Posts filed under 'Resensi'

LASKAR PELANGI THE MOVIE: JEMPOL KE BAWAH

LASKAR PELANGI THE MOVIE: JEMPOL KE BAWAH

 

Saya mungkin termasuk orang-orang yang tidak terpengaruh pada eforia kemunculan sebuah buku baru yang menghebohkan. Heboh di milis atau forum diskusi atau di perbincangan ala warung kopi. Karena saya berpikir bisa jadi itu hanyalah taktik pemasaran dari para penerbit untuk membuat laris dagangannya. Dan itu wajar saja.

    Oleh karenanya saya memang terlambat untuk membaca novel Ayat-Ayat Cinta (AAC). Padahal teman sudah mau meminjamkan buku itu atau versi ebooknya sudah tersimpan dalam komputer. Tapi itu tidak menggoda saya untuk membacanya segera. Baru saya baca buku itu saat filmnya sudah mulai diputar di bioskop-bioskop, saat orang mulai histeria dengan segala yang berbau AAC. Setelah menyelesaikannya saya cukup berkomentar dengan satu kata tulus, “bagus”.

Tetapi tetap saja buku itu kembali tergeletak bersama tumpukan buku yang lain. Mudah dilupakan. Tidak ada yang membekas. Bahkan tak mampu menggerakkan hati dan kaki saya melangkahkan kaki ke bioskop. Pun saat filmnya diputar di televisi beberapa waktu lalu tak mampu menahan saya untuk tetap menonton film itu dan tak mampu menahan saya untuk tidak menekan tombol remote untuk mencari saluran lain. “Tidak bagus”, itu kata tulus dari saya.

Begitu pula dengan Laskar Pelangi. Tak menggerakkan hati saya untuk segera membacanya saat pertama kali kemunculannya atau lagi hangat-hangatnya diperbincangkan di mana saja, atau saat muncul dalam salah satu acara talk show, atau saat teman menawarkan bukunya untuk dibaca oleh saya setahun lalu, atau ketika ebooknya sudah bertebaran di dunia maya bahkan dengan dua novel lanjutannya yang sudah tersimpan dalam komputer atau dengan filmnya yang membuat orang harus antri hingga bapak Presiden yang terhormat sempat-sempatnya menonton di tengah riak-riak tsunami ekonomi global yang mulai menerpa republik ini. Tidak, ia tidak mampu menggerakkan hati saya.

Tapi kali ini dam kecuekan saya terhadap novel lascar Pelangi itu runtuh di suatu hari. Ya, di suatu hari, ba’da dzuhur di suatu masjid, di syawal yang masih sepi, saat teman saya terpercaya bilang mengomentari film itu, “luar biasa bagus buat anak-anak.” Ia bercerita film itu membuat anak sulungnya menangis. Dan sinyal alarm dalam diri saya langsung berdering, pekak, kalau berkaitan dengan masalah anak. Bagus buat anak-anak, empat kata itu terngiang-ngiang di telinga saya. Ah, masak?

Saya tidak bersegera untuk mengakuinya sebelum membaca bukunya terlebih dahulu—ah ini cuma alasan karena tidak dapat tiket menonton film itu selama berminggu-minggu. Tapi saya tetap menjumput buku itu. Mengamatinya perlahan dari sampulnya kemudian membaca endorsement dari berbagai orang, lalu membacanya pelan halaman demi halaman.

Biasa saja.

Tapi tidak…tunggu dulu. Menarik. Ya menarik sekali buku ini.

Tapi tidak…tunggu dulu. Imajinasi itu mulai tumbuh membawa saya tersedot ke Belitong, di masa itu.

Aih. Saya tak dapat menghentikan keinginan membacanya walaupun cuma sejenak. Tidak saya tak sanggup. Saya terus menerus membacanya. Tertawa terkekeh-kekeh hingga air mata yang mengucur dan terbanting-banting dalam alunan metaforanya. Kurang dari 24 jam saya membacanya. Dan saya jujur mengakui novel ini dengan tulus, “dahsyat man.” Inspiratif. Hasil metamorphosis dari hati. Memberi banyak perenungan.

Saya mengalami trance. Segala sesuatu yang berbau Laskar Pelangi saya cari dan tanyakan kepada Jeng Google. Tentang Belitong, Andrea Hirata, tentang Ibu Muslimah. Tayangan talk shownya saya putar ulang. Tidak berhenti sampai di situ, Sang Pemimpi (novel lanjutan Laskar Pelangi) saya libas. Apatah lagi Edensor (novel ketiga dari tetralogi Laskar Pelangi). Maryamah Karpov pun saya tunggu-tunggu kedatangannya. Dan kalau saya bisa memberi peringkat dari tiga novelnya yang sudah ada itu maka yang terbaik adalah Laskar pelangi, Edensor kedua, dan Sang pemimpi menduduki peringkat ketiga. Pelajaran moral pertama dari ketiga novel itu: Man Jadda wa Jadaa. Siapa bersungguh-sungguh ia mendapatkannya.

Cukup di situ? Tidak, ianya membuat saya rakus membaca fiksi. Selesai trilogy itu saya baca novel lain, Kisah 47 Ronin, hingga sekarang Hafalan Shalat Delisa. Jelas sudah seminggu ini saya tidak henti-hentinya membaca sebagai sebuah kegiatan yang amat serius. Dan saya bertekad untuk terus membaca di setiap harinya (sebuah kegiatan yang sudah berbulan-bulan saya tinggalkan karena kesibukan). Pelajaran moral kedua yang bisa diambil: baca novel ini untuk bisa kesurupan dalam membaca. Halah…

Dan pada akhirnya malam itu, kami menginjakkan kaki ke tempat yang biasanya saya hindari, bioskop. Tapi lagi-lagi ini karena saya terjerambab pada empat kata di atas yang sudah saya sebutkan di awal dan dikatakan oleh teman saya itu: bagus buat anak-anak. Pula karena Andrea Hirata—penulisnya sendiri yang mengakui betapa bagusnya film itu. Lalu film Laskar Pelangi itu kami tonton.

