Archive for March, 2008
pukul 01.30 wib
pukul 01.30 WIB
***
masih mencari huruf demi huruf
dalam samudra kata
membingkainya dalam bait-bait
tanpa makna bagi dirimu
bagi diriku ini segalanya
*
riza almanfaluthi
dedaunan di ranting cemara
23 Maret 2008 01.30
2 comments Tuesday, 25 March 2008
MENCONGAK RINDU
mencongak rindu
***
satu biji
dua biji
tiga biji
aku congak ribuan rindu di hati
bila kurang aku ambil
sebiji dua biji rindu
bila lebih aku serahkan
sebiji dua biji rindu
rindu dari siapa?
rindu untuk siapa?
riza almanfaluthi
dedaunan di ranting cemara
23 Maret 2008 00.35 WIB
Add comment Tuesday, 25 March 2008
menyapa ramai di tepian kubur
menyapa ramai di tepian kubur
***
ada raga dingin di balik putihnya kain
menghela keramaian sekeliling
menghiba kala agar cepat menyingkir
maka aku bopong tubuhmu tanpa darah mengalir
kerandamu sudah menunggu
tikar pandan sudah menggulungmu
kini, tanah merah sudah menelanmu
lalu keraiaman apalagi yang kau tunggu
keramaian apa lagi yang kau sapa
kecuali dua yang datang padamu
setelah itu aku melihatmu
pada bayang-bayang malam
sepanjang malam…
*
riza almanfaluthi
dedaunan di ranting cemara
23 Maret 2008 00.30 WIB
janjian tawuran berujung nyawa,
duhai anak tetanggaku
2 comments Tuesday, 25 March 2008
OBAT MANJUR BUAT AMBEIEN PARAH
SEBARKAN OBAT TRADISIONAL INI Kawan, ini bukanlah cerita bohongan sebagaimana teman-teman saya bilang tentang sebuah cerita fiksi. Karena apa yang akan aku ceritakan kepada kamu semua adalah cerita bukan fiksi, cerita nyata tentang apa yang dialami oleh sahabat saya. Dia adalah benar-benar sahabat saya sekaligus guru kehidupan saya. Tak perlu kamu tahu nama dia yang sebenarnya. Cukup panggil saja dia A Hun.
A Hun, teman saya ini, berpesan kepada saya untuk menceritakan apa yang dialaminya agar dapat bermanfaat buat orang lain. Karena apa yang dia alami benar-benar di luar perkiraannya. Ya, A Hun menderita ambeien parah, tak perlu juga saya sebutkan proses keparahannya itu karena saya khawatir kamu yang sedang makan dan membaca tulisan ini jadi tidak bisa makan lagi, karena kamu terlalu serius dan fokus untuk membayangkannya. Ah, masalah ini cukup Dibaca dan didengar saja. Selesaikan saja makan kamu lalu barulah mencoba membayangkannya, tetapi tak perlu mengutarakannya lagi pada saya. Karena saya sudah terlalu banyak menelan segala cerita tentang itu.
Ohya, kembali kepada A Hun—ingat yah dia itu teman saya—karena parahnya itu, berobat ke dokter umum sampai dua kali pun belum bisa membuat pendarahannya berhenti (tak perlu membayangkan lebih dalam lagi). Sampai harus di rujuk ke rumah sakit dan dokter di sana sudah bersedia untuk melakukan operasi kecil pada hari yang telah ditentukan.
Karena sudah trauma dengan selang yang pernah masuk dari alat vitalnya (maaf) waktu dia di opname karena sakit ginjal, maka ia sangat ketakutan sekali mendengar kata operasi ini. Ia pun berdoa agar penyakitnya segera sembuh. Untuk itu ia berusaha pula untuk mencari obat-obatan alternatif atau tradisonal. Dan ia mendapatkan sesuatu yang berharga untuk proses penyembuhannya. Di tengah pencarian itu ia ditelepon dari rumah sakit untuk segera datang ke rumah sakit untuk dilakukan operasi. A Hun—dia itu teman saya–menolak untuk datang dan ia meminta pihak rumah sakit untuk mengundurkan jadwal operasi itu di keesokan harinya saja. Ia bilang ia belum siap mental.
