style="font-size:12pt;">Wahai ikhwatifillah, sungguh tauladan kita yang sejati adalah Rasulullah SAW, maka mari kita tiru dan teladani apa yang Rasulullah SAW sikapi dalam masalah canda tawa, gurauan, dan hiburan ini. Sungguh Rasulullah SAW adalah nabi sekaligus manusia biasa yang tetap bercanda dan berbaur dengan para sahabat dalam kehidupan sehari-hari. Beliau melebur dalam tawa serta senda gurau mereka, sebagaimana beliau juga melebur dalam duka dan kesulitan yang mereka alami. Tetapi Rasulullah SAW tetap dalam kebenaran.<br />
</span></p>
<p style="text-align:justify;"><span style="font-size:12pt;">Kebiasaan canda tawa ini—sebagaimana perkataan seorang ulama—telah diketahui langsung oleh sebagian sahabat dalam kehidupan Rasulullah SAW. Mereka menyaksikannya, dan kemudian meneladaninya sepeninggal beliau; tanpa menemukan sesuatu yang perlu dicela. Sekalipun barangkali beberapa candaan tersebut bila diceritakan pada zaman sekarang, tentu akan ditentang keras oleh sebagian besar kalangan yang keras keberagamaannya. Dan orang yang menceritakannya, bisa jadi, akan dianggap fasik serta menyimpang dari agama.<br />
</span></p>
<p style="text-align:justify;"><span style="font-size:12pt;">Suatu ketika Rasulullah SAW pernah mengangkat Al-Hasan bin Ali dengan kedua kaki beliau seraya bersenandung:<br />
</span></p>
<p style="text-align:justify;"><span style="font-size:12pt;"><em>&#8220;Orang cebol terayun-ayun terpental-pental seperti mata kepinding.&#8221;</em> (HR Ibn Abi Syaibah (6/380) dan Abdullah bin Ahmad (2/787))<br />
</span></p>
<p style="text-align:justify;"><span style="font-size:12pt;">Atau dengan gurauan yang sudah kita ketahui semua tentang tidak ada nenek keriput di surga nanti.<br />
</span></p>
<p style="text-align:justify;"><span style="font-size:12pt;">Atau antum semua pernah mendengar tentang kisah sahabat Anshar ini. Namanya adalah An-Nu&#8217;aiman bin Umar Al-Anshari ra. Ia adalah sosok sahabat yang humoris. Ia adalah termasuk dalam kalangan sahabat Anshar yang pertama kali memeluk Islam.  Ia adalah kelompok pengikut Bai&#8217;at Al-&#8217;Aqabah terakhir. Terjun dalam perang Badar, Uhud, Khandaq, dan berbagai peperangan lainnya bersama Rasulullah SAW. Berikut candaan sahabat An-Nu&#8217;aiman ini kepada Rasulullah SAW:<br />
</span></p>
<p style="text-align:justify;"><span style="font-size:12pt;">Az-Zubair punya cerita lain dari Rabi&#8217;ah bin Utsman: &#8220;Suatu hari, Seorang Badui menemui Rasulullah SAW. Ia menambatkan untanya di halaman rumah beliau. Beberapa sahabatnya berkata kepada An-Nu&#8217;aiman, &#8220;Alangkah nikmatnya kalau kamu sembelih unta itu, lalu kita makan bersama-sama. Sudah lama kita ingin sekali makan daging.&#8221; An-Nu&#8217;aiman pun bergegas menyembelih unta tersebut. Saat orang Badui itu keluar dari kediaman Nabi SAW, ia berteriak kaget, &#8220;Wahai Muhammad, ada yang menyembelih untaku!&#8221;<br />
</span></p>
<p style="text-align:justify;"><span style="font-size:12pt;">Nabi segera keluar dan bertanya, &#8221; Siapa yang melakukannya?&#8217;<br />
</span></p>
<p style="text-align:justify;"><span style="font-size:12pt;">Para sahabat yang hadir menjawab, &#8220;An-Nu&#8217;aiman.&#8221; Lalu Nabi SAW beserta para sahabat itu mencari An-Nu&#8217;aiman. Ternyata ia kabur ke rumah Dhuba&#8217;ah bin Az-Zubair bin Abdul Muthalib, bersembunyi di kandang ternaknya. Salah seorang sahabat menunjukkan tempat persembunyian An-Nu&#8217;aiman kepada Nabi SAW. Maka beliau pun langsung mengintrogasinya, &#8220;Mengapa kamu sembelih unta orang Badui itu?&#8217;<br />
</span></p>
<p style="text-align:justify;"><span style="font-size:12pt;">An-Nu&#8217;aiman dengan polosnya menjawab, &#8220;Orang-orang yang menunjukkan tempat persembunyian saya kepada Anda inilah yang telah menyuruh saya menyembelih unta itu, wahai Rasulullah.&#8221; Mendengar jawaban An-Nu&#8217;aiman, Rasulullah SAW tertawa sambil mengusap debu di wajah An-Nu&#8217;aiman. Lalu beliau mengganti unta milik orang badui tersebut.&#8221;<br />
</span></p>
<p style="text-align:justify;"><span style="font-size:12pt;"><em>(HR Ibnu Abd Al-Barr dalam Al-Isti&#8217;ab (3/89) dan Ibnu Hajar dalam Al-Ishabah (6/465)<br />
</em></span></p>
<p style="text-align:justify;"><span style="font-size:12pt;">Kisah Az-Zubair yang lain dari pamannya, yang mendengar langsung dari kakeknya: &#8220;Pada masa Khalifah Utsman bin &#8216;Affan, seorang sahabat yang telah berusia 115 tahun, Makhramah bin Naufal, hampir kencing di masjid. Orang-orang langsung berteriak mencegah, &#8220;Jangan kencing di sini, ini masjid!&#8221; An-Nu&#8217;aiman yang juga hadir di situ menuntun Makhramah ke sisi lain masjid sambil berkata, &#8220;Nah sekarang Anda boleh kencing di sini.&#8221; Tentu saja orang-orang kembali berteriak melarangnya. Merasa dipermainkan, Makhramah berkata, &#8220;Awas kalian, siapa tadi yang membawaku ke sini?&#8221;<br />
</span></p>
<p style="text-align:justify;"><span style="font-size:12pt;"> &#8220;Itu An-Nu&#8217;aiman,&#8221; jawab mereka.<br />
</span></p>
<p style="text-align:justify;"><span style="font-size:12pt;">Makhramah kesal, &#8220;Kalau aku bertemu dia lagi, akan kupukul dengan tongkatku, agar ia bisa merasakan sakit yang sama seperti saat aku menahan kencing ini.&#8221;<br />
</span></p>
<p style="text-align:justify;"><span style="font-size:12pt;">Beberapa hari kemudian, An-Nu&#8217;aiman melihat Makhramah lagi di masjid. Waktu itu, Khalifah Utsman bin Affan ra. Sedang bersiap shalat di situ. An-Nu&#8217;aiman menghampiri Makhramah, &#8220;Apa Anda masih mencari An-Nu&#8217;aiman?&#8221;<br />
</span></p>
<p style="text-align:justify;"><span style="font-size:12pt;">Makhramah yang sudah berusia lanjut tak lagi mengenali An-Nu&#8217;aiman, ia menjawab, &#8220;Iya, aku mencarinya.&#8221; An-Nu&#8217;aiman lalu membawa Makhramah ke samping Utsman bin Affan ra. yang sedang khusyu&#8217;.<br />
</span></p>
<p style="text-align:justify;"><span style="font-size:12pt;">&#8220;Ayo, ini dia An-Nu&#8217;aiman,&#8221; ujar An-Nu&#8217;aiman kepada Makhramah sambil menunjuk Utsman bin Affan. Maka Makhramah segera mengumpulkan kekuatannya, dan memukul Utsman di sekitar pahanya. Melihat kejadian itu, orang-orang yang ada di masjid langsung berteriak, &#8220;Aduh, Anda telah memukul Amirul Mukminin!&#8221;<br />
</span></p>
<p style="text-align:justify;"><span style="font-size:12pt;"><em>(Al-Hafizh Ibnu hajar dalam Al-Ishabah 6/463)<br />
</em></span></p>
<p style="text-align:justify;"><span style="font-size:12pt;">Ada lagi cerita lain, tapi kini An-Nu&#8217;aiman sendiri yang menjadi &#8220;korban&#8221;. Ada sahabat lain yang suka bercanda dan melucu, Suwaibath bin Harmalah. Beliau adalah <em>ahlulbadr </em>(pengikut perang Badr).<br />
</span></p>
<p style="text-align:justify;"><span style="font-size:12pt;">Menurut Ummu Salamah, setahun sebelum wafatnya Nabi SAW, Abu Bakar ra. pergi berniaga ke Bashrah. Ikut dalam perjalanan tersebut, An-Nu&#8217;aiman dan Suwaibath bin Harmalah. An-Nu&#8217;aiman dipercaya untuk mengurui perbekalan rombongan. Di tengah perjalanan, Suwaibath meminta makanan kepada An-Nu&#8217;aiman. Tetapi An-Nu&#8217;aiman menolak, &#8220;Nanti saja, setelah Abu Bakar bersama kita.&#8221; Suwaibath mengancam, &#8220;Demi Allah, saya akan membalas kamu nanti!&#8221;<br />
</span></p>
<p style="text-align:justify;"><span style="font-size:12pt;">Tak lama kemudian, mereka melewati suatu perkampungan. Lalu Suwaibath mendatangi penduduk di perkampungan itu dan berkata, &#8220;Adakah kalian ingin membeli hamba sahaya (budak, pen.) dari saya?&#8221; &#8220;Boleh,&#8221; jawab mereka.<br />
</span></p>
<p style="text-align:justify;"><span style="font-size:12pt;">&#8220;Tapi hamba sahaya ini pintar bersilat lidah. Nanti dia pasti akan berkilah  bahwa dia orang yang merdeka. Jangan-jangan kalian kemudian melepaskannya dan membatalkan niat untuk membeli dari saya,&#8221; ujar Suwaibath lagi.<br />
</span></p>
<p style="text-align:justify;"><span style="font-size:12pt;">&#8220;Tidak, kami akan tetap membelinya dari Anda.&#8221;<br />
</span></p>
<p style="text-align:justify;"><span style="font-size:12pt;">&#8220;Baiklah, kalau begitu belilah seharga sepuluh unta muda.&#8221;<br />
</span></p>
<p style="text-align:justify;"><span style="font-size:12pt;">Maka penduduk perkampungan itu mendatangi rombongan Abu Bakar. Mereka langsung mengikatkan tali di leher An-Nu&#8217;aiman. Serta merta An-Nu&#8217;aiman protes, &#8220;Orang ini bercanda kepada kalian, saya orang yang merdeka, saya bukan hamba sahaya!&#8221;<br />
</span></p>
<p style="text-align:justify;"><span style="font-size:12pt;">Tetapi para penduduk itu tak menggubris, &#8220;Kami sudah tahu kamu pintar bersilat lidah!&#8221; mereka tetap membawa An-Nu&#8217;aiman ke perkampungan mereka. Setelah Abu Bakar ra. bergabung dengan rombongan tersebut, Suwaibath menceritakan apa yang baru saja terjadi. Maka Abu Bakar segera mendatangi perkapungan penduduk tersebut untuk menjemput An-Nu&#8217;aiman, dan mengembalikan sepuluh unta muda yang telah mereka bayarkan. Sekembalinya ke Madinah, para anggota rombongan menceritakan peristiwa tadi kepada Nabi SAW. Tentu saja, Nabi SAW dan para sahabat tertawa mendengar cerita tersebut.&#8221;<br />
</span></p>
<p style="text-align:justify;"><span style="font-size:12pt;"><em>(HR Ibnu Majah dalam kitab Al-Adab (3719), Abu Dawud Ath-Thayalisi dan Ar-Rauyani juga meriwayatkan hadits ini, namun dalam versi mereka yang mengibuli adalah An-Nu&#8217;aiman serta yang dikibuli adalah Suwaibath, lihat Al-Ishabah (3/222)).<br />
</em></span></p>
<p style="text-align:justify;"><span style="font-size:12pt;">Ikhwatifillah, dari tulisan di atas tak dapat kita pungkiri, di antara (ini berarti pula tidak semuanya) para sahabat ada yang menjalani hidup mereka dengan keras seperti Abu Bakar ra., dan Umar bin Khotthob. Namun ada pula sebaliknya seperti An-Nu&#8217;aiman  dan Ibnu Umar.  Ibnu Umar ini juga sering bercanda dan menyenandungkan syair seperti yang dikatakan Ibnu Sirin. Padahal Ibnu Umar juga terkenal dengan sikap wara&#8217;, ketekunan, serta keistiqomahannya dalam menjalankan ajaran agama.<br />
</span></p>
<p style="text-align:justify;"><span style="font-size:12pt;">Sudah jelas bahwa kekakuan, wajah masam, tanpa senyum, dan tidak ramah tidak merepresentasikan ajaran islam yang sesungguhnya  serta tidak sesuai dengan apa yang telah dicontohkan Rasulullah SAW. Pandangan mereka—seperti disebutkan oleh Syaikh Yusuf Al-Qaradhawy—lebih disebabkan oleh pemahaman keagamaan yang kurang benar, karakter pribadi, atau disebabkan oleh latar belakang lingkungan serta pendidikan mereka.<br />
</span></p>
<p style="text-align:justify;"><span style="font-size:12pt;">Ia menyebutkan yang terpenting setiap muslim harus tahu bahwa Islam tidak dipatok dari perilaku seseorang maupun sekelompok manusia yang bisa benar atau salah. Standar Islam yang benar adalah yang diambil dari Al-Qur&#8217;an dan As-Sunnah yang telah teruji kevalidannya.<br />