Betul, istri saya terisak-isak saat melihat Lintang yang duduk termangu menanti ayahnya yang tak kunjung tiba dari melaut. Anak saya, Haqi pun demikian. Menangis saat Lintang pergi dari sekolah untuk selama-selamanya dengan diiringi tatapan mata sembab Bu Mus dan teman-temannya dan dari kejaran Ikal yang sia-sia untuk menahan Lintang. Lintang tidak sekolah untuk menggantikan peran ayahnya memberi makan adik-adiknya.

Tapi saya, sepanjang film itu diputar, hanya menggeleng-geleng kepala dan menyeringai sahaja. Ya, seringai kekecewaan. Kecewa karena tidak mendapatkan sesuatu sebagaimana yang diharapkan. Tidak seperti yang saya bayangkan. Filmnya tak mampu menyamakan imajinasi yang ada dalam benak. Filmnya hanya mampu digambarkan dengan jempol yang menunjuk tidak ke atas tapi ke bawah. Filmnya tak sebagaimana yang digembar-gemborkan banyak orang walaupun sarat pesan moral dan mampu membuat istri, anak sulung saya menangis. Pula mampu membuat anak kedua saya tertidur melingkar di kursi bioskop. Entah karena ngantuk atau kedinginan.

Semua subjektifitas ini saya katakan tanpa mengurangi rasa hormat saya kepada mereka yang telah bersusah payah membuat film itu eksis di muka bumi. Pelajaran moral ketiga: kalau tidak mau kecewa menonton film adaptasi dari novel, jangan baca dulu bukunya.

Dan sampai saat ini cukup saya katakan trilogy Lord of the Ring, JRR Tolkien-lah yang mampu mendahsyatkan dua-duanya, novel dan filmnya.

Pak dan Mak Cik semua, itu saja dari saya. Boleh bukan kalau saya berbeda pandangan dengan kalian tentang ini. Yang pasti saya katakan novelnya amat bagus tapi tidak untuk filmnya. Kini saya masih menunggu Maryamah Karpov, menunggu jandanya kedatangannya.

 

Riza Almanfaluthi

dedaunan di ranting cemara

10.24 24 Oktober 2008

23 comments Monday, 20 October 2008

ISLAM MELARANG HUMOR?

ISLAM MELARANG HUMOR?

 

Preambule

Ikhwatifillah, ada yang bilang kalau sudah memahami Islam dengan benar atau dengan kata lain sudah tobat dari segala perbuatan dosa dan mau kembali melaksanakan semua ajaran Allah dan rasul-Nya itu maka otomatis kita harus memutuskan seluruh diri kita dari segala kehidupan dunia yang melenakan.

Bahkan sampai kita memutuskan diri dari kefitrahan yang telah diberikan Allah kepada kita seperti bersenda gurau, bercanda, berhumor, tertawa, atau menghibur diri. Kita dilarang untuk melakukan itu. Sehingga yang tampak dari diri kita adalah kekakuan, wajah yang tak pernah disinggahi dengan senyuman, dan kesuraman yang menjadi hiasan setiap hari. Pada akhirnya pergaulan dengan masyarakat pun terganggu. Walaupun mereka yang kaku-kaku tersebut nantinya selalu berkilah dan bersembunyi pada sebuah dalil bahwa Islam itu asing maka wajarlah mereka diasingkan oleh masyarakatnya. Betulkah?

Saya jawab tidak! Karena Islam tidak mengajarkan demikian. Ada seorang ulama yang mengatakan bahwa Islam tidak mewajibkan seluruh yang keluar dari mulut-mulut kita adalah dzikir, tidak mewajibkan setiap diam mereka adalah pikir, tidak mesti yang didengar selalu ayat-ayat Alqur’an, dan tidak mengharuskan mereka untuk menghabiskan waktu-waktu senggangnya di masjid. Islam selalu mengakui fitrah dan kecenderungan yang telah diciptakan Allah dalam diri manusia. Bukankah Allah menciptakan mereka sebagai makhluk yang punya kebutuhan untuk berbahagia dan bergembira, tertawa, dan bermain sebagaimana Ia menciptakan manusia sebagai makhluk yang butuh makan dan minum?

Ikhwatifillah, para sahabat Rasulullah SAW (semoga Allah meridhoi mereka semua) juga dulu mengira bahwa mereka harus melepaskan keduniaan mereka secara totalitas dengan melaksanakan ibadah secara ekstrim terus menerus tanpa jeda. Mereka juga menyangka berislam berarti memalingkan diri dari kenikmatan hidup dan kesenangan duniawi. Mata mereka selalu sembab karena terus menerus menangis takut kepada Allah, berdzikir, dan terus menerus khusyuk berdoa mengangkat kedua tangan. Bahkan ketika mereka meninggalkannya sekejap saja mereka langsung memvonis, mengutuki diri mereka sendiri dengan sebutan munafik.

