Archive for July, 2008

TETET TOET…!

TETET TOET…!

Saat saya melewati sebuah toko pakaian dan di sana terlihat juga berbagai mainan anak-anak berupa binatang-binatang yang terbuat dari karet saya bertekad untuk membelinya nanti setelah selesai acara makan siang ini. Dan betul, setelah acara itu selesai saya melewati toko tersebut dan mencoba melihat-lihat mainan anak-anak itu.

    Ada ular-ularan, buaya, laba-laba, ikan paus, elang dan masih banyak lagi yang lainnya. Mainan itu kalau dipencet akan berbunyi: “tetet toet…tetet toet. ” Lucu juga nih mainan ini. Akhirnya saya beli dua biji. Satu ular-ularan dan satu lagi buaya yang bisa berbunyi itu. Kalau ditotal cuma Rp9.800,00. Ular-ularan ini buat nakut-nakutin akhwat saya yang ada dirumah. Nanti kalau saya pulang saya akan lempar ular ini ke dia. “Takut enggak yah…”pikir jahat saya. Tapi kiranya saya tak tega untuk melakukannya. Khawatir ada apa-apa. Apalagi hari-hari ini saya sedang menunggu kedatangan anak kami yang ketiga muncul ke dunia ini.

    Kalau yang mainan buaya bisa saya kasih kepada Ayyasy atau Haqi, buat mainan mereka berdua. Atau enggak usah dibawa pulang. Ditaruh saja di meja kantor. Buat refresing di tengah suasana sepi para AR dan fungsional pemeriksa dalam satu ruangan yang tenggelam dalam kesibukannya masing-masing, bunyi tetet toet-nya itu kiranya bisa menyegarkan mereka. Tetet toet…!    

Kata teman saya alam bawah sadar saya yang menuntun saya untuk membeli mainan tersebut. Yah, pada saat itu saya langsung tertarik melihat barang itu saat pelayan di toko sedang menatanya. Dan betul juga, dulu waktu saya masih kecil dan sama sekali tidak mampu untuk membeli mainan, saya melihat mainan seperti itu dimiliki tetangga saya. Saya sangat menginginkannya namun saya cuma bisa meminjamnya belaka karena saya ataupun orang tua saya tak mampu untuk membelinya.

Keinginan itu menjadi keinginan besar yang terpendam dalam diri saya. Terbangkitkan kembali memori itu pada hari ini. Dan kini saya mampu membelinya, saya bisa memilikinya setelah puluhan tahun lamanya.

Berbincang-bincang tentang alam bawah sadar, saya jadi teringat sebuah tulisan (yang juga sempat saya bawakan sebagai tema kultum saya di Masjid Al-Ikhwan Ramadhan 1428 H lalu) tentang mengapa banyak orang Indonesia yang pada musim lebaran melakukan ritual mudik.

Ini sejatinya karena semua itu adalah fitrah manusia untuk kembali ke tempat asalnya, fitrah manusia merindu pada kampung halaman, merindu pada orang tua yang selama ini mengayomnya, seperti kerinduan seorang bayi yang senang digendong pada sisi kiri seorang ibu, karena ia dapat lebih menangkap detak jantung ibunya yang sama persis ia dengar saat masih dalam rahim sang ibu.

Dan sejatinya pula bahwa tempat kembali kita adalah Allah. Karena bukankah kita telah diambil persaksiannya oleh Allah dalam sebuah pesaksian yang mahadahsyat.

