Posts filed under 'History'
DENDAM AMANGKURAT
DENDAM AMANGKURAT
Beberapa pemimpin Bani Abbasiyyah yang tidak berhasil membunuh lawannya dari Bani Umayyah melakukan sebuah tindakan
di luar akal manusia yang beradab hanya dengan alasan kelompok Bani Umayyah tersebut mati sebelum mereka berkuasa.
Karena masih penasaran, seorang dari mereka, Abdullah bin Ali, mengeluarkan mayat-mayat musuhnya dari kuburan, lalu
mencambuki, dan menyalibnya sebelum akhirnya dibakar. Tidak hanya itu ia membantai keturunan Bani Umayyah dan
orang-orang yang bukan berasal dari Bani Umayyah sebanyak 92.000 orang pada hari Ahad di tepi salah satu sungai di
Ramlah.
Beberapa abad kemudian, contoh lain dari begitu banyak obsesi sebuah dendam adalah saat Trunojoyo yang memberontak
kepada kakak iparnya Amangkurat II-raja Mataram yang lalim dan mau menggadaikan harga dirinya di telapak kaki VOC,
padahal kakeknya sendiri tak mau untuk tunduk pada kumpeni hingga menyerang Batavia dua kali walaupun tanpa hasil-tak
sanggup lagi untuk meneruskan perlawanan. Maka yang tampak adalah sebuah tragedi di balai agung pertemuan raja.
Di sana, penyerahan baik-baik itu tak dibalas dengan sebuah penghormatan akan nilai kehidupan. Beberapa pengawal
bergerak, menyeret Trunojoyo untuk didekatkan sampai ke depan raja. Raja berdiri dari kursi, menyambut tubuh yang
telah pucat pasi itu dengan tusukan keris Kyai Balabar. Tusukan tepat di dada hingga menembus punggung. Darah muncrat
membasahi raja.
Continue Reading 3 comments Tuesday, 8 January 2008
FALATEHAN
Ada lagi perbincangan menarik antara kyai dan santrinya. Tidak lagi tentang wanita idaman si Santri. Tapi, kini si Santri mulai memperbincangkan hal lainnya. Tentang sebuah sejarah masa lalu yang masih suram bagi dirinya.
Dan perbincangan itu tidak dilakukan di waktu ba’da subuh seperti dulu saat pagi masih bermandikan cahaya. Mereka berbincang-bincang saat mereka rehat di saung di tengah sawah setelah berlumpur-lumpur ria membersihkan tanaman padi dari rumput-rumput liar yang mengganggu.
Santri : Ki, kemarin dalam sebuah diskusi, seorang teman masih saja percaya bahwa sesungguhnya Fatahillah yang menakhlukkan Sunda Kelapa adalah Sunan Gunung Jati itu sendiri. Padahal dari sejarah yang saya baca dan juga dari film yang saya tonton dulu, Fatahillah dan Sunan Gunung Jati adalah orang yang berbeda. Mohon penjelasannya Ki?
Kyai : Kok tanyanya ke saya?
Santri : Ah, saya tahu Kyai sangat paham betul tentang sejarah ini. Di lemari buku Kyai saya lihat banyak sekali buku-buku sejarah. Apalagi kalau tidak salah Kyai juga keturunan Elang Cirebon.
Continue Reading 3 comments Tuesday, 18 December 2007
AL-IKHWAN: WAHABI PEMBERONTAK [TERAKHIR]
Pada tulisan terdahulu diuraikan tentang benih-benih timbulnya ketidaksukaan para pemimpin Al-Ikhwan kepada Abdul Aziz maka pada bagian terakhir ini diterangkan tentang upaya Al-Ikhwan melancarkan bughot melawan amirnya, Abdul Aziz bin Abdurrahman.
Pertempuran Sabillah
Al-Ikhwan tidak bisa sesabar Abdul Aziz menunggu dua bulan. Mereka tidak bisa berpikiran tenang dan berpertimbangan matang. Justru kefanatikan yang tidak masuk akallah yang membuat mereka bertentangan dengan Abdul Aziz. Beberapa minggu setelah pertemuan Riyadh, mereka melancarkan serangan bertubi-tubi yang membuat perdamaian takkan mungkin dicapai lagi dan menghilangkan simpati yang selama ini mereka peroleh.