Dan apa yang dikatakan Rasulullah SAW kepada Hanzhalah dan Abu Bakar menyikapi fenomena yang dilakukan dua orang sahabat mulia itu? Berikut perkataan makhluk mulia ini:

“Demi dzat yang memiliki diriku! Kalau kalian selalu dalam keadaan seperti ketika bersamaku itu, atau selalu dalam dzikir, niscaya malaikat akan terus menerus menemani kalian di atas tempat tidur maupun di jalanan. Akan tetapi, wahai Hanzhalah, segala sesuatu ada waktunya. (Riwayat Muslim)

Beliau mengulangi kalimat yang saya tebalkan tersebut tiga kali demi menekankan penting atau dalamnya makna kalimat tersebut.

Ikhwatifillah, lalu bagaimana Islam menyikap hiburan dan permainan itu? Memang ulama kita berbeda sikap mengenai masalah ini. Ada dua kubu yang berseberangan. Yaitu yang bersikap antara meringankan atau memperketat, antara yang cenderung toleran dan yang keras.

Yang bersikap keras secara berlebihan, mereka hampir mengharamkan semua bentuk hiburan dan permainan. Sementara yang terlampau lunak, hampir menghalalkan segalanya. Masyarakat pun terjebak antara dua penyikapan tersebut. Padahal yang terbaik adalah bersikap di antara keduanya, penyikapan yang moderat, tidak keras dan tidak terlalu meremehkan. Karena Islam adalah agama yang pertengahan, dan ini yang selalu Rasulullah SAW tekankan dalam setiap kesempatan seperti perkataan beliau berikut ini:

“Agar orang-orang Yahudi tahu bahwa dalam agama kita terdapat kelonggaran. Sesungguhnya aku diutus dengan agama yang lurus dan toleran.” (HR Ahmad)

 

Rasulullah SAW dan Sahabat adalah Sosok-sosok yang Humoris

Wahai ikhwatifillah, sungguh tauladan kita yang sejati adalah Rasulullah SAW, maka mari kita tiru dan teladani apa yang Rasulullah SAW sikapi dalam masalah canda tawa, gurauan, dan hiburan ini. Sungguh Rasulullah SAW adalah nabi sekaligus manusia biasa yang tetap bercanda dan berbaur dengan para sahabat dalam kehidupan sehari-hari. Beliau melebur dalam tawa serta senda gurau mereka, sebagaimana beliau juga melebur dalam duka dan kesulitan yang mereka alami. Tetapi Rasulullah SAW tetap dalam kebenaran.

Kebiasaan canda tawa ini—sebagaimana perkataan seorang ulama—telah diketahui langsung oleh sebagian sahabat dalam kehidupan Rasulullah SAW. Mereka menyaksikannya, dan kemudian meneladaninya sepeninggal beliau; tanpa menemukan sesuatu yang perlu dicela. Sekalipun barangkali beberapa candaan tersebut bila diceritakan pada zaman sekarang, tentu akan ditentang keras oleh sebagian besar kalangan yang keras keberagamaannya. Dan orang yang menceritakannya, bisa jadi, akan dianggap fasik serta menyimpang dari agama.

Suatu ketika Rasulullah SAW pernah mengangkat Al-Hasan bin Ali dengan kedua kaki beliau seraya bersenandung:

“Orang cebol terayun-ayun terpental-pental seperti mata kepinding.” (HR Ibn Abi Syaibah (6/380) dan Abdullah bin Ahmad (2/787))

Atau dengan gurauan yang sudah kita ketahui semua tentang tidak ada nenek keriput di surga nanti.

Atau antum semua pernah mendengar tentang kisah sahabat Anshar ini. Namanya adalah An-Nu’aiman bin Umar Al-Anshari ra. Ia adalah sosok sahabat yang humoris. Ia adalah termasuk dalam kalangan sahabat Anshar yang pertama kali memeluk Islam. Ia adalah kelompok pengikut Bai’at Al-’Aqabah terakhir. Terjun dalam perang Badar, Uhud, Khandaq, dan berbagai peperangan lainnya bersama Rasulullah SAW. Berikut candaan sahabat An-Nu’aiman ini kepada Rasulullah SAW:

Az-Zubair punya cerita lain dari Rabi’ah bin Utsman: “Suatu hari, Seorang Badui menemui Rasulullah SAW. Ia menambatkan untanya di halaman rumah beliau. Beberapa sahabatnya berkata kepada An-Nu’aiman, “Alangkah nikmatnya kalau kamu sembelih unta itu, lalu kita makan bersama-sama. Sudah lama kita ingin sekali makan daging.” An-Nu’aiman pun bergegas menyembelih unta tersebut. Saat orang Badui itu keluar dari kediaman Nabi SAW, ia berteriak kaget, “Wahai Muhammad, ada yang menyembelih untaku!”

Nabi segera keluar dan bertanya, ” Siapa yang melakukannya?’

Para sahabat yang hadir menjawab, “An-Nu’aiman.” Lalu Nabi SAW beserta para sahabat itu mencari An-Nu’aiman. Ternyata ia kabur ke rumah Dhuba’ah bin Az-Zubair bin Abdul Muthalib, bersembunyi di kandang ternaknya. Salah seorang sahabat menunjukkan tempat persembunyian An-Nu’aiman kepada Nabi SAW. Maka beliau pun langsung mengintrogasinya, “Mengapa kamu sembelih unta orang Badui itu?’

An-Nu’aiman dengan polosnya menjawab, “Orang-orang yang menunjukkan tempat persembunyian saya kepada Anda inilah yang telah menyuruh saya menyembelih unta itu, wahai Rasulullah.” Mendengar jawaban An-Nu’aiman, Rasulullah SAW tertawa sambil mengusap debu di wajah An-Nu’aiman. Lalu beliau mengganti unta milik orang badui tersebut.”