Dan (ingatlah) ketika Rabbmu mengeluarkan keturunan anak-anak Adam dari sulbi mereka dan Dia mengambil kesaksian terhadap jiwa mereka (seraya berfirman): ‘Bukankah Aku ini Rabbmu?!’ Mereka menjawab: ‘Betul (Engkau Rabb kami), kami menjadi saksi.’ (Yang demikian itu) agar di hari kiamat kamu tidak mengatakan: ‘Sesungguhnya kami (Bani Adam) adalah orang-orang yang lengah terhadap hal ini (keesaan Allah).’” (QS. Al-A’rāf [7]: 172)

Peristiwa mahadahsyat berupa sebuah persaksian itu diambil langsung oleh Rabb yang mahakuat, mahaagung, mahaperkasa, mahagagah, mahaindah. Dan itu terekam kuat dalam alam bawah sadar kita. Tidak hanya itu, ia lalu menjadi sebuah fitrah. Fitrah merindui dan berjumpa dengan Allah PEMILIK SEMUANYA ITU. Merindu akan keindahan-Nya, kekuatan-Nya, kegagahan-Nya. Oleh karenanya itu wajar dan sebuah keniscayaan bahwa kita senantiasa akan mati, berjumpa dengan-Nya. Yang jadi masalahnya adalah mengapa kita tidak ingat mati? Ya, karena fitrah sejati kita itu terkadang tertutupi oleh keindahan semu duniawi dan kecantikan yang terindui pada makhluknya.

rindu pada bayangan kecantikannya membuatku lupa…

fantasi liar membuatku lupa pula untuk menjejak pada bumi…

energi kesadaranku pupus dan lunglai tak kuasa menghadapinya…

bahkan yang ada cuma derita imajinasi yang mencandu diriku untuk merengkuhnya…

    bahkan aku gila hingga berbisik pada angin, “sampaikan kerinduan padanya.”

    ***

 

    Aih, ingatan masa kecil yang terekam dalam alam bawah sadar saya pada siang hari ini membuat saya membeli mainan anak-anak dan mengingat sebuah kata bersebut kematian. Tiba-tiba saya teringat, waktu saya kecil, saya juga pernah bermimpi menjadi HULK…

    Tetet toet…!

***

Maraji:

  1. Alqur’anul kariim;
  2.  

 

riza almanfaluthi

dedaunan di ranting cemara

15:16 29 juli 2009

 


 

2 comments Tuesday, 29 July 2008

FRAGMEN JUM’AT

FRAGMEN JUM’AT

Pagi ini saya usahakan untuk tidak membuka apapun terkecuali program pengolah kata saat pertama kali menyalakan komputer. Sudah lama saya tidak menulis di pagi hari. Dan kemudian saya berpikir lagi ternyata di lain waktu pun saya tidak menulis juga. Artinya memang sudah beberapa hari atau hitungan pekan ini saya belum menemukan satu, dua atau banyak kepingan gagasan yang enak untuk dijadikan mozaik tulisan.

Tiba-tiba setelah membuka program pengolah kata itu saya teringat sebuah episode kelemahlembutan dan kerendahhatian yang ditunjukkan oleh seorang ulama. Tidak dibuat-buat, tulus, dan apa adanya. Dan ini membuat saya teramat terkesan padanya.

Suatu ketika, di hari Jum’at, Ia datang memenuhi undangan untuk menjadi khotib di masjid kantor pajak Kalibata. Ia sudah sering kami undang ke masjid kami itu seperti mengisi ceramah bulanan dan ramadhan. Sudah beberapa kali saya mendengar ceramahnya. Insya Allah sudah menjadi jaminan ceramahnya itu tidak membuat pendengarnya terkantuk-kantuk.

Continue Reading 2 comments Friday, 18 July 2008

FOTO-FOTO BAKSOS

 

Assalaamu’alaikum.

Saudara-saudaraku semua , berikut saya tampilkan suasana baksos yang diselenggarakan pada hari Ahad tanggal 06 Juli 2008 yang lalu. Maunya saya sih menampilkan semua gambar yang telah terekam dalam kamera kami, namun apa dikata kapasitas gambar yang terlalu besar membuat gambar-gambar tersebut tidak dapat ditampilkan seluruhnya. Namun tak apalah. Semoga ini sebagai bentuk nyata pertanggungjawaban dari amanah yang telah diberikan Anda kepada kami.

Semoga Allah melimpahi kita dengan kebahagiaan dunia dan akhirat. Amin.