Ya ada sebuah obat tradisonal yang dianjurkan oleh saudaranya untuk mengatasi penyakit ini. Dan alhamdulillah sembuh. Apalagi proses penyembuhannya cepat sekali. Pagi itu sebagaimana dianjurkan oleh saudaranya, A Hun pun membuat obat tradisional tersebut. Apa obat tradisional itu? Dan bagaimana cara membuatnya? Berikut rinciannya:
1. Siapkan 1 butir kelapa tua;
2. Siapkan 1 butir tomat merah;
3. Siapkan gelas;
4. Siapkan sendok.
Itu saja persiapannya. Lalu selanjutnya apa yang harus dilakukan? Berikut ikhtiarnya:
1. Kelapa diparut, diperas, dan santannya dimasak. Lama kelamaan dari hasil pemanasan ini akan muncul minyaknya. Bila selesai masak minyaknya disisihkan di tempat yang telah disediakan.
2. Lalu masukkan 1 butir tomat ke dalam gelas dan masukkan pula satu sendok makan minyak kelapa yang kita buat. Dan tumbuk secukupnya tomat tersebut dengan memakai sendok tersebut. Tidak perlu sampai halus. Yang terpenting bisa ditelan oleh mulut kita dan dimamah dengan baik dalam pencernaan kita.
3. Setelah itu makan hasil olahan sederhana itu. Kamu buat obat itu dua kali sehari, pagi dan malam. Ingat!, baca basmallah terlebih dahulu sebelum menelannya.
4. Senantiasa berdoa.
Apa yang terjadi kawan-kawan di saat A Hun–dia teman saya loh yah–memakan obat tradisonal itu? Yup, alhamdulillah paginya di saat ia memenuhi panggilan alam seperti biasa, buang air besarnya itu sama sekali tidak ada pendarahan, tidak ada rasa sakit yang selama ini membayanginya. Benar-benar luar biasa. Subhanallah. Walhasil ia membatalkan operasi itu. Selama beberapa hari selanjutnya ia tetap meneruskan pengobatan tradisional mandirinya itu. Dan diceritakanlah kesuksesan itu kepada saya dan menyuruh saya untuk menceritakannya kepada orang lain agar asas kemanfaatan ini bisa dirasakan banyak orang.
A Hun, dia itu teman saya, telah berdoa dan berupaya untuk kesembuhan penyakitnya lalu hasilnya diserahkan kepada Allah. Syukurnya Allah mengabulkan doanya dan menerima ikhtiarnya itu. Lalu agar ia mendapatkan pahala kebaikan lebih, ia memberikan petunjuk atau cara bagus ke arah kebaikan ini kepada orang lain agar orang lain pun merasakan hal yang sama tentang manfaat obat ini. Kata qudwah kita Rasulullah saw: Addaalu ‘alal khoiri kafaa’ilihi 1). Barangsiapa yang menunjuki jalan kepada kebaikan maka ia akan mendapatkan pahala yang sama dengan orang yang melakukan kebaikan itu. Luar biasa bukan?
Juga karena A Hun tidak mau dicap sebagai kufur nikmat maka ia mau menyebarkan kebaikan yang ia peroleh itu kepada yang lain. Bukankah Jenderal Besar, teladan kita, Muhammad Saw itu juga pernah bilang: “barangsiapa memperoleh suatu yang makruf maka hendaklah menyebutnya karena berarti dia mensyukurinya, dan kalau merahasiakannya (berarti) dia mengkufuri nikmat itu.” 2)
Jadi, kepada kawan-kawan yang mempraktikkan pengobatan tradisional ini lalu sembuh, alhamdulillah, maka dianjurkan untuk menyebarkan informasi ini seluas mungkin agar pula dapat pahala kebaikan yang lebih besar lagi. Insya Allah.
Cukup sekian dari saya untuk kamu-kamu, kawan-kawan saya dari teman saya yang bernama A Hun–dia itu teman saya loh.
*
1. HR Bukhori.
2. HR. Ath-Thabrani
Riza Almanfaluthi
dedaunan di ranting cemara
09.03 18 Maret 2008
174 comments Tuesday, 18 March 2008
Pesolek
bedakmu tak akan bisa
menghapus kecantikanmu
karena kamu adalah
mata air keelokan
***
Riza Almanfaluthi
dedaunan di ranting cemara
13 Maret 2008 08:25
Catatan:
Terinspirasi saat melihat seseorang di kantor yang sedang memulas bedak pada wajahnya.
