Archive for October 6th, 2008
LOVE IS BLUE
L’AMOUR EST BLEU
CINTA ITU BIRU
Salah satu kenangan ramadhan yang paling saya ingat adalah sekitar 20 tahunan yang lampau. Waktu masih SD, masih jadi anak kecil. Di siang itu, sambil menunggu sore yang rasanya lambat sekali datangnya, dan sambil mencium aroma masakan yang ibu tebarkan melalui keahlian memasaknya, kami mendengarkan sandiwara radio yang saat itu lagi terkenal-kenalnya, SAUR SEPUH. Maklum era 80-an adalah era miskin hiburan, yang ada hanya tayangan TVRI yang teramat membosankan. Apatah lagi di keluarga saya, kotak ajaib berupa TV memang tidak kami punyai, sudah dijual. Otomatis hiburan satu-satunya hanya berasal dari radio butut kami itu.
Sandiwara itu disiarkan oleh radio AM terkenal di daerah kami, Indramayu. Namanya Cindelaras. Nah, radio itu kami pantengin terus dari waktu ke waktu, alhasil kami harus sedia banyak batu baterai cadangan untuk menghidupkan radio tersebut. Yang kalau sudah habis dayanya, sebagai upaya penghematan sering batu baterai merek ABC itu dijemur. Sekarang ini kalau saya pikir apakah memang ada hasilnya cara mencharge ulang tersebut? Allohua’lam.
Kali ini, bukan soal sandiwara radionya yang ingin saya ceritakan. Tetapi pada sebuah jingle khas yang menjadi trademark radio tersebut. Jingle yang berupa instrumentalia belaka. Jingle tersebut diputar terus menerus menjadi penyeling acara utama. Misalnya kalau sang penyiarnya lagi cuap-cuap menyapa pendengar suara jinglenya dikecilkan, tapi kalau ia lagi diam atau menghela nafas sebentar suara jinglenya dibesarkan.
Karena terus menerus diperdengarkan , jingle tersebut sampai melekat kuat dibenak saya. Tapi anehnya saya tidak tahu judulnya apa atau iringan dari sebuah lagu apa. Karena sang penyiarnya tak pernah memberitahukannya kepada para pendengar. Dan setelah puluhan tahun tidak lagi mendengarkan radio tersebut karena saya hijrah ke Jakarta, saya pelan-pelan mulai melupakannya.
Eh…suatu hari di bulan Ramadhan 1429 H ini, saya tersentak. Telepon genggam teman saya tiba-tiba mengalunkan nada dering yang amat saya kenal betul. Dan saya seperti dilempar ke masa lalu tersebut, di suatu siang, di suatu sore, bersama ibu—Allahyarham—yang saya cintai, di suatu hari di ramadhan, di antara aroma menggiurkan masakan dan kolak.
Akhirnya saya meminta pada teman saya semua informasi tentang jingle atau instrumentalia itu. Cuma sedikit yang didapat, tapi teman saya malah memberikan mp3nya. Ini sudah lebih dari cukup, yang lain tinggal tanya ke ajengan Google.
Dan betul, saya banyak sekali mendapatkan cerita tentang jingle itu. Ternyata instrumentalia itu dibuat oleh Paul Mauriat, untuk lengkapnya bisa dicari informasinya di Wikipedia dengan mengetikkan love is blue atau Paul Mauriat sebagai kata kuncinya.