</span></p>
<p style="text-align:justify;">
 </p>
<p style="text-align:justify;"><span style="font-size:12pt;"><strong>Batasan-batasan<br />
</strong></span></p>
<p style="text-align:justify;"><span style="font-size:12pt;">Ikhwatifillah, hiburan, humor, dan canda itu diperbolehkan dalam Islam. Semua itu adalah dalam rangka memenuhi kebutuhan fitrah manusia yang diberikan Allah. Fitrahnya semua itu dapat meringankan hidup kita. Menyegarkan jiwa, menghilangkan beban, kegalauan, serta mengurangi himpitan yang kita rasakan. Saya mengutip perkataan Ali bin Abi Thalib yang dikutip oleh Syaikh Yusuf Al-Qaradhawy dalam bukunya, &#8220;Istirahatkanlah hati, dan carilah &#8220;gizi&#8221; hikmah untuknya. Karena sesungguhnya, hati bisa jenuh sebagaimana badan bisa capek.&#8221;<br />
</span></p>
<p style="text-align:justify;"><span style="font-size:12pt;">Tapi menurut ulama, ada syarat dan rambu yang harus diperhatikan agar semua itu masih dalam batas yang diperbolehkan. Namun saya tak mengulas lebih dalam rambu dari ulama tersebut karena sudah banyak diterangkan dalam tulisan-tulisan lain yang sejenis. Berikut rambunya:<br />
</span></p>
<ol style="margin-left:54pt;">
<li>
<div style="text-align:justify;"><span style="font-size:12pt;">Tak boleh menggunakan kebohongan dan membuat-buat dalam mencandai orang lain. Misalnya April Mop. Dalam hal berkaitan dengan humor atau anekdot, Syaikh Yusuf Al-Qaradhawy mengatakan itu diperbolehkan asalkan tidak menyakiti atau menyimpang. Bila sebaliknya, maka dilarang. Anekdot pun tidak mesti selalu bersinggungan dengan kejadian-kejadian nyata, namun boleh juga berbentuk fiksi seperti halnya seorang novelis atau cerpenis yang mengarang cerita pendek maupun panjang. Kreasi semacam ini tidak termasuk kebohongan yang diharamkan, karena orang-orang pun tahu bahwa cerita-cerita tersebut hanyalah karangan sang cerpenis atau novelis.<br />
</span></div>
</li>
<li>
<div style="text-align:justify;"><span style="font-size:12pt;">Candaan yang dilakukan tidak boleh mengandung unsur penghinaan ataupun pelecehan terhadap orang lain. Kecuali, yang bersangkutan mengizinkan dan rela.<br />
</span></div>
</li>
<li>
<div style="text-align:justify;"><span style="font-size:12pt;">Jangan sampai mengagetkan atau menimbulkan ketakutan bagi muslim yang lain.<br />
</span></div>
</li>
<li>
<div style="text-align:justify;"><span style="font-size:12pt;">Tidak boleh bercanda dalam situasi serius atau tertawa dalam suasana duka. Sebab segala sesuatu itu ada waktunya, dan setiap ucapan ada tempatnya. Dan cerminan kebijaksanaan seseorang adalah bila ia mampu meletakkan segala sesuatu dengan tepat.<br />
</span></div>
</li>
</ol>
<p style="text-align:justify;">
 </p>
<p style="text-align:justify;"><span style="font-size:12pt;"><strong>Penutup<br />
</strong></span></p>
<p style="text-align:justify;"><span style="font-size:12pt;">Ikwhatifillah, di bagian akhir tulisan ini, kembali saya ungkapkan bahwa Islam adalah agama yang moderat. Sebaik-baik perkara adalah yang selalu di pertengahan. Yang berlebihan itu tidak baik. Dalam masalah ini Islam memandang bahwa hidup itu adalah sebuah perjalanan yang berat, dan manusia sebagai musafir dalam perjalanan tersebut butuh sebuah oase, wadi, tempat mata air berkumpul untuk berhenti sejenak dan merehatkan diri. Pada waktunya manusia butuh hiburan, butuh tertawa, butuh kelakar, dan butuh humor, dan butuh semua yang bisa memancing tawa manusia agar kesedihan dan kesusahan itu luput dari wajahnya. Islam mengerti betul fitrah itu dan membiarkannya tidak mati. Yang terpenting, selama semuanya itu masih dalam koridor yang diperbolehkan.<br />
</span></p>
<p style="text-align:justify;"><span style="font-size:12pt;">    Sebuah referensi bagus yang saya sarankan untuk dibaca dalam kaitan dengan masalah ini adalah sebuah buku terjemahan yang ditulis oleh DR. Yusuf Al-Qaradhawy berjudul Fikih Hiburan. Di dalam buku tersebut diterangkan bagaimana Islam memandang hiburan dan permainan-permainan yang sekarang sedang bingar dalam kehidupan manusia bumi. Seperti sepakbola, tinju, panjat gedung, sirkus, adu mobil, gulat, lomba lari, renang, catur, dadu, tarian, dansa, drama, tepuk tangan, berburu binatang, lomba pacuan kuda, dan masih banyak lagi lainnya.<br />
</span></p>
<p style="text-align:justify;"><span style="font-size:12pt;">    Buku yang menurut saya dapat membuat sebuah pencerahan dan sanggup membuka wawasan kita agar bisa bersikap pertengahan, tidak keras, berlebihan dan tidak meremehkan. Insya Allah.<br />
</span></p>
<p style="text-align:justify;"><span style="font-size:12pt;">Ada hikmah yang mengatakan: &#8220;Seorang yang berakal tidak selayaknya pergi selain untuk tiga perkara: mencari bekal untuk akhirat, memperbaiki taraf kehidupannya, atau mereguk kenikmatan yang tidak diharamkan.&#8221;<br />
</span></p>
<p style="text-align:justify;"><span style="font-size:12pt;">Semoga Allah mengampuni saya.<br />
</span></p>
<p style="text-align:justify;">
 </p>
<p style="text-align:justify;"><span style="font-size:12pt;">Maraji&#8217; utama:<br />
</span></p>
<p style="text-align:justify;"><span style="font-size:12pt;">Fikih Hiburan, DR. Yusuf Al-Qaradhawy, Penerjemah Dimas Hakamsyah, Lc., Pustaka AlKautsar, Jakarta, Cetakan Pertama, Desember 2005.<br />
</span></p>
<p style="text-align:justify;">
 </p>
<p style="text-align:justify;"><span style="font-size:12pt;">Riza Almanfaluthi<br />
</span></p>
<p style="text-align:justify;"><span style="font-size:12pt;">dedaunan di ranting cemara<br />
</span></p>
<p style="text-align:justify;"><span style="font-size:12pt;"><em>direct selling itu butuh keterampilan berkomunikasi<br />
</em></span></p>
<p style="text-align:justify;"><span style="font-size:12pt;">10.09 02 Juni 2008<br />
</span></p>
<p style="text-align:justify;"><span style="font-size:12pt;"><em><br />
			</em></span> </p>
<img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/dirantingcemara.wordpress.com/376/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/dirantingcemara.wordpress.com/376/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/dirantingcemara.wordpress.com/376/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/dirantingcemara.wordpress.com/376/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/dirantingcemara.wordpress.com/376/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/dirantingcemara.wordpress.com/376/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/dirantingcemara.wordpress.com/376/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/dirantingcemara.wordpress.com/376/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/dirantingcemara.wordpress.com/376/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/dirantingcemara.wordpress.com/376/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/dirantingcemara.wordpress.com/376/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/dirantingcemara.wordpress.com/376/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=dirantingcemara.wordpress.com&blog=1612705&post=376&subd=dirantingcemara&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://dirantingcemara.wordpress.com/2008/06/02/islam-melarang-humor/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>4</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/3ddf1c3ba1bfa227c6b07072605b8a11?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">dedaunan</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Al-Wajiz: 100 Kaidah Fikih dalam Kehidupan Sehari-hari</title>
		<link>http://dirantingcemara.wordpress.com/2008/03/10/al-wajiz-100-kaidah-fikih-dalam-kehidupan-sehari-hari/</link>
		<comments>http://dirantingcemara.wordpress.com/2008/03/10/al-wajiz-100-kaidah-fikih-dalam-kehidupan-sehari-hari/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 10 Mar 2008 00:38:48 +0000</pubDate>
		<dc:creator>dirantingcemara</dc:creator>
				<category><![CDATA[Resensi]]></category>
		<category><![CDATA[Book]]></category>
		<category><![CDATA[Buku]]></category>
		<category><![CDATA[Dakwah]]></category>
		<category><![CDATA[fiqh]]></category>
		<category><![CDATA[kaedah fikih]]></category>
		<category><![CDATA[kaidah]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://dirantingcemara.wordpress.com/?p=345</guid>
		<description><![CDATA[ 
Al-Wajiz: 100 Kaidah Fikih dalam Kehidupan Sehari-hari

Judul Buku Terjemahan                                : Al-Wajiz; 100 Kaidah Fikih dalam Kehidupan Sehari-hari
Judul Buku Asli                                  : Al-Wajiz fi Syarhi Al-Qawaid Al-Fiqhiyyah fi Asy-Syari’ah Al-Islamiyyah
Penulis                 : Abdul Karim Zaidan, Dr.
Penerjemah       : Muhyidin Mas Rida Lc.
Penerbit              : Pustaka Al-Kautsar, Jakarta
Cetakan               : Pertama, Februari 2008
Tebal                     : xxxii + 280 hlm

·         Seseorang yang tidak mampu [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=dirantingcemara.wordpress.com&blog=1612705&post=345&subd=dirantingcemara&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p align="center" style="text-align:center;margin:0 0 10pt;" class="MsoNormal"><font face="Calibri"><strong><img border="0" width="105" src="http://www.kautsar.co.id/gbr/al-wajiz.jpg" height="159" /> </strong></font></p>
<p align="center" style="text-align:center;margin:0 0 10pt;" class="MsoNormal"><font face="Calibri"><strong>Al-Wajiz: 100 Kaidah Fikih dalam Kehidupan Sehari-hari</strong></font></p>
<p style="text-align:justify;margin:0 0 10pt;" class="MsoNormal"><font face="Calibri"></font></p>
<p style="text-align:justify;margin:0 0 10pt;" class="MsoNormal"><font face="Calibri">Judul Buku Terjemahan<span>                                </span>: Al-Wajiz; 100 Kaidah Fikih dalam Kehidupan Sehari-hari</font></p>
<p style="text-align:justify;margin:0 0 10pt;" class="MsoNormal"><font face="Calibri">Judul Buku Asli<span>                                  </span>: Al-Wajiz fi Syarhi Al-Qawaid Al-Fiqhiyyah fi Asy-Syari’ah Al-Islamiyyah</font></p>
<p style="text-align:justify;margin:0 0 10pt;" class="MsoNormal"><font face="Calibri">Penulis<span>                 </span>: Abdul Karim Zaidan, Dr.</font></p>
<p style="text-align:justify;margin:0 0 10pt;" class="MsoNormal"><font face="Calibri">Penerjemah<span>       </span>: Muhyidin Mas Rida Lc.</font></p>
<p style="text-align:justify;margin:0 0 10pt;" class="MsoNormal"><font face="Calibri">Penerbit<span>              </span>: Pustaka Al-Kautsar, Jakarta</font></p>
<p style="text-align:justify;margin:0 0 10pt;" class="MsoNormal"><font face="Calibri">Cetakan<span>               </span>: Pertama, Februari 2008</font></p>
<p style="text-align:justify;margin:0 0 10pt;" class="MsoNormal"><font face="Calibri">Tebal<span>                     </span>: xxxii + 280 hlm</font></p>
<p style="text-align:justify;margin:0 0 10pt;" class="MsoNormal"><font face="Calibri"></font></p>