(HR Ibnu Abd Al-Barr dalam Al-Isti’ab (3/89) dan Ibnu Hajar dalam Al-Ishabah (6/465)

Kisah Az-Zubair yang lain dari pamannya, yang mendengar langsung dari kakeknya: “Pada masa Khalifah Utsman bin ‘Affan, seorang sahabat yang telah berusia 115 tahun, Makhramah bin Naufal, hampir kencing di masjid. Orang-orang langsung berteriak mencegah, “Jangan kencing di sini, ini masjid!” An-Nu’aiman yang juga hadir di situ menuntun Makhramah ke sisi lain masjid sambil berkata, “Nah sekarang Anda boleh kencing di sini.” Tentu saja orang-orang kembali berteriak melarangnya. Merasa dipermainkan, Makhramah berkata, “Awas kalian, siapa tadi yang membawaku ke sini?”

“Itu An-Nu’aiman,” jawab mereka.

Makhramah kesal, “Kalau aku bertemu dia lagi, akan kupukul dengan tongkatku, agar ia bisa merasakan sakit yang sama seperti saat aku menahan kencing ini.”

Beberapa hari kemudian, An-Nu’aiman melihat Makhramah lagi di masjid. Waktu itu, Khalifah Utsman bin Affan ra. Sedang bersiap shalat di situ. An-Nu’aiman menghampiri Makhramah, “Apa Anda masih mencari An-Nu’aiman?”

Makhramah yang sudah berusia lanjut tak lagi mengenali An-Nu’aiman, ia menjawab, “Iya, aku mencarinya.” An-Nu’aiman lalu membawa Makhramah ke samping Utsman bin Affan ra. yang sedang khusyu’.

“Ayo, ini dia An-Nu’aiman,” ujar An-Nu’aiman kepada Makhramah sambil menunjuk Utsman bin Affan. Maka Makhramah segera mengumpulkan kekuatannya, dan memukul Utsman di sekitar pahanya. Melihat kejadian itu, orang-orang yang ada di masjid langsung berteriak, “Aduh, Anda telah memukul Amirul Mukminin!”

(Al-Hafizh Ibnu hajar dalam Al-Ishabah 6/463)

Ada lagi cerita lain, tapi kini An-Nu’aiman sendiri yang menjadi “korban”. Ada sahabat lain yang suka bercanda dan melucu, Suwaibath bin Harmalah. Beliau adalah ahlulbadr (pengikut perang Badr).

Menurut Ummu Salamah, setahun sebelum wafatnya Nabi SAW, Abu Bakar ra. pergi berniaga ke Bashrah. Ikut dalam perjalanan tersebut, An-Nu’aiman dan Suwaibath bin Harmalah. An-Nu’aiman dipercaya untuk mengurui perbekalan rombongan. Di tengah perjalanan, Suwaibath meminta makanan kepada An-Nu’aiman. Tetapi An-Nu’aiman menolak, “Nanti saja, setelah Abu Bakar bersama kita.” Suwaibath mengancam, “Demi Allah, saya akan membalas kamu nanti!”

Tak lama kemudian, mereka melewati suatu perkampungan. Lalu Suwaibath mendatangi penduduk di perkampungan itu dan berkata, “Adakah kalian ingin membeli hamba sahaya (budak, pen.) dari saya?” “Boleh,” jawab mereka.

“Tapi hamba sahaya ini pintar bersilat lidah. Nanti dia pasti akan berkilah bahwa dia orang yang merdeka. Jangan-jangan kalian kemudian melepaskannya dan membatalkan niat untuk membeli dari saya,” ujar Suwaibath lagi.

“Tidak, kami akan tetap membelinya dari Anda.”

“Baiklah, kalau begitu belilah seharga sepuluh unta muda.”

Maka penduduk perkampungan itu mendatangi rombongan Abu Bakar. Mereka langsung mengikatkan tali di leher An-Nu’aiman. Serta merta An-Nu’aiman protes, “Orang ini bercanda kepada kalian, saya orang yang merdeka, saya bukan hamba sahaya!”

Tetapi para penduduk itu tak menggubris, “Kami sudah tahu kamu pintar bersilat lidah!” mereka tetap membawa An-Nu’aiman ke perkampungan mereka. Setelah Abu Bakar ra. bergabung dengan rombongan tersebut, Suwaibath menceritakan apa yang baru saja terjadi. Maka Abu Bakar segera mendatangi perkapungan penduduk tersebut untuk menjemput An-Nu’aiman, dan mengembalikan sepuluh unta muda yang telah mereka bayarkan. Sekembalinya ke Madinah, para anggota rombongan menceritakan peristiwa tadi kepada Nabi SAW. Tentu saja, Nabi SAW dan para sahabat tertawa mendengar cerita tersebut.”

(HR Ibnu Majah dalam kitab Al-Adab (3719), Abu Dawud Ath-Thayalisi dan Ar-Rauyani juga meriwayatkan hadits ini, namun dalam versi mereka yang mengibuli adalah An-Nu’aiman serta yang dikibuli adalah Suwaibath, lihat Al-Ishabah (3/222)).

Ikhwatifillah, dari tulisan di atas tak dapat kita pungkiri, di antara (ini berarti pula tidak semuanya) para sahabat ada yang menjalani hidup mereka dengan keras seperti Abu Bakar ra., dan Umar bin Khotthob. Namun ada pula sebaliknya seperti An-Nu’aiman dan Ibnu Umar. Ibnu Umar ini juga sering bercanda dan menyenandungkan syair seperti yang dikatakan Ibnu Sirin. Padahal Ibnu Umar juga terkenal dengan sikap wara’, ketekunan, serta keistiqomahannya dalam menjalankan ajaran agama.

