Archive for June 23rd, 2008
HARTINI NAMANYA
HARTINI NAMANYA
Suatu ketika di saat saya mengantarkan Haqi untuk melihat pameran kegiatan ekstrakurikuler di sekolahnya, saya melihat seorang wanita yang sepertinya pernah saya kenal. Ia bersama dengan anaknya yang satu sekolah dengan anak saya. Saya pikir ia adalah teman saya dulu. Mau saya menegurnya tapi saya khawatir salah. “Masak sih orang Palimanan bisa juga nyasar ke Citayam ini,” pikir saya. Padahal saya juga bersekolah di sana. J Akhirnya dengan menyimpan penasaran saya segera melupakan ingatan pernah berjumpa dengannya. “Enggak mungkin dia…”tegas saya.
Beberapa bulan kemudian (kira-kira
setengah tahun lebih), hari Ahad kemarin (10/6) ketika mengikuti acara perpisahan kelas enam SDIT AlHikmah saya kembali menemui wanita itu. Waktu itu saya bersama dengan Ayyasy berniat untuk ke lantai atas menuju ruang acara diselenggarakan. Di saat saya mau masuk lift ia keluar dari lift tersebut. Akhirnya saya membatalkan untuk masuk dan ingin menuntaskan rasa kepenasaran saya yang dulu. Akhirnya saya sapa saja dia.
“Bu, maaf Bu, Ibu ikutan acara Alhikmah juga yah…? tanya saya.
“Iya betul,” jawabnya sambil terheran-heran memandang saya. Logat Cirebonnya kental sekali.
“Ibu dulu sekolah SMA-nya dimana?” saya langsung bertanya menuju sasaran. Saya pikir kalau salah enggak apa-apa. Selesai sudah urusan.
“Palimanan,” katanya. Oh sudah pasti ia adalah teman saya dulu. Cuma saya lupa juga namanya.
“Saya dari Palimanan juga Mbak,” sekarang saya sudah mengganti panggilannya.
“Kamu siapa sih…? tanyanya.
“Saya Riza dari Jatibarang Indramayu. Kalau Mbak siapa, seingat saya Mbak dari Majalengka kan? Tanya saya. Ia penduduk salah satu daerah di Majalengka yang bersekolah di Palimanan Cirebon.
“Saya Hartini. Oh kamu Riza yah…” barulah kemudian ia ingat saya. “Wah sekarang kamu gemuk yah kayak suami saya…” waduh pisikelly nih. J
Akhirnya terjadilah pembicaraan di tengah keramaian tersebut. Ternyata ia bekerja di Departemen Pertanian, sedangkan suaminya bekerja di salah satu bank swasta ternama. Suaminya adalah kakak kelas kami jauh di atas. Entah angkatan keberapa. Dan kini tinggalnya di Desa Ragajaya, sebelah desa di mana sekarang saya tinggal.
Di tahun 1991 saya ingat waktu itu dia ikut melihat-lihat pertandingan bola antarkelas yang diadakan sekolah kami, di sebuah lapangan dekat Pabrik Tebu Palimanan. Wajahnya mirip-mirip Inka Christy yang saat itu sedang tenar-tenarnya. Sekarang ia sudah memakai jilbab. Syukurlah. Tapi saya belum tahu apakah ia dan suaminya sudah tersentuh dengan dunia tarbiyah atau belum.
Tambah bersyukur pula bahwa setidaknya ia sevisi dengan saya mengenai pendidikan anak-anak dengan menyekolahkan anaknya di sekolah Islam tersebut. Ada harapan anaknya akan menjadi kader-kader dakwah yang tangguh. Yang akan meringankan dan mempercepat laju gerak dakwah dalam memperoleh kemenangan kelak di tahun-tahun mendatang. Semoga.