<p align="center" style="text-indent:-18pt;text-align:center;margin:0 0 0 36pt;" class="MsoListParagraphCxSpFirst"><span style="font-family:Symbol;"><span>·<span style="font:7pt 'Times New Roman';">         </span></span></span><span dir="ltr"></span><i><font face="Calibri">Seseorang yang tidak mampu membayar utang, diberi tangguh sampai mampu melunasi utangnya;</font></i></p>
<p align="center" style="text-indent:-18pt;text-align:center;margin:0 0 0 36pt;" class="MsoListParagraphCxSpMiddle"><span style="font-family:Symbol;"><span>·<span style="font:7pt 'Times New Roman';">         </span></span></span><span dir="ltr"></span><i><font face="Calibri">Seseorang dalam keadaan sangat kelaparan, kemudian dia memakan makanan orang lain, maka dia harus mengganti seharga makanan tersebut;</font></i></p>
<p align="center" style="text-indent:-18pt;text-align:center;margin:0 0 0 36pt;" class="MsoListParagraphCxSpMiddle"><span style="font-family:Symbol;"><span>·<span style="font:7pt 'Times New Roman';">         </span></span></span><span dir="ltr"></span><i><font face="Calibri">Sesuatu yang haram diterima, juga haram diberikan;</font></i></p>
<p align="center" style="text-indent:-18pt;text-align:center;margin:0 0 0 36pt;" class="MsoListParagraphCxSpMiddle"><span style="font-family:Symbol;"><span>·<span style="font:7pt 'Times New Roman';">         </span></span></span><span dir="ltr"></span><i><font face="Calibri">Tidak boleh membuat bangunan yang dapat merugikan orang lain;</font></i></p>
<p align="center" style="text-indent:-18pt;text-align:center;margin:0 0 0 36pt;" class="MsoListParagraphCxSpMiddle"><span style="font-family:Symbol;"><span>·<span style="font:7pt 'Times New Roman';">         </span></span></span><span dir="ltr"></span><i><font face="Calibri">Seseorang yang merasa dirugikan, tidak boleh membalas dengan merugikan orang lain, tetapi harus lapor ke pengadilan;</font></i></p>
<p align="center" style="text-indent:-18pt;text-align:center;margin:0 0 0 36pt;" class="MsoListParagraphCxSpMiddle"><span style="font-family:Symbol;"><span>·<span style="font:7pt 'Times New Roman';">         </span></span></span><span dir="ltr"></span><i><font face="Calibri">Diperbolehkan membunuh para pemberontak;</font></i></p>
<p align="center" style="text-indent:-18pt;text-align:center;margin:0 0 10pt 36pt;" class="MsoListParagraphCxSpLast"><span style="font-family:Symbol;"><span>·<span style="font:7pt 'Times New Roman';">         </span></span></span><span dir="ltr"></span><i><font face="Calibri">Tidak boleh menutup toko yang baru karena kehadirannya dianggap merugikan toko yang lama.</font></i></p>
<p align="center" style="text-align:center;margin:0 0 10pt;" class="MsoNormal"><font face="Calibri">(<i>kaver depan</i>)</font></p>
<p align="center" style="text-align:center;margin:0 0 10pt;" class="MsoNormal"><font face="Calibri">***</font></p>
<p style="text-align:justify;margin:0 0 10pt;" class="MsoNormal"><font face="Calibri"></font></p>
<p style="text-align:justify;margin:0 0 10pt;" class="MsoNormal"><font face="Calibri"><span>                </span>Mengikuti berbagai forum diskusi dan kajian tentang fikih maka kita akan sering mendapati para peserta diskusi, mentor, guru menyebutkan kaedah-kaedah fikih. Semisal kaedah <b><i>bahaya tidak boleh dihilangkan dengan bahaya yang serupa</i></b>, <b><i>mencegah kerusakan lebih diutamakan daripada mendatangkan kemaslahatan</i></b>, <b><i>keadaan darurat memperbolehkan melakukan yang dilarang</i></b>, <span> </span>atau kaedah <b><i>suatu yang wajib tidak sempurna kecuali dengannya adalah wajib</i> </b>dan masih banyak lagi contoh kaedah yang lainnya. </font></p>
<p style="text-align:justify;margin:0 0 10pt;" class="MsoNormal"><font face="Calibri"><span>                </span>Bagi yang ingin memahami lebih lanjut tentang berbagai kaedah ini biasanya harus merujuk pada kitab-kitab fikih yang terkenal. Terkadang yang dibahas hanya beberapa kaedah saja. Kebanyakan pula referensi tersebut tersedia dalam bahasa Arab. Ini tentu menyulitkan bagi mereka yang tidak mengerti bahasa itu. Maka buku terjemahan yang diterbitkan baru-baru saja ini, tentunya sangat membantu sekali bagi Anda, para penuntut ilmu ataupun siapapun yang ingin mendalami kajian kaedah fikih dalam kehidupan sehari-hari. Dan Anda tidak perlu membacanya dari awal sampai tuntas untuk mengetahui dengan segera kaedah yang diperlukan. Anda cukup dengan mencari di daftar isinya, lalu menuju halaman yang dituju, dibaca, dan dipahami. Anda dapat membaca buku ini dari kaedah mana saja. Praktis sekali.</font></p>
<p style="text-align:justify;margin:0 0 10pt;" class="MsoNormal"><font face="Calibri"><span>                </span>Penulis buku ini mengumpulkan sebanyak seratus kaedah fikih –yang tersebar dari berbagai kitab para ulama—yang bisa dijadikan sebagai dasar pengambilan suatu hukum. Kaedah fikih ini—sebagaimana disebutkan dalam pengantar penerbit—merupakan sesuatu yang sangat penting, mengingat nash-nash Al-Qur’an maupun hadits menggariskan hukum secara global, sementara permasalahan hukum dari waktu ke waktu semakin komplek dan semakin banyak, sehingga diperlukan metode dalam pengambilan hukum tersebut.</font></p>
<p style="text-align:justify;margin:0 0 10pt;" class="MsoNormal"><font face="Calibri"><span>                </span>Buku ini diawali dengan memberikan pengertian apa itu definisi kaedah secara bahasa serta perbedaan antara kaedah fikih dan hukum fikih itu sendiri. Yang menarik lagi dalam buku ini adalah di setiap kaedah yang dibahas diberikan makna,<span>  </span>dalil-dalil, cabang, pengecualian kaedah, serta contoh-contohnya. Ini tentunya lebih memudahkan dan memberikan penjelasan yang menyeluruh bagi para pembacanya. </font></p>
<p style="text-align:justify;margin:0 0 10pt;" class="MsoNormal"><font face="Calibri"><span>                </span>Bagi saya, kehadiran buku ini benar-benar merupakan taufik Allah yang diberikan-Nya kepada saya. Betapa tidak, dua atau tiga minggu sebelum saya membeli buku ini saya kesulitan dalam mencari kaedah-kaedah fikih yang diperlukan untuk memahami timbulnya suatu perkara dalam hukum fikih, baik di internet ataupun dalam buku-buku fikih yang saya miliki. Dan akhirnya Allah memudahkan saya dengan menemukan buku ini di suatu pameran buku Islam yang baru saja berakhir hari ini (9/03). </font></p>
<div style="border-right:medium none;border-top:medium none;border-left:medium none;border-bottom:windowtext 3pt dotted;padding:0 0 1pt;">
<p style="text-align:justify;border:medium none;margin:0 0 10pt;padding:0;" class="MsoNormal"><font face="Calibri"><span>                </span>Walaupun diakui sendiri oleh penulisnya bahwa kumpulan kaedah ini merupakan kumpulan <b><i>catatan singkat</i></b> yang berisi penjelasan sebagian kaedah fikih dalam syariat Islam dan belum ditulis secara luas serta komprehensif, setidaknya bagi dunia perbukuan Indonesia<span>  </span>merupakan penambahan harta karun referensi Islam yang amat berharga. Pun bagi saya dan Anda tentunya keberadaan buku ini memperdalam samudra perbendaharaan <i>tsaqofah</i> (wawasan) serta menuntaskan dahaga intelektualitas kita. Semoga. </font></p>
<p style="text-align:justify;border:medium none;margin:0 0 10pt;padding:0;" class="MsoNormal"><font face="Calibri"></font></p>
</div>
<p style="margin:0 0 10pt;" class="MsoNormal"><font face="Calibri"></font></p>
<p style="margin:0 0 10pt;" class="MsoNormal"><font face="Calibri">Riza Almanfaluthi</font></p>
<p style="margin:0 0 10pt;" class="MsoNormal"><font face="Calibri">Tengah malam, 00.01 WIB 10 Maret 2008 </font></p>
<p style="margin:0 0 10pt;" class="MsoNormal"><font face="Calibri">dedaunan di ranting cemara</font></p>
<p style="margin:0 0 10pt;" class="MsoNormal"><font face="Calibri">http://dirantingcemara.wordpress.com</font></p>
<p style="text-align:justify;margin:0 0 10pt;" class="MsoNormal"><span><font face="Calibri">                </font></span></p>
<img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/dirantingcemara.wordpress.com/345/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/dirantingcemara.wordpress.com/345/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/dirantingcemara.wordpress.com/345/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/dirantingcemara.wordpress.com/345/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/dirantingcemara.wordpress.com/345/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/dirantingcemara.wordpress.com/345/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/dirantingcemara.wordpress.com/345/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/dirantingcemara.wordpress.com/345/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/dirantingcemara.wordpress.com/345/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/dirantingcemara.wordpress.com/345/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/dirantingcemara.wordpress.com/345/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/dirantingcemara.wordpress.com/345/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=dirantingcemara.wordpress.com&blog=1612705&post=345&subd=dirantingcemara&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://dirantingcemara.wordpress.com/2008/03/10/al-wajiz-100-kaidah-fikih-dalam-kehidupan-sehari-hari/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/3ddf1c3ba1bfa227c6b07072605b8a11?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">dedaunan</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://www.kautsar.co.id/gbr/al-wajiz.jpg" medium="image" />
	</item>
		<item>
		<title>Biola Tak Berdawai</title>
		<link>http://dirantingcemara.wordpress.com/2007/12/18/biola-tak-berdawai/</link>
		<comments>http://dirantingcemara.wordpress.com/2007/12/18/biola-tak-berdawai/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 18 Dec 2007 07:38:38 +0000</pubDate>
		<dc:creator>dirantingcemara</dc:creator>
				<category><![CDATA[Resensi]]></category>
		<category><![CDATA[Books]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://dirantingcemara.wordpress.com/2007/12/18/biola-tak-berdawai/</guid>
		<description><![CDATA[Biola Tak Berdawai
:Sebuah Roman
Seno Gumira Ajidarma &#38; Sekar Ayu Asmara
Penerbit PT Andal Krida Nusantara (Akur)
Cet. II Maret  2004

	Tanpa dawai, bagaimanakah biola bisa bersuara? Biola bagaikan tubuh, dan suara itulah jiwanya—tetapi di sebelah manakah dawai dalam tubuh manusia yang membuatnya bicara? Jiwa hanya bisa disuarakan lewat tubuh manusia, tetapi ketika tubuh manusia itu tidak mampu menjadi perantara yang mampu menjelmakan jiwa, tubuh itu bagaikan biola tak berdawai. (Prolog, hal 1)
Buku ini ditulis berdasarkan skenario dan film karya Sekar Ayu Asmara. Dengan cara pandang seorang anak tunadaksa (dengan banyak cacat yang diderita) bernama Dewa.  Autistik, bisu, tubuh kecil yang tidak bisa berkembang, mata terbuka tapi tidak melihat, telinga yang bisa menangkap bunyi tapi tidak mendengar, jaringan otak yang rusak, leher yang selalu miring, kepala yang selalu tertunduk, wajah bagaikan anak genderuwo adalah gambaran dari anak itu.  