Di bulan Desember 1928 mereka menyerang rombongan pedagang unta Nejd di Jumaymah, dekat perbatasan Irak. Semua dibunuh dan hewan dagangan mereka dirampas. Sekelompok orang Badui di sebelah utara dibantai pula oleh sepasukan Al-Ikhwan. Nyata-nyata bahwa Al-Saud dan Nejd tidak lagi menghadapi suatu perselisihan agama melainkan penghancurkan negara baru Abdul Aziz.
Mereka menolak kewajiban suatu masyarakat, peraturan yang ada, tak mau menetap dan membentuk pemukiman Ikhwan yang tetap. Mereka ingin kembali menjadi bangsa Badui yang bisa mengembara kemana saja. Faisal Al-Dawisy menulis surat kepada Saud Bin Abdul Aziz, ”…Kau telah menjauhkan kami dari agama kami, kau telah menjauhkan kami dari kesenangan duniawi kami.”
Continue Reading 2 comments Monday, 17 December 2007
AL-IKHWAN: WAHABI PEMBERONTAK [3]
Setelah dalam dua tulisan sebelumnya diuraikan latar belakang berdirinya Al-Ikhwan dan mesranya hubungan mereka dengan pemimpinnya Abdul Aziz maka pada tulisan yang ketiga ini akan diuraikan bagaimana benih-benih perpecahan yang sudah mulai tumbuh kian membesar. Sampai diperlukan bai’at kembali kepada Abdul Aziz.
”Mereka adalah anak-anakku”
Ketika kaum Ikhwan di tahun 1925 memasuki Jeddah, mereka langsung memutuskan kabel-kabel telepon, temasuk saluran yang menuju rumah Abdul Aziz. Menurut mereka telepon adalah penemuan baru—seperti mobil dan radio—yang tak bisa dimengerti cara kerjanya.
Dalam suatu kesempatan pertemuan dengan Abdul Aziz mereka memberikan peringatan, ”Dengan direbutnya tanah Suci, Muslim yang baik haruslah menjaga diri jangan sampai terbujuh oleh pengaruh asing,” kata Faisal al-Dawisy. Semua harus waspada, jangan sampai ke luar dari jalur murni ajaran Islam. Mereka harus siap untuk menghukum siapapun yang melakukan hal itu.
Adik Abdul Aziz, Abdullah bin Abdul Rahman yang telah ditunjuk sebagai panglima pasukan Saudi di Hijaz merasakan bahwa sikap Al-Ikhwan ini begitu menantang. Tiap hari ia harus berhadapan dengan sikap menyakitkan hati dari kaum Ikhwan di bawahnya. Ia harus selalu menghibur mereka, membujuk mereka agar mau mengikuti perintah. Dan ia merasa bahwa sikap menantang ini kalau dibiarkan terus akan berbahaya. Mereka harus ditindak tegas sebelum tak bisa dikendalikan lagi.
Tetapi Abdul Aziz hanya menertawakan kekhawatiran adiknya itu. ”Kaum Ikhwan adalah anak-anakku,” katanya. Maka jika salah satu Ikhwan itu mengatakan bahwa kumisnya terlalu panjang, Abdul Aziz segera memanggil tukang cukur untuk memotongnya di depan umum dan menganggapnya sebagai suatu gurauan belaka.
Continue Reading Add comment Monday, 17 December 2007
AL-IKHWAN: WAHABI PEMBERONTAK [2]
Gelar Khalifah dan Taif
Di tahun 1924 salah satu keturunan dari Bani Hasyim yakni Syarif Husain bin Ali masih sebagai Penguasa Hijaz. Anaknya Abdullah adalah penguasa Amman. Anaknya yang lain Faisal menjadi penguasa Irak. Rival dari keluarga mereka penerus keluarga Saud yakni Abdul Aziz, penguasa Nejd.