 

 

Tempat Baksos

 

Salah satu penyokong kegiatan Baksos

 

Spanduk Yayasan Kharisma Insani

Kang Tubagus Syunmandjaya Rukmandis memberikan wejangan saat mampir di tempat Baksos

 

Kepala Desa Masduki saat memberikan sambutannya, ia minta warga Desa Pabuaran supaya sejahtera dunia dan akhiratnya. 

 

Peserta dan Panitia Baksos saat menyimak dengan tekun wejangan para tetua. 

 

Beberapa peserta baksos asyik mengikuti acara baksos. Salah satunya asyik mencabuti jenggot yang sudah mulai memutih

 

Setelah selesai acara sambutan dan lain-lain, barulah para warga asyik mengantri satu-persatu untuk mendapatkan sembako murah dan gratisnya. 

 

“Mana Bu…tiketnya?” tanya salah satu panitia.

 

“Anak-anak minggir yah…tuh Ibunya lagi ngantri,” arah salah satu panitia. 

 

“Kayaknya bagus nih baju,” pikir anak muda. 

 

Lumayan baju Korprinya, khusus kalau berkebun di kebun jambu… 

 

Iya Bu, itu masih bagus loh… 

 

Masih mengincar mana nih baju yang bagusnya… 

 

Mainan dan tas yang masih tersisa, menunggu peminatnya. 

 

Eit, jangan berebut semua kebagian baju gratis ini. 

 

G atau H yah…mata nih sudah mulai kabur rupanya.

 

Pemeriksaan mata gratis, dipandu dengan sabar.

 

Suasana di ruang bekam.

 

11 comments Tuesday, 8 July 2008

BEREBUT PAKAIAN (LPJ BAKSOS)

BEREBUT PAKAIAN

(LPJ BAKSOS)

 

Ikhwatifillah, assalaamu’alaikum warahmatullaahi wabarakaatuh. Semoga di pagi yang cerah ini ada sebuah kecerahan dan keceriaan yang menggumpal di dada antum semua . Dan tak lupa untuk menjadi gardu energi positif dan membagikan energi kebaikan itu kepada sesama. Tentu ada balasan yang tak ternilai berupa energi positif yang akan diterima suatu saat kelak oleh antum.

    Ikhwatifillah, kalau antum menyangka bahwa sebuah fragmen rebutan pakaian itu hanya terjadi di sebuah daerah yang sedang tertimpa bencana atau di daerah terpencil di pelosok Indonesia nun jauh di sana, maka pandangan itu tidaklah tepat. Karena di Kampung Wates, Pabuaran, Bojonggede, yang jaraknya tidak cukup jauh dan lama ditempuh dari pusat Ibukota republik ini, Jakarta, maka fragmen itu benar-benar terjadi.

    Ya, pada acara bakti sosial (baksos) yang diselenggarakan pada hari Ahad tanggal 06 Juli 2008 itulah kejadian itu berlangsung. Ini menunjukkan bahwa kehidupan yang berat memang sedang dialami oleh sebagian besar dari bangsa ini. Setelah diawali dengan kenaikan Bahan Bakar Minyak (BBM) lalu dibombardir dengan naiknya seluruh bahan kebutuhan pokok diiringi pula dengan kelangkaan minyak tanah ataupun gas, masyarakat mulai mengeluh dan menjerit. Apatah lagi ditengah tuntunan biaya untuk dapat menyekolahkan anak-anaknya di tahun ajaran baru ini.

Didasari oleh itulah baksos tahap pertama ini diselenggarakan dan Insya Allah berjalan dengan sukses. Baksos tahap kedua akan diselenggarakan di bulan ramadhan nanti adalah pula dalam rangka menyiasati kenaikan sembako yang biasanya mulai meroket lagi jelang lebaran.