Berikut, saya temukan liriknya:
Blue, blue, my world is blue
Blue is my world now I’m without you
Gray, gray, my life is gray
Cold is my heart since you went away
Red, red, my eyes are red
Crying for you alone in my bed
Green, green, my jealous heart
I doubted you and now we’re apart
When we met how the bright sun shone
Then love died, now the rainbow is gone
Black, black, the nights I’ve known
Longing for you so lost and alone
***
Sekarang saya tidak tahu apakah radio tersebut masih memutar jingle itu atau tidak? Bahkan saya tidak tahu apakah radio tersebut juga masih eksis atau bahkan sebaliknya? Kalau saya cari di Google ternyata radio tersebut masih ada sampai sekarang (Penyiarnya mungkin sudah pada tua-tua yah…)
Pfhhh…Saya masih mengingat sesuatu yang begini-begini bae, instrumentalia tentang cinta. Cinta yang membiru. Tapi kok mengapa saya tidak ingat sama sekali tentang sebuah memori pengambilan sumpah oleh Yang Mahakuasa kepada ruh saya, dulu sebelum saya terlahir ke dunia ini? Padahal pengambilan sumpah itu dahsyat banget
Beib. Harusnya terekam kuat di benak, tertanam dalam memori terdalam dan terpencil, terindukan, dan terkenang-kenang. Tapi nyatanya tidak.
Saya masih mengais-ngais cintaNya. Tak jarang yang saya temukan hanya serpihan belaka. Bahkan tak berwarna. Pantas saja saya juga begini-begini bae. Masih ada cemas pada hidup yang akan datang. Masih berenang dalam kubangan lumpur dosa. Masih terlena pada sesuatu yang mubah. Entah warna cinta apalagi yang akan saya temukan setelah ini. Biru? Jingga? Hijau? Atau seberkas pelangi?
–
Blue, blue, my world is blue
Blue is my world now I’m without YOU
Gray, gray, my life is gray
Cold is my heart since YOU went away
–
Beib, saya masih menengadahkan tangan agar IA sudi membagi cintaNya pada saya. Yang kelak bila cinta itu terbagi yang kudengar nanti bukan syair-syair cinta di atas, tapi sebuah seruan panggilan memasuki surgaNya, wahai jiwa-jiwa yang tenang.
Duh…
Riza Almanfaluthi
dedaunan di ranting cemara
16:24 06 Oktober 2008
Mohon maaf pada semua atas segala salah, semoga saya dikumpulkan bersama Ibu-ibu, dan bapak-bapak, serta saudara-saudara sekalian di surga-nya Allah.
5 comments Monday, 6 October 2008
TANGIS ‘ID
TANGIS ‘ID
Ba’da magrib malam ‘id. Saya terpekur di hadapan jama’ah masjid Al-Ikhwan, setelah shalat maghrib yang baru saja saya pimpin. Saya kumandangkan takbir dengan lambat-lambat. Allah Akbar. Allah Akbar. Allah Akbar. Walillaahil hamd. Suara saya bergetar menahan tangis yang sebisa mungkin saya tahan. Dan ternyata memang tak bisa. Air mata pun menetes. Syahdu sekali suasana saat itu.
Allah Rabbi, semoga ramadhan itu menjadi ramadhan terindah. Ramadhan yang membuat saya meraih kemuliaan malam lailatul qadr. Ramadhan yang membuat saya sadar bahwa saya adalah manusia biasa, seorang riza (dengan huruf r kecil) yang tak berdaya sama sekali di hadapan-Nya. Ramadhan yang membuat saya menihilkan nafsu syahwat saya.
Alhamdulillah di ramadhan ini ada banyak kesan yang saya dapatkan. Yang mungkin saja berbeda dengan ramadhan tahun lalu. Di ramadhan ini, Insya Allah saya jalani puasa dengan penuh ketenangan, tarawihnya pula. Suasana Masjid Al-Ikhwan yang penuh kegiatan bisa jadi yang membuatnya demikian. Ceramah setiap hari yang saya dengarkan di sana, tadarusannya, ukhuwahnya apatah lagi i’tikafnya sungguh teramat menenangkan sekali.
Dan saya mencetak rekor di bulan ramadhan kali ini yaitu puasa dengan menjalani sahur di setiap harinya. Tidak ada puasa yang dilewati tanpa sahur. Anak-anakpun demikian. Mereka ikut sahur dan berpuasa. Walaupun saya sempat memergoki Haqi sedang membuka kulkas dan memegang botol berisi air dingin yang memang menggiurkan baginya di pagi itu setelah ia berlari-larian dan bermain dengan teman-temannya.