Sebagai salah satu bayi yang tumbuh besar sampai umur delapan tahun—yang di luar perkiraan kebanyakan orang di panti asuhan tersebut, ia adalah belahan jiwa dari salah seorang pengasuhnya, Renjani. Renjani bersama Mbak Wid adalah pengurus panti asuhan yang bernama Rumah Asuh Ibu Sejati, terletak di daerah para pengrajin perak bernama Kotagede di pinggiran kota Yogyakarta. Tempat di mana mereka menampung bayi-bayi yang tidak dikehendaki, karena cacat ataupun karena hasil dari hubungan gelap.<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=dirantingcemara.wordpress.com&blog=1612705&post=287&subd=dirantingcemara&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p>Biola Tak Berdawai<br />
:Sebuah Roman<br />
Seno Gumira Ajidarma &amp; Sekar Ayu Asmara<br />
Penerbit PT Andal Krida Nusantara (Akur)<br />
Cet. II Maret  2004</p>
<p>	Tanpa dawai, bagaimanakah biola bisa bersuara? Biola bagaikan tubuh, dan suara itulah jiwanya—tetapi di sebelah manakah dawai dalam tubuh manusia yang membuatnya bicara? Jiwa hanya bisa disuarakan lewat tubuh manusia, tetapi ketika tubuh manusia itu tidak mampu menjadi perantara yang mampu menjelmakan jiwa, tubuh itu bagaikan biola tak berdawai. (Prolog, hal 1)<br />
Buku ini ditulis berdasarkan skenario dan film karya Sekar Ayu Asmara. Dengan cara pandang seorang anak tunadaksa (dengan banyak cacat yang diderita) bernama Dewa.  Autistik, bisu, tubuh kecil yang tidak bisa berkembang, mata terbuka tapi tidak melihat, telinga yang bisa menangkap bunyi tapi tidak mendengar, jaringan otak yang rusak, leher yang selalu miring, kepala yang selalu tertunduk, wajah bagaikan anak genderuwo adalah gambaran dari anak itu.<br />
Sebagai salah satu bayi yang tumbuh besar sampai umur delapan tahun—yang di luar perkiraan kebanyakan orang di panti asuhan tersebut, ia adalah belahan jiwa dari salah seorang pengasuhnya, Renjani. Renjani bersama Mbak Wid adalah pengurus panti asuhan yang bernama Rumah Asuh Ibu Sejati, terletak di daerah para pengrajin perak bernama Kotagede di pinggiran kota Yogyakarta. Tempat di mana mereka menampung bayi-bayi yang tidak dikehendaki, karena cacat ataupun karena hasil dari hubungan gelap.<br />
Renjani bersama Dewa mengarungi pergiliran waktu dengan menyaksikan kedatangan para bayi tunadaksa yang cepat pula meninggalkan mereka karena kematian, meninggalkan mereka menuju ke pekuburan bayi. Begitu pula dengan Mbak Wid, seorang dokter kepala, yang di siang harinya mengenakan pakaian putih-putih, tapi di saat malam tiba, ia berubah menjadi perempuan berbaju hitam-hitam yang begitu percaya ramalan kartu Tarot dan menyepi di sebuah ruangan yang dipenuhi dengan seratus lilin. Selalu, Renjani menemani Mbak Wid dalam permainan kartu itu, tentu dengan Dewa yang tetap terdiam membisu, dengan leher yang selalu miring, dan kepala yang selalu tertunduk.<br />
Sampai suatu ketika saat Dewa mendengar alunan biola dari sebuah CD, sebuah kekuatan mampu membuat kepalanya terangkat—hanya sepersekian detik, dan Renjani—ibunya yang mantan penari balet—melihat itu! Renjani menghambur memeluknya. “ Dewa, Dewa—Dewa suka ibu menari ya? Ah, Ibu sayang sekali sama kamu Dewa!”<br />
 Sepersekian detik itulah yang kemudian membawa Renjani dan Dewa melihat Ballet Ramayana yang dimainkan setiap bulan purnama di Candi Prambanan. Lalu berkenalan dengan pemuda yang lebih muda usia daripadanya. Bhisma, salah seorang pemain biola dari pertunjukan itu selalu memperhatikan Renjani saat pertunjukan berlangsung. Singkat cerita, Bhisma semakin akrab dengan Renjani, pun dengan Dewa yang ia sebut sebut sebagai biola  tak berdawai.<br />
Tapi keakraban dan benih cinta yang mulai tumbuh itu rusak saat Bhisma memaksa Renjani menerima dirinya karena itu berarti mengusik masa lalu Renjani yang gelap, yang menjadi satu-satunya alasan mengapa ia pindah dari Jakarta ke tempat sepi ini. Ia belum sanggup berdamai dengan masa lalunya. Masa lalu yang merusak kehormatannya sebagai seorang perempuan. Ia diperkosa oleh guru baletnya.<br />
Jejak-jejak gelap itu menjelma menjadi segumpal daging yang Renjani secara ceroboh menggugurkannya. Lalu menjadi kanker yang membuatnya koma selama seminggu dan akhirnya berkumpul bersama bayi-bayi tunadaksa yang tidak sanggup bertahan hidup di dunia. Bhisma menyesal atas pemaksaannya itu.<br />
Penyesalan yang hanya bisa membuatnya melakukan sebuah konser tunggal. Di kuburan Renjani. Di kuburan para tunadaksa itu. Memainkan resital gubahannya yang baru terselesaikan dan tak sempat tertunaikan untuk dimainkan di hadapan Renjani.<br />
Tapi walaupun terlambat konser itu bagi Dewa adalah konser dari seribu biola, seribu harpa, seribu seruling, seribu piano, seribu timpani, seribu cello, seribu bas betot, seribu harmonica, seribu gitar listrik, dan  seribu anggota paduan suara malaikat dari sorga. Membuat langit ini penuh dengan cahaya dan lapisan-lapisan emas berkilauan. Dan yang mampu membuat Bhisma tertegun, mampu membuat biola itu berhenti sejenak, mampu membuat Dewa berkata: “D..de….f….faa…shaa…shaa…aang…iii…buuu.”<br />
Dewa sayang kamu Renjani.<br />
Secara keseluruhan roman ini bercerita dengan sederhana sekali. Sekali lagi, sederhana sekali. Ada yang membuatnya beda dan menjadikan novel ini berciri khas unik yaitu penyelipan kisah-kisah pewayangan, kakawin  Bharata-Yuddha beserta para tokoh-tokohnya, Drupadi, Pandawa, Kurawa, Bhisma, Sengkuni, Dorna,  dan yang lainnya. Kisah-kisah yang terlupakan oleh saya.  Namun sempat membangkitkan memori bahwa saya sempat membaca komiknya waktu masih SD dulu.<br />
Filmnya meraih berbagai penghargaan internasional namun roman adaptasi dengan judul sama ini bagi saya biasa-biasa saja. Belum menggugah rasa kebahasaan saya walaupun ditulis oleh seorang yang bernama Seno Gumira Ajidarma. Penulis serba bisa Indonesia yang paling produktif—sebagaimana ditulis dalam kata pengantar buku itu—yang piawai sekali memainkan kata-kata dan sekali lagi menurut penulis kata pengantar tersebut mampu menangkap echo cinta dari film itu. Bagi saya Seno tidak sepiawai saat memainkan kata dan cinta tentunya dalam “Sepotong senja untuk Pacarku.” Karena ia terkungkung dalam sebuah skenario? Entah. Buku ini cukup dibaca saat waktu senggang saja.<br />
Namun kavernya bagi saya mampu untuk “menutupi” kekurangan ini. Indah. Biola tak berdawai, kupu-kupu jingga, warna hitam yang dominan adalah sebuah citra tepat dari sebuah sampul yang menggambarkan isi buku ini. Sebuah asa akan asmara, yang hilang terampas oleh duka dan waktu. </p>
<p>Riza Almanfaluthi<br />
dedaunan di ranting cemara<br />
06.08 23 Juni 2007</p>
<img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/dirantingcemara.wordpress.com/287/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/dirantingcemara.wordpress.com/287/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/dirantingcemara.wordpress.com/287/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/dirantingcemara.wordpress.com/287/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/dirantingcemara.wordpress.com/287/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/dirantingcemara.wordpress.com/287/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/dirantingcemara.wordpress.com/287/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/dirantingcemara.wordpress.com/287/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/dirantingcemara.wordpress.com/287/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/dirantingcemara.wordpress.com/287/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/dirantingcemara.wordpress.com/287/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/dirantingcemara.wordpress.com/287/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=dirantingcemara.wordpress.com&blog=1612705&post=287&subd=dirantingcemara&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://dirantingcemara.wordpress.com/2007/12/18/biola-tak-berdawai/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/3ddf1c3ba1bfa227c6b07072605b8a11?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">dedaunan</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>ELANG RETAK: MATI BUKAN MASALAH, HIDUP YANG JADI PERSOALAN</title>
		<link>http://dirantingcemara.wordpress.com/2007/12/17/elang-retak-mati-bukan-masalah-hidup-yang-jadi-persoalan/</link>
		<comments>http://dirantingcemara.wordpress.com/2007/12/17/elang-retak-mati-bukan-masalah-hidup-yang-jadi-persoalan/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 17 Dec 2007 09:13:27 +0000</pubDate>
		<dc:creator>dirantingcemara</dc:creator>
				<category><![CDATA[Resensi]]></category>
		<category><![CDATA[Books]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://dirantingcemara.wordpress.com/2007/12/17/elang-retak-mati-bukan-masalah-hidup-yang-jadi-persoalan/</guid>
		<description><![CDATA[Judul: Elang Retak
Penulis: Gus Ballon
619 Hal. Cetakan I, Juli 2005
Penerbit: Q-Press (Kelompok Penerbit Pustaka Hidayah)
Alamat: Jalan Rereng Adumanis 31, Sukaluyu Bandung 40123 Jawa Barat, Indonesia

	Novel ini saya temukan dalam tumpukan buku diskon yang dijual oleh toko buku terkenal di Depok. Sebuah buku cerita tebal yang dibanderol dengan harga cuma lima belas ribu rupiah. Tebal dan murah, dua parameter ini yang membuat  saya membelinya setelah beberapa hari sebelumnya saya kosong dari aktivitas membaca.
	Saya mungkin terlambat untuk membacanya dan untuk membuat sebuah tulisan tentang novel ini, oleh karena itu saya tidak akan membahas dengan mendalam apa isinya, karena sudah pernah dibahas oleh Alif di forum diskusi ajangkita, Jadi saya menulis apa yang saya rasakan setelah membacanya.
	Pertama adalah masalah si penulisnya.  Baru kali ini saya tidak melihat sebuah pengenalan pribadi dari seorang penulis novel. Di sana tak ada satu halaman pun sebagai kata pengantar atau biografi kecil dari penulis. Entah Gus Ballon ini adalah nama asli atau nama pena. Sungguh mengundang kepenasaran bagi saya karena novel ini bagus.<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=dirantingcemara.wordpress.com&blog=1612705&post=275&subd=dirantingcemara&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p>ELANG RETAK: MATI BUKAN MASALAH, HIDUP YANG JADI PERSOALAN</p>
<p>Judul: Elang Retak<br />
Penulis: Gus Ballon<br />
619 Hal. Cetakan I, Juli 2005<br />
Penerbit: Q-Press (Kelompok Penerbit Pustaka Hidayah)<br />
Alamat: Jalan Rereng Adumanis 31, Sukaluyu Bandung 40123 Jawa Barat, Indonesia</p>
<p>	Novel ini saya temukan dalam tumpukan buku diskon yang dijual oleh toko buku terkenal di Depok. Sebuah buku cerita tebal yang dibanderol dengan harga cuma lima belas ribu rupiah. Tebal dan murah, dua parameter ini yang membuat  saya membelinya setelah beberapa hari sebelumnya saya kosong dari aktivitas membaca.<br />
	Saya mungkin terlambat untuk membacanya dan untuk membuat sebuah tulisan tentang novel ini, oleh karena itu saya tidak akan membahas dengan mendalam apa isinya, karena sudah pernah dibahas oleh Alif di forum diskusi ajangkita, Jadi saya menulis apa yang saya rasakan setelah membacanya.<br />
	Pertama adalah masalah si penulisnya.  Baru kali ini saya tidak melihat sebuah pengenalan pribadi dari seorang penulis novel. Di sana tak ada satu halaman pun sebagai kata pengantar atau biografi kecil dari penulis. Entah Gus Ballon ini adalah nama asli atau nama pena. Sungguh mengundang kepenasaran bagi saya karena novel ini bagus.<br />
	Baru pertama kali ini pula ada novel—yang seperti Alif katakan—sebuah novel thriller militer berlatar belakang operasi militer ABRI. Membacanya membuat saya berempati terhadap keadaan para prajurit yang hidup dengan keprihatinan tetapi penuh semangat perjuangan, polos dan dengan kepolosan tersebut mereka hanya menjadi pion dari sebuah ambisi politik dari para jenderal yang berkhianat dan tega untuk mengorbankan mereka.<br />
	Novel ini pun membuat saya tidak bisa beranjak dan melepaskannya dari tangan ini. Semakin bertambah banyak halaman yang terbaca semakin bernafsu untuk segera menuntaskannya. Karena seru, tegang, dan lucu. Ya, kelucuan dari seorang Jajang Nurjaman, prajurit urakan, ahli tempur, yang  tidak mengenal medan (antara hidup dan mati) untuk selalu mengeluarkan gurauan.<br />
	Jajang hanyalah satu dari empat belas prajurit yang dikirim ke Pulau Kabilat di Pasifik utnuk sebuah misi khusus. Misi untuk menghancurkan batangan emas yang dimiliki oleh pemberontak yang akan ditukarkan dengan senjata dan amunisi yang dikirim oleh Jenderal Korea Utara yang korup.<br />
	Keempatbelas orang tersebut adalah prajurit-prajurit amburadul, urakan, cara berpakain seenaknya, terkesan tidak dispilin, yang dibuang dan tidak disenangi oleh kesatuan lain, tapi ganas dan tidak takut mati. Dan yang ada di markas hanya mereka pada saat itu untuk dikirim segera. Maka mereka adalah:<br />
Sersan Kepala Peter Soselisa. Lahir di Ambon. Peraih medali keberanian dalam operasi”Trisula”, ”Seroja”. Berpengalaman dalam berbagai aksi khusus maupun gabungan. Jabqtan terakhir, instruktur kepala. Brevet: terjun bebas. Satu kali penangguhan pangkat karena tindakan indispliner dan satu kali penurunan pangkat karena melanggar perkawinan. Istrinya dua. Karena tidak tega untuk menceraikan salah satu istrinya maka ia menceraikan dua-duanya.<br />
Sersan Mayor Fajar Sidik, mahir berbagai senjata, empat kali tugas khusus, satu kali aksi gabungan. Mendapat medali atas keberaniannya menolong yang luka sewaktu kontak senjata jarak dekat. Brevet: Pendaki Utama. Satu kali penundaaan pangkat.<br />
Kopral Dua Jajang Nurjaman. Asal Ciamis. Mahir berbagai senjata. Empat tugas khusus, tiga kali aksi gabungan. Mendapat medali atas keberhasilannya melumpuhkan sebuah kubu musuh dalam pertempuran di sekitar Laga. Juga medali keberanian mencuri bendera di markas musuh sekitar Hiomar. Satu kali penurunan pangkat, dua kali penundaan pangkat.<br />