Kami—para pemuda yang aktif di Yayasan Kharisma Insani—sadar bahwa ini adalah bukan solusi jangka panjang. Karena sebenarnya bila ingin ada perubahan kesejahteraan buat masyarakat yang bersifat permanen dan massal maka itu adalah domain dari pemerintah daerah, bukan kami. Tetapi memang jikalau tidak ada yang memulai bergerak untuk peduli maka siapa lagi yang mau untuk memulainya.

Maka dengan tekad, semangat bulat, dan diniatkan dengan memberikan peluang untuk meraih kebaikan bersama-sama, memberikan kesempatan untuk mengolah ladang amal, disebarkanlah beberapa proposal kerjasama kepada seluruh pihak. Kami bersilaturahim dengan Lembaga Amil Zakat Infak dan Shadaqah PT PLN (Persero) Kantor Pusat. Juga kepada teman-teman di kantor pajak. Khusus dari teman-teman di kantor pajak Alhamdulillah terkumpul dana yang cukup besar senilai Rp2.606.000,00 serta pakaian, buku, dan mainan layak pakai yang banyak sekali.

Subhanallah, dengan dana itu maka dibelikanlah sembako dan terkumpul sebanyak 252 kantung yang siap untuk dibagikan. Satu kantung sembako senilai Rp42.000,00.

Lima puluh dua kantung diberikan secara gratis kepada yang benar-benar tidak mampu (fakir). Sedangkan sisanya sebanyak 200 kantung diberikan kepada masyarakat lainnya dengan membayar sejumlah uang sebesar Rp20.000,00. Insya Allah ini cukup murah sekali. Satu kantung sembako terdiri dari:

  1. Beras 4 liter;
  2. Gula pasir 1 kilogram;
  3. MInyak goreng merek hemart 1 liter;
  4. Supermi sebanyak 5 bungkus.

Selain pembagian paket sembako gratis dan paket sembako murah, kami juga menjual sembako dengan harga murah bagi mereka yang tidak mendapat kupon paket sembako gratis dan murah tersebut. Yang kami sediakan buat sembako eceran ini adalah sebagai berikut:

  1. Minyak goreng kemasan merek hemart sebanyak 72 liter. Dijual setiap liternya sebesar Rp11.000,00;
  2. Gula pasir sebanyak 98 kilogram. Dijual Rp5000,00/kilogram;
  3. Beras sebanyak 62 liter seharga Rp4500/liter kami jual dengan harga Rp7000/2 liter.

Kami melakukan pembagian sembako tersebut setelah acara utama dimulai yang diawali dengan bersama-sama membaca basmallah. Setelah itu Taujih Rabbani, yaitu pembacaan kalam ilahi oleh brother Bahrul Ulum yang membacakan surat Al-Anfal yang teramat menggetarkan hati dan sanggup meluluhkan benteng pertahanan air mata saya. Subhanallah…

Setelah itu sambutan dari Kang Tubagus Sunmandjaya Rukmandis dan Kepala Desa Pabuaran Masduki yang sebelum menjadi kepala desa akrab dipanggil dengan Doklay. Mereka berdua berkesempatan untuk hadir pada acara tersebut. Dan acara utama tersebut ditutup dengan doa oleh Ustadz Idris Ibrahim, Wakil Kepala SDIT Depok.

Barulah setelah itu, diiringi dengan nasyid Syoutul Harokah yang sangat menggelora acara pembagian sembako dan penjualan pakaian layak pakai dimulai. Masyarakat diatur dengan tertib untuk mengambil paket sembakonya. Dan yang saya rasakan bahwa untuk kali ini pembagiannya berlangsung tertib sekali berbeda dengan kegiatan yang sama di waktu lalu.

Yang heboh adalah di stan penjualan pakaian layak pakai. Ibu-ibu saling berebutan untuk mengambil baju-baju yang masih bagus tersebut. Tidak hanya baju yang dijual di sana, ada juga mainan yang kami bungkus rapi dengan plastik dan kami jual seribu rupiah per bijinya. Ada juga tas, sepatu, sandal, kerudung, selimut, dan majalah atau buku anak-anak.

