Menoreh di Kacanya…

Wednesday, 26 December 2007

MENOREH DI KACANYA…

Puisi ini adalah awal dari puisi dwilogi saya yang berjudul Menoreh di Kacanya 2, sempat hilang bertahun-tahun dari tumpukan arsip di komputer saya, dan saya sempat putus asa untuk menemukannya. Bahkan sempat terlintas dalam pikiran saya untuk mengumumkannya di khalayak ramai tentang pencarian saya ini agar mereka yang mungkin masih mendokumentasikannya bisa berbagi kembali dengan saya. Karena saya ingat dulu saya membagikannya kepada banyak orang.
Tetapi sebelum niat mengadakan sayembara itu terlaksana, pada hari Sabtu (22/12/2007) kemarin di saat saya sedang menata dokumen-dokumen di komputer, saya menemukannya tersembunyi di dalam folder lama yang jarang saya sentuh sebelumnya. Alhamdulillah. Bagi saya sebuah karya tulis walaupun cuma beberapa kata saja tertulis, itu adalah sebuah kenangan yang layak untuk diberikan penghormatan sebagai sebuah hasil kreativititas. Perlu dijaga dan didokumentasikan dengan sebaik-baiknya, sebagai sebuah penggambaran utuh dari diri saya.
Tak perlu untuk diberitahukan latar belakang mengapa puisi ini menjadi sangat berharga bagi saya, karena ini adalah awal sebuah tragedi di tahun 2005. Di buat sekitar akhir tahun 2002 atau awal tahun 2003. Sejak tahun 2005 itulah ada sedikit penyuntingan pada tiga hurufnya sehingga terhapus dari puisi itu. Tapi, Insya Allah, tidak mengurangi makna yang ada di dalamnya.
Inilah puisi yang saya temukan kembali:
menoreh di kacanya

sampaikan itu,
sampaikan pada angin yang selalu
berkata tidak pada cahaya bulan
dan awan hitam dalam setiap detiknya

hingga tak perlu lagi kau
tergugu di jendela bus itu
melautkan angan yang kau yakini benar
datangnya dan hilang sekejap lalu

atau kau tambatkan semuanya
dengan tonggak pena dan perahu kertas
yang akan mengayuh dan membawamu ke sana
tanpa ada luka dan sayatan air mata
yang terpaksa membelah di pipimu

kau kan juga selalu tegar
ketika bah sepi datang tiba-tiba merangkulmu
karena kau selalu ukir bekas sujud di sajadahmu
pada malam-malam yang kian kering terbaring
hingga pada lesatan panah-panah do’a
dari bayang-bayang wajah ibumu

satu lagi,
jendela bus itu terpaksa bergetar
saat derit rem menyalak keras
dan membuyarkan rangkaian batu bata azzammu
hingga kau sadari bahwa telah sampailah
diri di punggung tanah ini
dan meninggalkan catatan rekaman memorimu
yang terlanjur tertoreh di kacanya.
***
Akhir 2002, awal 2003

Riza Almanfaluthi
dedaunan di ranting cemara
01:39 22 Desember 2007

Entry Filed under: Poem. .

Leave a Comment

Required

Required, hidden

Some HTML allowed:
<a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <pre> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>

Trackback this post  |  Subscribe to the comments via RSS Feed






Palestine Blogs - The Gazette



KampungBlog.com - Kumpulan Blog-Blog Indonesia

Telah Dikunjungi

 

December 2007
M T W T F S S
« Nov   Jan »
 12
3456789
10111213141516
17181920212223
24252627282930
31  

Categories

Arsip

Blogger

Blogroll

Situs-situs Khusus

Ikhwan & Akhwat Tarbiyah

Best Friends

Downloads

Recent Posts

Recent Comments

deset on Konsultasi Pajak
Ocha on TIPS MEMILIH WADAH PLASTIK YAN…
buJaNG on KATA-KATA ATAU UCAPAN DALAM KA…
dEe_aNa on BANK SOAL UJIAN NASIONAL …
riza on Who I am?
AIRA on SPT Tahunan Pajak Penghasilan …

Top Clicks

Top Posts

Feeds

Meta

Spam Blocked