Di antara dua keluarga itu saling timbul kebencian apalagi bila Inggris memberikan Pounds yang lebih besar kepada salah satu dari mereka. Tentu uang-uang itu salah satunya dipergunakan membeli kesetiaan Suku Badui untuk mempertahankan kekuasaan mereka dan merebut kekeuasaan saingan mereka.
Dan bagi Syarif Husain uang itu tak cukup. Ia mencoba mengumpulkan uang dengan jalan memasang pajak untuk apa saja, termasuk pajak dari jama’ah haji. Ini menyebabkan ia tak populer, apalagi ditambah sikapnya yang kian hari tidak bersikap layaknya sikap seorang raja.
Terakhir adalah sikapnya pada tanggal 5 Maret 1924 yang memproklamirkan dirinya sebagai Khalifah, Keturunan dan Pangganti Nabi, Wali Islam, Pemimpin Kaum Muslimin Dunia—gelar sanjungan yang diperkirakan akan membuat kagum warganya di Hijaz. Ia berani karena dua hari sebelumnya tanggal 3 Maret 1924, Kamal Ataturk resmi membuang gelar Khalifah, berarti menurutnya ini adalah sebuah kekosongan kepemimpinan umat Islam yang selama 400 tahun dipegang oleh Daulah Utsmani.
Continue Reading Add comment Monday, 17 December 2007
AL-IKHWAN: WAHABI PEMBERONTAK [1]
Pendahuluan
Dulu saya pernah bercerita, masjid kami yang belum jadi kedatangan satu keluarga dari Arab Saudi. Mereka berniat untuk menyalurkan dana yang mereka miliki untuk kelanjutan pembangunan masjid komplek yang sudah lama belum rampung.
Ketika disodorkan proposal yang sudah kami siapkan, salah seorang dari mereka menolak saat melihat sampul proposal tersebut. Lalu mengusulkan agar nama masjid yang tertera di proposal tersebut diganti saja. Dengan nama apa pun boleh asal jangan nama itu. Di sana tertulis dengan huruf besar nama masjid kami Masjid Al-Ikhwan.
Saat ditanya mengapa demikian? “Karena nama Al-Ikhwan identik dengan nama Osama,” katanya. Soalnya kalau di sana mendengar nama Osama bin Laden sudah antipati dan seringkali dicokok oleh pemerintah sana bila ada kaitan dengan nama itu. Jadi, takutnya nanti orang tidak mau pada menyumbang.
Dulu saya berpikir ada dua kemungkinan dalam masalah ini. Pertama ia menganggap bodoh kami yang tidak tahu tentang pertarungan pemikiran di tanah saudi antara salafy dengan Ikhwanul Muslimin, sehingga untuk memudahkan berbicara dengan kami maka dikaitkan dengan nama Osama Bin Laden. Atau yang kedua memang ia benar-benar tidak tahu tentang kaitan kedua jama’ah ini tapi hanya mendengar dari informasi sepihak yang membenci Al Ikhwanul Muslimin lalu mengait-ngaitkanya dengan Osama.
Continue Reading 5 comments Monday, 17 December 2007
THE KINGDOM
Pada tanggal 20 Oktober 1973, dengan nama Allah dan berdasarkan agama yang diturunkan pada Muhammad 1400 tahun yang lalu di Mekah dan Madinah, raja Faisal dari Saudi Arabia mengemukakan jihad melawan Israel dan negara-negara yang membantunya. Sebagai bagian dari jihad tersebut ia menetapkan embargo penuh pada pengiriman minyak kerajaan ke Amerika Serikat. Sejak saat itulah keadaan di dunia begitu berubah.
Di tahun 60-an, dunia barat dan Jepang membayar kurang dari 2 dolar Amerika Serikat setiap barel untuk minyak yang mereka terima dari Saudi Arabia dan negara-negara Timur Tengah. Harga 1,80 dolar untuk 42 galon Amerika, tak lebih dari sekitar 4 sen dolar setiap galonnya. Satu dasawarsa kemudian dunia barat harus membayar 32 dolar untuk 42 galon—suatu kenaikan rata-rata 264 persen pertahunnya! Tak heran bila Saudi Arabia menjadi begitu kaya. Dan dunia barat merasa begitu miskin.