Harga baju dan lainnya itu kami patok dengan harga yang bervariasi. Apabila tampilannya masih baru dan bagus kami jual seharga Rp5000,00 per potongnya. Ada juga yang kami jual goceng tiga, seribu satu atau bahkan gratis sama sekali. Terutama baju-baju anak kecil.

Nah, untuk yang gratis ini, Subhanallah, antusiasme Ibu-ibu dan anak-anak sungguh luar biasa. Mereka saling berebut satu sama lain untuk mendapatkan pakaian yang masih layak dipakai itu. Ibu Wati (30) yang ditanya tentang acara ini saat mengambil baju itu mengatakan dengan logat betawinya yang kental, “Bagus, yang belum punya baju jadinya punya baju deh.”

Tapi ada satu hal yang patut dikagumi dari mereka. Walaupun diberikan secara gratis tidak terlihat upaya dari mereka untuk menguasai atau mengambil semuanya. Mereka cukup mengambil apa yang mereka perlukan dan layak untuk mereka. Ini patut diapresiasi karena setidaknya masih ada izzah atau muru’ah dalam diri mereka.

Tidak hanya itu, keramaian juga berlangsung di stan pemeriksaan mata gratis dan pengobatan thibbun nabawi (bekam) yang diselenggarakan di ruang terpisah buat pasien laki-laki dan perempuan. Target pasien dipatok sebanyak 60 pasien yang ditangani oleh 8 terapis.

Lalu matahari pun beranjak menyengat di atas ubun-ubun kami. Sebentar lagi adzan dhuhur berkumandang. Selesailah sudah acara baksos ini yang ditandai dengan mulai menyepinya masyarakat di tempat itu. Kami mulai beres-beres. Sembako habis terjual. Pakaian layak pakai masih ada beberapa karung. Insya Allah akan kami bagikan nanti pada kegiatan baksoks di bulan ramdhan yang tinggal dua bulan lagi. Tentunya di tempat lain, di desa Pabuaran juga, yang kantung-kantung kemiskinannya masih banyak terpusatkan di beberapa RW.

Kepala Desa Pabuaran sempat dalam sambutannya mengatakan bahwa masyarakat akan tahu mana loyang dan mana emas. Mana yang bekerja untuk masyarakat atau mana yang memerasnya. Dalam hati kami cuma bisa berkata segala pujian itu hanyalah milik Allah. Dan kami beristighfar atas segala kelalaian kami. Cukuplah sumringah dari masyarakat menjadi penawar kelelahan kami.

Ibu Yetti (33) penerima paket sembako murah saat diminta tanggapannya tentang acara ini bilang, ” yang sering-sering saja, kalau bisa gratis.” Bahkan Ibu Euis (30) berkomentar lain dan diluar dari kesanggupan kami. Ia menginginkan bahwa acaranya tidak hanya sembako gratis tapi yang benar-benar menyentuh masyarakat banyak yaitu dengan penggratisan biaya pendidikan. Karena beasiswa yang juga sempat kami berikan di tempat lain hanya menyentuh orang-orang tertentu saja. Waow…kami cukup sadar tidak mudah untuk merealisasikannya. Yang tepat memang tugas ini dilakukan oleh pemerintah Kabupaten Bogor. Yah kita berharap semoga bupati yang terpilih nanti mampu memenuhi harapan masyarakat kecil seperti Ibu Euis ini.

Pada akhirnya Insya Allah acara baksos ini berjalan sukses dan istirahat kami adalah kembali merencanakan kegiatan baksos tahap kedua nanti di bulan Ramadhan 1429 H. Saya mewakili teman-teman mengucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya kepada para donator yang telah sudi berbagi kepada sesama. Semoga Allah melimpahkan kebaikan yang berlipat ganda kepada antum semua. Infak Anda adalah amanah berat kami. Semoga keberkahan melingkupi kita semua.

Jazaakallah khoiron katsiira.

Wassalaamu’alaikum warahmatullaahi wabarakaatuh.

