MENJADI DASAR TELAGAMU

Thursday, 4 September 2008

MENJADI DASAR TELAGAMU

 

Qobla shubuh. Aku melihatnya menangis saat ia mencuci piring. Ada air mata menetes di pipinya. Mungkin ini adalah imbas dari dialog—tepatnya sih monolog—antara aku dan istriku ini. Ketika dia mengeluh waktu sahur tadi tentang keberadaanku yang malah tidak menenteramkan dirinya. Dan aku, seperti biasa, saat ia mengeluh sedemikian rupa maka saatnya aku berada di posisi menjadi pendengar yang baik. Aku tak berbicara sepatah kata pun. Dan karena waktu shubuh kian dekat aku bergegas mempersiapkan diri ke masjid walaupun pada saat itu ia belum sempat menuntaskan segala kesahnya. Inilah kesalahan fatal itu.

Pekan-pekan ini memang terasa sekali ketidakseimbanganku antara waktu yang diberikan untuk rumah, dua masjid, dan wajihah amal lainnya. Sering tidak berada di rumah dan sering tidak di dekatnya saat ia mebutuhkan saya. Entah mungkin sekadar peran dariku menjadi pendengar yang baik bagi setiap ceritanya atau peneman anak-anak saat mereka belajar atau membantu membereskan pekerjaaan rumah tangga.

Maunya ingin saya ceritakan di sini semuanya, namun waktu kiranya tidak memungkinkan aku untuk menuliskannya. Tapi cukuplah kiranya aku menggores puisi pada bebatuan untuknya, di tengah kerinduan di siang hari ini yang begitu membuncah di dalam dada.

 

di suatu pagi

di musim yang lalu

aku melihat tetesan airmata jatuh

membentuk sekeping telaga

teduh, sepi,

kureguk setangkup airnya

dan kutemukan bingkai kegalauan

kiranya Widuri yang terlantun

tak mampu menjadi dirimu

menjadi lukisan terindah sepanjang hatiku

hapus airmatamu dengan jemariku

biarkan ia mengering dengan sendirinya di sana

tak perlu kau tepis

tak perlu kau tampik

karena hatiku adalah milikmu

menjadi dasar telaga itu

 

***

 

 

Riza Almanfaluthi

dedaunan di ranting cemara

16:21 04 September 2009

 

 

 

Entry Filed under: Poem, Sejumput Rintih. .

2 Comments Add your own

  • 1. kakanda  |  Friday, 12 September 2008 at 8:18 am

    Dengan sama mendekat padaNYA,
    ia akan berkeluhkesah pada Sang Kekasih
    semoga ia dapat mengerti

    Reply
  • 2. pepe  |  Wednesday, 8 October 2008 at 4:10 pm

    jd mrinding nih
    q kl istri sdg marah, q jd ikut2an marah
    jd malu ama mas riza

    Reply

Leave a Comment

Required

Required, hidden

Some HTML allowed:
<a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <pre> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>

Trackback this post  |  Subscribe to the comments via RSS Feed






Palestine Blogs - The Gazette



KampungBlog.com - Kumpulan Blog-Blog Indonesia

Telah Dikunjungi

 

September 2008
M T W T F S S
« Aug   Oct »
1234567
891011121314
15161718192021
22232425262728
2930  

Categories

Arsip

Blogger

Blogroll

Situs-situs Khusus

Ikhwan & Akhwat Tarbiyah

Best Friends

Downloads

Recent Posts

Recent Comments

deset on Konsultasi Pajak
Ocha on TIPS MEMILIH WADAH PLASTIK YAN…
buJaNG on KATA-KATA ATAU UCAPAN DALAM KA…
dEe_aNa on BANK SOAL UJIAN NASIONAL …
riza on Who I am?
AIRA on SPT Tahunan Pajak Penghasilan …

Top Clicks

Top Posts

Feeds

Meta

Spam Blocked