Prajurit Satu Baringin Sinaga, lahir di Brastagi. Ahli senapan mesin. Tiga kali tugas khusus, satu kali tugas intelijen. Satu kali penundaan pangkat karena memukul seorang kapten dari kesatuan lain.<br />
 Prajurit Satu Eko Cahyono. Ahli peledak. Dua kali tugas khusus. Pernah meledakkan bahan bakar musuh di hutan Baucau. Brevet: Pendaki utama. Satu kali penurunan pangkat akibat berkelahi dengan polisi lalu lintas, gara-gara mengejek soal setoran surat tilang. Empat polisi dirawat di RS.<br />
Prajurit Satu Margono Priambodo, lahir di Jetis, Muntilan. Ahli senapan mesin. Satu kali tugas khusus, satu kali aksi SAR. Satu kali penurunan pangkat karena indisipliner.<br />
Prajurit Dua Mansur Karim. Lahir di Solo dari ayah Arab dan ibu Jawa. Satu kali tugas khusus, satu kali aksi intelijen. Mendapat medali atas keberaniannya menawan perwira musuh. Dua kali penundaan pangkat.<br />
Prajurit Dua Gerson Nelson, asal Flores. Ahli radio komunikasi dan sabotase. Satu kali tugas khusus. Satu kali penundaan pangkat beturut-turut, karena melanggar perintah.<br />
Prajurit Dua Panji Kurnia. Anak pensiunan PM, lahir di Grsik. Guru ngaji di barak. Jago tembak (sniper). Satu kali tugas khusus. Brevet: penembak mahir. Satu kali penurunan pangkat karena menembak pantat penjual ganja tanpa bukti.<br />
Prajurit Satu Ahmad Basso, asal Makassar. Dua kali tugas khusus. Batal mendapat medali. Ahli perkelahian satu lawan satu. Satu kali hukuman kurungan karena menjual ransum sebanyak setengah truk.<br />
Kopral Satu Bram alias Ibrahim Ali fatoni, Jakarta asli. Satu kali operasi intelijen, dua kali tugas khusus. Dua kali lolos dari tawanan musuh. Ahli mekanik dan komunikasi. Brevet: Penyelam mahir. Satu kali penurunan pangkat—dua tingkat sekaligus—karena meledakkan lima truk pengangkut pasir milik pemborong yang mengganggu ketentraman sebuah desa di Tangerang. Satu kali lagi penundaan pangkat karena masuk rumah seorang lurah melalui atap, dan mengancam lurah tersebut agar membereskan masalah ganti-rugi tanah di daerah Sawangan.<br />
Kopral Dua Jamal Ahman, ahli peledak asal Bangkalan Madura. Tiga kali aksi khusus, tiga kali terluka. Satu kali penindaan pangkat karena kabur selama 40 hari untuk menyepi di Gua Surowati—gua pertapaan Sunan Kalijaga—dan 21 hari bertapa di Batu Ageng—tempat bertapa Sunan Drajat di Paciran, Tuban.<br />
Sersan Mayor Albertus, lima belas kali tugas khusus, delapan kali aksi gabungan, lima kali tugas intelijen, dua kali oeprasi SAR. Mahir berbagai senjata dan pertarungan tangan kosong. Semua medali dicabut. Brevet: terjun bebas. Tiga kali penurunan pangkat, dua kali penundaan pangkat, dan dua kali hukuman kurungan.<br />
Dan Harun, tokoh utama dalam novel ini, si Bajingan, sipil, yang direkrut oleh militer karena mengenal seluk beluk Pulau Kabilat. Mahasiswa yang menjadi buronan karena telah membunuh bandar judi dan melukai seorang polisi Medan saat dirinya dikeroyok. Ia bilang ia cuma dalam rangka membela diri. Veteran perang vietnam yang direkrut oleh SEAL sebagai sukarelawan melawan vietcong. Saat Saigon jatuh ia melarikan diri dan bergabung dengan penyelundup senjata dari Filipina yang bermarkas di Pulau Kabilat. Mahir M16,  pisau,  dan perkelahian satu lawan satu.<br />
Mereka dipimpin secara hirarki oleh Letnan Risman Zahiri, seorang sederhana, ramah, rendah hati, prajurit tempur berpengalaman, dan disegani oleh anak buahnya. Sosoknya mirip seorang ajengan dan ia mempunyai julukan Kyai Guntur.<br />
Dan dalam misi khusus yang bersandi Konta ini mereka dipimpin oleh Mayor Santoso, prajurit dan komandan tempur berpengalaman, tegas, tidak mudah tersenyum, dan punya satu prinsip: semua tugas harus dituntaskan sebagai Prajurit Komando.<br />
Saat membaca novel yang bersetting akhir tahun 70-an dan pertengahan 80-an—walapun tidak dinyatakan secara tegas, saya tidak menyangka ada sebuah deskripsi seperti ini. Biasanya cuma ada di film-film holywood. Tidak menyangka bahwa kita pun sebenarnya punya kesatuan tempur yang tangguh secara professional. Gambaran ini perlu agar menyadarkan pembaca bahwa pasukan ABRI (sekarang TNI) walaupun dengan keterbatasan yang ada tidak bisa dipandang sebelah mata.<br />
	Maka dengan berbagai keahlian tempur yang dimiliki, berangkatlah mereka untuk melaksanakan misi yang tanpa disadari pula bahwa ada yang telah membocorkan pendaratan mereka. Maka berbagai masalah pun mulai bermunculan. Diakhir cerita Jajang selamat dalam misi tapi tetap saja dihukum untuk menghormat bendera di tengah lapangan karena memukul pejabat dan membuat mobil sang pejabat penyok.<br />
Dengan Santoso yang menyadari bahwa dirinya cuma pion dari ambisi segelintir orang untuk melanggengkan kekuasaan. Dengan tetap mendapatkan pelajaran penting dari seorang yang bernama Harun: sebagai apa, untuk apa, dan bagaimana ia hidup, itulah yang utama. Ia hanyalah manusia dengan kelebihan dan juga keterbatasannya.<br />
	Secara umum alurnya menarik, penuh ketegangan. Apalagi penuh perenungan diri dari sang tokoh. Terantuk pada sebuah kalimat: mati bukan masalah, hidup yang jadi persoalan. Mulai mengenal Tuhan, saat jelang maut. Tipisnya batas antara hidup dan mati. Saya memberi nilai tiga bintang untuk novel ini. Belum sedramatis JRR Tolkien yang mampu mengundang pembaca untuk membaca bukunya berulang kali. Tapi cukuplah sebagai alternatif bacaan sebagaimana penerbitnya tegaskan dalam pengantarnya.<br />
	Allohua’lam bishshowab.</p>
<p>Riza almanfaluthi<br />
dedaunan di ranting cemara<br />
11:07 26 April 2007<br />
Gelas itu masih bening</p>
<p>http://10.9.4.215/blog/dedaunan</p>
<p>http://dirantingcemara.wordpress.com</p>
<img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/dirantingcemara.wordpress.com/275/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/dirantingcemara.wordpress.com/275/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/dirantingcemara.wordpress.com/275/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/dirantingcemara.wordpress.com/275/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/dirantingcemara.wordpress.com/275/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/dirantingcemara.wordpress.com/275/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/dirantingcemara.wordpress.com/275/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/dirantingcemara.wordpress.com/275/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/dirantingcemara.wordpress.com/275/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/dirantingcemara.wordpress.com/275/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/dirantingcemara.wordpress.com/275/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/dirantingcemara.wordpress.com/275/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=dirantingcemara.wordpress.com&blog=1612705&post=275&subd=dirantingcemara&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://dirantingcemara.wordpress.com/2007/12/17/elang-retak-mati-bukan-masalah-hidup-yang-jadi-persoalan/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>3</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/3ddf1c3ba1bfa227c6b07072605b8a11?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">dedaunan</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>THE KINGDOM</title>
		<link>http://dirantingcemara.wordpress.com/2007/12/17/the-kingdom/</link>
		<comments>http://dirantingcemara.wordpress.com/2007/12/17/the-kingdom/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 17 Dec 2007 03:51:16 +0000</pubDate>
		<dc:creator>dirantingcemara</dc:creator>
				<category><![CDATA[History]]></category>
		<category><![CDATA[Resensi]]></category>
		<category><![CDATA[Books]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://dirantingcemara.wordpress.com/2007/12/17/the-kingdom/</guid>
		<description><![CDATA[Pada tanggal 20 Oktober 1973, dengan nama Allah dan berdasarkan agama yang diturunkan pada Muhammad 1400 tahun yang lalu di Mekah dan Madinah, raja Faisal dari Saudi Arabia mengemukakan jihad melawan Israel dan negara-negara yang membantunya. Sebagai bagian dari jihad tersebut ia menetapkan embargo penuh pada pengiriman minyak kerajaan ke Amerika Serikat. Sejak saat itulah keadaan di dunia begitu berubah. 
            Di tahun 60-an, dunia barat dan Jepang membayar kurang dari 2 dolar Amerika Serikat setiap barel untuk minyak yang mereka terima dari Saudi Arabia dan negara-negara Timur Tengah. Harga 1,80 dolar untuk 42 galon Amerika, tak lebih dari sekitar 4 sen dolar setiap galonnya. Satu dasawarsa kemudian dunia barat harus membayar 32 dolar untuk 42 galon—suatu kenaikan rata-rata 264 persen pertahunnya! Tak heran bila Saudi Arabia menjadi begitu kaya. Dan dunia barat merasa begitu miskin. 
            Tampak jihad raja Faisal itu telah menjadi salah satu titik penting dalam sejarah abad kedua puluh ini. Embargo minyak yang dipelopori oleh Faisal, kemudian diikuti oleh ledakan harga energi sebagai akibatnya, mengawali pergeseran kekayaan dunia secara besar-besaran, mengalir kekayaan dalam jumlah yang tak pernah terjadi sebelumnya.
***<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=dirantingcemara.wordpress.com&blog=1612705&post=262&subd=dirantingcemara&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p>THE KINGDOM<br />
by: Riza Almanfaluthi</p>
<p>            Pada tanggal 20 Oktober 1973, dengan nama Allah dan berdasarkan agama yang diturunkan pada Muhammad 1400 tahun yang lalu di Mekah dan Madinah, raja Faisal dari Saudi Arabia mengemukakan jihad melawan Israel dan negara-negara yang membantunya. Sebagai bagian dari jihad tersebut ia menetapkan embargo penuh pada pengiriman minyak kerajaan ke Amerika Serikat. Sejak saat itulah keadaan di dunia begitu berubah.<br />
            Di tahun 60-an, dunia barat dan Jepang membayar kurang dari 2 dolar Amerika Serikat setiap barel untuk minyak yang mereka terima dari Saudi Arabia dan negara-negara Timur Tengah. Harga 1,80 dolar untuk 42 galon Amerika, tak lebih dari sekitar 4 sen dolar setiap galonnya. Satu dasawarsa kemudian dunia barat harus membayar 32 dolar untuk 42 galon—suatu kenaikan rata-rata 264 persen pertahunnya! Tak heran bila Saudi Arabia menjadi begitu kaya. Dan dunia barat merasa begitu miskin.<br />
            Tampak jihad raja Faisal itu telah menjadi salah satu titik penting dalam sejarah abad kedua puluh ini. Embargo minyak yang dipelopori oleh Faisal, kemudian diikuti oleh ledakan harga energi sebagai akibatnya, mengawali pergeseran kekayaan dunia secara besar-besaran, mengalir kekayaan dalam jumlah yang tak pernah terjadi sebelumnya.<br />
***<br />
            Tiga paragraf di atas adalah sebuah kutipan pembuka dari sebuah buku lawas yang ditulis oleh Robert Lacey berjudul KERAJAAN PETRODOLAR SAUDI ARABIA. Buku yang diterbitkan tahun 1986 oleh Dunia Pustaka Jaya dengan jumlah halaman sebanyak 663 ini tanpa sengaja saya temukan di pedagang buku Stasiun Kalibata saat menunggu kereta rel listrik.<br />
Kondisinya masih sangat bagus, tidak terlihat seperti buku lama. Walaupun sudah berwarna kekuningan. Ini mungkin buku baru yang tidak laku atau belum sempat terjual. Yang menarik saya cuma membelinya dengan harga Rp12.000,00 saja setelah sang pedagang menawarkan dengan harga Rp15.000,00 sebelumnya.<br />
Buku yang berjudul asli The Kingdom ini merupakan hasil riset yang dimulai pada Agustus 1977 yang dilakukan oleh penulis selama ia diizinkan tinggal di sana untuk beberapa tahun. Ia melakukan banyak wawancara dengan para petinggi seperti raja Saudi Arabia pada saat itu King Khalid ibn Abdul Aziz, dan para pangeran serta bangsawan-bangsawan dari dinasti Saud, plus dukungan dari Pusat Riset Raja Abdul Aziz.<br />
Tak pelak buku ini menceritakan dari awal bagaimana dinasti ini didirikan. Dari semula hanya orang-orang badui yang hidup di padang pasir yang membakar dan menyiksa keluarga mereka dengan kekeringan, kemiskinan, kelaparan, pun anggapan sebagai suku yang terlalu mengikuti naluri, tak punya rasa keindahan, keingintahuan, selera halus, filsafat, kesenian tulis, seni rupa, bahkan tak punya dongeng-dongeng yang pelik sampai kepada perubahan drastis di mana mereka menjadi penguasa karunia Allah di muka bumi, penguasa jaringan sisa-sisa berlemak di bawah permukaan bumi, penguasa genangan hitam yang menggelegak: minyak bumi.<br />
Mereka menjadi yang paling dihormati di seluruh dunia, penguasa yang bisa menentukan damai dan tenteramnya kehidupan perpolitikan dunia. ”Dan jikalau saja bukan karena adanya suatu keanehan  yang terjadi pada lapisan bumi tempatnya berpijak, maka dunia barat pastilah tak akan peduli apa yang terjadi dengan raja Khalid. Kalau saja buminya itu tak mengadung apa-apa, maka penghuni kerajaan Saudi Arabia akan bebas menikmati padang pasir mereka, sajak-sajak mereka atau kenehan apa saja yang ada dalam kehidupan mereka. Paling-paling mereka akan menarik perhatian bila sekali-sekali majalah ilmiah seperti National Geographic memuat artikel bergambar tentang mereka,” ungkap Lacey.<br />
Tetapi Syaikh Ahmad Zaki Yamani—Menteri Minyak Saudi Arabia saat itu—mengatakan:<br />
”Negara barat melihat kami hanya sebagai sebuah negara yang ada hanya untuk mengisi tangki mobil. Tetapi pandangan itu terlalu moderen untuk Arabia. Dan itu bukanlah pandangan kami dan juga bukan pandangan jutaan orang di seluruh dunia yang sama-sama menganut agama kami.”<br />
”Kalau Anda ingin mengerti tentang Saudi Arabia, Anda harus mengerti bahwa 1400 tahun yang lalu Allah telah menurunkan firman-Nya kepada Nabi Muhammad di kota-kota suci Mekah dan Madinah. Kedua kota tersebut begitu jauh terpisah dari padang-padang minyak kami, tetapi masih tetap merupakan bagian dari Arabia kami. Dan bagi kami, keduanya jauh lebih penting dari apapun juga.”<br />