Sudah jelas bahwa kekakuan, wajah masam, tanpa senyum, dan tidak ramah tidak merepresentasikan ajaran islam yang sesungguhnya serta tidak sesuai dengan apa yang telah dicontohkan Rasulullah SAW. Pandangan mereka—seperti disebutkan oleh Syaikh Yusuf Al-Qaradhawy—lebih disebabkan oleh pemahaman keagamaan yang kurang benar, karakter pribadi, atau disebabkan oleh latar belakang lingkungan serta pendidikan mereka.

Ia menyebutkan yang terpenting setiap muslim harus tahu bahwa Islam tidak dipatok dari perilaku seseorang maupun sekelompok manusia yang bisa benar atau salah. Standar Islam yang benar adalah yang diambil dari Al-Qur’an dan As-Sunnah yang telah teruji kevalidannya.

 

Batasan-batasan

Ikhwatifillah, hiburan, humor, dan canda itu diperbolehkan dalam Islam. Semua itu adalah dalam rangka memenuhi kebutuhan fitrah manusia yang diberikan Allah. Fitrahnya semua itu dapat meringankan hidup kita. Menyegarkan jiwa, menghilangkan beban, kegalauan, serta mengurangi himpitan yang kita rasakan. Saya mengutip perkataan Ali bin Abi Thalib yang dikutip oleh Syaikh Yusuf Al-Qaradhawy dalam bukunya, “Istirahatkanlah hati, dan carilah “gizi” hikmah untuknya. Karena sesungguhnya, hati bisa jenuh sebagaimana badan bisa capek.”

Tapi menurut ulama, ada syarat dan rambu yang harus diperhatikan agar semua itu masih dalam batas yang diperbolehkan. Namun saya tak mengulas lebih dalam rambu dari ulama tersebut karena sudah banyak diterangkan dalam tulisan-tulisan lain yang sejenis. Berikut rambunya:

  1. Tak boleh menggunakan kebohongan dan membuat-buat dalam mencandai orang lain. Misalnya April Mop. Dalam hal berkaitan dengan humor atau anekdot, Syaikh Yusuf Al-Qaradhawy mengatakan itu diperbolehkan asalkan tidak menyakiti atau menyimpang. Bila sebaliknya, maka dilarang. Anekdot pun tidak mesti selalu bersinggungan dengan kejadian-kejadian nyata, namun boleh juga berbentuk fiksi seperti halnya seorang novelis atau cerpenis yang mengarang cerita pendek maupun panjang. Kreasi semacam ini tidak termasuk kebohongan yang diharamkan, karena orang-orang pun tahu bahwa cerita-cerita tersebut hanyalah karangan sang cerpenis atau novelis.
  2. Candaan yang dilakukan tidak boleh mengandung unsur penghinaan ataupun pelecehan terhadap orang lain. Kecuali, yang bersangkutan mengizinkan dan rela.
  3. Jangan sampai mengagetkan atau menimbulkan ketakutan bagi muslim yang lain.
  4. Tidak boleh bercanda dalam situasi serius atau tertawa dalam suasana duka. Sebab segala sesuatu itu ada waktunya, dan setiap ucapan ada tempatnya. Dan cerminan kebijaksanaan seseorang adalah bila ia mampu meletakkan segala sesuatu dengan tepat.

 

Penutup

Ikwhatifillah, di bagian akhir tulisan ini, kembali saya ungkapkan bahwa Islam adalah agama yang moderat. Sebaik-baik perkara adalah yang selalu di pertengahan. Yang berlebihan itu tidak baik. Dalam masalah ini Islam memandang bahwa hidup itu adalah sebuah perjalanan yang berat, dan manusia sebagai musafir dalam perjalanan tersebut butuh sebuah oase, wadi, tempat mata air berkumpul untuk berhenti sejenak dan merehatkan diri. Pada waktunya manusia butuh hiburan, butuh tertawa, butuh kelakar, dan butuh humor, dan butuh semua yang bisa memancing tawa manusia agar kesedihan dan kesusahan itu luput dari wajahnya. Islam mengerti betul fitrah itu dan membiarkannya tidak mati. Yang terpenting, selama semuanya itu masih dalam koridor yang diperbolehkan.

    Sebuah referensi bagus yang saya sarankan untuk dibaca dalam kaitan dengan masalah ini adalah sebuah buku terjemahan yang ditulis oleh DR. Yusuf Al-Qaradhawy berjudul Fikih Hiburan. Di dalam buku tersebut diterangkan bagaimana Islam memandang hiburan dan permainan-permainan yang sekarang sedang bingar dalam kehidupan manusia bumi. Seperti sepakbola, tinju, panjat gedung, sirkus, adu mobil, gulat, lomba lari, renang, catur, dadu, tarian, dansa, drama, tepuk tangan, berburu binatang, lomba pacuan kuda, dan masih banyak lagi lainnya.

    Buku yang menurut saya dapat membuat sebuah pencerahan dan sanggup membuka wawasan kita agar bisa bersikap pertengahan, tidak keras, berlebihan dan tidak meremehkan. Insya Allah.

Ada hikmah yang mengatakan: “Seorang yang berakal tidak selayaknya pergi selain untuk tiga perkara: mencari bekal untuk akhirat, memperbaiki taraf kehidupannya, atau mereguk kenikmatan yang tidak diharamkan.”

Semoga Allah mengampuni saya.

 

Maraji’ utama:

Fikih Hiburan, DR. Yusuf Al-Qaradhawy, Penerjemah Dimas Hakamsyah, Lc., Pustaka AlKautsar, Jakarta, Cetakan Pertama, Desember 2005.