 

Laporan pemasukan dana khusus dari kawan-kawan Pajak dengan nilai total Rp2.606.000,00. Rinciannya adalah sebagai berikut:

  1. Azmi             Rp100.000,00
  2. Lavly Day        Rp101.000,00
  3. Anisah             Rp350.000,00
  4. xxx2102        Rp500.000,00
  5. Syafiq            Rp150.000,00
  6. Faisal Riyadi        Rp250.000,00
  7. Intan Berlian        Rp100.000,00
  8. Cut Mala         Rp55.000,00
  9. Mushola Al-iKhlas     Rp1.000.000,00

    KPP Pratama Senen

Untuk baju, mainan, tas, sepatu, sandal, buku dan majalah layak pakainya dari:

  1. Ibu Mona JN;
  2. Ibu Ardiana;
  3. Ibu Lavly day;
  4. Azmi;
  5. Rekan-rekan karyawan pajak di KPP Pratama Senen.

Permintaan maaf tak terkira yang sedalam-dalamnya bagi kawan-kawan yang tak sempat saya kunjungi untuk mengambil baju layak pakianya, dikarenakan waktu sempit yang saya miliki dan serba keterbatasan saya dalam mengelola waktu. Insya Allah niat Anda semua sudah dicatat oleh Allah dan peluang amal tetap terbuka karena baksos tahap kedua akan dimulai lagi di ramadhan nanti.

J

1 comment Tuesday, 8 July 2008

WASIAT TERAKHIR

WASIAT TERAKHIR

Salah satu wasiat yang disampaikan oleh almarhumah Ibu saya sehari menjelang kematiannya adalah menyuruh kami untuk berbelanja kebutuhan sehari-hari di warung-warung yang terlihat sepi. “Sekalian shodaqoh,” katanya. Wasiatnya itu baru saya ketahui tadi malam dari bapak saya setelah satu setengah tahun ibu meninggalkan kami.

Pembicaraan tentang ini bermula dari keprihatinan saya melihat bapak-bapak tua penjual kerak telor yang sepertinya barang dagangannya tidak laku-laku. Sang penjual duduk termenung dengan pandangan kosong menanti pembeli yang tak kunjung tiba.

“Belilah,” kata bapak saya. “Sekalian shodaqoh,” lanjutnya. Barulah saya mendengar bahwa apa yang dikatakan oleh bapak saya itu adalah salah satu dari sekian wasiat yang Ibu sampaikan kepadanya. “Membeli barang dagangannya adalah bertujuan untuk menyenangkan dirinya dan membuatnya gembira,” katanya lagi.

Saya tertegun mendengar wasiat itu. Bagi saya ia adalah bukan hanya sekadar wasilah untuk bisa bershodaqoh tapi pun ia adalah sebuah wasilah untuk membuka hati. Dengan terbukanya hati maka ini adalah langkah awal untuk mengajak orang menuju kebaikan-kebaikan. Bukankah yang terlebih dahulu harus tersentuh dari sebuah kerja besar yang bernama dakwah adalah hati seorang manusia?

Ah, saya menjadi teringat bahwa Rasulullah saw. pernah berkata, “sebaik-baik amal perbuatan adalah membuat muslim lainnya merasa gembira, atau meringankan kesulitannya, atau membayarkan hutangnya, atau memberinya makan.”

Ikhwatifillah, para penjual barang dagangan yang sedari pagi belum pernah didatangi oleh para pembeli tentulah merasa senang dengan kedatangan Anda yang memang berniat membeli barang dagangannya. Ia senang, ia bahagia, ia menjadi lebih optimis bahwa rezeki itu sudah ada yang mengaturnya, lalu Anda pun berpahala.

Ikhwatifillah ketika ia senang, ia gembira dan ia tersentuh dengan nilai-nilai dakwah maka suatu saat ia akan mampu memberikan segala yang dimilikinya untuk agamanya Allah. Bahkan dirinya sendiri. Allohukariim.