”Itulah sebabnya orang-orang di negara Muslim yang miskin menyapa aku. Karena aku datang dari Mekah! Inilah yang paling berarti. Tentang Mekah dan Islam-lah orang-orang itu mengajakku berbicara. Jadi kalau aku ditanya, apa yang menjadi tulang punggung Kerajaan kami ini, maka akan kujawab, di atas segala-segalanya adalah Islam. Bukan minyak. Suatu hari kami akan kehabisan minyak. Tetapi kami takkan pernah kehilangan Mekah dan Madinah.”<br />
Subhanallah, pernyataan yang keluar dari hasil wawancara yang dilakukan penulis di bulan November 1980 dan Mei 1981 itu, terasa gaungnya hingga saat ini, saat waktu telah berputar 26 tahunan. Adanya semangat persaudaraan yang memang dibutuhkan sekali untuk dunia Islam saat ini menghadapi kezaliman-kezaliman penguasa dunia yang menyetir dengan boneka-boneka untuk memuaskan nafsu kolonialismenya. Tapi sayangnya gaungnya yang terasa adalah gaung yang semakin melemah.<br />
Dalam buku tersebut diceritakan pula tentang bagaimana Abdul Aziz merebut Riyadh sampai ia menakhlukkan Nejd daerah pedalaman Saudi Arabia dengan dukungan dari Kaum Muwahiddun (Salafy) dan tentunya mengusir keturunan Nabi Muhammad yaitu Ibnu Rasyid sebagai penguasa Mekah dan Madinah pada saat itu.<br />
Pengusirannya terhadap Ibnu Rasyid mengakibatkan ia harus berhadap-hadapan dengan dengan Kekhilafahan Turki, menyebabkan ia harus menerima gencatan senjata karena sampai saat itu pertempuran yang terjadi tak menyebabkan salah satu dari mereka kalah atau menang.<br />
Bulan Pebruari 1905 Turki mengakui kekuasaan Saudi di Nejd, sebaliknya Abdul Aziz menerima pengangkatan dirinya sebagai qaimaqam (komisaris distrik). Ini berarti Abdul Aziz menerima kenyataan akan adanya kekuasaan Turki di atasnya, sebuah sikap yang sangat bertentangan dengan sikap antiTurki-nya sebelum itu.<br />
Suatu sikap yang nantinya pun akan selalu ia terangkan kepada setiap tamunya, bahwa dahulu ia mau mengaku tunduk pada Sultan Turki hanya karena terpaksa oleh keadaan. Sebagai seorang Wahabi, kata Abdul Aziz, ia takkan pernah bisa menerima tuntutan Sultan yang mengaku bergelar khalifah, sebab cara orang Turki menjalankan ajaran Islam sungguh sangat menyimpang dari garis yang benar. Oleh karena itulah pendahulunya dulu—Muhammad Ibn Saud—pernah melarang para peziarah yang dilindungi oleh Khalifah untuk berziarah menuju Mekah dan Medinah, dan hal inilah yang membuat marah besar Khalifah yang menganggap dirinya sebagai pelindung dua tempat suci.<br />
Masih banyak hal yang menarik diungkap di buku ini, misalnya tentang bagaimana penyikapan suku badui ini di kala mereka menjadi orang kaya baru, intrik sesama saudara, pembunuhan, perebutan kekuasaan, pemborosan, dan korupsi, November gelap di tahun 1979, penyikapan terhadap Syiah dan Al-Ikhwan, kegemasan Onassis terhadap pembentukan OPEC, permusuhan terhadap Biarawan Zion*)dan penerimaan kerajaan terhadap investasi Pepsi daripada Coca-Cola.<br />
Saya merasa beruntung sekali mendapatkan buku bagus seperti ini.Walaupun belum seluruhnya terbaca, tapi saya merasa yakin sedari awal, buku ini akan membuat saya mengetahui secara detil masa lalu Saudi Arabia hingga masa awal 80-an. Setidaknya ini akan memberikan gambaran utuh dari Saudi Arabia masa kini. Muhammad Abduh mengatakan masa lalu adalah bagian dari masa kini sehingga tidak mungkin dilupakan begitu saja. Sehingga bisa memahami apa dan kenapanya pewaris kerajaan petrodolar saat ini bertindak, yang menguntungkan saudara-saudaranya seiman di seluruh dunia atau hanya memuaskan dahaga keduniawaian semata.<br />
Sejarah yang sedikit dibahas waktu smu dulu kini terbentang dengan detilnya dalam satu buku yang merupakan ramuan—seperti diakui penulisnya—dari peristiwa sejarah, hasil pengamatan pribadi, desas-desus di pasar, ramalan masa depan, ditambah dengan kenangan orang-orang tua yang masih ingat tentang keadaan dunia mereka, dunia yang bagi kita bagaikan tertinggal berabad-abad yang lalu.<br />
***<br />
Kita bukannya sekadar pembuat slogan belaka. Apa yang kita katakan akan kita kerjakan. Jika mereka memandangmu dengan sebelah mata, katakan bahwa Allah memberkati rasul-Nya dan bangsa negara ini. Kalian adalah keturunan para pahlawan jaman bahari, kalian anak cucu mereka yang berjuang di samping nabi. Jadilah madu bagi mereka yang bersahabat dengan mu, jadilah racun bagi musuh-musuhmu. (Raja Faisal bin Abdul Aziz, 1973)<br />
***</p>
<p>*) Suatu kebetulan semata bahwa persis sebelum membaca buku ini, saya membaca buku Rizki Ridyasmara yang membahas tentang Biarawan Zion ini secara detil di Knight Templar Knight of Christ (2006).</p>
<p>Maraji: Robert Lacey, Kerajaan Petrodolar Saudi Arabia, Cet-I, 1986, Dunia Pustaka Jaya, Jakarta;</p>
<p>Riza Almanfaluthi<br />
dedaunan di ranting cemara</p>
<p>http://10.9.4.215/blog/dedaunan</p>
<p>Citayam Siang<br />
15.00 01 Pebruari 2007</p>
<img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/dirantingcemara.wordpress.com/262/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/dirantingcemara.wordpress.com/262/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/dirantingcemara.wordpress.com/262/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/dirantingcemara.wordpress.com/262/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/dirantingcemara.wordpress.com/262/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/dirantingcemara.wordpress.com/262/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/dirantingcemara.wordpress.com/262/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/dirantingcemara.wordpress.com/262/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/dirantingcemara.wordpress.com/262/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/dirantingcemara.wordpress.com/262/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/dirantingcemara.wordpress.com/262/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/dirantingcemara.wordpress.com/262/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=dirantingcemara.wordpress.com&blog=1612705&post=262&subd=dirantingcemara&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://dirantingcemara.wordpress.com/2007/12/17/the-kingdom/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/3ddf1c3ba1bfa227c6b07072605b8a11?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">dedaunan</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Gamay di antara Microsoft dan Google</title>
		<link>http://dirantingcemara.wordpress.com/2007/12/14/gamay-di-antara-microsoft-dan-google/</link>
		<comments>http://dirantingcemara.wordpress.com/2007/12/14/gamay-di-antara-microsoft-dan-google/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 14 Dec 2007 07:01:56 +0000</pubDate>
		<dc:creator>dirantingcemara</dc:creator>
				<category><![CDATA[Opini]]></category>
		<category><![CDATA[Resensi]]></category>
		<category><![CDATA[Tutorial]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://dirantingcemara.wordpress.com/2007/12/14/gamay-di-antara-microsoft-dan-google/</guid>
		<description><![CDATA[Malam ini saya sudah tidak sabaran sekali untuk menuliskan tentang Google setelah membaca sebagian halaman dari sebuah buku yang mengisahkan tentang kesuksesan Google—yang dirintis dua orang keturunan Yahudi—untuk tumbuh, berkembang, dan menjadi terbesar dengan nilai kapitalisasi saham yang tidak pernah dibayangkan para kapitalis untuk perusahaan baru tumbuh seperti Google. Di benak saya sudah tak terbendung lagi air bah ide untuk dituliskan agar tidak meluber kemana-mana. 
Tetapi saya tidak akan menuliskan begitu saja isi tentang buku itu, karena apa yang mau saya tulis sedangkan bagi saya semuanya dari halaman pertama hingga halaman 167—halaman yang sedang saya baca, dan saya percaya sampai halaman terakhir pun—menarik semua dan tidak akan membuat saya bosan. Wajar saja kalau Daily Mail menulis sebuah endorsement di sampul depan buku berwarna putih—khas gaya antarmuka Google—itu dengan sebuah ungkapan: ”Sungguh memikat, ditulis dengan gaya kisah detektif...sangat cerdas.”<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=dirantingcemara.wordpress.com&blog=1612705&post=258&subd=dirantingcemara&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p>GAMAY DI ANTARA MICROSOFT DAN GOOGLE</p>
<p>Malam ini saya sudah tidak sabaran sekali untuk menuliskan tentang Google setelah membaca sebagian halaman dari sebuah buku yang mengisahkan tentang kesuksesan Google—yang dirintis dua orang keturunan Yahudi—untuk tumbuh, berkembang, dan menjadi terbesar dengan nilai kapitalisasi saham yang tidak pernah dibayangkan para kapitalis untuk perusahaan baru tumbuh seperti Google. Di benak saya sudah tak terbendung lagi air bah ide untuk dituliskan agar tidak meluber kemana-mana.<br />
Tetapi saya tidak akan menuliskan begitu saja isi tentang buku itu, karena apa yang mau saya tulis sedangkan bagi saya semuanya dari halaman pertama hingga halaman 167—halaman yang sedang saya baca, dan saya percaya sampai halaman terakhir pun—menarik semua dan tidak akan membuat saya bosan. Wajar saja kalau Daily Mail menulis sebuah endorsement di sampul depan buku berwarna putih—khas gaya antarmuka Google—itu dengan sebuah ungkapan: ”Sungguh memikat, ditulis dengan gaya kisah detektif&#8230;sangat cerdas.”<br />
Di sini saya cuma ingin mengungkapkan sebuah kisah atau beberapa kisah tentang pergaulan saya dengan Google—sebuah ikon tentang citarasa gaya surfing masa kini yang membuat Bill Gates panik karena banyak sekali para lulusan tercerdas dari kampus-kampus ternama Amerika Serikat berusaha bergabung dengan Google alih-alih bergabung dengan Microsoft.<br />
Ya, kisah yang dimulai dari sebuah keputusasaan saya mencari arsip-arsip penting di komputer desktop saya. Dengan mengklik tombol start di Windows bawaan komputer, lalu menekan tombol Search dengan ikon sebuah kaca pembesar maka muncul tampilan search result dengan balloon yang diungkapkan seekor anjing  berwarna coklat.<br />
”What do you want to search for?” tanya anjing itu. Maka saya ketikkan keywords dari file yang saya cari itu. Setelah saya memilih salah satu menu yang ada di sana lalu menekan tombol search,  maka mulailah pencarian itu dimulai dengan si Anjing berdiri pura-pura sibuk membuka halaman-halaman buku tebal itu. Satu atau dua kemungkinan yang muncul pada search result. “Search is complete. There are no results to display.” Itu kemungkinan yang pertama. Selanjutnya adalah kalau file itu ada maka hasil pencarian memakan waktu yang cukup lama. Bermenit-menit bahkan.  Sungguh lama sekali. Saya frustasi dengan hal ini.<br />
Tetapi setelah saya mengenal Google di awal pengenalan saya dengan internet di tahun 2002, apalagi setelah Google mengeluarkan perangkat lunak canggihnya yaitu Google Desktop  walaupun masih dalam versi beta, membuat persepsi saya tentang sebuah pencarian di komputer rumahan menjadi berubah, dari semula mengerikan, mimpi buruk menjadi  mengasyikkan dan saya sungguh menikmatinya.<br />
Google Desktop memberikan kepuasan manusiawi dalam hitungan detik dari pencarian ribuan file yang bersemayam dalam komputer kita.  Sekarang saya tak lagi pusing-pusing lagi menemui file yang lupa disimpan di mana karena tidak suksesnya saya dalam penertiban administrasi file.<br />
Software kecil tersebut juga memberikan fasilitas kotak pencarian kecil di taskbar—letaknya biasanya di sudut kanan bawah. Dengan ini saya tak perlu membuka halaman browser untuk pencarian sebuah file. Dengan mengetikkan satu huruf depan dari keywords maka akan tampil di atas taskbar tersebut indeks dari file-file yang dicari. Microsoft pernah sesumbar untuk membuat search engine desktop yang mampu mencari file dalam setiap bit di pc, tapi MSN Search (mesin pencari buatan Microsft) pun masih tak sanggup menandingi kehebatan PageRank—sistem Google dalam pencarian di dunia maya.<br />
Luar biasa. Dulu hingga kini saya sangat terbantu dengan fasilitas ini. Oleh karena itu di saat saya pindah kantor dan menjumpai personal computer (pc) baru di hadapan saya, yang pertama kali saya lakukan adalah menginstalasi program bagus tersebut. Saya merasa seperti orang buta tanpa tongkat dengan tiadanya fasilitas itu.<br />
Satu lagi bantuan yang membuat saya terpuaskan dari sistem pencarian ini adalah kemampuannya mengorganisir apa yang saya mau saat mencari data jurnal dan tesis. Saya tidak bisa membayangkan kalau tidak ada fasilitas ini, kemungkinan besar saya tidak bisa menyelesaikan tesis dalam waktu dua bulan penuh. Karena saya harus kemana-mana mencari data primer ataupun sekunder. Ke lokasi perusahaan, perpustakaan, ataupun ke Bursa Efek Jakarta.<br />
Tapi dengan Google saya cuma cukup dengan memelototinya dan melihat bagaimana ia menginventarisir web-web mana saja yang harus saya kunjungi dan menyediakan data tersebut. Mulai dari Jakarta Stock Exchange, Yahoo! Finance, Reuters, Bloomberg, Republika Online, Kompas Online, dan situs-situs keuangan lainnya. Alhasil saya tak perlu capek-capek membolak-balikkan halaman berbagai referensi di perpustakaan atapun tempat-tempat yang saya sebutkan tadi.<br />
Saya perlu menyatakan pula, dengan Google itulah saya menemukan satu tesis lengkap—mulai halaman pertama sampai akhir—yang menarik saya dan memberikan ide awal untuk membuat tesis. Menurut saya tesis si fulan ini cukup bagus, mudah dimengerti, dan satu yang pasti adalah sarannya yang memberikan ruang gerak kepada penelitian lanjutan. Akhirnya saya memutuskan untuk melanjutkan penelitiannya.<br />
