<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	xmlns:georss="http://www.georss.org/georss" xmlns:geo="http://www.w3.org/2003/01/geo/wgs84_pos#" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/"
	>

<channel>
	<title>dedaunan di ranting cemara &#187; Kisah Sederhana</title>
	<atom:link href="http://dirantingcemara.wordpress.com/category/kisah-sederhana/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://dirantingcemara.wordpress.com</link>
	<description>ranah untuk kejayaan Islam dan peradabannya</description>
	<lastBuildDate>Mon, 16 Nov 2009 01:37:13 +0000</lastBuildDate>
	<generator>http://wordpress.com/</generator>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<cloud domain='dirantingcemara.wordpress.com' port='80' path='/?rsscloud=notify' registerProcedure='' protocol='http-post' />
<image>
		<url>http://www.gravatar.com/blavatar/237a24c06ceaf1eca551bc64da3ebd26?s=96&#038;d=http://s.wordpress.com/i/buttonw-com.png</url>
		<title>dedaunan di ranting cemara &#187; Kisah Sederhana</title>
		<link>http://dirantingcemara.wordpress.com</link>
	</image>
			<item>
		<title>DAPAT DUIT 23 JUTA RUPIAH</title>
		<link>http://dirantingcemara.wordpress.com/2009/10/12/dapat-duit-23-juta-rupiah/</link>
		<comments>http://dirantingcemara.wordpress.com/2009/10/12/dapat-duit-23-juta-rupiah/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 12 Oct 2009 03:21:55 +0000</pubDate>
		<dc:creator>dirantingcemara</dc:creator>
				<category><![CDATA[Kisah Sederhana]]></category>
		<category><![CDATA[Sejumput Rintih]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://dirantingcemara.wordpress.com/2009/10/12/dapat-duit-23-juta-rupiah/</guid>
		<description><![CDATA[DAPAT DUIT 23 JUTA RUPIAH, ALHAMDULILLAH…


 
Ahad itu, saya sedang membersihkan mobil untuk persiapan berangkat ke acara Silaturahim Du&#8217;at se- Kabupaten Bogor yang diselenggarakan oleh IKADI (Ikatan Da&#8217;I Indonesia). Tiba-tiba datang sepasang suami istri—tetangga saya namun beda RT—meminta bertamu dan berbincang-bincang sejenak karena ada suatu keperluan.

Saya mempersilakan mereka berdua untuk masuk dan duduk di ruang tamu [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=dirantingcemara.wordpress.com&blog=1612705&post=606&subd=dirantingcemara&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p style="text-align:center;"><strong>DAPAT DUIT 23 JUTA RUPIAH, ALHAMDULILLAH…<br />
</strong></p>
<p style="text-align:justify;">
 </p>
<p style="text-align:justify;">Ahad itu, saya sedang membersihkan mobil untuk persiapan berangkat ke acara Silaturahim Du&#8217;at se- Kabupaten Bogor yang diselenggarakan oleh IKADI (Ikatan Da&#8217;I Indonesia). Tiba-tiba datang sepasang suami istri—tetangga saya namun beda RT—meminta bertamu dan berbincang-bincang sejenak karena ada suatu keperluan.
</p>
<p style="text-align:justify;">Saya mempersilakan mereka berdua untuk masuk dan duduk di ruang tamu yang cuma dialasi dengan karpet plastik itu.  Sang suami itu mulai bicara pada saya, &#8220;Pak saya mau menyerahkan uang INI sebagai nadzar kami atas kesembuhan anak kami.&#8221; Ia menyodorkan bungkusan plastik putih. Tebal.
</p>
<p style="text-align:justify;">&#8220;Memang Bapak bernadzar apa?&#8221; tanya saya lebih lanjut.
</p>
<p style="text-align:justify;">&#8220;Anak kami sakit ginjal. Di dalam ginjalnya itu terdapat cairan. Menurut medis anak kami ini harus dioperasi. Kami tidak mau. Lalu kami mencari pengaobatan alternatif yang Insya Allah sesuai syar&#8217;I dan Alhamdulillah sembuh. Kami sudah cek kembali ke dokter. Alhamdulillah, kata dokter sudah tidak ada cairannya  dan tak perlu dioperasi lagi,&#8221; kata sang suami.
</p>
<p style="text-align:justify;">Istrinya menyela, &#8220;sebelumnya kami bernadzar, kalau anak kami sembuh kami akan berinfak.&#8221;
</p>
<p style="text-align:justify;">&#8220;Nah ini sebagai pemenuhan kewajiban kami. Uang ini untuk masjid Pak. Dua puluh tiga juta,&#8221; kata sang suami lagi.
</p>
<p style="text-align:justify;">Subhanallah walhamdulillah, mata saya langsung berkaca-kaca. Saya tahan saja airmata yang sepertinya ingin berlarian keluar dari pelupuk mata. Allah telah mengabulkan do&#8217;a para jama&#8217;ah masjid Al-Ikhwan.
</p>
<p style="text-align:justify;">Ya, jama&#8217;ah Masjid Al-Ikhwan berencana ingin membuat tangga ke bawah agar tempat wudhu yang berada di lantai atas (ruang utama masjid) bisa dipindahkan ke bawah dekat ruang TPA. Awalnya kami cuma punya uang kurang lebih enam juta rupiah saja. Sedangkan biaya pembangunan yang disodorkan oleh pemborong berkisar 38 juta rupiah, naik dari proposal awalnya yang hanya sebesar 27 juta rupiah.
</p>
<p style="text-align:justify;">Dengan berkah bulan ramadhan akhirnya kami bisa mengumpulkan infak sebesar 20 juta rupiah.  Dengan modal awal itu kami bisa memulai pembangunan tangga. Pemborongnya yang merupakan langganan kami itu termasuk orang baik.
</p>
<p style="text-align:justify;">Ia rela memberikan nafas dan kesempatan kepada jama&#8217;ah Masjid Al-Ikhwan untuk mencicil sisanya sebesar dua juta rupiah per bulan selama sembilan bulan. Ia pun tahu kami tidak menunda-nunda dalam pembayarannya. Karena dari pengalaman lalu ketika kami menerapkan metode cicilan ini, kami selalu membayar cicilan lebih dari yang seharusnya kami setor. Dengan hal ini kami bisa lebih cepat dalam melunasi hutang masjid.  Prinsip kami kalau ada uang segera bayar hutangnya.
</p>
<p style="text-align:justify;">Dan selama bulan ramadhan yang merupakan bulan penuh keberkahan, rahmat, dan terkabulnya banyak doa  itu kami senantiasa memanjatkan do&#8217;a agar Allah memberikan kepada kami kepercayaan, kekuatan, dan kemampuan untuk membangun tangga tersebut. Karena selama ini kami hanya mengandalkan pada donator bulanan untuk membiayai operasional masjid. Tidak  ada proposal yang dikirim kepada para warga. Kami hanya mengandalkan proposal yang dikirim ke Departemen Agama yang sampai dibuatnya tulisan ini sumbangannya belum juga didapat.
</p>
<p style="text-align:justify;">Kami yakin Allah mahakaya. Allah pemilik sejatinya masjid Al-Ikhwan itu. Allah yang akan membangun dan menjaga masjid kami itu. Dan Allah maha mendengar. Maka kami perbanyak do&#8217;a di bulan ramadhan apatah lagi di sepuluh hari terakhirnya agar Allah memenuhi segala kebutuhan Masjid Al-Ikhwan itu.
</p>
<p style="text-align:justify;">Sungguh Allah mendengar do&#8217;a kami. Belum habis  bulan syawal 1430 H ini Allah memenuhi kebutuhan kami dengan jumlah yang pas dan mencukupi sehingga kami tidak perlu berhutang. Kami akan membayar dengan kontan. Allah mahabesar.
</p>
<p style="text-align:justify;">Dan dengan kedatangan  suami istri itu, saya dipertontonkan sebuah bentuk keikhlasan. Sebuah bentuk proteksi dari terciderainya amal kebajikan. Mereka tidak mau dibuatkan kuitansi penerimaan uang, tidak mau ditulis namanya di laporan bulanan, dan tidak mau nama mereka disebut-sebut di pengumuman hari jum&#8217;at.
</p>
<p style="text-align:justify;">&#8220;Cukup hamba Allah saja,&#8221; kata mereka.
</p>
<p style="text-align:justify;">Untuk semua yang Allah pertunjukkan kepada saya, saya hanya berdoa semoga Allah memberikan balasan yang lebih baik kepada mereka dari apa yang mereka berikan kepada kami. Infak mereka adalah penjauh malapetaka dan penyembuh segala luka. Dan semoga Allah menyehatkan anak-anak mereka dan menjadikan anak-anak mereka anak-anak yang sholih.
</p>
<p style="text-align:justify;">Dan menjadikan kami termasuk ke dalam golongan orang-orang yang senantiasa mensyukuri nikmat yang diberikan. Terima kasih ya Allah.
</p>
<p style="text-align:justify;">
 </p>
<p style="text-align:justify;">Riza Almanfaluthi
</p>
<p style="text-align:justify;">Episode Ahad
</p>
<p style="text-align:justify;">dedaunan di ranting cemara
</p>
<p style="text-align:justify;">09.22 WIB 12 Oktober 2009.
</p>
<p style="text-align:justify;">
 </p>
<p style="text-align:justify;">
 </p>
<p style="text-align:justify;">
 </p>
<p style="text-align:justify;">
 </p>
  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/dirantingcemara.wordpress.com/606/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/dirantingcemara.wordpress.com/606/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/dirantingcemara.wordpress.com/606/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/dirantingcemara.wordpress.com/606/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/dirantingcemara.wordpress.com/606/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/dirantingcemara.wordpress.com/606/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/dirantingcemara.wordpress.com/606/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/dirantingcemara.wordpress.com/606/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/dirantingcemara.wordpress.com/606/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/dirantingcemara.wordpress.com/606/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=dirantingcemara.wordpress.com&blog=1612705&post=606&subd=dirantingcemara&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://dirantingcemara.wordpress.com/2009/10/12/dapat-duit-23-juta-rupiah/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>2</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/3ddf1c3ba1bfa227c6b07072605b8a11?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">dedaunan</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>THAGHUT ITU KECIL!!!</title>
		<link>http://dirantingcemara.wordpress.com/2009/07/30/thaghut-itu-kecil/</link>
		<comments>http://dirantingcemara.wordpress.com/2009/07/30/thaghut-itu-kecil/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 30 Jul 2009 07:43:37 +0000</pubDate>
		<dc:creator>dirantingcemara</dc:creator>
				<category><![CDATA[Kisah Sederhana]]></category>
		<category><![CDATA[Pergerakan]]></category>
		<category><![CDATA[Sejumput Rintih]]></category>
		<category><![CDATA[Tarbiyah]]></category>
		<category><![CDATA[PKS]]></category>
		<category><![CDATA[Jihad]]></category>
		<category><![CDATA[Sayyid Quthb]]></category>
		<category><![CDATA[Yusuf Kalla]]></category>
		<category><![CDATA[Hendropriyono]]></category>
		<category><![CDATA[Jamal Abdul Nasser]]></category>
		<category><![CDATA[Thaghut]]></category>
		<category><![CDATA[mujahidin]]></category>
		<category><![CDATA[ikhwanul muslimin]]></category>
		<category><![CDATA[materi tarbiyah]]></category>
		<category><![CDATA[kisah taubat]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://dirantingcemara.wordpress.com/2009/07/30/thaghut-itu-kecil/</guid>
		<description><![CDATA[THAGHUT ITU KECIL!!!

Sebenarnya kisah ini sudah pernah saya baca, dulu, dulu sekali. Kisah tentang detik-detik menjelang digantungnya Sayyid Quthb. Dan pagi ini saya menemukannya kembali artikel tersebut saat saya sedang berselancar di dunia maya. Kali ini kesan yang saya tangkap begitu berbeda. Ada bening-bening kaca di mata saat membacanya lagi. Apatah lagi saat membaca apa yang diucapkan oleh Sayyid Quthb ketika ia menolak penawaran pengampunan dari rezim Mesir yang berkuasa saat itu.

Berikut saya kutip sebagian kisah itu.