 

Riza Almanfaluthi

dedaunan di ranting cemara

direct selling itu butuh keterampilan berkomunikasi

10.09 02 Juni 2008


 

4 comments Monday, 2 June 2008

Al-Wajiz: 100 Kaidah Fikih dalam Kehidupan Sehari-hari

 

Al-Wajiz: 100 Kaidah Fikih dalam Kehidupan Sehari-hari

Judul Buku Terjemahan                                : Al-Wajiz; 100 Kaidah Fikih dalam Kehidupan Sehari-hari

Judul Buku Asli                                  : Al-Wajiz fi Syarhi Al-Qawaid Al-Fiqhiyyah fi Asy-Syari’ah Al-Islamiyyah

Penulis                 : Abdul Karim Zaidan, Dr.

Penerjemah       : Muhyidin Mas Rida Lc.

Penerbit              : Pustaka Al-Kautsar, Jakarta

Cetakan               : Pertama, Februari 2008

Tebal                     : xxxii + 280 hlm

·         Seseorang yang tidak mampu membayar utang, diberi tangguh sampai mampu melunasi utangnya;

·         Seseorang dalam keadaan sangat kelaparan, kemudian dia memakan makanan orang lain, maka dia harus mengganti seharga makanan tersebut;

·         Sesuatu yang haram diterima, juga haram diberikan;

·         Tidak boleh membuat bangunan yang dapat merugikan orang lain;

·         Seseorang yang merasa dirugikan, tidak boleh membalas dengan merugikan orang lain, tetapi harus lapor ke pengadilan;

·         Diperbolehkan membunuh para pemberontak;

·         Tidak boleh menutup toko yang baru karena kehadirannya dianggap merugikan toko yang lama.

(kaver depan)

***

                Mengikuti berbagai forum diskusi dan kajian tentang fikih maka kita akan sering mendapati para peserta diskusi, mentor, guru menyebutkan kaedah-kaedah fikih. Semisal kaedah bahaya tidak boleh dihilangkan dengan bahaya yang serupa, mencegah kerusakan lebih diutamakan daripada mendatangkan kemaslahatan, keadaan darurat memperbolehkan melakukan yang dilarang,  atau kaedah suatu yang wajib tidak sempurna kecuali dengannya adalah wajib dan masih banyak lagi contoh kaedah yang lainnya.

                Bagi yang ingin memahami lebih lanjut tentang berbagai kaedah ini biasanya harus merujuk pada kitab-kitab fikih yang terkenal. Terkadang yang dibahas hanya beberapa kaedah saja. Kebanyakan pula referensi tersebut tersedia dalam bahasa Arab. Ini tentu menyulitkan bagi mereka yang tidak mengerti bahasa itu. Maka buku terjemahan yang diterbitkan baru-baru saja ini, tentunya sangat membantu sekali bagi Anda, para penuntut ilmu ataupun siapapun yang ingin mendalami kajian kaedah fikih dalam kehidupan sehari-hari. Dan Anda tidak perlu membacanya dari awal sampai tuntas untuk mengetahui dengan segera kaedah yang diperlukan. Anda cukup dengan mencari di daftar isinya, lalu menuju halaman yang dituju, dibaca, dan dipahami. Anda dapat membaca buku ini dari kaedah mana saja. Praktis sekali.

                Penulis buku ini mengumpulkan sebanyak seratus kaedah fikih –yang tersebar dari berbagai kitab para ulama—yang bisa dijadikan sebagai dasar pengambilan suatu hukum. Kaedah fikih ini—sebagaimana disebutkan dalam pengantar penerbit—merupakan sesuatu yang sangat penting, mengingat nash-nash Al-Qur’an maupun hadits menggariskan hukum secara global, sementara permasalahan hukum dari waktu ke waktu semakin komplek dan semakin banyak, sehingga diperlukan metode dalam pengambilan hukum tersebut.

                Buku ini diawali dengan memberikan pengertian apa itu definisi kaedah secara bahasa serta perbedaan antara kaedah fikih dan hukum fikih itu sendiri. Yang menarik lagi dalam buku ini adalah di setiap kaedah yang dibahas diberikan makna,  dalil-dalil, cabang, pengecualian kaedah, serta contoh-contohnya. Ini tentunya lebih memudahkan dan memberikan penjelasan yang menyeluruh bagi para pembacanya.

                Bagi saya, kehadiran buku ini benar-benar merupakan taufik Allah yang diberikan-Nya kepada saya. Betapa tidak, dua atau tiga minggu sebelum saya membeli buku ini saya kesulitan dalam mencari kaedah-kaedah fikih yang diperlukan untuk memahami timbulnya suatu perkara dalam hukum fikih, baik di internet ataupun dalam buku-buku fikih yang saya miliki. Dan akhirnya Allah memudahkan saya dengan menemukan buku ini di suatu pameran buku Islam yang baru saja berakhir hari ini (9/03).

                Walaupun diakui sendiri oleh penulisnya bahwa kumpulan kaedah ini merupakan kumpulan catatan singkat yang berisi penjelasan sebagian kaedah fikih dalam syariat Islam dan belum ditulis secara luas serta komprehensif, setidaknya bagi dunia perbukuan Indonesia  merupakan penambahan harta karun referensi Islam yang amat berharga. Pun bagi saya dan Anda tentunya keberadaan buku ini memperdalam samudra perbendaharaan tsaqofah (wawasan) serta menuntaskan dahaga intelektualitas kita. Semoga.