Percayalah ikhwatifillah, gembirakanlah manusia, senangkanlah hatinya maka ia akan senantiasa mendengar apa yang Anda ucapkan. Semuanya. Apakah selalu dengan membeli barang dagangannya? Aih, tentu tidak.

Senyum terindah Anda,

salam lembut Anda,

jabat erat tangan Anda,

pandangan kasih sayang Anda,

panggilan yang terbaik buat namanya,

pertanyaan Anda tentang kesehatan dan kondisi keluarganya,

ucapan selamat Anda karena kesuksesannya,

SMS Anda di sepertiga malam terakhir untuk membangunkannya,

dan masih banyak lagi yang lainnya, semua itu adalah sarana untuk membuka pintu hati yang dulu terkunci rapat, tergembok besar, terantai kuat, yang pelan-pelan akan mencair bak salju terakhir di musim semi. Itu karena anda telah menyentuh sisi terdalam dari kemanusiannya yaitu hati.

Maka benarlah wasiat itu. Semoga Allah merahmati engkau Ibuku.

 

***

Catatan kecil: Bila Anda memang berniat untuk melakukannya maka lakukanlah sekarang juga. Jangan Anda tunda menyentuh hatinya di lain waktu. Karena setan memang selalu berdaya upaya agar Anda tidak melakukannya.

 

 

 

Riza Almanfaluthi

23:55 01 Juli 2008

beradu waktu

 

 

 

 

Add comment Wednesday, 2 July 2008

KHUMAIRA ATAU RIANTI?

KHUMAIRA ATAU RIANTI?

Sabtu sore, saya berteriak keras dalam ruangan periksa ketika dokter kandungan yang memeriksa istri saya menegaskan bahwa janin berumur 8,5 bulan itu berkelamin perempuan.

“Alhamdulillah!!!” teriakku. Dokter dan dua perawat yang berada dalam ruangan tersebut tertawa. “Memang sebelumnya apa?” tanya dokter tersebut.

“Dua-duanya laki-laki, Dok,” jawabku. Pada pemeriksaan via USG yang keempat kalinya inilah saya baru bisa mendapatkan kabar gembira itu.

Allah Mahabesar. Allah telah mengabulkan doa yang senantiasa saya panjatkan dalam setiap kesempatan. Dan kini saya sedang menanti doa-doa lainnya yang sedang antri untuk dikabulkan Allah. Antara lain semoga proses persalinan istri saya di akhir Juli atau Agustus 2008 nanti berjalan lancar tanpa ada suatu masalah sedikit pun. Sehat bayinya, sempurna jasadnya, sempurna akalnya, dan sempurna ruhnya.

Hati saya amatlah bergetar mendengar kepastian itu. Setelah mendapatkan hasil rapor Haqi yang amatlah tidak mengecewakan di hari jum’at kini saya mendapatkan kabar gembira yang lain lagi. Subhanallah, banyak sekali nikmat yang Allah berikan kepada saya. Walaupun secara sadar saya masih banyak kekurangannya untuk dapat merealisasikan diri sebagai bagian dari golongan orang-orang yang bersyukur.

Bagi yang lain mungkin kehadiran anak perempuan adalah hal yang biasa. Tetapi bagi saya adalah sebuah pengalaman baru di tengah rekam jejak keluarga saya yang teramat dominan dengan persepsi dan fakta sebuah maskulinitas. Saudara kandung saya laki-laki semua. Saudara sepupu saya 95% laki-laki.

Maka adalah sebuah kebahagiaan yang teramat besar saat mengetahui berita ini di tengah kepasrahan dan dugaan saya bahwa memang sudah dari sononya gen laki-laki sangat kuat mengalir dalam darah saya. Namun Allah berkehendak lain. Allah memberikan saya bibit perempuan dalam janin yang dikandung istri saya. Tinggal kini saya berharap bahwa Allah menuntaskan 1% sisa dari tingkat kepercayaan hasil USG yang baru 99% itu pada saat hari H nanti dengan menunjukkan kepada saya bahwa benarlah yang dilahirkan itu adalah bayi perempuan.