Tampak jihad raja Faisal itu telah menjadi salah satu titik penting dalam sejarah abad kedua puluh ini. Embargo minyak yang dipelopori oleh Faisal, kemudian diikuti oleh ledakan harga energi sebagai akibatnya, mengawali pergeseran kekayaan dunia secara besar-besaran, mengalir kekayaan dalam jumlah yang tak pernah terjadi sebelumnya.
***
Continue Reading Add comment Monday, 17 December 2007
AL IKHWAN=AHLUL BID’AH= OSAMA?
Masjid di komplek perumahan kami ini bernama Al-Ikhwan. Bangunannya sejak tahun tahun 2001 belum pernah utuh menjadi sebuah masjid. Setelah bergonta-ganti panitia dan telah menghabiskan dana swadaya masyarakat lebih dari 100 juta rupiah, masjid ini pun masih belum beratap. Yang ada cuma reng baja.
Untuk melanjutkan pembangunan ke tahap pengatapan memerlukan dana tunai yang tidak sedikit kurang lebih 75 juta rupiah. Itu pun belum termasuk biaya pemasangan lantai, pemelesteran dan pengecatan dinding, pengadaan kusen dan kamar mandi dan masih banyak lagi yang lainnya.
Sudah banyak usaha yang dilakukan pengurusnya dalam hal penggalangan dana, mulai dari pengumpulan infak dan zakat penghasilan dari donatur, penitipan kotak infak di tiga SPBU, atau penyebaran banyak proposal. Tapi sampai jelang ramadhan 1427 ini pemasangan atap sebagai target utama selanjutnya tidak kunjung terealisir.
Continue Reading 4 comments Friday, 14 December 2007
DUEL BEKAS KOLONI SPANYOL
Setelah golnya dianulir oleh wasit di babak kedua karena terperangkap dalam jebakan offside yang dibuat para pemain belakang Kosta Rika, I. Kaviedes melalui umpan matang Mendez akhirnya menciptakan gol indah buat Ekuador. Dan jangan lupa bahwa gol ini dibuat di menit ke-92 di babak perpanjangan waktu yang hanya empat menit lamanya.
Tentu saja stadion sepakbola di kota Hamburg kembali bergemuruh dengan sorak sorai bergembira dari para suporter Ekuador. Skor bertambah menjadi 3-0. Angka yang membuat tim dari Amerika Selatan ini dipastikan lolos ke babak kedua. Bersama Jerman tentunya yang mengalahkan Kosta Rika 4-2 dan Polandia 1-0. Sisa pertandingan terakhir tidak berpengaruh terhadap kedua tim ini.
Dan kali ini Ekuador mempertontonkon pada para penggemar sepakbola di dunia permainan menawan, kerjasama yang baik, dan gol-gol cantiknya. Dua gol indah sebelumnya dibuat dengan tandukan oleh C. Tenorio di menit ke-8 dan tendangan di sisi yang sulit oleh Delgado—sempat menjadi Man of the Match pada pertandingan perdana melawan Polandia—di menit ke-54.
Continue Reading Add comment Thursday, 13 December 2007
ANGKA DAJJAL
Ahad senja, seperti biasanya sambil menunggu adzan maghrib memenuhi semesta dengan kumandang indahnya, saya menyempatkan diri untuk membaca buku barang beberapa halaman saja.
Kali ini di depan lemari buku, mata saya terantuk pada judul sebuah buku yang saya miliki sejak tujuh tahun silam. Buku lama yang saya pikir cukup bagus dan masih relevan sampai saat ini, berjudul: Dajal & Simbol Setan. Buku ini ditulis oleh Ustadz Toto Tasmara dan diterbitkan oleh salah satu penerbit buku Islam terkemuka.
Buku yang sudah lama saya baca ini, secara rinci membahas penafsiran tentang ”binatang melata besar yang keluar dari dalam bumi”—seperti disebutkan dalam Al-Qur’an surat An-Naml—adalah suatu gerakan bawah tanah yang disebut zionisme, suatu gerakan kolaborasi rahasia yang ditata dengan rapi dan profesional, yang dimotori, disponsori, dan diaktorintelektuali oleh Dajal dan setan.