Ternyata dunia itu sempit. Banyak juga orang Palimanan yang nyasar ke Citayam. Saya tidak sendirian. J
Riza Almanfaluthi
dedaunan di ranting cemara
16:47 23 Juni 2008
Add comment Monday, 23 June 2008
LADANG AMAL KEDUA UNTUK ANDA
LADANG AMAL KEDUA UNTUK ANDA
Assalaamu’alaikum warahmatullah wabarokaatuh
Bapak-bapak, ibu-ibu, saudara-saudariku, alhamdulillah setelah sukses mengadakan bakti sosial di bulan ramadhan tahun lalu, maka saya beserta teman-teman akan mengadakan bakti sosial kembali. Dan bakti sosial yang kami adakan ini Insya Allah berlangsung selama dua putaran. Putaran pertama akan diselenggarakan pada tanggal 06 Juli 2008. Tempatnya adalah di Kampung Wates (bakti sosial lalu bertempat di daerah PARKO) Desa Pabuaran, Kecamatan Bojong Gede. Putaran terakhir nanti pada saat dua pekan sebelum lebaran.
Seperti diketahui bersama waktu bulan ramadhan tahun lalu, teman-teman berbondong-bondong untuk menginfakkan dana dan baju layak pakainya. Sungguh membuat saya terharu. Dan membuat saya bertekad untuk senantiasa menjaga amanah yang telah diberikan. Semuanya insya Allah berkah sebagaimana telah ditulis dalam laporan saya terhadap bakti sosial di bulan ramadhan tersebut (Baca disini).
Betapa tidak berkah, karena para warga yang pada saat itu menjelang lebaran dipertunjukkan di hadapan mereka barang-barang kebutuhan pokok dengan harga yang amat murah dan ditambah dengan pakaian-pakaian yang layak pakai dan bagus-bagus itu. Sungguh saya melihat dari mereka secercah kebahagiaan. Apatah lagi ketika kebahagiaan itu muncul dari mereka yang kami berikan sembakonya secara gratis.
Ketika waktu acara bakti sosial itu sudah habis dan masih banyak pakaian yang belum habis, maka kami sebar keesokan harinya di dua tempat yang berbeda. Bahkan sampai memberikan harga gratis pula untuk pakaian-pakaian layak pakai itu. Subhanallah sambutannya luar biasa. Ternyata apa yang bagi kita itu kecil tetapi bagi mereka sungguh teramat besar. Maka sungguhlah patut bagi kita yang diberikan kelapangan rezeki ini untuk selalu mensyukuri apa yang telah kita dapatkan selama ini.
Mereka bahagia , saya bahagia, karena melihat bahagia. Jadi teringat puisinya Deddy Mizwar, sedikit saya gubah: “bangkit itu bahagia, bahagia melihat mereka bahagia.” Saya
waktu itu hanya bergumam dalam hati, “semoga Allah memberikan kebahagian lebih bagi mereka yang telah sudi untuk berbagi menyisihkan uang dan bajunya untuk timbulnya kebahagiaan orang lain.”
Oleh karena itu kami bertekad suatu saat ingin kembali membahagiakan mereka di tengah harga kebutuhan pokok yang beranjak naik karena imbas kenaikan BBM. Tekad itu kami wujudkan dengan mengadakan bakti sosial ini pada tanggal tersebut di atas.
Dengan memutus urat malu saya kepada Anda saya sudi agar tangan saya ini berada di bawah, dan sudi untuk menengadahkan tangan kepada Anda, mengajak Anda untuk sama-sama menggarap ladang amal itu. Karena itu bukan untuk saya, tapi untuk mereka yang masih membutuhkan.
Kami, dalam bakti sosial ini Insya Allah akan menjual paket sembako senilai Rp50.000,00 (dulu hanya senilai Rp38.500,00) dengan harga jual Rp25.000,00. Ada sekitar 30 paket lebih yang akan kami bagikan secara gratis kepada yang berhak dan tidak mampu.