Tapi secara moral saya perlu legitimasi untuk ini, oleh karena itu saya perlu meminta izin secara informal dari penulis tesis. Lalu menghubungi siapa? Saya tak tahu kemana saya harus melakukan kontak dengan sang penulis. Tapi saya berpikir cepat, insting saya berjalan, karena dalam kata pengantar tesisnya ia adalah termasuk orang yang tidak gamay (gagap dunia maya) dan juga seorang blogger, saya langsung ketikkan nama si fulan di Google, Jreng&#8230;.!!! Di layar, tampak alamat dan nomor telepon genggamnya. Saya sukses besar meminta kepadanya untuk mengizinkan saya melanjutkan penelitiannya dengan mengganti variabel-variabel penelitian dan menambah time frame penelitian sesuai apa yang disarankan pada bab terakhir tesisnya itu.<br />
Berkaitan dengan penelitian saya kutip satu paragraf dalam buku tersebut:<br />
Pelajar dan mahasiswa, berapa pun usia mereka, adalah pengguna Google kelas berat, walaupun ada guru dan dosen yang terus menyuruh mereka menggunakan mesin pencari akademik yang lebih khusus, selain mendorong pemanfaatan perpustakaan, pertemuan tatap muka, dan sejumlah cara lain yang tradisional dan telah teruji untuk mendapatkan informasi penting. Tokoh pendidikan masih belum satu pendapat soal manfaat Google. Banyak yang mengatakan Google menjadikan mahasiswa malas, mendorong plagiarisme, dan mengganggu proses belajar dengan memungkinkan pengambilan data secara cepat, alih-alih memaksa mereka melakukan penggalian yang didorong oleh hasrat untuk tahu lebih banyak mengenai suatu bidang. Namun yang lain memujinya, mengatakan bahwa kemudahan dalam penggunaannya mendorong orang mengeksplorasi dan menganalisis dokumen-dokumen penting kapan pun, entah siang atau malam. Mereka juga berpendapat bahwa Google meminimalkan perbedaan yang dihadapi oleh mahasiswa, entah sekolah atau universitas mereka besar atau kecil, entah mereka kaya atau miskin, dan entah mereka mempunyai akses ke perpsutakaan yang lengkap atau tidak sama sekali. Pendek kata, mereka mendukung tujuan Google untuk mendemokrasikan akses ke informasi, termasuk hasil penelitian ilmiah yang terus bertambah.(Vise: 2006).<br />
Bagi saya, manfaat Google adalah menurut pendapat yang kedua. Ya, setidaknya untuk mengimbangi gap intelektualisme dan mencegah diskriminasi penyebaran informasi antara negara maju dan berkembang.<br />
Begitu banyak manfaat yang didapat dari Google yang tidak bisa saya ungkapkan di sini. Dan terakhir saya cuma berpikir tentang kalimat di bawah ini saat memakai Google: ”Al-hikmatu dhaallatul mu&#8217;min, annaa wajadahaa fahuwa ahaqqu bihaa&#8221;. Hikmah itu adalah sesuatu yang hilang dari orang beriman, di manapun dan bagaimana pun itu ditemukan, maka ia lebih berhak untuk mendapatkannya.&#8221; (Kalimat ini pun saya temukan dengan searching via Google).<br />
Saya tidak tahu bagaimana kontribusi mereka terhadap Israel, saya cuma tahu mereka pernah berkunjung ke Israel untuk memotivasi para murid di satu sekolah khusus para jenius agar tetap eksis dengan ditemani oleh Mikhail Gorbachev dan Shimon Perez (pembantai rakyat Palestina).<br />
Oleh karena itu untuk tetap memelihara semangat dan dukungan perjuangan kepada rakyat Palestina dan berhati-hati terhadap dana yang bisa disumbangkan kepada Israel, saya cuma bertekad untuk tidak mengklik teks iklan yang disediakan oleh Google di sebelah kanan situsnya, karena dari sanalah jutaan bahkan milyaran dollar pemasukan Google di dapat. Berhati-hati tidak mengapa bukan&#8230;?<br />
So, sila ber-google-ria, tentunya dengan cerdas.<br />
Allohua’lam bishshowab.</p>
<p>***<br />
”Pak, kok di situs pajak saya tidak mendapatkan peraturan yang saya cari ya?” tanya seorang Wajib Pajak Penanaman Modal Asing Tiga.<br />
”Ah, yang benar, masak sih Bu&#8230;?” tanya saya menyangsikannya.<br />
”Betul Pak, saya sudah lama nyari tapi tetap gak ketemu,” jawabnya dengan dialek jawa yang kental.<br />
”Ya sudah ibu cari di Google saja,” saya memberikan solusi.<br />
“Google? Situs apaan tuh Pak?<br />
“What the…?” pikir saya dalam hati. Wajib Pajak PMA, lokasi di Surabaya, sering pakai email, kejadian ini benar adanya kurang lebih sebulan yang lalu. Gap?</p>
<p>***</p>
<p>Maraji’: Vise, David A. dan Malseed, Mark. (2006). Kisah Sukses Goggle, Cetakan Kedua, Jakarta: PT GPU</p>
<p>Riza Almanfaluthi<br />
(seorang gamay juga)<br />
dedaunan di ranting cemara<br />
malam ramai di gelapnya mendung berhias sabit</p>
<p>05:27 24 Januari 2007</p>
<img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/dirantingcemara.wordpress.com/258/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/dirantingcemara.wordpress.com/258/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/dirantingcemara.wordpress.com/258/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/dirantingcemara.wordpress.com/258/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/dirantingcemara.wordpress.com/258/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/dirantingcemara.wordpress.com/258/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/dirantingcemara.wordpress.com/258/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/dirantingcemara.wordpress.com/258/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/dirantingcemara.wordpress.com/258/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/dirantingcemara.wordpress.com/258/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/dirantingcemara.wordpress.com/258/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/dirantingcemara.wordpress.com/258/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=dirantingcemara.wordpress.com&blog=1612705&post=258&subd=dirantingcemara&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://dirantingcemara.wordpress.com/2007/12/14/gamay-di-antara-microsoft-dan-google/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/3ddf1c3ba1bfa227c6b07072605b8a11?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">dedaunan</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Siapa Teroris? Siapa Khawarij?</title>
		<link>http://dirantingcemara.wordpress.com/2007/12/14/siapa-teroris-siapa-khawarij/</link>
		<comments>http://dirantingcemara.wordpress.com/2007/12/14/siapa-teroris-siapa-khawarij/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 14 Dec 2007 03:43:11 +0000</pubDate>
		<dc:creator>dirantingcemara</dc:creator>
				<category><![CDATA[Pergerakan]]></category>
		<category><![CDATA[Resensi]]></category>
		<category><![CDATA[Books]]></category>
		<category><![CDATA[Tarbiyah]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://dirantingcemara.wordpress.com/2007/12/14/siapa-teroris-siapa-khawarij/</guid>
		<description><![CDATA[Buku yang ditulis oleh Abduh Zulfidar Akaha ini memang luput perhatian dari saya. Buktinya buku yang terbit perdana di Bulan Juni 2006 ini baru saya ketahui hari Kamis (14/09) kemarin. Sebenarnya saya sudah mendengar tentang buku ini tapi berupa iklan penjualan vcd bedah buku ini di sebuah milis. Pun saya menganggapnya biasa-biasa saja. Tidak ada yang menarik. 
Tapi setelah saya melihat keramaian di sebuah forum diskusi dunia maya dan melihat betapa yang kontra terhadap buku ini begitu kerasnya meng-counter buku ini, kepenasaran saya langsung muncul. Sorenya sepulang dari kantor saya sempatkan untuk singgah di toko buku di bilangan Kalibata, Jakarta Selatan. 
Di toko itu, saya mencari-cari di setiap rak tapi tidak ketemu. Padahal dari komputer pencarian, buku tersebut masih ada delapan eksemplar. Dibantu oleh satu orang pegawai yang ikut membantu mencari akhirnya saya menemukan buku itu di rak buku. Pun setelah pegawai toko itu angkat tangan karena tidak bisa menemukannya dan mengatakan bahwa kemungkinan besar buku itu sudah diretur. <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=dirantingcemara.wordpress.com&blog=1612705&post=242&subd=dirantingcemara&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p>Siapa Teroris? Siapa Khawarij?<br />
(ini bukan resensi)</p>
<p>	Buku yang ditulis oleh Abduh Zulfidar Akaha ini memang luput perhatian dari saya. Buktinya buku yang terbit perdana di Bulan Juni 2006 ini baru saya ketahui hari Kamis (14/09) kemarin. Sebenarnya saya sudah mendengar tentang buku ini tapi berupa iklan penjualan vcd bedah buku ini di sebuah milis. Pun saya menganggapnya biasa-biasa saja. Tidak ada yang menarik.<br />
Tapi setelah saya melihat keramaian di sebuah forum diskusi dunia maya dan melihat betapa yang kontra terhadap buku ini begitu kerasnya meng-counter buku ini, kepenasaran saya langsung muncul. Sorenya sepulang dari kantor saya sempatkan untuk singgah di toko buku di bilangan Kalibata, Jakarta Selatan.<br />
Di toko itu, saya mencari-cari di setiap rak tapi tidak ketemu. Padahal dari komputer pencarian, buku tersebut masih ada delapan eksemplar. Dibantu oleh satu orang pegawai yang ikut membantu mencari akhirnya saya menemukan buku itu di rak buku. Pun setelah pegawai toko itu angkat tangan karena tidak bisa menemukannya dan mengatakan bahwa kemungkinan besar buku itu sudah diretur.<br />
Buku ini adalah bantahan dari sebuah buku yang ditulis oleh Ustadz Luqman Ba’abduh yang berjudul ”Sebuah Tinjauan Syari’at: MEREKA ADALAH TERORIS!” (untuk selanjutnya disingkat MAT). Buku ustadz Luqman ini  awalnya diniatkan untuk menjawab buku ”Aku Melawan Teroris!” karya Imam Samudera. Tapi seperti diungkapkan sendiri oleh Akaha di kaver belakang bukunya, bahwa ternyata buku itu secara membabi buta mengarahkan semua tuduhannya ke berbagai kelompok pegiat dakwah Islam lainnya selain salafi yang tidak ada hubungannya dengan Imam Samudera, terorisme, dan aksi bom bunuh diri.<br />
Maka muncullah buku berjudul Siapa Teroris? Siapa Khawarij? Ini. Buku yang walaupun berformat bantahan, tetapi diusahakan oleh sang penulisnya untuk senantiasa menjaga etika dan batas-batas kesantunan dalam tutur kata dan gaya bahasa penulisannya. Maka pembaca dapat membandingkan sendiri bagaimana etika itu dimunculkan oleh masing-masing penulis ini. Mana yang lebih santun dan mana yang sebaliknya.<br />
Tidak berpanjang lebar dalam berkata-kata, berikut apa yang saya tangkap setelah membaca buku ini:<br />
1.	Desain kavernya (hardcover) bagus. Berlatar belakang warna hitam dengan api yang menyala-nyala seperti seakan-akan membakar kaver buku MAT. Kaver depan MAT pun terdapat ilustrasi api yang membakar buku Imam Samudera itu;<br />
2.	Peletakkan isi buku pun layak untuk disebut bagus karena sudah diperhitungkan agar para pembaca mudah untuk menikmati isi buku ini;<br />
3.	Referensi yang banyak pada catatan kaki. Ini dimungkinkan karena penulis  adalah salah satu manajer Pustaka Al-Kautsar—penerbit buku ini. Sehingga data dan informasi otentik yang dibutuhkan lebih mudah didapat. Tidak perlu aneh karena Pustaka Al-Kautsar adalah penerbit buku-buku terjemahan dari Timur Tengah.<br />
4.	Membuat saya lebih memahami tentang arti sebuah perbedaan pendapat;<br />
5.	Satu yang pasti adalah buku ini menjawab hampir semua pertanyaan dan tema kontroversial di forum diskusi DSH;<br />
6.	Saya tidak bisa menuliskan kelebihan (yang tentunya terdapat pula kesalahan di dalamnya karena yang pasti sempurna adalah Alquran) yang ada pada buku ini, karena saking banyaknya. Saran saya buku ini layak untuk dibaca bagi para penggiat dakwah.  </p>
<p>Allohua’lam bishshowab.</p>
<p>Riza Almanfaluthi<br />
dedaunan di ranting cemara<br />
11:56 18 September 2006</p>
<img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/dirantingcemara.wordpress.com/242/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/dirantingcemara.wordpress.com/242/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/dirantingcemara.wordpress.com/242/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/dirantingcemara.wordpress.com/242/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/dirantingcemara.wordpress.com/242/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/dirantingcemara.wordpress.com/242/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/dirantingcemara.wordpress.com/242/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/dirantingcemara.wordpress.com/242/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/dirantingcemara.wordpress.com/242/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/dirantingcemara.wordpress.com/242/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/dirantingcemara.wordpress.com/242/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/dirantingcemara.wordpress.com/242/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=dirantingcemara.wordpress.com&blog=1612705&post=242&subd=dirantingcemara&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://dirantingcemara.wordpress.com/2007/12/14/siapa-teroris-siapa-khawarij/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/3ddf1c3ba1bfa227c6b07072605b8a11?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">dedaunan</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>The Hobbit</title>
		<link>http://dirantingcemara.wordpress.com/2007/12/12/the-hobbit/</link>
		<comments>http://dirantingcemara.wordpress.com/2007/12/12/the-hobbit/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 12 Dec 2007 04:04:11 +0000</pubDate>
		<dc:creator>dirantingcemara</dc:creator>
				<category><![CDATA[Resensi]]></category>
		<category><![CDATA[Books]]></category>
		<category><![CDATA[the lord of the ring]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://dirantingcemara.wordpress.com/2007/12/12/the-hobbit/</guid>
		<description><![CDATA[Kemarin, baru saja saya menyelesaikan membaca yang kedua kalinya buku karangan JRR Tolkien ini. Walaupun Anda sudah membaca novel lainnya yang sudah difilmkan oleh Peter Jackson, trilogi The Lord of The Ring mulai The Fellowship of The Ring, Two Towers, hingga The Return of The King, maka itu belumlah lengkap sebelum Anda baca buku yang berjudul The Hobbit.