Masjid Al-Ikhwan Insya Allah menjadi masjid satu-satunya di Pabuaran yang mengadakan progam i’tikaf. Dan memang para pengurusnya berusaha untuk menghidupkan sunnah yang mulai terlupakan oleh masyarakat itu. Dua tahun lalu hanya diikuti oleh remaja saja, tapi Subhanallah pada tahun ini diikuti oleh jama’ah dari luar komplek atau desa kami. Bahkan yang amat mengharukan adalah keikutsertaan dari bapak-bapak sekitar masjid yang di ramadhan tahun –tahun sebelumnya tak pernah ikut i’tikaf. Dan praktis sahur yang kami adakan dan kami sediakan seringnya dikuti minimal 25 orang atau lebih dari empat puluh jika jatuh pada malam ganjil.
Proses pengumpulan dan pembagian zakat yang kami adalan di sana pun Insya Allah berjalan lancar walaupun masih banyak kekurangannya. Dan agar kekurangan itu tidak terjadi lagi di tahun depan, saya sudah membuat evaluasinya. Semoga lembaran evaluasinya itu bisa dipahami dengan seksama untuk panitia zakat nanti.
Yang paling membuat nelangsa adalah dua hari menjelang lebaran. Saya yang tidak mudik merasakan kesepian sekali. Jama’ah masjid pun sudah mulai sedikit. Tapi program tarawih di malam terakhir tetap kami lakukan walaupun diiringi dengan hujan yang teramat lebat. Pun program I’tikafnya tetap kami jalankan walaupun dengan sedikit peserta—ada belasan orang sih. Qiyamullail-nya hanya diikuti enam orang. Tapi tak mengapa, show must go on.
Ta’jil yang kami adakan pun diikuti dengan sedikit orang pula, kebanyakan anak-anak. Tapi tidak mengapa juga, malah membuat doa yang saya panjatkan saat berbuka puasa dapat lebih khusyu lagi insya Allah. Itu adalah buka puasa terakhir di ramadhan ini. Jadi karena khawatir saya tidak berjumpa ramadhan tahun depan saya berusaha memohon pada Allah di saat mustajab itu. Memohon segalanya.
Malam takbiran, kami pun bertakbiran di masjid. Saya menuliskan di atas kertas teks takbiran yang panjang dengan huruf latin tidak dengan huruf arab. Alasannya belum sempat karena ada jama’ah masjid yang meminta segera. Insya Allah nanti akan kutuliskan dalam huruf arab, dan akan saya laminating agar bisa awet. Dengan kertas itu akhirnya para jama’ah yang dulu tidak tahu teks takbir panjang akhirnya menjadi tahu dan mempraktikannya langsung. Memang ilmu itu harus dibagi bukan untuk diri sendiri. Selain saya memang ada yang bisa melantunkan takbir dengan teks panjang itu. Tapi bapak-bapak mungkin nyamannya dengan saya sehingga meminta saya untuk menuliskannya di atas kertas. Tak mengapa.
Pagi ‘Id. Tanpa baju baru, hanya baju koko tahun-tahun sebelumnya yang dilapis dengan jas hitam bekas akad nikah 9 tahun lalu saya bersimpuh di Masjid Al-Ikhwan untuk mengikuti pelaksanaan Sholat ‘id. Kembali, takbiran itu membuat saya meneteskan air mata. Teringat dosa-dosa, teringat almarhumah ibu, teringat bapak yang untuk tahun ini berlebaran di Padang dengan adik saya, teringat ramadhan yang sudah meninggalkan saya, dan teringat segalanya.
Yah…akhirnya saya banyak berharap sekali pada ramadhan ini. Semoga mengembalikan saya pada titik nol lagi. Lalu menanjak ke arah yang positif tidak anjlok lagi turun ke negatif. Ya Allah, ya Rabb pertemukan aku kembali dengan ramadhan yang akan datang.
***
riza almanfaluthi
dedaunan di ranting cemara
08:59, 06 Oktober 2008
1 comment Monday, 6 October 2008