1 comment Thursday, 13 March 2008
Al-Wajiz: 100 Kaidah Fikih dalam Kehidupan Sehari-hari
Al-Wajiz: 100 Kaidah Fikih dalam Kehidupan Sehari-hari
Judul Buku Terjemahan : Al-Wajiz; 100 Kaidah Fikih dalam Kehidupan Sehari-hari
Judul Buku Asli : Al-Wajiz fi Syarhi Al-Qawaid Al-Fiqhiyyah fi Asy-Syari’ah Al-Islamiyyah
Penulis : Abdul Karim Zaidan, Dr.
Penerjemah : Muhyidin Mas Rida Lc.
Penerbit : Pustaka Al-Kautsar, Jakarta
Cetakan : Pertama, Februari 2008
Tebal : xxxii + 280 hlm
· Seseorang yang tidak mampu membayar utang, diberi tangguh sampai mampu melunasi utangnya;
· Seseorang dalam keadaan sangat kelaparan, kemudian dia memakan makanan orang lain, maka dia harus mengganti seharga makanan tersebut;
· Sesuatu yang haram diterima, juga haram diberikan;
· Tidak boleh membuat bangunan yang dapat merugikan orang lain;
· Seseorang yang merasa dirugikan, tidak boleh membalas dengan merugikan orang lain, tetapi harus lapor ke pengadilan;
· Diperbolehkan membunuh para pemberontak;
· Tidak boleh menutup toko yang baru karena kehadirannya dianggap merugikan toko yang lama.
(kaver depan)
***
Mengikuti berbagai forum diskusi dan kajian tentang fikih maka kita akan sering mendapati para peserta diskusi, mentor, guru menyebutkan kaedah-kaedah fikih. Semisal kaedah bahaya tidak boleh dihilangkan dengan bahaya yang serupa, mencegah kerusakan lebih diutamakan daripada mendatangkan kemaslahatan, keadaan darurat memperbolehkan melakukan yang dilarang, atau kaedah suatu yang wajib tidak sempurna kecuali dengannya adalah wajib dan masih banyak lagi contoh kaedah yang lainnya.
Bagi yang ingin memahami lebih lanjut tentang berbagai kaedah ini biasanya harus merujuk pada kitab-kitab fikih yang terkenal. Terkadang yang dibahas hanya beberapa kaedah saja. Kebanyakan pula referensi tersebut tersedia dalam bahasa Arab. Ini tentu menyulitkan bagi mereka yang tidak mengerti bahasa itu. Maka buku terjemahan yang diterbitkan baru-baru saja ini, tentunya sangat membantu sekali bagi Anda, para penuntut ilmu ataupun siapapun yang ingin mendalami kajian kaedah fikih dalam kehidupan sehari-hari. Dan Anda tidak perlu membacanya dari awal sampai tuntas untuk mengetahui dengan segera kaedah yang diperlukan. Anda cukup dengan mencari di daftar isinya, lalu menuju halaman yang dituju, dibaca, dan dipahami. Anda dapat membaca buku ini dari kaedah mana saja. Praktis sekali.
Penulis buku ini mengumpulkan sebanyak seratus kaedah fikih –yang tersebar dari berbagai kitab para ulama—yang bisa dijadikan sebagai dasar pengambilan suatu hukum. Kaedah fikih ini—sebagaimana disebutkan dalam pengantar penerbit—merupakan sesuatu yang sangat penting, mengingat nash-nash Al-Qur’an maupun hadits menggariskan hukum secara global, sementara permasalahan hukum dari waktu ke waktu semakin komplek dan semakin banyak, sehingga diperlukan metode dalam pengambilan hukum tersebut.
Buku ini diawali dengan memberikan pengertian apa itu definisi kaedah secara bahasa serta perbedaan antara kaedah fikih dan hukum fikih itu sendiri. Yang menarik lagi dalam buku ini adalah di setiap kaedah yang dibahas diberikan makna, dalil-dalil, cabang, pengecualian kaedah, serta contoh-contohnya. Ini tentunya lebih memudahkan dan memberikan penjelasan yang menyeluruh bagi para pembacanya.