Di tengah suasana 'maut' yang begitu mencekam dan menggoncangkan jiwa itu, aku menyaksikan peristiwa yang mengharukan dan mengagumkan. Ketika tali gantung telah mengikat leher mereka, masing-masing saling bertausiyah kepada saudaranya, untuk tetap tsabat dan shabr, serta menyampaikan kabar gembira, saling berjanji untuk bertemu di Surga, bersama dengan Rasulullah tercinta dan para Shahabat. Tausiyah ini kemudian diakhiri dengan pekikan, "ALLAHU AKBAR WA LILLAHIL HAMD!" Aku tergetar mendengarnya. <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=dirantingcemara.wordpress.com&blog=1612705&post=578&subd=dirantingcemara&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p style="text-align:center;"><strong>THAGHUT ITU KECIL!!!<br />
</strong></p>
<p style="text-align:justify;">Sebenarnya kisah ini sudah pernah saya baca, dulu, dulu sekali. Kisah tentang detik-detik menjelang digantungnya Sayyid Quthb.  Dan pagi ini saya menemukannya kembali artikel tersebut saat saya sedang berselancar di dunia maya. Kali ini kesan yang saya tangkap begitu berbeda. Ada bening-bening kaca di mata saat membacanya lagi. Apatah lagi saat membaca apa yang diucapkan oleh Sayyid Quthb ketika ia menolak penawaran pengampunan dari rezim Mesir yang berkuasa saat itu.</p>
<p style="text-align:justify;">Berikut saya kutip sebagian kisah itu.</p>
<p style="text-align:justify;">Di tengah suasana &#8216;maut&#8217; yang begitu mencekam dan menggoncangkan jiwa itu, aku menyaksikan peristiwa yang mengharukan dan mengagumkan. Ketika tali gantung telah mengikat leher mereka, masing-masing saling bertausiyah kepada saudaranya, untuk tetap tsabat dan shabr, serta menyampaikan kabar gembira, saling berjanji untuk bertemu di Surga, bersama dengan Rasulullah tercinta dan para Shahabat. Tausiyah ini kemudian diakhiri dengan pekikan, &#8220;ALLAHU AKBAR WA LILLAHIL HAMD!&#8221; Aku tergetar mendengarnya.</p>
<p style="text-align:justify;">Di saat yang genting itu, kami mendengar bunyi mobil datang. Gerbang ruangan dibuka dan seorang pejabat militer tingkat tinggi datang dengan tergesa-gesa sembari memberi komando agar pelaksanaan eksekusi ditunda.</p>
<p style="text-align:justify;">Perwira tinggi itu mendekati Sayyid Qutb, lalu memerintahkan agar tali gantungan dilepaskan dan tutup mata dibuka. Perwira itu kemudian menyampaikan kata-kata dengan bibir bergetar, &#8220;Saudaraku Sayyid, aku datang bersegera menghadap Anda, dengan membawa kabar gembira dan pengampunan dari Presiden kita yang sangat pengasih. Anda hanya perlu menulis satu kalimat saja sehingga Anda dan seluruh teman-teman Anda akan diampuni&#8221;.</p>
<p style="text-align:justify;">Perwira itu tidak membuang-buang waktu, ia segera mengeluarkan sebuah notes kecil dari saku bajunya dan sebuah pulpen, lalu berkata, &#8220;Tulislah Saudaraku, satu kalimat saja… Aku bersalah dan aku minta maaf…&#8221; (Hal serupa pernah terjadi ketika Ustadz Sayyid Qutb dipenjara, lalu datanglah saudarinya Aminah Qutb sembari membawa pesan dari rejim thowaghit Mesir, meminta agar Sayyid Qutb sekedar mengajukan permohonan maaf secara tertulis kepada Presiden Jamal Abdul Naser, maka ia akan diampuni. Sayyid Qutb mengucapkan kata-katanya yang terkenal, &#8220;Telunjuk yang sentiasa mempersaksikan keesaan Allah dalam setiap shalatnya, menolak untuk menuliskan barang satu huruf penundukan atau menyerah kepada rejim thowaghit…&#8221;. Pent).</p>
<p style="text-align:justify;">Sayyid Qutb menatap perwira itu dengan matanya yang bening. Satu senyum tersungging di bibirnya. Lalu dengan sangat berwibawa Beliau berkata, &#8220;Tidak akan pernah! Aku tidak akan pernah bersedia menukar kehidupan dunia yang fana ini dengan Akhirat yang abadi&#8221;.</p>
<p style="text-align:justify;">Perwira itu berkata, dengan nada suara bergetar karena rasa sedih yang mencekam, &#8220;Tetapi Sayyid, itu artinya kematian…&#8221; Ustadz Sayyid Qutb berkata tenang, &#8220;Selamat datang kematian di Jalan Allah… Sungguh Allah Maha Besar!&#8221; *)</p>
<p style="text-align:justify;">***</p>
<p style="text-align:justify;">Ada yang selalu saya ingat dari sosok ayah saya saat bercerita tentang orang-orang besar. Ia selalu hafal kalimat-kalimat terkenal yang pernah diucapkan dari para tokoh itu, entah nasional atau dunia, dan ia mengucapkannya secara atraktif di hadapan kami para anak-anaknya sewaktu masih kecil. Itu amat mengesankan bagi saya. Yang sering ia ulang-ulang adalah ucapannya presiden pertama RI, IR. Soekarno. Sampai sekarang pun saya masih ingat walaupun tidak hafal perkataan tersebut. Yaitu tentang bagaimana nenek moyang kita yang berusaha mengusir penjajah Belanda dari tanah air Indonesia dengan mengucurkan keringat dan darah mereka.</p>
<p style="text-align:justify;">Kali ini pun kiranya aku bergerak untuk mencontoh ayah saya. Ada kalimat yang amat mengharukan dan menggugah saya sehingga hampir-hampir saja saya menangis di depan komputer. &#8220;<strong>Telunjuk yang sentiasa mempersaksikan keesaan Allah dalam setiap shalatnya, menolak untuk menuliskan barang satu huruf penundukan atau menyerah kepada rejim thowaghit…&#8221;<br />
</strong></p>
<p style="text-align:justify;">Sungguh inilah <em>natijah</em> (buah) dari syahadatain, yang menolak setiap <em>thoghut </em> yang ingin  menjadi setara dengan Pencipta dirinya. Inilah realisasi dari keimanan yang amat kuat hingga mampu merasakan dan mengatakan bahwa kehidupan dunia tidaklah sebanding dengan kehidupan akhirat yang abadi.</p>
<p style="text-align:justify;">Bila saya ada dalam posisinya, bisa jadi saya akan mengiyakannya, mengaku bersalah, meminta maaf, serta langsung menandatangani surat itu sebelum sang pembawa surat selesai mengucapkan kalimatnya. Tentunya dengan alasan karena saya belum menikmati seluruh kehidupan dunia ini. <em>Na&#8217;udzubillah</em>.</p>
<p style="text-align:justify;">Sungguh mudah mengucapkan dan mengajarkan materi-materi tarbiyah tentang Syahadatain dan Ma&#8217;rifatullah, tapi teramat berat dalam merealisasikannya karena di sana ada musuh abadi yang senantiasa mengintai dan menghalangi-halangi, setan dan hawa nafsu.</p>
<p style="text-align:justify;">Bagi saya Syaikh Asysyahid Sayyid Quthb adalah salah satu dari sekian banyak orang yang mampu merealisasikan nilai-nilai tarbiyah islamiyah dalam sebenar-benarnya kehidupannya. Maka dari akhir orang yang seperti itu mengapa masih banyak orang menghinakannya sedang ia terbukti mampu untuk menjual kehidupan dunianya dengan kehidupan akhiratnya sedang orang-orang yang berbicara sinis tentangnya belumlah teruji dengan pahit manisnya jihad fi sabilillah melawan thagut.</p>
<p style="text-align:justify;">Sungguh ia akan dikenang dengan pemikirannya dan semangat jihadnya yang tak pernah mati. Bahkan orang sekelas Gamal Abdul<em>-</em>Nasser<em>,</em> Yusuf Kalla dan Hendropriyono pun tak akan mampu mematikannya. Ia mati tapi sesungguhnya ia tetaplah hidup.</p>
<p style="text-align:justify;">Sungguh tidak ada jihad sebelum iman.</p>
<p style="text-align:justify;">Allah Maha Besar! Thaghut itu kecil!</p>
<p style="text-align:justify;">***</p>
<p style="text-align:justify;">
<p style="text-align:justify;">*) Kutipan kisah diambil dari situs jihad: <em>Arrahmah.com</em></p>
<p style="text-align:justify;">
<p style="text-align:justify;">Riza Almanfaluthi</p>
<p style="text-align:justify;">dedaunan di ranting cemara</p>
<p style="text-align:justify;">08:47 30 Juli 2009</p>
<p>setelah sekian lama tidak menulis</p>
  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/dirantingcemara.wordpress.com/578/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/dirantingcemara.wordpress.com/578/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/dirantingcemara.wordpress.com/578/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/dirantingcemara.wordpress.com/578/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/dirantingcemara.wordpress.com/578/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/dirantingcemara.wordpress.com/578/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/dirantingcemara.wordpress.com/578/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/dirantingcemara.wordpress.com/578/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/dirantingcemara.wordpress.com/578/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/dirantingcemara.wordpress.com/578/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=dirantingcemara.wordpress.com&blog=1612705&post=578&subd=dirantingcemara&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://dirantingcemara.wordpress.com/2009/07/30/thaghut-itu-kecil/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>3</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/3ddf1c3ba1bfa227c6b07072605b8a11?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">dedaunan</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>JADILAH IKAN SEGAR!!!</title>
		<link>http://dirantingcemara.wordpress.com/2009/06/03/jadilah-ikan-segar/</link>
		<comments>http://dirantingcemara.wordpress.com/2009/06/03/jadilah-ikan-segar/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 03 Jun 2009 02:44:57 +0000</pubDate>
		<dc:creator>dirantingcemara</dc:creator>
				<category><![CDATA[Kisah Sederhana]]></category>
		<category><![CDATA[Motivasi]]></category>
		<category><![CDATA[Tarbiyah]]></category>
		<category><![CDATA[al-albani]]></category>
		<category><![CDATA[al-banna]]></category>
		<category><![CDATA[ikan segar]]></category>
		<category><![CDATA[kader]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://dirantingcemara.wordpress.com/2009/06/03/jadilah-ikan-segar/</guid>
		<description><![CDATA[JADILAH IKAN SEGAR!!!


Ayyuhal Ikhwah, kalau saja Ki Dalang tidak membuka kotak surat elektronik kemarin sore, bisa saja Ki Dalang tidak tahu bahwa pada hari ini adalah waktunya Ki Dalang kasih itu yang namanya taujih. Terimakasih kepada Kang Mas Sukeri yang telah mengingatkan Ki Dalang untuk nanggap pertunjukkan di Shalahuddin.

Ki Dalang semalaman tidak tahu lakon apa yang kudu dimainkan untuk taujih ini. Buka-buka buku selemari tak mampu memberikan cahaya pada ujung terowongan gagasan. Kemampuan Ki Dalang untuk nanggap semakin menurun karena jarang diasah. Masalahnya pada waktu yang dimiliki Ki Dalang—sebenarnya ini cuma alasan yang dibuat-buat, karena betapa banyak orang yang mampu untuk menuliskan ide di kepalanya dalam waktu sempit yang dipunyainya.

Tapi pada akhirnya Ki Dalang tahu ketika berkecimpung langsung di masyarakat, energi seakan tercurah dan tersedot untuk memikirkan dan mempersiapkan lahirnya prajurit-prajurit atau kader-kader yang mampu menegakkan syari'at Allah tegak di tengah-tengahnya. Dan mengesampingkan untuk sementara menuangkan kreatifitas di atas kertas.

Ayyuhal Ikhwah inilah yang membedakan Al-Banna dengan Al-Albani. Al-Albani, ahli hadits itu banyak melahirkan karya tulis tetapi tidak melahirkan kader. Sebaliknya Al-Banna sebagaimana pengakuannya ia tidak menulis buku tapi menulis laki-laki. Artinya ia tidak ingin terfokus melahirkan buku-buku yang berisikan pikiran, gagasan, dan seluruh pengalamannya. Tetapi yang lebih ia perhatikan adalah bagaimana melahirkan kader-kader yang akan meneruskan perjuangan yang telah ia rintis; perjuangan yang sesungguhnya tak akan pernah redup.