Tapi di lain itu saya berpikir tentang sebuah amanah berat yang menghadang kelak. Merawatnya, membesarkannya, mendidiknya, menjaganya, menikahkannya, mendoakannya, menjadikannya sebuah sumber kesalihan, mampu berjuang untuk agamanya dan lain sebagainya. Saya berharap semoga saya mampu mengemban amanah itu.

Di tengah perenungan itu saya sempat tersenyum simpul memikirkan sebuah masa depan. Nanti kelak saya bisa mengucapkan kalimat ini di depan banyak orang: “Saya nikahkan anak saya, ……………… binti Riza Almanfaluthi dengan mas kawin, bla, bla, bla…”. Aih…

Ngomong-ngomong tentang nama yang hendak diberikan, kami sudah mulai memikirkannya namun belum ketemu juga. “Sambil jalan sajalah,” pikir saya.

“Khumaira atau Rianti,” gurau saya sambil melirik istri. Nama-nama itu adalah nama pelaku utama dan nama asli pemerannya dari sebuah sinetron yang ditayangkan oleh televisi swasta dan sedang heboh-hebohnya dibicarakan oleh banyak ibu rumah tangga.

Kan dia cantik, lembut, sabar, sholihah, mau jadi istri pertama, enggak iri sama madunya yang lebih muda, bahkan merelakan dirinya berkorban agar suaminya menyayangi istri keduanya itu. Sholihah betul si Khumaira itu,” goda saya.

“Ah itu cuma di sinetron,” jawabnya sambil cemberut.

“Lalu apa dong…? Sabrina Hanifa? Nama itu kan sudah dipakai oleh teman Ummi,” tanya saya.

“Ya nanti sajalah,” katanya lagi.

Pembicaraan tentang nama yang sudah mulai terbersit dalam hati-hati kami dihentikan sejenak sampai Hari H Nanti. Ya betul. Karena nama adalah doa. Tentu tak bisa sembarangan untuk memberikan dan mengambil nama dari orang-orang yang terkenal terkecuali ia mempunyai kepribadian yang agung antara idealita dan realita. Tentu menurut ukuran ad-Din al-Haq, Islam.

Semoga ini bukanlah pembicaraan yang mendahului takdir Allah. Tetap harapan utama kami adalah semoga benarlah adanya apa yang dikatakan dokter tersebut dan Allah memudahkan kami dalam persalinan nanti. Dan semoga Allah memberikan kegembiraan lain dan tidak memberikan ujian yang tidak sanggup kami untuk memikulnya.

Wahai Pemilik Langit dan Dunia berikanlah kesehatan pada istriku dan bayi yang dikandungnya. Jadikanlah ia permata bagi kami, segala yang menyenangkan bagi kami, segala nikmat yang mulanya tiada menjadi ada, mulanya awal hingga akhirnya, mulanya nihil menjadi tak terhingga.

Aku menunggunya Ya Allah…

 

 

Riza Almanfaluthi

dedaunan di ranting cemara

08:10 01 Juni 2008

1 comment Tuesday, 1 July 2008






Palestine Blogs - The Gazette



KampungBlog.com - Kumpulan Blog-Blog Indonesia

Telah Dikunjungi

 

July 2008
M T W T F S S
« Jun   Aug »
 123456
78910111213
14151617181920
21222324252627
28293031  

Categories

Arsip

Blogger

Blogroll

Situs-situs Khusus

Ikhwan & Akhwat Tarbiyah

Best Friends

Downloads

Recent Posts

Recent Comments

Alfahri on OBAT MANJUR BUAT AMBEIEN …
Fida on KATA-KATA ATAU UCAPAN DALAM KA…
Cathy on Konsultasi Pajak
ima chotimah on BANK SOAL UJIAN NASIONAL …
Santy on Konsultasi Pajak
Rakhmi on SANKSI DENDA NAIK 10X LIP…

Top Clicks

Top Posts

Feeds

Meta

Spam Blocked