Bagi saya, kehadiran buku ini benar-benar merupakan taufik Allah yang diberikan-Nya kepada saya. Betapa tidak, dua atau tiga minggu sebelum saya membeli buku ini saya kesulitan dalam mencari kaedah-kaedah fikih yang diperlukan untuk memahami timbulnya suatu perkara dalam hukum fikih, baik di internet ataupun dalam buku-buku fikih yang saya miliki. Dan akhirnya Allah memudahkan saya dengan menemukan buku ini di suatu pameran buku Islam yang baru saja berakhir hari ini (9/03).
Walaupun diakui sendiri oleh penulisnya bahwa kumpulan kaedah ini merupakan kumpulan catatan singkat yang berisi penjelasan sebagian kaedah fikih dalam syariat Islam dan belum ditulis secara luas serta komprehensif, setidaknya bagi dunia perbukuan Indonesia merupakan penambahan harta karun referensi Islam yang amat berharga. Pun bagi saya dan Anda tentunya keberadaan buku ini memperdalam samudra perbendaharaan tsaqofah (wawasan) serta menuntaskan dahaga intelektualitas kita. Semoga.
Riza Almanfaluthi
Tengah malam, 00.01 WIB 10 Maret 2008
dedaunan di ranting cemara
http://dirantingcemara.wordpress.com
Add comment Monday, 10 March 2008
SERAPAH UNTUK MEREKA
Aih…tanduk siapa yang menjelma pada si angkara murka,
Aih…ekor runcing siapa yang menjelma pada wajah-wajah bengis
dari keturunan para kera
hingga nyawa-nyawa berebutan keluar dari jasad
sungguh Surga untukmu Bur’i…

****
Syair kepedihan untuk Bayi-bayi Palestina yang jadi korban biadab Israel.
Riza Almanfaluthi
16:32 4 Maret 2008
(Berita terkait di sini: Hafez)
1 comment Tuesday, 4 March 2008
BASSE, BAHIR, LAPAR
BASSE, BAHIR, LAPAR
Pagi itu masih dingin. Taujih yang disampaikannya membuat semua yang ada di ruangan tertegun. Di selanya ada isak tangis dan air mata yang mengalir. Sebuah keharuan menyeruak dan mengeliminasi segala keegoan dan menyublim menjadi sebuah perenungan tentang kepedulian.
Ia bercerita, “Sore kemarin saya membeli ayam bakar karena tidak ada lauk yang dimasak sendiri pada hari itu. Dengan sepiring nasi yang banyak dan potongan dari ayam bakar yang paling saya sukai, saya memulai acara peningkatan gizi itu dengan menonton televisi dan mencari acara yang bagus.”
“Tapi saat itulah saya terpaku pada sebuah pemberitaan dari Makassar. Pemberitaan yang sungguh ironi dan membuat saya tidak enak hati untuk menghabiskan makanan itu. Betapa tidak, ketika saya makan, pemberitaan adanya ibu yang sedang hamil tujuh bulan dan anaknya yang balita tewas dan satu anaknya yang lain masih kritis di rumah sakit karena kelaparan, membuat saya tersentak,” lanjutnya lagi.
“Allahu Rabbi. Saya melihat sendiri dari tayangan betapa sosok ibu itu terbujur kaku. Mereka sudah tidak makan selama tiga hari. Dan kata tetangganya lagi keluarga itu memang jarang makan teratur. Suami ibu itu pun cuma tukang becak.”
Semua yang mendengar perkataannya terdiam dan menundukkan kepala. “Saya menjadi marah, sedih, bercampur aduk. Ada apa dengan negeri kita yang tercinta ini yang banyak dikatakan orang luar negeri sebagai negeri yang kaya dan makmur karena sumber daya alamnya. Apalagi keluarga itu mati di daerah yang disebut sebagai lumbung pangan. Allohuakbar. Lalu ke mana para tetangganya? Lalu ke mana para aghniyanya? Lalu ke mana saudara-saudara muslimnya? Lalu ke mana para aparat pemerintahnya? Lalu ke mana para wakil rakyatnya? Lalu ke mana para pemimpinnya? Tidakkah mereka semua akan dimintakan pertanggungjawabannya?” tanyanya sambil mengusap air mata yang deras mengucur.
Continue Reading Add comment Monday, 3 March 2008
Malam
Malam
***
Adalah ranah pendakian
tebing mimpi
terkadang basah
di pagi hari
dedaunan di ranting cemara
Riza Almanfaluthi
08:30 03 Maret 2008
2 comments Monday, 3 March 2008