Ki Dalang yakin Al-Albani dengan melahirkan banyak buku tidak serta merta lalu ia meninggalkan diri dari medan laga perjuangan pembentukan kader-kadernya. Tidak. Begitupula dengan Hasan Al-Banna meskipun pernah mengatakan bahwa ia tidak menulis buku, tapi bukan berarti ia sama sekali tidak menulis. Ia juga menulis buku untuk mengabadikan pemikiran dan pengalamannya. Beberapa buku yang menjadi warisan untuk Islam khususnya kader Ikhwan, adalah buku hasil dari kumpulan ceramah dan khutbahnya. Diantaranya adalah: Ahâdîtsul Jum'ah, Da'watunâ, Ilâ asy-Syabâb, Da'watunâ fî Thaurin Jadîd dan masih banyak yang lainnya. 1)<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=dirantingcemara.wordpress.com&blog=1612705&post=569&subd=dirantingcemara&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p style="text-align:center;"><strong>JADILAH IKAN SEGAR!!!<br />
</strong></p>
<p style="text-align:justify;">
<p style="text-align:justify;">Ayyuhal Ikhwah, kalau saja Ki Dalang tidak membuka kotak surat elektronik kemarin sore, bisa saja Ki Dalang tidak tahu bahwa pada hari ini adalah waktunya Ki Dalang kasih itu yang namanya <em>taujih</em>. Terimakasih kepada Kang Mas Sukeri yang telah mengingatkan Ki Dalang untuk <em>nanggap</em> pertunjukkan di Shalahuddin.</p>
<p style="text-align:justify;">Ki Dalang semalaman tidak tahu lakon apa yang <em>kudu</em> dimainkan untuk taujih ini. Buka-buka buku selemari tak mampu memberikan cahaya pada ujung terowongan gagasan. Kemampuan Ki Dalang untuk <em>nanggap</em> semakin menurun karena jarang diasah. Masalahnya pada waktu yang dimiliki Ki Dalang—sebenarnya ini cuma alasan yang dibuat-buat, karena betapa banyak orang yang mampu untuk menuliskan ide di kepalanya dalam waktu sempit yang dipunyainya.</p>
<p style="text-align:justify;">Tapi pada akhirnya Ki Dalang tahu ketika berkecimpung langsung di masyarakat, energi seakan tercurah dan tersedot untuk memikirkan dan mempersiapkan lahirnya prajurit-prajurit atau kader-kader yang mampu menegakkan syari&#8217;at Allah tegak di tengah-tengahnya. Dan mengesampingkan untuk sementara menuangkan kreatifitas di atas kertas.</p>
<p style="text-align:justify;">Ayyuhal Ikhwah inilah yang membedakan Al-Banna dengan Al-Albani. Al-Albani, ahli hadits itu banyak melahirkan karya tulis tetapi tidak melahirkan kader. Sebaliknya Al-Banna sebagaimana pengakuannya ia tidak menulis buku tapi menulis laki-laki. <span style="color:black;">Artinya ia tidak ingin terfokus melahirkan buku-buku yang berisikan pikiran, gagasan, dan seluruh pengalamannya. Tetapi yang lebih ia perhatikan adalah bagaimana melahirkan kader-kader yang akan meneruskan perjuangan yang telah ia rintis; perjuangan yang sesungguhnya tak akan pernah redup.<br />
</span></p>
<p style="text-align:justify;"><span style="color:black;">Ki Dalang yakin Al-Albani dengan melahirkan banyak buku tidak serta merta lalu ia meninggalkan diri dari medan laga perjuangan pembentukan kader-kadernya. Tidak. Begitupula dengan Hasan Al-Banna meskipun <em>pernah </em>mengatakan bahwa ia tidak menulis buku, tapi bukan berarti ia sama sekali tidak menulis. Ia juga menulis buku untuk mengabadikan pemikiran dan pengalamannya. Beberapa buku yang menjadi warisan untuk Islam khususnya kader Ikhwan, adalah buku hasil dari kumpulan ceramah dan khutbahnya. Diantaranya adalah: <em>Ahâdîtsul Jum&#8217;ah, Da&#8217;watunâ, Ilâ asy-Syabâb, Da&#8217;watunâ fî Thaurin Jadîd</em> dan masih banyak yang lainnya. 1)<br />
</span></p>
<p style="text-align:justify;"><span style="color:black;">Nah, Ki Dalang mau berada di tengah-tengah dari mereka berdua. Mampu untuk melahirkan karya dan laki-laki. Dan pada hari ini adalah hari di mana Ki Dalang menjadi sosok produktif ulama hadits tersebut. Dengan demikian beberapa paragraf di atas adalah baru pengantar,  bukan isi dari lakon yang Ki Dalang mau mainkan. Sekarang dengarkanlah, atau bacalah, terserah Anda, cerita dari lakon ini.<br />
</span></p>
<p style="text-align:justify;"><span style="color:black;">Lagi, Ki dalang mendapatkan cerita hebat ini dari teman Ki Dalang yang mengirimkan surat elektroniknya kemarin. Cerita ini sebenarnya sudah banyak tersebar di dunia maya. Tetapi Ki Dalang mau membaginya kepada Anda yang sudah mengetahui ataupun yang belum mengetahuinya sama sekali. Oh ya,  cerita yang dikirimkan oleh teman Ki Dalang itu cuma mengaitkannya dengan motivasi kita untuk mendahsyatkan potensi diri. Tapi Ki Dalang ingin semuanya dikatikan dengan nilai-nilai dakwah yang menjadi senyawa apik dari kehidupan kita di setiap hari dan malamnya.<br />
</span></p>
<p style="text-align:justify;"><span style="color:black;">Begini ceritanya…<br />
</span></p>
<p>KISAH NELAYAN JEPANG 2)</p>
<p>Ada sebuah cerita tentang nelayan Jepang yang insaya Allah bisa kita ambil hikmahnya. Orang Jepang sejak lama menyukai Ikan yang segar. Tetapi tidak banyak ikan yang tersedia di perairan sekitar Jepan dalam beberapa dekade ini.<span style="color:black;"><br />
</span></p>
<p style="text-align:justify;">Jadi untuk memberi makan populasi Jepang, kapal-kapal penangkap ikan bertambah lebih besar dari sebelumnya. Semakin jauh nelayan pergi, maka waktu yang dibutuhkan pun semakin lama untuk membawa hasil tangkapannya ke daratan. Jadi, ikan yang dibawanya tersebut sudah tidak lagi segar. Orang Jepang tidak menyukai rasanya. Untuk mengatasi permasalahan ini, perusahaan memasang freezerdalam kapal mereka.</p>
<p style="text-align:justify;">Mereka akan menangkap ikan dan langsung membekukannya di laut. Freezer memungkinkan kapal-kapal nelayan untuk pergi senakin jauh dan lama, namun, orang Jepang dapat merasakan perbedaan rasa antara ikan beku dan ikan segar, dan mereka tidak menyukai ikan beku. Kemudian sebuah gagasan baru kembali dipakai oleh perusahaan penangkap ikan, yaitu dengan cara memasang tangki-tangki penyimpan ikan dalam kapal mereka. Setelah menangkap ikan para nelayan langsung memasukkan ikan tersebut ke dalam tangki hingga berdempet-dempetan.</p>
<p style="text-align:justify;">Setelah selama beberapa saat saling bertabrakan, ikan-ikan tersebut berhenti bergerak. Mereka kelelahan dan lemas kendatipun tetap hidup. Namun orang Jepang masih tetap dapat merasakan perbedaannya. Karena ikan tadi tidak bergerak selama berhari-hari, mereka kehilangan rasa segar ikannya. Orang segar menghendaki ikan segar yang lincah, bukan ikan segar yang lemas.</p>
<p style="text-align:justify;">Selanjutnya cara apa lagi yang dilakukan oleh para nelayan untuk menjaga agar ikannya tetap segar, sehingga diminati oleh masyarakat Jepang? Solusi terbaiknya ternyata sederhana, sangat sederhana!</p>
<p style="text-align:justify;">Perusahaan perikanan Jepang tetap menyimpan ikan tersebut di dalam tangki, tetapi kini mereka memasukkan ikan hiu kecil ke dalam masing-masing tangki. Memang ikan hiu memakan sedikit ikan, tetapi kebanyakan ikan sampai dalam kondisi hidup dan sangat segar. Ikan-ikan tersebut ternyata tertantang untuk bertahan hidup dari ancaman.<span style="color:black;"><br />
</span></p>
<p style="text-align:justify;"><span style="color:black;">***<br />
</span></p>
<p style="text-align:justify;"><span style="color:black;">Ya Ayyuhal Ikhwah, dari cerita ini Ki Dalang tidak membahas pada kreatifitas nelayan-nelayan Jepang tapi menitikberatkan pada kalimat ini: </span><strong>orang segar menghendaki ikan segar yang lincah, bukan ikan segar yang lemas.<br />
</strong></p>
<p style="text-align:justify;">Artinya apa wahai saudara-saudaraku? Orang segar membutuhkan ikan yang segar, ikan yang masih aktif bergerak. Sehingga ketika tiba waktunya untuk disayat dengan pisau masih terasa kesegarannya, masih terasa kaya nutrisinya, dan sudah barang tentu rendah kalorinya.</p>
<p style="text-align:justify;">Orang segar tidak butuh dengan ikan yang tidak segar, lemas, atau mati bahkan busuk.</p>
<p style="text-align:justify;">Begitupula dengan masyarakat kita. Masyarakat yang segar butuh kader-kader dakwah yang segar. Bukan untuk disembelih ataupun disayat dengan pisau. Tapi untuk memberikan tambahan kesegaran yang lebih kepada mereka. Mereka butuh kader-kader dakwah yang senantiasa enerjik, yang tetap semangat dalam kondisi apapun, dan tentunya mampu memberikan kesegaran kepada mereka di tengah himpitan  hidup yang membelenggu.  Kesegaran yang bagaimana?</p>
<p style="text-align:justify;">Kesegaran yang berupa semangat membina yang tak pernah padam, keluasan ilmu, tawadhu&#8217;, jujur, dermawan, bersih, peduli, <em>itqon</em> (profesional), dan terus menerus beramal nyata yang benar-benar dirasakan oleh mereka.  Kedatangan kita ditunggu sampai-sampai mereka bernyanyi seperti lirik lagu ini: d<em>atanglah, kedatanganmu kutunggu, telah lama, telah lama &#8217;ku menunggu…3)<br />
</em></p>
<p style="text-align:justify;">Setiap pekannya kesegaran kita ditunggu oleh mereka. Koreksi kita pada tilawah mereka, ilmu tajwid yang menuntun mereka, hadits-hadits Arba&#8217;in yang kita bacakan kepada mereka, taujih yang kita sampaikan kepada mereka, bahkan telinga tebal dan kesediaan kita untuk mendengarkan keluhan mereka.</p>
<p style="text-align:justify;">Ayyuhal ikhwah, itu semua butuh kreatifitas kita sebagai refleksi kesegaran itu. Jangan sampai kreatifitas itu baru muncul pada saat kita memang terdesak atau ketika malaikat maut sudah muncul di depan hidung kita. Selagi masih ada suasana kondusif di negeri kita tercinta ini yang memungkinkan kita dengan nyaman dan aman untuk melakukan syiar-syiar kebaikan maka manfaatkanlah itu. Mumpung kesempatan itu masih ada. Suasana aman kiranya lebih baik daripada suasana <em>chaos</em>.</p>
<p style="text-align:justify;">Dus, ketika suasana politik sudah akan menurun desibel hiruk pikuknya, maka sudah saatnya  Anda semua sebagai kader dakwah mengasah kembali pedangnya yang tumpul, tapal kudanya yang sudah aus, rentangan busur panahnya yang sudah kendor untuk kembali dibina dan membina, untuk kembali memikirkan sejatinya asholah dakwah itu. &#8220;Kembali ke barak!!!&#8221;, kata teman Ki Dalang.</p>
<p style="text-align:justify;">Teruslah bergerak, teruslah beramal, karena itu membuat Anda semua para kader dakwah senantiasa segar.</p>
<p style="text-align:justify;">Bergeraklah, sungguh air yang diam itu akan menjadi bibit penyakit. Jadilah air yang mengalir yang senantiasa memberikan manfaat pada jalan yang dilewatinya.</p>
<p style="text-align:justify;">Bergeraklah, karena diam berarti kematian. 4)</p>
<p style="text-align:justify;">Bergeraklah, karena diam itu adalah busuk.<strong><br />
</strong></p>
<p style="text-align:justify;">Bergeraklah, maka Allah akan menggerakkan hati manusia. <em>Taharaku wallahu sayuhariku qulubannas.<br />
</em></p>
<p style="text-align:justify;">Bergeraklah engkau.</p>
<p style="text-align:justify;">Jadilah ikan segar!</p>
<p style="text-align:justify;">
<p style="text-align:justify;"><strong>Wallahua&#8217;lam bishshowab.<br />
</strong></p>
<p style="text-align:justify;">
<p style="text-align:justify;"><span style="color:black;">Catatan Kaki:<br />
</span></p>
<ol style="margin-left:54pt;">
<li>
<div style="text-align:justify;"><a href="http://arifinbits.wordpress.com/2008/02/20/hasan-al-banna-sang-revolusioner/">http://arifinbits.wordpress.com/2008/02/20/hasan-al-banna-sang-revolusioner/</a></div>
</li>
<li>
<div style="text-align:justify;">Email motivator Febriya Fajri</div>
</li>
<li>
<div style="text-align:justify;">Ridho Rhoma feat Sonet 2 Band</div>
</li>
<li>
<div style="text-align:justify;"><a href="http://nisrinamumtaz.wordpress.com/2009/01/01/lko-itsar-akhir-2008/">http://nisrinamumtaz.wordpress.com/2009/01/01/lko-itsar-akhir-2008/</a></div>
<p style="text-align:justify;">
<p style="text-align:justify;">
</li>
</ol>
<p style="text-align:justify;">
<p style="text-align:justify;">Riza Almanfaluthi</p>
<p style="text-align:justify;">dedaunan di ranting cemara</p>
<p style="text-align:justify;"><span style="color:black;">9:12 03 Mei 2009<br />
</span></p>
<p style="text-align:justify;">
  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/dirantingcemara.wordpress.com/569/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/dirantingcemara.wordpress.com/569/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/dirantingcemara.wordpress.com/569/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/dirantingcemara.wordpress.com/569/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/dirantingcemara.wordpress.com/569/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/dirantingcemara.wordpress.com/569/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/dirantingcemara.wordpress.com/569/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/dirantingcemara.wordpress.com/569/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/dirantingcemara.wordpress.com/569/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/dirantingcemara.wordpress.com/569/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=dirantingcemara.wordpress.com&blog=1612705&post=569&subd=dirantingcemara&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://dirantingcemara.wordpress.com/2009/06/03/jadilah-ikan-segar/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>2</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/3ddf1c3ba1bfa227c6b07072605b8a11?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">dedaunan</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>ALI SEMBIRING TAUBAT</title>
		<link>http://dirantingcemara.wordpress.com/2009/06/01/ali-sembiring-taubat/</link>
		<comments>http://dirantingcemara.wordpress.com/2009/06/01/ali-sembiring-taubat/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 01 Jun 2009 09:10:11 +0000</pubDate>
		<dc:creator>dirantingcemara</dc:creator>
				<category><![CDATA[Kisah Sederhana]]></category>
		<category><![CDATA[Sejumput Rintih]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://dirantingcemara.wordpress.com/2009/06/01/ali-sembiring-taubat/</guid>
		<description><![CDATA[ALI SEMBIRING TAUBAT


Ali Sembiring cuma seorang tukang ojek. Tapi jangan sangka, ia dulu mantan orang kaya. Kontraktor beken di kota itu. Bahkan sempat menjadi anggota DPRD. Tapi seiring dengan pertikaian penentuan nomor urut sesama anggota partai yang mengantarkan dirinya menjadi golongan masyarakat terhormat, akhirnya ia keluar dari partai yang membesarkan dirinya itu.