Riza Almanfaluthi

Tengah malam, 00.01 WIB 10 Maret 2008

dedaunan di ranting cemara

http://dirantingcemara.wordpress.com

               

Add comment Monday, 10 March 2008

Biola Tak Berdawai

Biola Tak Berdawai
:Sebuah Roman
Seno Gumira Ajidarma & Sekar Ayu Asmara
Penerbit PT Andal Krida Nusantara (Akur)
Cet. II Maret 2004

Tanpa dawai, bagaimanakah biola bisa bersuara? Biola bagaikan tubuh, dan suara itulah jiwanya—tetapi di sebelah manakah dawai dalam tubuh manusia yang membuatnya bicara? Jiwa hanya bisa disuarakan lewat tubuh manusia, tetapi ketika tubuh manusia itu tidak mampu menjadi perantara yang mampu menjelmakan jiwa, tubuh itu bagaikan biola tak berdawai. (Prolog, hal 1)
Buku ini ditulis berdasarkan skenario dan film karya Sekar Ayu Asmara. Dengan cara pandang seorang anak tunadaksa (dengan banyak cacat yang diderita) bernama Dewa. Autistik, bisu, tubuh kecil yang tidak bisa berkembang, mata terbuka tapi tidak melihat, telinga yang bisa menangkap bunyi tapi tidak mendengar, jaringan otak yang rusak, leher yang selalu miring, kepala yang selalu tertunduk, wajah bagaikan anak genderuwo adalah gambaran dari anak itu.
Sebagai salah satu bayi yang tumbuh besar sampai umur delapan tahun—yang di luar perkiraan kebanyakan orang di panti asuhan tersebut, ia adalah belahan jiwa dari salah seorang pengasuhnya, Renjani. Renjani bersama Mbak Wid adalah pengurus panti asuhan yang bernama Rumah Asuh Ibu Sejati, terletak di daerah para pengrajin perak bernama Kotagede di pinggiran kota Yogyakarta. Tempat di mana mereka menampung bayi-bayi yang tidak dikehendaki, karena cacat ataupun karena hasil dari hubungan gelap.

Continue Reading Add comment Tuesday, 18 December 2007

ELANG RETAK: MATI BUKAN MASALAH, HIDUP YANG JADI PERSOALAN

Judul: Elang Retak
Penulis: Gus Ballon
619 Hal. Cetakan I, Juli 2005
Penerbit: Q-Press (Kelompok Penerbit Pustaka Hidayah)
Alamat: Jalan Rereng Adumanis 31, Sukaluyu Bandung 40123 Jawa Barat, Indonesia

Novel ini saya temukan dalam tumpukan buku diskon yang dijual oleh toko buku terkenal di Depok. Sebuah buku cerita tebal yang dibanderol dengan harga cuma lima belas ribu rupiah. Tebal dan murah, dua parameter ini yang membuat saya membelinya setelah beberapa hari sebelumnya saya kosong dari aktivitas membaca.
Saya mungkin terlambat untuk membacanya dan untuk membuat sebuah tulisan tentang novel ini, oleh karena itu saya tidak akan membahas dengan mendalam apa isinya, karena sudah pernah dibahas oleh Alif di forum diskusi ajangkita, Jadi saya menulis apa yang saya rasakan setelah membacanya.
Pertama adalah masalah si penulisnya. Baru kali ini saya tidak melihat sebuah pengenalan pribadi dari seorang penulis novel. Di sana tak ada satu halaman pun sebagai kata pengantar atau biografi kecil dari penulis. Entah Gus Ballon ini adalah nama asli atau nama pena. Sungguh mengundang kepenasaran bagi saya karena novel ini bagus.

Continue Reading 3 comments Monday, 17 December 2007

THE KINGDOM

Pada tanggal 20 Oktober 1973, dengan nama Allah dan berdasarkan agama yang diturunkan pada Muhammad 1400 tahun yang lalu di Mekah dan Madinah, raja Faisal dari Saudi Arabia mengemukakan jihad melawan Israel dan negara-negara yang membantunya. Sebagai bagian dari jihad tersebut ia menetapkan embargo penuh pada pengiriman minyak kerajaan ke Amerika Serikat. Sejak saat itulah keadaan di dunia begitu berubah.
Di tahun 60-an, dunia barat dan Jepang membayar kurang dari 2 dolar Amerika Serikat setiap barel untuk minyak yang mereka terima dari Saudi Arabia dan negara-negara Timur Tengah. Harga 1,80 dolar untuk 42 galon Amerika, tak lebih dari sekitar 4 sen dolar setiap galonnya. Satu dasawarsa kemudian dunia barat harus membayar 32 dolar untuk 42 galon—suatu kenaikan rata-rata 264 persen pertahunnya! Tak heran bila Saudi Arabia menjadi begitu kaya. Dan dunia barat merasa begitu miskin.
Tampak jihad raja Faisal itu telah menjadi salah satu titik penting dalam sejarah abad kedua puluh ini. Embargo minyak yang dipelopori oleh Faisal, kemudian diikuti oleh ledakan harga energi sebagai akibatnya, mengawali pergeseran kekayaan dunia secara besar-besaran, mengalir kekayaan dalam jumlah yang tak pernah terjadi sebelumnya.
***

Continue Reading Add comment Monday, 17 December 2007

Gamay di antara Microsoft dan Google

Malam ini saya sudah tidak sabaran sekali untuk menuliskan tentang Google setelah membaca sebagian halaman dari sebuah buku yang mengisahkan tentang kesuksesan Google—yang dirintis dua orang keturunan Yahudi—untuk tumbuh, berkembang, dan menjadi terbesar dengan nilai kapitalisasi saham yang tidak pernah dibayangkan para kapitalis untuk perusahaan baru tumbuh seperti Google. Di benak saya sudah tak terbendung lagi air bah ide untuk dituliskan agar tidak meluber kemana-mana.
Tetapi saya tidak akan menuliskan begitu saja isi tentang buku itu, karena apa yang mau saya tulis sedangkan bagi saya semuanya dari halaman pertama hingga halaman 167—halaman yang sedang saya baca, dan saya percaya sampai halaman terakhir pun—menarik semua dan tidak akan membuat saya bosan. Wajar saja kalau Daily Mail menulis sebuah endorsement di sampul depan buku berwarna putih—khas gaya antarmuka Google—itu dengan sebuah ungkapan: ”Sungguh memikat, ditulis dengan gaya kisah detektif…sangat cerdas.”