Karena peristiwa besar di trilogi itu berawal dari seratus tahun sebelumnya yang diceritakan dalam buku ini. Dengan ditemukannya cincin setan oleh tokoh utamanya Bilbo Baggins, kakek Frodo Baggins, dalam sebuah dasar gua gelap di pegunungan berkabut.<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=dirantingcemara.wordpress.com&blog=1612705&post=152&subd=dirantingcemara&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p>12.01.2006 &#8211; The Hobbit<br />
Kemarin, baru saja saya menyelesaikan membaca yang kedua kalinya buku karangan JRR Tolkien ini. Walaupun Anda sudah membaca novel lainnya yang sudah difilmkan oleh Peter Jackson, trilogi The Lord of The Ring mulai The Fellowship of The Ring, Two Towers, hingga The Return of The King, maka itu belumlah lengkap sebelum Anda baca buku yang berjudul The Hobbit.<br />
Karena peristiwa besar di trilogi itu berawal dari seratus tahun sebelumnya yang diceritakan dalam buku ini. Dengan ditemukannya cincin setan oleh tokoh utamanya Bilbo Baggins, kakek Frodo Baggins, dalam sebuah dasar gua gelap di pegunungan berkabut.<br />
Buku yang saya temukan di rak toko buku di bilangan Kalibata Maret 2004 lalu itu memberikan gambaran utuh dari kisah-kisah yang dibuat oleh Tolkien ini. Membaca bukunya tidak membuat kening berkerut karena selain tampilan font-nya lebih besar dari buku trilogi juga penuh dengan petualangan yang menegangkan dari para tokoh-tokohnya yang terdiri Gandalf sang penyihir putih, satu hobbit dan tiga belas kurcaci.<br />
Sekadar menambah informasi saja, buku Tolkien ini dijadikan oleh bangsa barat sebagai rujukan  dalam penamaan dan penggambaran makhluk-makhluk aneh selain manusia, seperti Orc, Goblin, Warg, Troll, Elf, Hobbit, dan Dwarf. Empat nama pertama selalu menjadi pihak kejam, sadis, dan selalu berlawanan dengan tiga yang terakhir kawan manusia.<br />
Saking menariknya hingga saya membacanya berulang-ulang kali dan menambah penasaran saya pada buku-buku Tolkien lainnya. Sampai saat ini saya belum menemukannya, dengan mencarinya di toko buku ataupun searching di internet. Mungkin kalaupun ada, itu pun masih dalam bahasa aslinya. Entah di suatu hari nanti.<br />
So, baca ini baru itu&#8230;<br />
dedaunan di ranting cemara<br />
hujan lebat<br />
17:48 10 Januari 2006</p>
<img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/dirantingcemara.wordpress.com/152/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/dirantingcemara.wordpress.com/152/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/dirantingcemara.wordpress.com/152/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/dirantingcemara.wordpress.com/152/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/dirantingcemara.wordpress.com/152/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/dirantingcemara.wordpress.com/152/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/dirantingcemara.wordpress.com/152/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/dirantingcemara.wordpress.com/152/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/dirantingcemara.wordpress.com/152/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/dirantingcemara.wordpress.com/152/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/dirantingcemara.wordpress.com/152/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/dirantingcemara.wordpress.com/152/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=dirantingcemara.wordpress.com&blog=1612705&post=152&subd=dirantingcemara&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://dirantingcemara.wordpress.com/2007/12/12/the-hobbit/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/3ddf1c3ba1bfa227c6b07072605b8a11?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">dedaunan</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Kisah Klan Otori</title>
		<link>http://dirantingcemara.wordpress.com/2007/12/10/kisah-klan-otori/</link>
		<comments>http://dirantingcemara.wordpress.com/2007/12/10/kisah-klan-otori/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 10 Dec 2007 08:50:29 +0000</pubDate>
		<dc:creator>dirantingcemara</dc:creator>
				<category><![CDATA[Resensi]]></category>
		<category><![CDATA[Books]]></category>
		<category><![CDATA[Culture]]></category>
		<category><![CDATA[Japan]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://dirantingcemara.wordpress.com/2007/12/10/kisah-klan-otori/</guid>
		<description><![CDATA[Tomasu menyaksikan bekas-bekas pembantaian terhadap penduduk desa Hidden yang dilakukan Iida Sadamu, pimpinan klan Tohan pemenang pertempuran Yaegahara sepuluh tahun yang lalu atas gabungan klan Otori, Maruyama, Shirakawa.  
 Namun ia diketahui oleh anak buah Iida dan dikejar ke hutan, hingga diselamatkan oleh Lord Otori Shigeru, pewaris sah klan Otori yang dalam perjanjian dengan klan Tohan, ia tidak boleh menjadi pemimpin klan, oleh karenanya saat ini, pimpinan dipegang paman-pamannya.  
Tomasu pun diangkat anak oleh Lord Shigeru dan namanya berganti menjadi Otori Takeo yang mempunyai hak sebagai pewaris kelak. Di Hagi, ibukota klan Otori, ia dididik Muto Kenji—teman Shigeru dan seorang Tribe—berlatih pedang, baca tulis, dan melukis. Dari sanalah ia mengetahui bahwa dirinya pun adalah keturunan Tribe—sebuah kelompok diluar klan yang mempunyai keistimewaan hebat. Ia pun mempunyai kehebatan berupa pendengaran yang peka sehingga dapat mengetahui bunyi-bunyian dan pembicaraan orang dari jarak jauh.  
 Suatu saat Iida Sadamu menghendaki Lord Shigeru untuk menikah dengan Lady Kaede, putri Lord Shirakawa. Iida Sadamu pun melamar Lady Maruyama Naomi, sepupu Lady Kaede dan pimpinan klan Maruyama. Padahal secara diam-diam antara Lord Shigeru dengan Lady Maruyama telah terjalin hubungan yang membuahkan janin.<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=dirantingcemara.wordpress.com&blog=1612705&post=90&subd=dirantingcemara&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p>Kisah Klan Otori<br />
Across The Nightingale Floor</p>
<p>Tomasu menyaksikan bekas-bekas pembantaian terhadap penduduk desa Hidden yang dilakukan Iida Sadamu, pimpinan klan Tohan pemenang pertempuran Yaegahara sepuluh tahun yang lalu atas gabungan klan Otori, Maruyama, Shirakawa.<br />
Namun ia diketahui oleh anak buah Iida dan dikejar ke hutan, hingga diselamatkan oleh Lord Otori Shigeru, pewaris sah klan Otori yang dalam perjanjian dengan klan Tohan, ia tidak boleh  menjadi pemimpin klan, oleh karenanya saat ini, pimpinan dipegang paman-pamannya.<br />
Tomasu pun diangkat anak oleh Lord Shigeru dan namanya berganti menjadi Otori Takeo yang mempunyai hak sebagai pewaris kelak. Di Hagi, ibukota klan Otori, ia dididik  Muto Kenji—teman Shigeru dan seorang Tribe—berlatih pedang, baca tulis, dan  melukis. Dari sanalah ia  mengetahui bahwa dirinya pun adalah keturunan Tribe—sebuah kelompok diluar klan yang mempunyai keistimewaan hebat. Ia pun mempunyai kehebatan berupa pendengaran yang peka sehingga  dapat mengetahui bunyi-bunyian dan pembicaraan orang dari jarak jauh.<br />
Suatu saat Iida Sadamu menghendaki Lord Shigeru untuk menikah dengan Lady Kaede, putri Lord  Shirakawa. Iida Sadamu pun melamar Lady Maruyama Naomi, sepupu Lady Kaede dan pimpinan klan Maruyama. Padahal secara diam-diam antara Lord Shigeru dengan Lady Maruyama telah terjalin hubungan yang membuahkan janin.<br />
Untuk itu Iida sadamu memanggil mereka datang ke kastilnya di Inuyama. Di kastil itulah Iida membuat sebuah bangunan berlantai khusus untuk dirinya. Jika ada orang yang melangkah di atasnya maka lantai itu akan berbunyi, sehingga dinamakan the nightingale floor. Sehingga Iida pun akan merasa aman dari serangan mendadak. Yang tak diketahui Iida pada saat itu telah direncanakan sebuah upaya pembunuhan dirinya oleh Shigeru dan Kenji.<br />
Namun rencana itu gagal total oleh adanya pengkhianatan, dan Iida Sadamu tetap terbunuh bukan oleh mereka, tapi oleh seorang Kaede yang dipaksa untuk melayani nafsunya.</p>
<p>****<br />
Membaca buku pertama dari trilogi Klan Otori yang ditulis oleh Lian Hearn, membawa kita pada pengenalan bermacam-macam klan sebagai budaya masa lampau Jepang. Walaupun ini fiktif setidaknya—ini pun diakui oleh penulisnya sendiri—ada penggambaran yang nyaris dan sempurna mendekati kebenaran fakta sejarah Jepang, seperti tokoh Sesshu, seniman dari klan Sesshu, yang dalam novel pertama ini tak ada peran sama sekali.<br />
Penggambaran karakter tokoh seperti Otori Takeo cukup mendalam. Namun tidak pada Lord Shigeru yang di awal novel ini digambarkan cukup berkarakter dan mumpuni untuk menebas  dengan sekejap kepala dan tangan para pengejar Tomasu. Anda harus gigit jari kalau berharap terjadi pertempuran ala samurai antara Lord Shigeru dan Iida. Lord Shigeru digambarkan begitu lemah di akhir-akhir cerita.<br />
Ada yang tidak sesuai pada apa yang ditulis di kaver belakang dan situsnya (www.penerbitmatahari.com) dengan isi dalam novel ini. Kalau Anda baca maka akan temukan paragraph seperti ini:</p>
<p>Iida Sadamu, seorang bangsawan kejam, memandang nightingale floor  miliknya di Kastil Inuyama. Lantai ini akan berbunyi bila ada yang melangkah di atasnya. Namun, ada seorang anak bernama Takeo yang mampu melangkah di atas lantai itu tanpa berbunyi.</p>
<p>Di dalamnya tak ada penggambaran bahwa Takeo dapat melalui lantai itu tanpa berbunyi, walaupun sebelum berangkat ke Inuyama ia telah belajar mengatasinya. Yang ada adalah ia berjalan dengan tergesa untuk segera ke kamar Iida, sehingga membuat lantai itu berbunyi. Ini yang menyebabkan Abe, pengawal Iida, tetap mengetahui kedatangannya dan bertarung dengan Takeo. Entah, ini sekadar pemanis kaver atau kecerobohan.<br />
Saya berpikir sama dengan pemberian judul novel ini, karena masalah lantai tidak sebagai focus utama dan hanya beberapa paragraph saja untuk penggambarannya. Tidak ada sisi-sisi istimewa dari lantai itu selain hanya sekadar penyaman tidur Iida. Tidak ada pengisahan yang kuat.<br />
Namun saya memuji disain kaver dengan merah yang mendominasi itu, yang menurut saya “wah”, elegan, dan menarik minat. Penerbit memahami betul salah satu jurus pemasaran ampuh ini. Bungkus menjadi daya pikat nomor satu dan setelahnya baru isi.   Tak lupa endorsement memukau dari banyak pihak.<br />
Sebagai sebuah novel yang mendapatkan begitu banyak penghargaan internasional, bagi saya novel ini biasa-biasa saja. Tidak membawa kesan yang cukup mendalam. Entah pada novel yang kedua dan ketiganya. Saya hanya berharap apa yang didapat dari trilogy ini adalah sama seperti saat saya membaca trilogy The Lord of The Ring. Tapi bagi Anda yang membutuhkan bacaan ringan untuk akhir pekan sembari mempelajari salah satu budaya dunia, novel ini cukup layak untuk Anda baca.</p>
<p>dedaunan di ranting cemara<br />
di antara Jenderal Hideki Tojo dan Laksamana Isoruku Yamamoto<br />
09:28 13 September 2005</p>
<img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/dirantingcemara.wordpress.com/90/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/dirantingcemara.wordpress.com/90/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/dirantingcemara.wordpress.com/90/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/dirantingcemara.wordpress.com/90/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/dirantingcemara.wordpress.com/90/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/dirantingcemara.wordpress.com/90/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/dirantingcemara.wordpress.com/90/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/dirantingcemara.wordpress.com/90/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/dirantingcemara.wordpress.com/90/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/dirantingcemara.wordpress.com/90/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/dirantingcemara.wordpress.com/90/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/dirantingcemara.wordpress.com/90/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=dirantingcemara.wordpress.com&blog=1612705&post=90&subd=dirantingcemara&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://dirantingcemara.wordpress.com/2007/12/10/kisah-klan-otori/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/3ddf1c3ba1bfa227c6b07072605b8a11?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">dedaunan</media:title>
		</media:content>
	</item>
	</channel>
</rss>