Bersamaan dengan itu ia menclok ke partai lain. Ia berjuang dan membiayai sendiri agar dapat menduduki kembali kursi empuk wakil rakyat. Tapi ia bertemu dengan calo politik yang kerjaannya cuma bisa menipu dirinya. Ia dijanjikan ribuan suara yang akan memilihnya dari calo itu. Dan ia percaya hingga menggelontorkan puluhan juta kepadanya. Pada hari-H pencoblosan (karena pada saat itu belum ada istilah contreng) ternyata di TPS dengan calo politik sebagai saksinya itu bahkan ia tidak mendapatkan satu suara pun.

Tragis. Ia gagal menjadi wakil rakyat. Tidak berhenti di situ ia diutak-atik oleh kejaksaan negeri. Kali ini pada kasus korupsi yang menimpa dirinya dan sebagian sejawatnya. Ia pun sempat merasakan dinginnya tembok hotel prodeo. Dengan kekuatan uang yang masih tersisa ia bebas. Tapi ditebus dengan menjual sebelas rumahnya. Plus bisnisnya yang ikut hancur-hancuran. Kini dia hanya bisa mengontrak rumah petak. Kawan-kawannya sudah banyak yang meninggalkan dirinya. <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=dirantingcemara.wordpress.com&blog=1612705&post=568&subd=dirantingcemara&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p style="text-align:center;"><strong>ALI SEMBIRING TAUBAT<br />
</strong></p>
<p style="text-align:justify;">
<p style="text-align:justify;">Ali Sembiring cuma seorang tukang ojek. Tapi jangan sangka, ia dulu mantan orang kaya. Kontraktor beken di kota itu. Bahkan sempat menjadi anggota DPRD. Tapi seiring dengan pertikaian penentuan nomor urut sesama anggota partai yang mengantarkan dirinya menjadi golongan masyarakat terhormat, akhirnya ia keluar dari partai yang membesarkan dirinya itu.</p>
<p style="text-align:justify;">Bersamaan dengan itu ia menclok ke partai lain. Ia berjuang dan membiayai sendiri agar dapat menduduki kembali kursi empuk wakil rakyat. Tapi ia bertemu dengan calo politik yang kerjaannya cuma bisa menipu dirinya. Ia dijanjikan ribuan suara yang akan memilihnya dari calo itu. Dan ia percaya hingga menggelontorkan puluhan juta kepadanya.  Pada hari-H pencoblosan (karena pada saat itu belum ada istilah contreng) ternyata di TPS dengan calo politik sebagai saksinya itu bahkan ia tidak mendapatkan satu suara pun.</p>
<p style="text-align:justify;">Tragis. Ia gagal menjadi wakil rakyat.  Tidak berhenti di situ ia diutak-atik oleh kejaksaan negeri. Kali ini pada kasus korupsi yang menimpa dirinya dan sebagian sejawatnya. Ia pun sempat merasakan dinginnya tembok hotel prodeo. Dengan kekuatan uang yang masih tersisa ia bebas. Tapi ditebus dengan menjual sebelas rumahnya. Plus bisnisnya yang ikut hancur-hancuran. Kini dia hanya bisa mengontrak rumah petak. Kawan-kawannya sudah banyak yang meninggalkan dirinya.</p>
<p style="text-align:justify;">Ali Sembiring cuma seorang tukang ojek.  Tapi jangan sangka, ia dapat mengambil pelajaran dari semuanya. Kesulitan yang bertubi-tubi menimpa dirinya adalah ujian. Ujian yang diberikan oleh Tuhannya yang baru ia dekati saat masuk penjara.</p>
<p style="text-align:justify;">&#8220;Setelah kesulitan ada kemudahan&#8221;, katanya mengutip ayat yang ada di Juz 30.</p>
<p style="text-align:justify;">Sejak itu ia mulai mengais-ngais harap pada Sang Maha Pemberi Rezeki. Ia mulai menabung pahala untuk bekalnya nanti. Kebaikan-kebaikan ia cicil setiap hari. Satu tujuan adalah ridho-Nya dapat ia raih.</p>
<p style="text-align:justify;">Sebagai manusia yang hidup di muka bumi, dengan cahaya iman di hati, ditambah beban sebagai <em>khalifah fil &#8216;ardhi </em> maka adakalanya hidup dipenuhi dengan banyak kesulitan yang datangnya tidak disangka-sangka. Paradoks dari rezeki yang diberikan Allah yang datangnya pula tak disangka-sangka.</p>
<p style="text-align:justify;">Pada akhirnya Ali Sembiring tahu dari ceramah Ustadz di masjid dekat pengkolan. Tempatnya ia melepas penat setiap adzan dhuzur berkumandang. Ada enam pintu kebaikan yang akan melepaskan dirinya dari berbagai macam kesulitan.</p>
<p style="text-align:justify;">Pintu pertama, mudahkan kesultian orang lain.</p>
<p style="text-align:justify;">Siapa yang menyelesaikan kesulitan seorang mu&#8217;min dari berbagai kesulitan-kesulitan dunia, niscaya Allah akan memudahkan kesulitan-kesulitannya hari kiamat. Dan siapa yang memudahkan orang yang sedang kesulitan niscaya akan Allah mudahkan baginya di dunia dan akhirat dan siapa yang menutupi (aib) seorang muslim Allah akan tutupkan aibnya di dunia dan akhirat.</p>
<p style="text-align:justify;">Ali sadar betul. Dulu banyak proposal yang masuk pada dirinya dan ia tak akan meneruskan proposal dari konstituennya sebelum ia tahu betul berapa persen <em>fee</em> yang akan ia dapat dari upaya bantuan dengan pamrih itu. Ali taubat.</p>
<p style="text-align:justify;">Pintu kedua, perbanyak shadaqah.</p>
<p style="text-align:justify;">Sudah terlalu banyak keutamaan shadaqah yang diceramahkan oleh para ustadz. Tapi hanya sedikit yang masuk ke otaknya dan berbuah amal. Terbayang pada dirinya bagaimana ia juga banyak &#8220;shadaqah&#8221; tapi itupun dengan niat lain agar orang yang diberi infak atau shadaqah tersebut mencoblos dirinya. &#8220;Pak, Bu ini sembako dari saya, ingat yah nomor partai saya&#8221; atau dengan amplop putih berisi uang cebanan yang ia bagikan habis shubuh pada hari-H. Serangan fajar. Ali taubat.</p>
<p style="text-align:justify;">Pintu ketiga, menghindari apa-apa yang diharamkan Allah.</p>
<p style="text-align:justify;">Duh, ceramah ustadz itu menggedor hatinya. Malu dirinya mengungkapkan semua yang telah dilakukannya dulu. Kamar hotel bintang tiga  menjadi saksinya saat bergumul dengan wanita yang bukan muhrimnya. Ia kaya. Ia sehat. Tapi istrinya tak mengizinkan dirinya berpoligami. Dan ia tak bisa menceraikan isitrinya. Pun ia takut dengan cercaan masyarakat kalau ia berpoligami. <em>Shorcut</em> ia tempuh. Apatah lagi seringkali kalau demikian ia ditemani sampanye dan anggur merah berharga mahal. Ah…Ali taubat.</p>
<p style="text-align:justify;">Pintu keempat, &#8220;birrul walidain&#8221;, kata ustadz itu.</p>
<p style="text-align:justify;">Untuk yang ini, Ali merasa ia jagonya. Tak pernah sedikitpun ia menyengsarakan batin dan lahir kedua orang tuanya. Ia merasa lega sebentar. Tapi sejenak ia tertegun. Uang darimana yang ia berikan kepada mereka. Ia ingat setiap ia mendapat <em>fee</em> dari rekanan pelaksana proyek pemerintah yang melalui dirinya ia berikan setengahnya buat mereka. IA sama saja dengan meracuni mereka. Air mata pun menetes perlahan dari matanya yang sudah sedari tadi berkaca-kaca. Ali Taubat.</p>
<p style="text-align:justify;">Pintu kelima, iman dan amal sholeh.</p>
<p style="text-align:justify;">Keduanya adalah dua yang tidak bisa dipisahkan. Lebih dari 300 ayat yang berbicara tentang masalah ini dala Al-Qur&#8217;an. Keduanya adalah dwi tunggal. Keduanya harus ada pada diri seorang beriman. Tak bisa seseorang yang beriman tanpa adanya amal sholeh. Begitu pula sebaliknya.</p>
<p style="text-align:justify;">Betapa banyak orang yang bersyahadat lebih dari sepuluh kali setiap harinya, zakat setiap bulannya, puasa ramadhan dan pergi haji setiap tahunnya, tapi tetap membiarkan tetangganya berkubang dalam rintihan lapar atau membiarkan hati mereka tersakiti karena tiadanya adab yang baik dari dirinya. Iman tanpa amal sholeh dalam wujud amal-amal sosial adalah sebuah egoisme diri.</p>
<p style="text-align:justify;">Dan betapa banyak orang yang seringkali melakukan amal shaleh tapi dengan keimanan yang rusak, karena niat yang tak sempurna karena-Nya. Atau digerogoti sikap menduakan Allah yang akan melenyapkan setiap amal yang ada. Sungguh tak akan bisa tercampur antara syirik dan amal sholeh.</p>
<p style="text-align:justify;">Dan betapa banyak orang yang tak pernah mengucapkan kalimat Syahadat dalam seumur hidupnya lalu ia mendarmabaktikan hidupnya itu untuk berbuat baik (amal sholeh) kepada siapapun tanpa batas-batas agama, sungguh tak sedikitpun amal itu diterima. Karena syahadat adalah pintu masuk kepada Islam. Tertolaklah ia.</p>
<p style="text-align:justify;">Iman dan amal sholeh. Amal sholeh adalah buah dari Iman. Ali tahu ia tipis dari keduanya. Ali taubat.</p>
<p style="text-align:justify;">Pintu keenam, perbanyak doa.</p>
<p style="text-align:justify;">Ali tahu, ia baru memperbanyak doa saat kesulitan itu mulai menanggalkan kenikmatannya satu persatu. Ali taubat.</p>
<p style="text-align:justify;">Ali Sembiring cuma seorang tukang ojek.  Tapi jangan sangka, ia mampu menyerap sebuah hikmah. Hikmah kehidupan. Seabrek dosa dan segunung penyesalan membebani pundaknya tak membuat ia berputus asa dari rahmat Allah. Ia paham betul, telah terbentang di depannya padang luas ampunan Allah. Tak perlu malu ia beringsut seinchi  demi inchi untuk mendekatiNya demi hanya menjadi budak-Nya.  Untuk seumur hidupnya yang tersisa.</p>
<p style="text-align:justify;">&#8220;Belum terlambat Li,&#8221; kataku, &#8220;selama nyawa masih ada di kandung badan.&#8221;</p>
<p style="text-align:justify;">Ayo maju, maju…</p>
<p style="text-align:justify;">Ayo maju, maju…</p>
<p style="text-align:justify;">Ayo majuuu, majuuuuu…</p>
<p style="text-align:justify;">***</p>
<p style="text-align:justify;">Maraji&#8217;:</p>
<ol style="margin-left:54pt;">
<li>
<div style="text-align:justify;">AlQur&#8217;anul Kariim;</div>
</li>
<li>
<div style="text-align:justify;">Hadits riwayat Muslim;</div>
</li>
<li>
<div style="text-align:justify;">Ceramah Ustadz Zainal Muttaqien.</div>
</li>
</ol>
<p style="text-align:justify;">Nama di atas adalah bukan nama sebenarnya dan fiktif belaka. Mohon maaf kalau ada kesamaan nama.</p>
<p style="text-align:justify;">
<p style="text-align:justify;">
<p style="text-align:justify;">Riza Almanfaluthi</p>
<p style="text-align:justify;">dedaunan di ranting cemara</p>
<p style="text-align:justify;">16:03 01 Juni 2009</p>
<p>64 tahun lahirnya Pancasila</p>
  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/dirantingcemara.wordpress.com/568/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/dirantingcemara.wordpress.com/568/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/dirantingcemara.wordpress.com/568/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/dirantingcemara.wordpress.com/568/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/dirantingcemara.wordpress.com/568/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/dirantingcemara.wordpress.com/568/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/dirantingcemara.wordpress.com/568/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/dirantingcemara.wordpress.com/568/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/dirantingcemara.wordpress.com/568/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/dirantingcemara.wordpress.com/568/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=dirantingcemara.wordpress.com&blog=1612705&post=568&subd=dirantingcemara&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://dirantingcemara.wordpress.com/2009/06/01/ali-sembiring-taubat/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>4</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/3ddf1c3ba1bfa227c6b07072605b8a11?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">dedaunan</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>HAJI &#8211; GEMBEL</title>
		<link>http://dirantingcemara.wordpress.com/2009/01/09/haji-gembel/</link>
		<comments>http://dirantingcemara.wordpress.com/2009/01/09/haji-gembel/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 09 Jan 2009 02:45:40 +0000</pubDate>
		<dc:creator>dirantingcemara</dc:creator>
				<category><![CDATA[Kisah Sederhana]]></category>
		<category><![CDATA[Sejumput Rintih]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://dirantingcemara.wordpress.com/2009/01/09/haji-gembel/</guid>
		<description><![CDATA[HAJI &#8211; GEMBEL