Tidak hanya itu, kami akan mengerahkan para sahabat kami yang punya kemampuan untuk berbekam. Mereka tidak mau dibayar karena tahu sekali tentang kondisi kami. Dan lagi pula ini adalah amal bakti sosial. Insya Allah dengan upaya bekam itu juga sekaligus penyebaran fikrah bahwa ada pengobatan secara islami yang pernah dicontohkan oleh Rasulullah saw.
Dan ini penting juga diketahui, ada sahabat kami seorang dokter yang mau ikutan membantu bakti sosial itu. Insya Allah tanpa dibayar. Dan masyarakat tinggal menikmati pengobatan tersebut dengan gratis pula tanpa harus membayar. Namun masalahnya adalah pada penyediaan obat yang butuh dana banyak. Tapi dengan tekad bulat, kami bertekad dan sanggup untuk mengikutkan agenda pengobatan gratis tersebut pada agenda acara kami dengan resiko kami harus lebih keras lagi dalam mencari dana.
Oleh karena itu sekali lagi saya mengajak kepada Anda semua, yang punya kelebihan rezekinya untuk membaginya. Sepuluh ribu atau dua puluh ribu Anda bahkan lebih adalah hal kecil yang akan membuat mereka bahagia. Tinggal Anda duduk-duduk saja lalu memperoleh kebahagiaan lain sebagai balasannya di akhirat nanti. Atau dengan izin Allah akan dibalas langsung di dunia.
Ikhwatifillah, ada dua pilihan membagi kebahagiaan tersebut:
-
Bagi antum semua yang mau memberikan baju layak pakainya, bisa saya tunggu sampai hari jum’at nanti tanggal 5 Juli 2008, bagi yang berkantor di Kalibata atau sekitarnya yang dekat dan bisa saya jangkau dengan motor saya, Insya Allah saya akan jemput di kantor masing-masing.
-
Dan bagi antum yang berniat untuk sedekah dan berinfak bisa juga saya ambil langsung (kalau dekat dengan daerah sekitar Kalibata), atau juga antum semua bisa transfer ke rekening:
RIZA ALMANFALUTHI
Bank Mandiri
0060005XXXXXX
(berhubung rawan dari masalah gratifikasi maka nomornya saya tidak tampilkan. Maka diharapkan untuk mengirim email terlebih dahulu)
(Agar tidak tercampur dengan uang saya yang ada di bank Mandiri yang memang tinggal Rp80.000 J, mohon untuk konfirmasi kepada saya melalui PM di DSHNet (username: riza almanfal) atau melalui email: riza.almanfaluthi[at]gmail[dot]com (ganti [at] dengan @, ganti [dot] dengan .) atau via HP: 0817 79 XXXX. Ditunggu sampai hari Jum’at tanggal 5 Juli 2008).
Saya mengutip paragraph terakhir pada tulisan terdahulu:
Sungguh kepedulian kita semua sangat dibutuhkan oleh saudara-saudara kita yang membutuhkannya. Saya tidak bisa memberikan balasan kepada antum semua yang sudi dan berkenan atas kesediaannya untuk berbagi kepada sesama dan mempercayakannya kepada saya. Hanya Allah yang berhak untuk membalas kebaikan antum dengan kebaikan berlipat ganda. Harapan terbesar saya adalah semoga kita dikumpulkan oleh Allah di Jannah-Nya yang keindahannya tidak pernah dilihat, didengar, dan dirasa oleh manusia. Semoga. Amin.
Juga dengan paragraf ini di tulisan yang lain lagi:
Dan saya yakin bagi yang belum berkesampatan untuk turut serta dalam kebersamaan ini, bukan berarti tidak peduli, tapi karena semata-mata ada prioritas yang lebih dekat, yang lebih membutuhkan, yang lebih penting di daerahnya masing-masing. Semoga Allah senantiasa menjaga keistiqomahan kita semua. Amin. Jazakalloh khoiron katsiro.
Riza Almanfaluthi
09:26 23 Juni 2008
Add comment Monday, 23 June 2008