Target mereka khususnya adalah menjauhkan umat Islam menjadi kafi—yang merupakan umat mayoritas di dunia—juga umat agama lainnya pada umumnya. Dengan gerakan zionismenya, Dajal menyusupi tatanan nilai-nilaui kehidupan norma dengan ”baju” globalisasi, keterbukaan, demokarasi, HAM, dan sebagainya. Demikian sekilas Dajal seperti diterangkan pada bagian belakang kaver buku tersebut.
Dulu, setelah membaca buku ini dan buku tipis sebelumnya yang ditulis oleh Ridwan Saidi yang berjudul: Fakta dan Data Yahudi di Indonesia, saya meyakini bahwa Yahudi sebagai suatu bangsa senang terhadap simbol-simbol yang entah berbentuk gambar, angka-angka, ataupun kalimat.
Contoh paling mudah adalah penggunaan lambang yang tertera pada uang satu dollar Amerika Serikat. Di sana ada lambang piramida, satu mata, burung Phoniex, atau kalimat: Annuit Coeptis, In God We Trust ONE.
Sebagian dari penggunaan simbol-simbol di uang kertas satu dollar Amerika Serikat ini banyak digunakan sebagai lambang kebanggaan oleh salah satu grup musik ternama di Indonesia—yang salah satu pentolannya juga mengaku sangat berbangga mempunyai darah keturunan yahudi—di setiap jejak album yang dikeluarkannya.
Sedangkan penggunaan simbol yang tampak nyata sekali di depan mata kita adalah penggunaan lambang bintang segi enam pada sebuah perusahaan telekomunikasi milik pemerintah (Badan Usaha Milik Negara) yang sebagian besar sahamnya dikuasai perusahaan Singapura.
Yang terbaru—dan ini sudah beredar dari milis ke milis—adalah simbol baru dari sebuah perusahaan minyak milik negara yang menguasai hajat hidup orang banyak. Ditengarai bahwa logo itu tidak jauh-jauh sekali dari pengembangan bintang segi enam tersebut.
Nah, yang akan saya tekankan di sini dan juga berkaitan dengan cerita yang akan saya kemukakan adalah penggunaan angka 666 sebagai angka keramat bagi Gerakan freemason [1] dan Iluminasi [2] (sebagai pengejawantah gerakan zionisme). Tentunya selain itu ada lagi angka keramat dan mistis lainnya seperti angka 15, angka 33, dan angka 13 yang menurut mereka mempunyai kekuatan magis.
Angka 666 ini adalah angka yang tertulis pada sebuah lambang gerakan zionis di bidang agama (Jahbulon [3]). Lambang itu terdiri dari lingkaran; piramida; heksagram [4]; angka 33; angka 13; angka 666; dan matahari.
Angka 666 ini mempunyai arti sebagai angka yang mempresentasikan universal hexagram, dewa atau tuhan. (p 31).
Pengertian 666 juga terkait dengan nama lain setan sebagai malaikat sejati—kekuatan langit, penguasa bumi (the son of Baphomet, the child of Beast 666), sebagaimana David Cherubim [5] mengatakan:
”Lucifer akan menyeru umat manusia yang akan menjadikan umat manusia di muka bumi menyembah binatang yang mempunyai lambang ’666’ dan mengguncangkan agama Kristen, serta agama lainnya untuk menuju millenium baru yang bebas dari ajaran Kristen yang palsu.” (p 32)
Dalam Perjanjian Baru; Wahyu 13:18, disebutkan:
”yang penting di sini ialah hikmat barangsiapa yang bijaksana baiklah ia menghitung bilangan binatang itu, karena bilangan itu adalah bilangan seorang manusia, dan bilangannya adalah enam ratus enam puluh enam.”
Ayat tersebut tidak luput dari penafsiran Gerakan Iluminasi dan Freemasonry sebagai upaya mewujudkan impian Kerajaan Namrud (Nimrod) dan Menara Babil. Di mana menurut meraka upaya itu bukan hanya bersifat pasif menunggu nasib, melainkan harus diusahakan melalui pemikiran yang cerdas, terencana, dan merasionalkan seluruh lambang-lambang atau ayat-ayat mistik yang berada dalam kitab suci yang bersifat multiinterprestasi dan fleksibel. (p 40).