Musim haji telah berlalu lama. Tapi masih banyak yang perlu diceritakan di dalam dan karenanya. Dan saya memang senantiasa tertarik menikmati setiap kisah itu. Apatah lagi saat musim pemberangkatan haji di mana banyak calon haji yang menyelenggarakan walimatus safar. Selain silaturahim yang didapat, banyak ilmu dan hikmah yang bisa  diraih dari ceramah [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=dirantingcemara.wordpress.com&blog=1612705&post=492&subd=dirantingcemara&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p style="text-align:center;"><strong>HAJI &#8211; GEMBEL<br />
</strong></p>
<p style="text-align:justify;">Musim haji telah berlalu lama. Tapi masih banyak yang perlu diceritakan di dalam dan karenanya. Dan saya memang senantiasa tertarik menikmati setiap kisah itu. Apatah lagi saat musim pemberangkatan haji di mana banyak calon haji yang menyelenggarakan walimatus safar. Selain silaturahim yang didapat, banyak ilmu dan hikmah yang bisa  diraih dari ceramah para ustadz yang mengiringi acara itu.
</p>
<p style="text-align:justify;">Pun, setelah para haji dan hajjah itu pulang ke tanah air maka tak luput saya sambangi dan bersilaturahim dengan mereka. Banyak jua cerita yang diperoleh.   Pada akhirnya, semuanya itu berujung pada kerinduan yang membuncah, meledak-ledak untuk turut serta pergi ke tanah suci dan menapaktilasi perjalanan anak-anak  manusia bernama Ibrahim, Ismail, dan Siti Hajar.
</p>
<p style="text-align:justify;">Dan ada satu kisah menarik yang perlu saya bagi kepada Anda semua.  Tentang apa yang dialami oleh teman dekat saya, sebut saja Alexandrus, dalam perjalanan haji 1429H yang lalu. Dengan niat yang lurus ia berangkat sendirian tanpa ditemani istri dan keluarga yang lainnya. Ia ambil haji mandiri, tidak ikut KBIH (Kelompok Bimbingan Ibadah Haji). Dari tanah air ia sudah bertekad untuk sebisa mungkin melaksanakan sholat lima waktu di Masjidil Haram. Karena ia tahu sekali sholat di sana seperti melaksanakan sholat 100.000 kali di masjid yang lain. Ini berarti seperti melaksanakan shalat lima waktu berjama&#8217;ah di masjid selama kurang lebih 55 tahun berturut-turut tanpa putus.
</p>
<p style="text-align:justify;">Nah, untuk itu ia punya rutinitas. Setelah shalat shubuh ia pulang ke maktabnya, mencuci pakaian, istirahat sebentar, lalu jam 10 pagi ia berangkat lagi ke Masjidil Haram. Di sepanjang perjalanan bolak-balik dari rumah ke masjid tentunya ia menjumpai banyak orang dari berbagai bangsa dengan berbagai tingkah dan kebiasaannya. Stereotip yang ia bawa dari tanah air dan melekat kuat di kepalanya adalah tingkah jama&#8217;ah haji dari Afrika yang kasar-kasar. Pada kenyataannya ia menjumpai kebalikannya. Bahkan mereka sangatlah sopan terutama jama&#8217;ah dari Nigeria. Itu menurut pandangannya dan dari apa yang ia rasakan. Maka berubahlah stereotip itu.
</p>
<p style="text-align:justify;">Tapi dalam benaknya muncul stereotip baru, bukan pada orang Afrika tapi pada jama&#8217;ah Bangladesh dan India. Dari pengalaman bergaul dengan kelompok pertama maka muncullah stereotip bahwa orang Bangladesh itu kasar, tidak punya aturan, tidak sopan, preman, bahkan penjahat di Arab Saudi, terutamanya sering menjadi tukang menghamili TKW (Tenaga Kerja Wanita) Indonesia.
</p>
<p style="text-align:justify;">Buktinya adalah ketika semua orang dengan sabar mengantri untuk naik eskalator, eh tiba-tiba orang Bangladesh dari belakang mendorong kursi rodanya ke  arah kerumunan di depannya. Hingga membuat sebagian orang terjungkal. Dan orang Bangladesh itu tak peduli dengan semuanya.
</p>
<p style="text-align:justify;">Tidak hanya itu, Alexandrus ditunjukkan video amatiran oleh teman sekamarnya. Video yang berisi rekaman proses hudud (eksekusi) penggantungan lima orang Bangladesh di tiang listrik. Cara hududnya tergolong unik, mereka dinaikkan ke atas drum yang telah disusun tinggi. Lalu tali gantungan yang terjuntai di tiang listrik dililitkan ke leher mereka. Dan ketika aba-aba eksekusi dimulai, maka ada mobil yang dengan kecepatan tinggi menabrak kelima susunan  drum itu. Orang-orang di jalan pun histeris melihatnya.  Kelimanya dihukum mati karena telah memerkosa dan membunuh remaja putri Riyadh. Lengkap sudah stereotip Alexandrus terhadap orang Bangladesh.
</p>
<p style="text-align:justify;">Suatu saat di Kota Madinah, ketika Alexandrus mau shalat di Masjid Nabawi ia kelupaan untuk membawa air minum. Padahal ia harus segera makan nasi bungkus yang telah ia persiapkan sebelumnya.  Ia sadar ia tidak boleh makan di dalam masjid. Maka ia harus makan di luar. Ia pikir tak apa-apa tidak ada air sebagai teman makan karena kalau ia sudah menyelesaikan makannya  ia akan segera masuk ke dalam masjid untuk meminum air zam-zam yang telah disediakan di sana.
</p>
<p style="text-align:justify;">Di tengah asyiknya ia makan dan tentunya dengan tenggorokan yang seret datang seseorang  menghampirinya, mengajaknya berkenalan. Setelah itu tanpa disangka-sangka orang itu mengeluarkan dari balik jaketnya satu botol penuh berisi air berkarbonasi lengkap dengan gelas plastik.Tutupnya pun belum dibuka. Setelahnya ia langsung pergi.
</p>
<p style="text-align:justify;">&#8220;Thank you, Sir. Where do you came from?&#8221; tanya Alexandrus.
</p>
<p style="text-align:justify;">Dari jauh sambil pergi orang itu menjawab, &#8220;Bangladesh!&#8221;
</p>
<p style="text-align:justify;">Teman saya terpana.
</p>
<p style="text-align:justify;">**
</p>
<p style="text-align:justify;">Pada orang India, stereotip baru yang terbentuk dalam pikirannya adalah kumpulan orang-orang yang menjadikan mengemis sebagai profesi utama mereka, dengan cara apapun, berbohong dan menipu para jama&#8217;ah haji. Stereotip lainnya adalah mereka kumpulan orang miskin yang bisanya hanya membuat repot negara Arab Saudi. Makan sembarangan di tengah jalan hingga mengganggu lalu lalang jama&#8217;ah lainnya. Semuanya itu melekat kuat di benak Alexandrus.
</p>
<p style="text-align:justify;">Suatu ketika, ba&#8217;da shubuh ia keluar dari Masjidil Haram untuk pulang. Ia menjumpai—lagi-lagi—orang India tua yang  sedang makan roti dan minum susu dengan lahapnya di tengah jalan. Alexandrus sambil berjalan teru memperhatikan orang India itu. Tahu sedang diperhatikan, orang itu menatap Alexandrus dengan tersenyum dan bahkan dengan isyarat jelas orang India itu menyuruh Alexandrus untuk mendekat kepada dirinya.
</p>
<p style="text-align:justify;">&#8220;Ayo makan sama-sama,&#8221; ajak orang tua itu kepada Alexandrus.
</p>
<p style="text-align:justify;">&#8220;Oh tidak, terimakasih,&#8221; jawab Alexandrus.
</p>
<p style="text-align:justify;">Melihat Alexandrus menampik tawarannya, orang tua itu merogoh saku bajunya dan mengeluarkan segepok Real dan mencabut banyak lembar uang kertas itu dan memberikannya kepada Alexandrus.
</p>
<p style="text-align:justify;">Teman saya itu benar-benar melongo. Pemberian uang itu pun ditolak olehnya. &#8220;Terimakasih, saya masih ada uang. Mungkin buat yang lainnya,&#8221; katanya.
</p>
<p style="text-align:justify;">Ia lalu berpikir, &#8220;mungkin Allah memberikan penglihatan di mata orang India tua itu bahwa saya adalah gembel yang layak untuk diberi makan dan uang.&#8221;
</p>
<p style="text-align:justify;">**
</p>
<p style="text-align:justify;">Di akhir ceritanya ia berkata, &#8220;Saya mengambil hikmah dari dua kejadian itu. Allah sungguh masih sayang kepada saya. Allah hanya menegur saya dengan mempertunjukkan secara langsung bahwa apa yang saya pikirkan itu salah. Coba kalau Allah tidak sayang sama saya, mungkin Allah akan memberikan teguran yang lebih keras lagi. Bisa dengan hilangnya barang-barang saya, sakit yang tak kunjung sembuh hingga membatalkan ibadah haji saya.&#8221;
</p>
<p style="text-align:justify;">Hikmah yang menarik. Padahal apa yang dilakukan oleh Alexandrus itu adalah semata perbuatan hati belaka. Tak pernah terucap dan tak pernah terlakukan. Teladan kita Muhammad SAW pernah berkata, &#8220;sesungguhnya Allah SWT mengampuni umatku apa-apa yang ada dalam hatinya, selama tidak ia ucapkan atau ia lakukan.&#8221; (Shahihain). Tapi memang Allah sudah menyuruh kita untuk menjauhi kebanyakan dari prasangka karena sebagian besar dari prasangka itu adalah dosa.
</p>
<p style="text-align:justify;">Saya bersyukur teman saya bisa mengambil hikmah dan tersadarkan langsung. Itu adalah lebih baik daripada menunggu hisab di yaumil akhir nanti. Dan bagi saya cerita itu adalah nasehat yang luar biasa.
</p>
<p style="text-align:justify;">***
</p>
<p style="text-align:justify;">
 </p>
<p style="text-align:justify;">
 </p>
<p style="text-align:justify;">Riza Almanfaluthi
</p>
<p style="text-align:justify;">dedaunan di ranting cemara
</p>
<p style="text-align:justify;">09.35 09 Januari 2008
</p>
<p style="text-align:justify;">
 </p>
<p style="text-align:justify;">
 </p>
<p style="text-align:justify;">
 </p>
<p style="text-align:justify;">
 </p>
  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/dirantingcemara.wordpress.com/492/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/dirantingcemara.wordpress.com/492/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/dirantingcemara.wordpress.com/492/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/dirantingcemara.wordpress.com/492/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/dirantingcemara.wordpress.com/492/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/dirantingcemara.wordpress.com/492/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/dirantingcemara.wordpress.com/492/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/dirantingcemara.wordpress.com/492/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/dirantingcemara.wordpress.com/492/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/dirantingcemara.wordpress.com/492/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=dirantingcemara.wordpress.com&blog=1612705&post=492&subd=dirantingcemara&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://dirantingcemara.wordpress.com/2009/01/09/haji-gembel/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>9</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/3ddf1c3ba1bfa227c6b07072605b8a11?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">dedaunan</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>TOMBOL JEBOL</title>
		<link>http://dirantingcemara.wordpress.com/2008/12/01/tombol-jebol/</link>
		<comments>http://dirantingcemara.wordpress.com/2008/12/01/tombol-jebol/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 01 Dec 2008 09:42:44 +0000</pubDate>
		<dc:creator>dirantingcemara</dc:creator>
				<category><![CDATA[Kisah Sederhana]]></category>
		<category><![CDATA[Opini]]></category>
		<category><![CDATA[Sejumput Rintih]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://dirantingcemara.wordpress.com/2008/12/01/tombol-jebol/</guid>
		<description><![CDATA[TOMBOL JEBOL

