Archive for September, 2008
puisi fitri
PUISI FITRI
adalah hati yang sering berkarat kerana dendam,
terasa gulita adanya
adalah hati yang sering membiru karena merindu,
terasa indah adanya
walau terkadang ada bias luka yang merenda di dalamnya
di sini ada ribuan kata terucap, tertulis setiap hurufnya
di sini ada senyum melekat, tampak begitu rupanya
di sini ada kesedihan menyembilu, membuat kita berurai air matanya
di sini ada sebuah jalinan persahabatan
antara kau dan aku
walau terkadang sekali dua kita mengundang sepi untuk tak saling menyapa
hari ini, jelang sepenggalah ramadhan tenggelam
aku katakan padamu:
aku mencintaimu karena Allah
hari ini, pada sya wal yang tersenyum teramat cantik
aku pinta kepadamu:
maafkan aku atas segala salah
maafkanlah semuanya…
semoga abadi kita di surga-Nya.
***
dari aku:
untuk kamu:
Riza Almanfaluthi
dedaunan di ranting cemara
2 comments Tuesday, 23 September 2008
MENJADI DASAR TELAGAMU
MENJADI DASAR TELAGAMU
Qobla shubuh. Aku melihatnya menangis saat ia mencuci piring. Ada air mata menetes di pipinya. Mungkin ini adalah imbas dari dialog—tepatnya sih monolog—antara aku dan istriku ini. Ketika dia mengeluh waktu sahur tadi tentang keberadaanku yang malah tidak menenteramkan dirinya. Dan aku, seperti biasa, saat ia mengeluh sedemikian rupa maka saatnya aku berada di posisi menjadi pendengar yang baik. Aku tak berbicara sepatah kata pun. Dan karena waktu shubuh kian dekat aku bergegas mempersiapkan diri ke masjid walaupun pada saat itu ia belum sempat menuntaskan segala kesahnya. Inilah kesalahan fatal itu.
Pekan-pekan ini memang terasa sekali ketidakseimbanganku antara waktu yang diberikan untuk rumah, dua masjid, dan wajihah amal lainnya. Sering tidak berada di rumah dan sering tidak di dekatnya saat ia mebutuhkan saya. Entah mungkin sekadar peran dariku menjadi pendengar yang baik bagi setiap ceritanya atau peneman anak-anak saat mereka belajar atau membantu membereskan pekerjaaan rumah tangga.
Maunya ingin saya ceritakan di sini semuanya, namun waktu kiranya tidak memungkinkan aku untuk menuliskannya. Tapi cukuplah kiranya aku menggores puisi pada bebatuan untuknya, di tengah kerinduan di siang hari ini yang begitu membuncah di dalam dada.
di suatu pagi
di musim yang lalu
aku melihat tetesan airmata jatuh
membentuk sekeping telaga
teduh, sepi,
kureguk setangkup airnya
dan kutemukan bingkai kegalauan
kiranya Widuri yang terlantun
tak mampu menjadi dirimu
menjadi lukisan terindah sepanjang hatiku
hapus airmatamu dengan jemariku
biarkan ia mengering dengan sendirinya di sana
tak perlu kau tepis
tak perlu kau tampik
karena hatiku adalah milikmu
menjadi dasar telaga itu
***
Riza Almanfaluthi
dedaunan di ranting cemara
16:21 04 September 2009
2 comments Thursday, 4 September 2008