Angka 666 juga mempunyai kaitan dengan tanggal 01 Mei 1776, tanggal perayaan lahirnya komunis. Terbukti bahwa komponen bilangan dari tanggal, bulan dan tahun tersebut mengandung the Beast 666. Keterangan bukti yang digambarkan catatan kaki pada buku Ustadz Toto Tasmara ini adalah sebagai berikut:
1 Mei 1976 = 1 Mei (bulan ke-5) berati 1+5= 6; 177=1+7+7=15=1+5=6; dan 1776. (p 41).
Dan masih banyak lagi penjelasan tentang angka 666 sebagai representasi dari angka setan atau angka Dajjal ini yang intinya adalah sebagai angka kebijakan, kekuatan, dan ketangguhan atau tidak terkalahkannya setan.
Kemudian, saya beranjak ke halaman 109 di buku tersebut, di mana disana digambarkan tentang keyakinan kaum Freemason terhadap pendirian beberapa monumen dan gedung di Amerika Serikat sebagai simbo, dari kekuatan kerajaan mereka. Setiap titik antara satu gedung ke gedung yang lain membentuk simbol-simbol magis yang memberikan kekuatan keyakinan kepada para anggota mason bahwa Amerika adalah ”kerajaan” bagi kaum mason.
Bila ditarik sebuah garis dari Gedung Putih, Jefferson Memorial, Washington Monumen, dan House of the Temple [6], maka garis tersebut akan membentuk segi tiga, pentagram, dan lambang lainnya (Penggaris Siku dan Jangka Pengukur) yang diyakini mereka mempunyai kekuatan magis.
***
Tiba-tiba adzan maghrib berkumandang, sudah saatnya saya mengakhiri membaca buku ini dan pergi ke masjid yang baru seperempat jadi itu dan tidak jauh dari rumah ini.
Lalu iqomat mulai terdengar, seperti biasanya saya mengatur barisan anak-anak kecil dan remaja agar segera bangkit dari duduk, menyuruh mereka diam, mengatur dan merapatkan barisan dengan rapih, sehingga otomatis saya kebagian di barisan paling belakang.
Di saat itulah–kebetulan sekali–saya melihat tulisan besar-besar putih di bagian belakang kaos berwarna hitam pekat yang dipakai anak belasan tahun. Coba tebak apa tulisannya?
666
B-Bontang
U-Underground
S-Satanic
C-Community
Astaghfirullah, kok ya sholat pakai kaos itu. Jangan-jangan anak ini benar-benar tidak tahu arti dari tulisan itu dan tanpa merasa bersalah memakainya sebagai penutup aurat untuk beribadah kepada Allah. ”Ini harus diluruskan,” pikir saya.
Singkat cerita, setelah salam sebagaimana kebiasaan anak-anak dan remaja, tanpa berdzikir mereka langsung kabur keluar ke pintu masjid. Kali ini saya langsung tanggap dan bergegas untuk menyusul dan memanggilnya.
Anak itu menurut ketika saya ajak dia untuk mengobrol sebentar di pelataran masjid. Baru saat itulah saya mengetahui ada lambang lain di bagian depan kaos itu yakni lambang lingkaran bertuliskan singkatan BUSC dalam huruf yang lebih kecil dengan ada di tengah lingkaran tersebut lambang bintang pentagram, tanda salib, dan mahkota.
Waow, ini lebih parah lagi, tanda salib dan mahkota. Tanda ini adalah lambang The Knight Templar [7] yang tidak bisa dipisahkan dari Freemason sebagai organisasi rahasia, agama, sekaligus ideologi. Di atas kuburan anggota Freemason didirikan piramida dengan lambang tersebut.
”De, kamu tahu arti tulisan di kaosmu itu…?”
”Tidak, Pak…” jawabnya.
”Kamu beli atau dapat darimana?”
”Dibeliin sama ibu.”
Continue Reading 11 comments Thursday, 13 December 2007