Saya punya hp jadul. Setiap mau sholat saya selalu mematikan dering hp itu agar tidak mengganggu kekhusu&#8217;annya. Cara yang biasa saya lakukan adalah dengan menekan sekali (tidak terlalu lama) tombol on/off. Maka di layar hp muncul profiles
		seperti switch off, general, silent, dan lain-lainnya. Saya tentunya memilih pilihan silent untuk membisukan berisik bunyi hp jika [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=dirantingcemara.wordpress.com&blog=1612705&post=489&subd=dirantingcemara&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p style="text-align:center;">TOMBOL JEBOL
</p>
<p style="text-align:justify;">Saya punya hp jadul. Setiap mau sholat saya selalu mematikan dering hp itu agar tidak mengganggu kekhusu&#8217;annya. Cara yang biasa saya lakukan adalah dengan menekan sekali (tidak terlalu lama) tombol on/off. Maka di layar hp muncul <em>profiles</em><br />
		<em>seperti switch off, general, silent, </em>dan lain-lainnya. Saya tentunya memilih pilihan <em>silent</em> untuk membisukan berisik bunyi hp jika ada sinyal yang masuk.
</p>
<p style="text-align:justify;">Walhasil karena sering dipakai, tombol karetnya yang  semula menggelembung menjadi tertelan, cekung ke bawah. Dengan demikian tidak bisa lagi dimatikan hanya dengan menggunakan jari, harus dibantu dengan sesuatu yang tumpul untuk mematikannya. Dan saya biasa menggunakan kancing baju untuk menekan tombol itu. Cara itu semakin membuat tombol itu melesak ke dalam. Sempat terpikir untuk membawanya ke tempat reparasi hp untuk mengganti tombol yang telah tidak berfungsi dengan semestinya itu.
</p>
<p style="text-align:justify;">Tapi, hari ini (Senin, 01/31), saya baru tahu sebenarnya ada cara lain untuk men-<em>silent</em>-kan hp tanpa harus dengan menekan tombol on/off. Itu pun baru saya ketahui saat saya melangkahkan kaki menuju masjid kantor. Dalam perjalanan itu seperti biasa saya harus menekan tombol hp, dan secara tiba-tiba terlintas dalam benak saya harusnya ada cara pintas (<em>shortcut</em>) untuk menggantikan cara &#8220;kejam&#8221; itu. Tidak dengan cara kekerasan tapi dengan cara yang lembut. Iseng-iseng saya tekan tombol di <em>keypad</em> hp yang menunjuk pada perintah <em>Go to</em>, berada di sudut kanan bawah layar hp.
</p>
<p style="text-align:justify;">Jreng…ternyata memang ada pilihan <em>silent</em> di sana. Letaknya tidak pada layar pertama tapi pada layar kedua sehingga membuat pilihan itu tersembunyi dan tidak diketahui dengan cepat. Hanya dengan menggulung layar itu ke bawah maka pilihan <em>silent</em> terlihat di layar. Oalah…inilah hasil kebodohan saya yang memang jarang mengeksplor menu-menu di hp itu. Kalau itu sedari dulu saya ketahui, tak akan  mungkin tombol itu jebol.
</p>
<p style="text-align:justify;">Pelajaran moral: pelajari betul manual hp. Ma&#8217;rifati (kenali) betul fungsi-fungsi yang ada di dalamnya. Niscaya kejadian yang saya alami tak akan pernah terjadi.
</p>
<p style="text-align:justify;">Seringkali kita merasa bahwa kitalah yang paling mengenal diri kita sendiri. Tidak orang lain. Dengan demikian  kita sudah merasa jumawa dan paling benar sendiri sehingga telinga pun ditutup dan tak perlu belajar dari orang lain. Tak perlu belajar  dari kehidupan yang setiap jenaknya ada nafas-nafas pendek kita yang menandakan bahwa kita sejatinya masih hidup dan bukan mayat yang membusuk di dalam tanah.
</p>
<p style="text-align:justify;">Jumawa itu membuat mata hati kita tertutup. Tak menyadari bahwa sesuatu yang kita anggap benar, di selanya ada orang lain yang menganggap bahwa apa yang kita yakini itu ternyata salah. Tak menyadari pula bahwa manusia itu tempatnya salah dan lupa. Sejatinya ini pula adalah ketiadaan mengenal diri kita sendiri. Pada akhirnya tombol kemanusiaan kita jebol. Tidak ada kelembutan. Tidak ada kesadaraan pada sang Khalik. Peri kebinatangan yang menjadi keseharian bahkan sampai laksana fir&#8217;aun yang berkata: akulah tuhanmu yang paling tinggi. Semoga kita terlindungi dari hal yang sedemikian rupa.
</p>
<p style="text-align:justify;">Lalu bagaimana untuk bisa mengenal diri kita itu? Eksplorlah diri kita. Evaluasi diri kita setiap saat. Muhasabahi setiap amal yang dilakukan dalam setiap detiknya. Jikalau kesadaran itu dieksplor niscaya kita menjadi orang yang mudah untuk empati. Tidak menjadi orang yang paling benar dengan pendapatnya sendiri. Menjadi pandai mendengar, tidak hanya pandai berbicara. Dan pada akhirnya ia tahu hakikat dirinya sebagai insan yaitu cuma sebagai budak, babu, jongos, dan hamba sahayaNya Allah.
</p>
<p style="text-align:justify;">Bermuhasabahlah. Jangan jadi tombol yang akan jebol.
</p>
<p style="text-align:justify;">Di pinggir sana ada orang yang merasa dirinya muda terus, Riza, sedang mengangguk-anggukan kepalanya seperti burung tekukur, mendengar nasehat itu.
</p>
<p style="text-align:justify;">
 </p>
<p style="text-align:justify;">
 </p>
<p style="text-align:justify;">
 </p>
<p style="text-align:justify;">
 </p>
<p style="text-align:justify;">riza almanfaluthi
</p>
<p style="text-align:justify;">dedaunan di ranting cemara
</p>
<p>13:36 01 Desember 2006</p>
  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/dirantingcemara.wordpress.com/489/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/dirantingcemara.wordpress.com/489/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/dirantingcemara.wordpress.com/489/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/dirantingcemara.wordpress.com/489/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/dirantingcemara.wordpress.com/489/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/dirantingcemara.wordpress.com/489/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/dirantingcemara.wordpress.com/489/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/dirantingcemara.wordpress.com/489/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/dirantingcemara.wordpress.com/489/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/dirantingcemara.wordpress.com/489/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=dirantingcemara.wordpress.com&blog=1612705&post=489&subd=dirantingcemara&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://dirantingcemara.wordpress.com/2008/12/01/tombol-jebol/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>6</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/3ddf1c3ba1bfa227c6b07072605b8a11?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">dedaunan</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>AKU DIKEHENDAKI ALLAH?</title>
		<link>http://dirantingcemara.wordpress.com/2008/08/05/aku-dikehendaki-allah/</link>
		<comments>http://dirantingcemara.wordpress.com/2008/08/05/aku-dikehendaki-allah/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 05 Aug 2008 08:16:38 +0000</pubDate>
		<dc:creator>dirantingcemara</dc:creator>
				<category><![CDATA[Kisah Sederhana]]></category>
		<category><![CDATA[Sejumput Rintih]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://dirantingcemara.wordpress.com/2008/08/05/aku-dikehendaki-allah/</guid>
		<description><![CDATA[AKU DIKEHENDAKI ALLAH?

Telepon genggamku menjerit nyaring mengisi sisi kosong di lantai ruangan kantorku. Segera kuambil dan kusempatkan membaca nama yang tertera di sana. Aku mengenalnya sebagai sahabat lama yang terlupakan untuk aku sempatkan bersilaturahim dengannya. Tiba-tiba terdengar suara dari seberang.

&#8220;Halo Dek…&#8221; sapanya. Tumben nih ia memanggilku dengan sebutan akrab seperti itu. Kayak kakak beradek.

&#8220;Iya ada [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=dirantingcemara.wordpress.com&blog=1612705&post=440&subd=dirantingcemara&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p style="text-align:center;"><span style="font-size:12pt;"><strong>AKU DIKEHENDAKI ALLAH?<br />
</strong></span></p>
<p style="text-align:justify;"><span style="font-size:12pt;">Telepon genggamku menjerit nyaring mengisi sisi kosong di lantai ruangan kantorku. Segera kuambil dan kusempatkan membaca nama yang tertera di sana. Aku mengenalnya sebagai sahabat lama yang terlupakan untuk aku sempatkan bersilaturahim dengannya. Tiba-tiba terdengar suara dari seberang.<br />
</span></p>
<p style="text-align:justify;"><span style="font-size:12pt;">&#8220;Halo Dek…&#8221; sapanya. Tumben <em>nih</em> ia memanggilku dengan sebutan akrab seperti itu. Kayak kakak beradek.<br />
</span></p>
<p><span style="font-size:12pt;">&#8220;Iya ada apa Mbak?&#8221; tanyaku.<br />
</span></p>
<p><span style="font-size:12pt;">&#8220;Ada dimana?&#8221;<br />
</span></p>
<p><span style="font-size:12pt;">&#8220;Di kantor.&#8221;<br />
</span></p>
<p><span style="font-size:12pt;">&#8220;Tolong antarkan ke Tiki Dong…&#8221;pintanya.<br />
</span></p>
<p><span style="font-size:12pt;">Aku terdiam lama, ia memanggilku dengan sebutan Dek, lalu ia menyuruhku untuk mengantar sesuatu ke Tiki. Padahal aku belum sempat berurusan apapun dengannya. Dan betul ada jeda di sana dengan jawaban aku selanjutnya.<br />
</span></p>
<p><span style="font-size:12pt;">&#8220;Wah…kayaknya Mbak salah sambung nih…&#8221; kataku.<br />
</span></p>
<p style="text-align:justify;"><span style="font-size:12pt;">Dan pada akhirnya kesadaran itu muncul. Mbak yang sudah naik haji ini salah pencet, niatnya mau menghubungi seseorang bernama &#8220;Dede&#8221; tetapi yang tertekan nomor dari sebuah nama &#8220;dedaunan riza&#8221;.<br />
</span></p>
<p style="text-align:justify;"><span style="font-size:12pt;">Walaupun demikian, salah sambung ini membawa berkah. Setidaknya ia ikhlas menginfakkan sebagian hartanya untuk pelaksanaan baksos yang kedua nanti di tanggal 9 Agustus 2008. Maklum pada pelaksanaan baksos tanggal 06 Juli 2008 lalu ia ketinggalan berpartisipasi. Katanya, dalam sebuah sms lanjutan, &#8220;<strong><em>iya, ini aq lg diingetin sama Allah, biar gak ktinggalan baksos kek kemarin..:-D&#8221; </em><br />
</strong></span></p>
<p style="text-align:justify;"><span style="font-size:12pt;">Sejatinya, ladang amal terbuka buat siapapun yang dikehendaki oleh Allah. Jika tidak, maka betapapun ladang amal itu terbentang dihadapannya yang pada akhirnya akan menuai balasan berlipat ganda dari Allah, maka tetaplah ia tidak tergerak hatinya untuk menggarap ladang amal kebaikan itu. Sekali lagi karena Allah tidak menghendakinya.<br />
</span></p>
<p style="text-align:justify;"><span style="font-size:12pt;">Aku sering merenung dan memuhasabahi diri sendiri, jangan-jangan saya termasuk dalam golongan orang-orang yang tidak dikehendaki Allah untuk berbuat kebaikan (Ya Allah aku berlindung dari semua itu). Ya, karena aku merasa sering terlambat untuk menekan tombol otomatis kebaikan. Gerakku tidak refleks ketika terbentang ladang amal di hadapan.<br />
</span></p>
<p style="text-align:justify;"><span style="font-size:12pt;">Tidak seperti para sahabat Rasulullah yang tanpa disuruh mau menginfakkan seluruh hartanya tanpa meninggalkan sesuatu buat dirinya sendiri dan keluarganya. Mau berpeluh-peluh dan berdarah-darah membela Rasulullah. Mau dan sigap bersegera menggarap ladang amal di hadapan mereka. Ya, karena mereka adalah golongan yang dikehendaki Allah. Mereka ridha terhadap Allah dan Allah pun ridha kepada mereka.<br />
</span></p>
<p style="text-align:justify;"><span style="font-size:12pt;">Sedang aku? Jauh…<br />
</span></p>
<p style="text-align:justify;"><span style="font-size:12pt;">Allah Rabbi, ampuni aku.<br />
</span></p>
<p style="text-align:justify;"><span style="font-size:12pt;">***<br />
</span></p>
<p style="text-align:justify;"> </p>
<p style="text-align:justify;"> </p>
<p style="text-align:justify;"><span style="font-size:12pt;"><em>Terimakasih kepada Mbak Lis Rin yang telah mengingatkan saya, di tengah kekhawatiran saya pada banyaknya kata-kata daripada aksi yang dilakukan.<br />
</em></span></p>
<p style="text-align:justify;"> </p>
<p style="text-align:justify;"> </p>
<p style="text-align:justify;"><span style="font-size:12pt;">riza almanfaluthi<br />
</span></p>
<p style="text-align:justify;"><span style="font-size:12pt;">dedaunan di ranting cemara<br />
</span></p>
<p style="text-align:justify;"><span style="font-size:12pt;">15.10 5 Agustus 2008<br />
</span></p>
<img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/dirantingcemara.wordpress.com/440/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/dirantingcemara.wordpress.com/440/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/dirantingcemara.wordpress.com/440/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/dirantingcemara.wordpress.com/440/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/dirantingcemara.wordpress.com/440/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/dirantingcemara.wordpress.com/440/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/dirantingcemara.wordpress.com/440/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/dirantingcemara.wordpress.com/440/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/dirantingcemara.wordpress.com/440/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/dirantingcemara.wordpress.com/440/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/dirantingcemara.wordpress.com/440/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/dirantingcemara.wordpress.com/440/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=dirantingcemara.wordpress.com&blog=1612705&post=440&subd=dirantingcemara&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://dirantingcemara.wordpress.com/2008/08/05/aku-dikehendaki-allah/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>2</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/3ddf1c3ba1bfa227c6b07072605b8a11?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">dedaunan</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>FRAGMEN JUM’AT</title>
		<link>http://dirantingcemara.wordpress.com/2008/07/18/fragmen-jum%e2%80%99at/</link>
		<comments>http://dirantingcemara.wordpress.com/2008/07/18/fragmen-jum%e2%80%99at/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 18 Jul 2008 02:48:37 +0000</pubDate>
		<dc:creator>dirantingcemara</dc:creator>
				<category><![CDATA[Kisah Sederhana]]></category>
		<category><![CDATA[Sejumput Rintih]]></category>
		<category><![CDATA[Tarbiyah]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://dirantingcemara.wordpress.com/2008/07/18/fragmen-jum%e2%80%99at/</guid>
		<description><![CDATA[FRAGMEN JUM'AT


Pagi ini saya usahakan untuk tidak membuka apapun terkecuali program pengolah kata saat pertama kali menyalakan komputer. Sudah lama saya tidak menulis di pagi hari. Dan kemudian saya berpikir lagi ternyata di lain waktu pun saya tidak menulis juga. Artinya memang sudah beberapa hari atau hitungan pekan ini saya belum menemukan satu, dua atau banyak kepingan gagasan yang enak untuk dijadikan mozaik tulisan. 

    Tiba-tiba setelah membuka program pengolah kata itu saya teringat sebuah episode kelemahlembutan dan kerendahhatian yang ditunjukkan oleh seorang ulama. Tidak dibuat-buat, tulus, dan apa adanya. Dan ini membuat saya teramat terkesan padanya. 