Continue Reading Add comment Friday, 14 December 2007

Siapa Teroris? Siapa Khawarij?

Buku yang ditulis oleh Abduh Zulfidar Akaha ini memang luput perhatian dari saya. Buktinya buku yang terbit perdana di Bulan Juni 2006 ini baru saya ketahui hari Kamis (14/09) kemarin. Sebenarnya saya sudah mendengar tentang buku ini tapi berupa iklan penjualan vcd bedah buku ini di sebuah milis. Pun saya menganggapnya biasa-biasa saja. Tidak ada yang menarik.
Tapi setelah saya melihat keramaian di sebuah forum diskusi dunia maya dan melihat betapa yang kontra terhadap buku ini begitu kerasnya meng-counter buku ini, kepenasaran saya langsung muncul. Sorenya sepulang dari kantor saya sempatkan untuk singgah di toko buku di bilangan Kalibata, Jakarta Selatan.
Di toko itu, saya mencari-cari di setiap rak tapi tidak ketemu. Padahal dari komputer pencarian, buku tersebut masih ada delapan eksemplar. Dibantu oleh satu orang pegawai yang ikut membantu mencari akhirnya saya menemukan buku itu di rak buku. Pun setelah pegawai toko itu angkat tangan karena tidak bisa menemukannya dan mengatakan bahwa kemungkinan besar buku itu sudah diretur.

Continue Reading Add comment Friday, 14 December 2007

The Hobbit

Kemarin, baru saja saya menyelesaikan membaca yang kedua kalinya buku karangan JRR Tolkien ini. Walaupun Anda sudah membaca novel lainnya yang sudah difilmkan oleh Peter Jackson, trilogi The Lord of The Ring mulai The Fellowship of The Ring, Two Towers, hingga The Return of The King, maka itu belumlah lengkap sebelum Anda baca buku yang berjudul The Hobbit.
Karena peristiwa besar di trilogi itu berawal dari seratus tahun sebelumnya yang diceritakan dalam buku ini. Dengan ditemukannya cincin setan oleh tokoh utamanya Bilbo Baggins, kakek Frodo Baggins, dalam sebuah dasar gua gelap di pegunungan berkabut.

Continue Reading 1 comment Wednesday, 12 December 2007

Kisah Klan Otori

Tomasu menyaksikan bekas-bekas pembantaian terhadap penduduk desa Hidden yang dilakukan Iida Sadamu, pimpinan klan Tohan pemenang pertempuran Yaegahara sepuluh tahun yang lalu atas gabungan klan Otori, Maruyama, Shirakawa.
Namun ia diketahui oleh anak buah Iida dan dikejar ke hutan, hingga diselamatkan oleh Lord Otori Shigeru, pewaris sah klan Otori yang dalam perjanjian dengan klan Tohan, ia tidak boleh menjadi pemimpin klan, oleh karenanya saat ini, pimpinan dipegang paman-pamannya.
Tomasu pun diangkat anak oleh Lord Shigeru dan namanya berganti menjadi Otori Takeo yang mempunyai hak sebagai pewaris kelak. Di Hagi, ibukota klan Otori, ia dididik Muto Kenji—teman Shigeru dan seorang Tribe—berlatih pedang, baca tulis, dan melukis. Dari sanalah ia mengetahui bahwa dirinya pun adalah keturunan Tribe—sebuah kelompok diluar klan yang mempunyai keistimewaan hebat. Ia pun mempunyai kehebatan berupa pendengaran yang peka sehingga dapat mengetahui bunyi-bunyian dan pembicaraan orang dari jarak jauh.
Suatu saat Iida Sadamu menghendaki Lord Shigeru untuk menikah dengan Lady Kaede, putri Lord Shirakawa. Iida Sadamu pun melamar Lady Maruyama Naomi, sepupu Lady Kaede dan pimpinan klan Maruyama. Padahal secara diam-diam antara Lord Shigeru dengan Lady Maruyama telah terjalin hubungan yang membuahkan janin.

Continue Reading Add comment Monday, 10 December 2007

Previous Posts






Palestine Blogs - The Gazette



KampungBlog.com - Kumpulan Blog-Blog Indonesia

Telah Dikunjungi

 

November 2009
M T W T F S S
« Oct    
 1
2345678
9101112131415
16171819202122
23242526272829
30  

Categories

Arsip

Blogger

Blogroll

Situs-situs Khusus

Ikhwan & Akhwat Tarbiyah

Best Friends

Downloads

Recent Posts

Recent Comments

rara on OBAT MANJUR BUAT AMBEIEN …
Dian on TATA CARA / PROSEDUR PENDAFTAR…
yuni on OBAT MANJUR BUAT AMBEIEN …
asep on OBAT MANJUR BUAT AMBEIEN …
Akhmad Zainuddin on Istriku: Aku Minta Izin B…
Akhmad Zainuddin on Konsultasi Pajak

Top Clicks

Top Posts

Feeds

Meta

Spam Blocked