    Suatu ketika, di hari Jum'at, Ia datang memenuhi undangan untuk menjadi khotib di masjid kantor pajak Kalibata. Ia sudah sering kami undang ke masjid kami itu seperti mengisi ceramah bulanan dan ramadhan. Sudah beberapa kali saya mendengar ceramahnya. Insya Allah sudah menjadi jaminan ceramahnya itu tidak membuat pendengarnya terkantuk-kantuk. 

<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=dirantingcemara.wordpress.com&blog=1612705&post=435&subd=dirantingcemara&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p style="text-align:center;"><strong>FRAGMEN JUM&#8217;AT<br />
</strong></p>
<p style="text-align:justify;">Pagi ini saya usahakan untuk tidak membuka apapun terkecuali program pengolah kata saat pertama kali menyalakan komputer. Sudah lama saya tidak menulis di pagi hari. Dan kemudian saya berpikir lagi ternyata di lain waktu pun saya tidak menulis juga. Artinya memang sudah beberapa hari atau hitungan pekan ini saya belum menemukan satu, dua atau banyak kepingan gagasan yang enak untuk dijadikan mozaik tulisan.</p>
<p style="text-align:justify;">    Tiba-tiba setelah membuka program pengolah kata itu saya teringat sebuah episode kelemahlembutan dan kerendahhatian yang ditunjukkan oleh seorang ulama. Tidak dibuat-buat, tulus, dan apa adanya. Dan ini membuat saya teramat terkesan padanya.</p>
<p style="text-align:justify;">    Suatu ketika, di hari Jum&#8217;at, Ia datang memenuhi undangan untuk menjadi khotib di masjid kantor pajak Kalibata. Ia sudah sering kami undang ke masjid kami itu seperti mengisi ceramah bulanan dan ramadhan. Sudah beberapa kali saya mendengar ceramahnya. Insya Allah sudah menjadi jaminan ceramahnya itu tidak membuat pendengarnya terkantuk-kantuk.</p>
<p style="text-align:justify;">Pada Ramadhan 1428 H yang lalu tema ceramahnya tentang dua orang yang berbeda nasib saat di alam kubur, saya sampaikan kembali di hadapan jamaah tarawih masjid komplek rumah saya, Al-Ikhwan. Penuturannya yang lembut amat menggedor batin saya hingga membuat mata saya berkaca-kaca.</p>
<p style="text-align:justify;">Sebenarnya tidak kali itu saja ia membuat mata saya berbening kaca, dulu pada tanggal 3 Sya&#8217;ban 1427 H atau bertepatan dengan tanggal 27 Agustus 2006 beliau menjadi salah satu penceramah tabligh akbar majelis Akhlakul Karimah di Masjid At-Tiin yang dihadiri puluhan ribu orang. Pun demikian, ajakannya kepada seluruh peserta tabligh akbar untuk meminta ampunan kepada Allah diiringi isak tangis banyak orang. Allah yang mahamulia. Sungguh mengharukan. Itulah pertama kali saya mendengar ceramahnya.</p>
<p style="text-align:justify;">Dan pada jum&#8217;at itu ceramahnya saya dengarkan baik-baik. Pula setiap ayat-ayat yang dilantunkannya saat mengimami jamaah sholat jum&#8217;at. Setelah selesai sholat, saya dan takmir masjid yang lain mengajaknya masuk ke ruang khusus takmir. Lalu mempersilakannya menikmati hidangan yang telah kami sediakan. Ya, sudah menjadi tradisi kami setiap ba&#8217;da sholat Jumat kami makan ringan bersama-sama dengan khotib dan pengurus masjid yang lain. Tujuannya selain silaturahim juga adalah dalam rangka mengenal lebih dekat para khotib yang datang memenuhi undangan kami.</p>
<p style="text-align:justify;">Nah, fragmen kerendahhatiannya ditunjukkannya pada saat ia sudah duduk di meja makan tersebut. Saat dipersilakan ia bukannya menunggu piring datang ke hadapannya atau menunggu diambilkan oleh orang lain, tetapi ia langsung mengambil piring dan membagikannya kepada orang-orang yang ada di ruangan tersebut. &#8220;Silakan-silakan…,&#8221;katanya. Ia juga mengambilkan lontong yang terhidang di sana satu persatu kepada kami semua. Lalu sambalnya beliau yang menuangkannya ke piring-piring kami. Kami jadinya merasa tidak enak. Saat kami mencegahnya, ia bersikeras biar ia yang melakukannya saja.</p>
<p style="text-align:justify;">Aih, padahal ia adalah seorang tamu yang harusnya kami layani. Ia doktor ilmu syariah lulusan timur tengah. Pengasuh rubrik konsultasi Pusat Konsultasi Syariah atau <em>syariah online</em>. Pengurus Ikatan Da&#8217;i Indonesia (IKADI), dan wajahnya sering terlihat di layar kaca mengisi siraman rohani pagi.</p>
<p style="text-align:justify;">Dalam hati saya berkata, &#8220;Subhanallah, inilah sejatinya ulama yang ilmunya senantiasa dihiasi dengan keindahan akhlaknya.&#8221; Ya, seringkali kita melihat betapa banyak mereka yang disebut ulama tetapi akhlaknya berbanding terbalik dengan ilmu yang dimilikinya. Bahkan bukannya malah menjadi penerus mulia kanjeng Nabi Muhammad saw dengan akhlaknya yang paripurna tetapi malah menjadi ulama pemecah umat. Semoga kita terlindung dari semua itu. Saya berdoa semoga ia tetap istiqomah dengan ilmu dan amalnya itu.</p>
<p style="text-align:justify;">Fragmen yang beliau tunjukkan kepada kami meneguhkan tentang dua hal yang tak boleh ditinggalkan oleh orang-orang yang telah menjual hidupnya kepada Allah. Yaitu kelembutan dan kerendahhatian. Dua-duanya mutlak diperlukan untuk memperlancar jalan dakwah. Kebetulan pula saya membaca sebuah transkrip taujih pekanan yang berjudul Bersikap Lembut dan Rendah Hati.</p>
<p style="text-align:justify;">Kelembutan adalah perpaduan hati, ucapan, dan perbuatan dalam upaya menyayangi, menjaga perasaan, melunakkan dan memperbaiki orang lain. Kelembutan adalah kebersihan hati dan keindahan penyajian yang diwujudkan dalam komunikasi lisan dan badan. BUkanlah kelembutan bila ucapannya lembut tapi isinya penuh dengan kata-kata kasar menyakitkan (<em>nyelekit</em>). Bukan pula kelembutan bila menyampaikan kebenaran tapi dengan caci maki dan bentakan. Berwajah manis penuh senyum, memilih pemakaian kata yang benar dan pas (<em>qaulan syadidan</em>), memaafkan, memaklumi, penuh perhatian, penuh kasih sayang adalah tampilan kelembutan. Wajah sinis, penuh sindiran yang terkadang tanpa tabyyun, buruk sangka, ghibah, pendendam, emosional merupakan kebalikan dari sifat kelembutan.</p>
<p style="text-align:justify;">Rendah hati merupakan perpaduan hati, ucapan, dan perbuatan dalam upaya mendekatkan/mengakrabkan, melunakkan keangkuhan, menumbuhkan kepercayaan, membawa keharmonisan dan mengikis kekakuan. Angkuh, sok pintar, dan hebat, merasa paling berjasa, merasa levelnya lebih tinggi, minta dihormati, enggan menegur/menyapa terlebih dahulu, tidak mau diperintah, sulit ditemui atau dimintai tolong dengan alasan birokratis, menganggap remeh, <em>cuek</em> dan antipati merupakan lawan dari rendah hati.</p>
<p style="text-align:justify;">Allah berfirman dalam surah Asy-Syu&#8217;araa ayat 215, &#8220;<strong><em>dan rendahkanlah dirimu terhadap orang-orang yang beriman yang mengikuti kamu.</em></strong>&#8221; Bila Rasulullah saja dengan berbagai pesona dan kelebihannya diperintah untuk tawadhu (dan Rasul telah menjalankan perintah itu), tentulah kita yang apa adanya ini harus lebih rendah hati. Rendah hati terhadap <em>murabbi</em>, rendah hati terhadap <em>mutarobbi</em>, dan rendah hati terhadap seluruh orang-orang yang beriman menunjukkan penghormatan kita pada Rasul dan kebenaran Al-Qur&#8217;an. Sebaliknya, keangkuhan dan perasaan lebih dari orang lain menandakan masih jauhnya kita dari Qur&#8217;an dan Hadits.</p>
<p style="text-align:justify;">Membaca tiga paragraf taujih itu membuat saya termenung. Apa yang dilakukan oleh ulama itu adalah implementasi ayat di atas, &#8220;<strong><em>dan rendahkanlah dirimu terhadap orang-orang yang beriman yang mengikuti kamu&#8221;. </em><br />
</strong>Menjadi<strong><br />
</strong>ulama bukanlah sebuah penisbatan diri bahwa yang lain yaitu pengikut atau umatnya harus melayani dirinya. Bahkan sebaliknya ialah yang <em>kudu</em> melayani dan merendahkan dirinya pada orang-orang yang beriman yang mengikutinya. Satu hal lagi ternyata kelembutan dan kerendahhatian lebih melanggengkan/mengawetkan binaan-binaan kita untuk terus berdakwah bersama kita.</p>
<p style="text-align:justify;">Semoga saya bisa meniru akhlak ulama tersebut. Dan sekali lagi semoga beliau senantiasa istiqomah. Insya Allah kami akan mengundang beliau pada tanggal 10 Agustus 2008 di Masjid Al-Ikhwan, Puri Bojong Lestari tahap II, Pabuaran, Bojonggede, pada acara Tarhib Ramadhan.</p>
<p style="text-align:justify;">Kalau antum semua ingin tahu siapa beliau? Ini dia fotonya:</p>
<p style="text-align:justify;"> </p>
<p style="text-align:justify;"><img src="http://dirantingcemara.files.wordpress.com/2008/07/071808-0248-fragmenjuma1.jpg" alt="" align="left" /></p>
<p style="text-align:justify;"> </p>
<p style="text-align:justify;"> </p>
<p style="text-align:justify;"> </p>
<p style="text-align:justify;"> </p>
<p style="text-align:justify;"> </p>
<p style="text-align:justify;"> </p>
<p style="text-align:justify;"> </p>
<p style="text-align:justify;"> </p>
<p style="text-align:justify;">    </p>
<p style="text-align:justify;"> </p>
<p style="text-align:justify;"> </p>
<p style="text-align:justify;"> </p>
<p style="text-align:justify;">Dr. Muslih Abdul Karim</p>
<p style="text-align:justify;">(Ia pernah dicaci maki sebagai &#8220;<strong><em>gembong Ikhwani</em></strong>&#8221; oleh mereka yang membencinya, tapi tak menyurutkan beliau untuk tetap berdakwah mengajak dan mengajarkan kebaikan kepada masyarakat).</p>
<p style="text-align:justify;">***</p>
<p style="text-align:justify;"><strong>Riza Almanfaluthi<br />
</strong></p>
<p style="text-align:justify;">masih ada di rantingnya</p>
<p style="text-align:justify;">09:34 18 Juli 2008.</p>
<p style="text-align:justify;">dedaunan di ranting cemara</p>
<img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/dirantingcemara.wordpress.com/435/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/dirantingcemara.wordpress.com/435/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/dirantingcemara.wordpress.com/435/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/dirantingcemara.wordpress.com/435/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/dirantingcemara.wordpress.com/435/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/dirantingcemara.wordpress.com/435/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/dirantingcemara.wordpress.com/435/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/dirantingcemara.wordpress.com/435/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/dirantingcemara.wordpress.com/435/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/dirantingcemara.wordpress.com/435/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/dirantingcemara.wordpress.com/435/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/dirantingcemara.wordpress.com/435/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=dirantingcemara.wordpress.com&blog=1612705&post=435&subd=dirantingcemara&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://dirantingcemara.wordpress.com/2008/07/18/fragmen-jum%e2%80%99at/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>2</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/3ddf1c3ba1bfa227c6b07072605b8a11?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">dedaunan</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://dirantingcemara.files.wordpress.com/2008/07/071808-0248-fragmenjuma1.jpg" medium="image" />
	</item>
		<item>
		<title>SEKEHENDAKMU, UMMI!</title>
		<link>http://dirantingcemara.wordpress.com/2007/12/19/sekehendakmu-ummi/</link>
		<comments>http://dirantingcemara.wordpress.com/2007/12/19/sekehendakmu-ummi/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 19 Dec 2007 01:43:07 +0000</pubDate>
		<dc:creator>dirantingcemara</dc:creator>
				<category><![CDATA[Kisah Sederhana]]></category>
		<category><![CDATA[Opini]]></category>
		<category><![CDATA[Diary]]></category>
		<category><![CDATA[Story]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://dirantingcemara.wordpress.com/2007/12/19/sekehendakmu-ummi/</guid>
		<description><![CDATA[Sore itu, dalam perjalanan pulang dari kantor menuju rumah, menyusuri jalan rindang penuh rerimbunan pohon, di jalan setapak Kampus Universitas Indonesia. 
“Alhamdulillah, Ummi bersyukur punya suami kayak Abi,” bisiknya meningkahi deru motor.
“Syukurnya kenapa?”tanyaku penasaran. Maklum pembicaraan ini seumur-umur baru terdengar. 
“Jangan geer yah…”tegasnya padaku.
“Insya Allah enggak.”
“Syukurnya Abi tidak banyak menuntut macam-macam. Kayak menghalangi Ummi untuk dibina dan membina.”
 “Ah masak?”
“Betul kok…”<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=dirantingcemara.wordpress.com&blog=1612705&post=306&subd=dirantingcemara&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p>Sore itu, dalam perjalanan pulang dari kantor menuju rumah, menyusuri jalan rindang penuh rerimbunan pohon, di jalan setapak Kampus Universitas Indonesia.<br />
“Alhamdulillah, Ummi bersyukur punya suami kayak Abi,” bisiknya meningkahi deru motor.<br />
“Syukurnya kenapa?”tanyaku penasaran. Maklum pembicaraan ini seumur-umur baru terdengar.<br />
“Jangan geer yah…”tegasnya padaku.<br />
“Insya Allah enggak.”<br />
“Syukurnya Abi tidak banyak menuntut macam-macam. Kayak menghalangi Ummi untuk dibina dan membina.”<br />
“Ah masak?”<br />
“Betul kok…”<br />
“Emang ada contoh yang menghalangi istrinya untuk itu?” tanyaku lagi. “Banyak,” jawabnya sambil menyebut nama salah seorang dari ustadz kami.<br />
“Sebenarnya satu saja bagi Abi untuk membiarkan Ummi tetap menjalani apa yang Ummi kehendaki. Itu ‘kan komitmen awal kita sebelum menikah bukan? Masak lupa sih?”<br />
“Terus apa lagi?” tanyaku lagi tentang kesyukuran dia memilikiku.<br />
“Ummi enggak masak, Abi tidak marah.”<br />
“Karena dalam biodata Ummi ‘kan sudah jelas ditulis tidak bisa masak, ya Abi pasrah saja. Nrimo apa adanya. He…he…he….”<br />
“Ada lagi?” tanyaku.<br />
“Cukup itu saja dulu.”<br />
“Kayaknya banyak deh yang harus Ummi banggakan dari diri Abi ini,” kataku.<br />
“Iya sebanding pula dengan kelemahan yang ada pada diri Abi,” tukasnya.<br />
“He…he…he…tahu saja Ummi sih…” jawabku sambil tersenyum.<br />
***<br />
Pembicaraan di atas motor tadi adalah sarana paling efektif yang sering kami lakukan untuk bisa saling memahami. Di atas motorlah, di sepanjang perjalanan pulang, kami membicarakan apa saja yang bisa kami bicarakan sampai tuntas untuk membunuh rasa jenuh saat melintasi jalanan dengan rute yang sama dari hari ke hari. Tapi terkadang kami sibuk dengan pikirannya masing-masing, terutama kalau dalam perjalanan pergi ke kantor di pagi hari. Sehingga bisa jadi tanpa sepatah katapun saling terucap. Tidak mengapa.<br />
Ada pertanyaan buat kami, mengapa pembicaraan itu tidak dilakukan ketika sampai di rumah ketika kita semua sudah dalam keadaan tubuh yang segar dan sedang istirahat? Jawabannya adalah bahkan kalau di rumah sepertinya kami tidak bisa berkomunikasi dengan efektif karena selalu diganggu oleh anak-anak dan kegiatan kemasyarakatan lainnya. Sehingga seringkali kami memanfaatkan waktu yang ada di manapun berada untuk berkomunikasi dengan efektif. Dan di atas motor itu adalah salah satu cara terbaik bagi kami walapun terkadang dengan suara yang harus dikeraskan karena sering ditingkahi oleh deru kendaraan yang lain.<br />
Dalam majalah Safina No. 1/ Th II Maret 2004 ditulis tentang pentingnya komunikasi buat pasangan suami istri.<br />
Salah satu kunci keharmonisan rumah tangga Islam adalah komunikasi dan dialog yang intensif dan sehat antara suami istri. Pada saat ini tidak jarang terjadi adanya sumbatan komunikasi diantara pasangan suami istri. Ada banyak faktor yang menyebabkan terjadinya hal itu, misalnya kesibukan kerja, terlampau letih dan lain-lain. Bahkan karena begitu sibuk dan letihnya, ada pasangan bertatap mukapun tidak sempat. Sebagai akibatnya, tentu saja mereka tidak memiliki kesempatan untuk melakukan komunikasi satu dengan lainnya.<br />
Komunikasi yang hambar biasanya mengakibatkan hubungan kemesraan menjadi berkurang. Bahkan tidak jarang menimbulkan ketegangan dan terjadilah perselisihan, kalau sudah begini suami istri akan mengalami penderitaan. Sangat disayangkan apabila hubungan yang hambar ini terjadi pada keluarga muslim yang dibangun dalam rangka beribadah kepada Allah. Diperlukan pengertian yang mendalam dari kedua pasangan agar komunikasi dapat berjalan secara kontinyu.<br />
Tidak ada yang menjamin bahwa saat kita sudah merasa sekufu, satu agama, sama-sama ngaji, sama-sama aktifis dakwah, setara, sama, cocok, dan percaya seolah-olah semua urusan rumah tangga akan beres. Padahal, banyak pasangan gagal meneruskan bahtera rumah tangga mereka karena kurang peduli dengan urusan komunikasi seperti ini.<br />
Dengan komunikasi di atas motor itulah saya bisa tahu apa yang diinginkan oleh istri saya, bagaimana perasaan saya pada saat itu terhadapnya atau sebaliknya. Dan adanya keterbukaan yang terjalin pada saat itu tanpa ada yang ditutup-tutupi. Hingga terbentuknya rasa kerinduan di hati saat ia tidak membonceng di belakang saya karena ia pulang duluan.<br />
Saya senantiasa berharap komunikasi yang senantiasa kami jalankan di setiap harinya, dengan cara kami sendiri itu, bisa menyadarkan kami betapa komunikasi itu sangatlah penting untuk bisa saling memahami. Dengan pemahaman itulah saya harapkan dia bisa mengerti apa yang aku kehendaki dari dirinya dan sebaliknya, hingga saya bisa berkata pada dirinya: “Sekehendakmu saja, Ummi!”</p>
<p>Riza Almanfaluthi<br />
dedaunan di ranting cemara<br />
01:59 09 Oktober 2007</p>
<img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/dirantingcemara.wordpress.com/306/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/dirantingcemara.wordpress.com/306/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/dirantingcemara.wordpress.com/306/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/dirantingcemara.wordpress.com/306/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/dirantingcemara.wordpress.com/306/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/dirantingcemara.wordpress.com/306/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/dirantingcemara.wordpress.com/306/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/dirantingcemara.wordpress.com/306/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/dirantingcemara.wordpress.com/306/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/dirantingcemara.wordpress.com/306/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/dirantingcemara.wordpress.com/306/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/dirantingcemara.wordpress.com/306/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=dirantingcemara.wordpress.com&blog=1612705&post=306&subd=dirantingcemara&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://dirantingcemara.wordpress.com/2007/12/19/sekehendakmu-ummi/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/3ddf1c3ba1bfa227c6b07072605b8a11?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">dedaunan</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>MEMBERI ATAU…?</title>
		<link>http://dirantingcemara.wordpress.com/2007/12/19/memberi-atau%e2%80%a6/</link>
		<comments>http://dirantingcemara.wordpress.com/2007/12/19/memberi-atau%e2%80%a6/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 19 Dec 2007 01:22:03 +0000</pubDate>
		<dc:creator>dirantingcemara</dc:creator>
				<category><![CDATA[Kisah Sederhana]]></category>
		<category><![CDATA[Opini]]></category>
		<category><![CDATA[Sejumput Rintih]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://dirantingcemara.wordpress.com/2007/12/19/memberi-atau%e2%80%a6/</guid>
		<description><![CDATA[Seorang teman selalu berangkat ke kantor lebih pagi daripada yang lainnya. Ia selalu naik motor dari rumah menuju tempat kerjanya. Dan di dalam tasnya selalu tersedia pembalut luka, obat merah, dan beberapa gelas air kemasan. Saat ditanya untuk apa ia membawa semua itu di setiap harinya, ia selalu menjawab, “agar saya bisa menolong orang lain.”
	Setiap pagi, ia seringkali menjumpai para pengendara motor yang tergeletak di tepian jalan. Entah karena menabrak atau tertabrak kendaraan lain. Sudah barang tentu pengendara motor tersebut mengiris kesakitan karena luka dalam ataupun luar. Kalaupun tidak ada luka, muka pucat sudah menandakan ia mengalami guncangan adrenalin yang amat hebat. 
Semuanya harus ditangani segera. Tapi senyatanya orang-orang yang menolong seringkali hanya memindahkan korban kecelakaan tersebut ke pinggir jalan. Lalu setelah itu panik, bingung, lalu telepon kesana kemari. Bahkan yang lainnya cuma terbengong-bengong. Tidak dipikirkan bahwa korban perlu pertolongan pertama segera. Peran kosong itulah yang diisi oleh teman saya ini. Dengan sigap ia memberikan yang ia bawa itu kepada korban. Peran kecil tapi sungguh membantu. <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=dirantingcemara.wordpress.com&blog=1612705&post=300&subd=dirantingcemara&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p>Seorang teman selalu berangkat ke kantor lebih pagi daripada yang lainnya. Ia selalu naik motor dari rumah menuju tempat kerjanya. Dan di dalam tasnya selalu tersedia pembalut luka, obat merah, dan beberapa gelas air kemasan. Saat ditanya untuk apa ia membawa semua itu di setiap harinya, ia selalu menjawab, “agar saya bisa menolong orang lain.”<br />
	Setiap pagi, ia seringkali menjumpai para pengendara motor yang tergeletak di tepian jalan. Entah karena menabrak atau tertabrak kendaraan lain. Sudah barang tentu pengendara motor tersebut mengiris kesakitan karena luka dalam ataupun luar. Kalaupun tidak ada luka, muka pucat sudah menandakan ia mengalami guncangan adrenalin yang amat hebat.<br />
Semuanya harus ditangani segera. Tapi senyatanya orang-orang yang menolong seringkali hanya memindahkan korban kecelakaan tersebut ke pinggir jalan. Lalu setelah itu panik, bingung, lalu telepon kesana kemari. Bahkan yang lainnya cuma terbengong-bengong. Tidak dipikirkan bahwa korban perlu pertolongan pertama segera. Peran kosong itulah yang diisi oleh teman saya ini. Dengan sigap ia memberikan yang ia bawa itu kepada korban. Peran kecil tapi sungguh membantu.<br />
Itulah mengapa ia selalu berangkat lebih pagi. Karena dengan berangkat lebih pagi, ia tidak perlu terburu-buru mengejar absen, dan ia masih sempat untuk berhenti menolong orang lain. Jika tidak,   jiwanya seringkali berkecamuk, berperang batin antara berhenti untuk menolong atau terus melaju demi rupiah di awal bulan yang utuh tidak terpotong. Dan ia seringkali memilih yang terakhir. Untuk itu ia cuma bisa beristighfar dengan air mata yang membasahi pipi menyesali ketidakmampuannya.  Menyesali ada suatu kesempatan besar yang hilang begitu saja dari dirinya.<br />
“Apa untungnya kamu menolong mereka?” tanya saya penasaran.<br />
“Duniawi? Tidak ada!” akunya. “Saya cuma mengharap dari-Nya,” Ia mengangkat jari telunjuknya ke atas. Ia merasa ia tidak akan pernah mendapatkan sesuatu sebelum ia memberikan sesuatu. Ia tidak akan ditolong orang sebelum ia menolong orang. Ia percaya, sesungguhnya setiap kebaikan sekecil apapun akan diberikan balasan kebaikan yang sama atau yang lebih besar lagi.<br />
“Percayalah, seseorang tidak akan pernah menerima saat ia tidak pernah memberi. Percayalah, saat ia mengedepankan penolakan implisit dan eksplisit terhadap suatu kata bernama “tolong”, ia tidak akan pernah mendapatkan anugerah besar berupa upaya baik dari orang lain. Saat itu juga atau suatu saat kelak,” jelasnya panjang lebar.<br />
Dalam sekali apa yang dikatakan teman saya ini. Sebuah pembelajaran yang membuat saya merenung sepanjang perjalanan menyusuri Margonda sore ini. Hingga di suatu pertigaan…<br />
“Pak, minta uang dong Pak…” seorang bocah kecil berbaju kumal menyodorkan tangannya kepada saya yang sedang menunggu lampu hijau menyala.<br />
Saat saya menoleh kepadanya, lampu kuning sudah menyala.<br />
Duh, memberi atau…?</p>
<p>Riza Almanfaluthi<br />
dedaunan di ranting cemara<br />
jelang perjuangan nomor 1<br />
21:57 07 Juli 2007</p>
<img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/dirantingcemara.wordpress.com/300/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/dirantingcemara.wordpress.com/300/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/dirantingcemara.wordpress.com/300/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/dirantingcemara.wordpress.com/300/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/dirantingcemara.wordpress.com/300/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/dirantingcemara.wordpress.com/300/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/dirantingcemara.wordpress.com/300/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/dirantingcemara.wordpress.com/300/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/dirantingcemara.wordpress.com/300/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/dirantingcemara.wordpress.com/300/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/dirantingcemara.wordpress.com/300/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/dirantingcemara.wordpress.com/300/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=dirantingcemara.wordpress.com&blog=1612705&post=300&subd=dirantingcemara&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://dirantingcemara.wordpress.com/2007/12/19/memberi-atau%e2%80%a6/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/3ddf1c3ba1bfa227c6b07072605b8a11?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">dedaunan</media:title>
		</media:content>
	</item>
	</channel>
</rss>