Archive for December 19th, 2007

HAJJAH INUL DARATISTA

Pada tanggal 13 Desember 2007, Inul Daratista, penyanyi dangdut yang terkenal dengan goyang ngebornya, pergi meninggalkan tanah air untuk menunaikan ibadah haji. Bersama sang suami tercinta, Adam Suseno, tentunya. Suatu saat saya membayangkan adanya dialog imajiner antara saya dan penyanyi tersebut pasca kepulangannya dari tanah suci. Saya berharap mendapatkan cerita perjalanan spiritual yang menggedor itu darinya.
Riza : Assalaamu’alaikum Mbak Inul, apa kabar?
Inul : Alhamdulillah baik Mas Riza.
Riza : Wah, saya bersyukur Mbak bisa naik haji nih. Kayaknya Mbak Inul punya panggilan baru sekarang. Boleh dong saya panggil dengan sebutan Hajjah Inul Daratista, atau ibu Hajjah gitu…?
Inul : Ndak perlu Mas. Panggil saya sebagaimana biasanya saja. Haji itu ibadah kok, bukan status. Dan enggak lucu kan kalau di atas panggung nantinya, dipanggil begini: “Selanjutnya, kita tampilkan Ibu Hajjah Inul Daraaaatistaaaaaa…!”
Riza : Raja danggut kita kan biasa disebut bang haji tuh Mbak.
Inul : Beliau-beliau, saya-saya.
Riza : Mbak masih sakit hati yah dengan peristiwa dulu?
(Bang haji Rhoma Irama ‘mengharamkan’ lagu-lagunya dinyanyikan oleh Inul, alasannya ia telah menjual erotisme dalam musik dangdut yang telah diperjuangkan oleh Bang Haji dalam tiga dekade terakhir untuk menjadi musik kelas atas yang disegani oleh siapapun. Pen.)
Inul : Ndak juga.

Continue Reading Add comment Wednesday, 19 December 2007

RINDU TAK BERBALAS

Menunaikan ibadah haji adalah sebuah amal untuk memenuhi panggilan khusus dari Allah swt. Hanya orang-orang yang terpilih saja yang bisa menunaikannya. Ada begitu banyak muslim yang berpunya dari segi harta dan fisik tetapi tidak ada sedikitpun gerak dalam hati untuk memenuhi seruan-Nya. Ada banyak macam alasan yang biasa diperdengarkan. Mulai dari kesibukan mengurus penghidupan yang tiada habisnya, anak-anak yang masih kecil, sampai yang memang tidak punya niat sama sekali untuk pergi ke tanah suci.
Namun seringkali kita jumpai betapa banyak muslim yang begitu merindukan mengumandangkan teriakan “labbaik allohumma labbaik” dan merindukan tetesan-tetesan airmata jatuh dalam pemenuhan keharuan melihat rumah Allah tetapi Allah belum juga memanggilnya, karena ada sesuatu dan lain hal yang tidak bisa diketahui oleh para hamba-Nya. Entah karena ketidakmampuan dalam masalah finansial hingga fisik yang tidak mampu.
Contoh terdekat adalah Ustadz Fahruddin yang biasa mengisi pengajian malam ahad di masjid kami, Masjid Al-Ikhwan. Beliau ini berencana untuk pergi haji di tahun ini. Dulu ia pernah menapaktilasi kewajiban itu dua kali dalam jangka waktu sepuluh tahun. Dan ini untuk yang ketiga kalinya. Alhamdulillah, untuk masalah ongkos naik haji ia tidak perlu memikirkannya. Karena ada salah seorang muridnya yang bersimpati dengan beliau dan berniat untuk membiayai seluruh biaya perjalanan itu. Tetapi hanya untuk beliau saja sedangkan istrinya tidak diikutkan.
Mendapatkan rezeki yang besar tersebut maka bersiap-siaplah beliau untuk menempuhi seluruh rangkaian ritual haji yang akan benar-benar menguras fisiknya. Dan ia didaulat sebagai pimpinan rombongan karena dianggap sudah berpengalaman. Beliau juga meminta doa kepada jama’ah Masjid Al-Ikhwan agar Allah memberikan kekuatan pada dirinya. Sebaliknya kami pun meminta pada beliau agar mendoakan kami untuk bisa berangkat haji sebagai perwujudan pemenuhan kesempurnaan rukun Islam.

Continue Reading Add comment Wednesday, 19 December 2007

BIODATA PERNIKAHAN

Bagi para pemuda ataupun pemudi yang konsisten memegang teguh agamanya di zaman seperti ini, pacaran dengan lawan jenis sebelum menikah adalah sesuatu yang amat dijauhinya. Mereka tahu, bagaimana akan mendapatkan sesuatu yang berkah dan maslahat dalam kehidupan rumah tangganya, bagaimana akan mendapatkan generasi rabbani yang kuat dan menjadi pilar penegak sebuah peradaban Islam yang baru, jika segalanya diawali dengan sesuatu yang tidak baik dan diridhai oleh Allah.
Oleh karena itu dalam mencari pasangan hidupnya mereka menempuh jalur yang sudah dianggap kuno oleh masyarakat moderen sekarang ini. Yaitu yang pertama, orang tua mencarikan jodoh dan menikahkan anak perempuannya. Yang kedua, orang tua aktif mencarikan suami bagi anak perempuannya. Yang ketiga, diproses pernikahannya oleh orang-orang yang sholeh. Yang keempat, mencari sendiri jodohnya. Yang kelima, wanita menawarkan dirinya kepada laki-laki yang sholeh. Yang terakhir ini bukanlah aib atau cela. Yang penting teknisnya dilakukan dengan jalan yang bijak dan sesuai dengan fitrah wantia.

Continue Reading 18 comments Wednesday, 19 December 2007

Surat Terbuka Untuk Ikhwah

Assalaamu’alaikum warahmatullahi wabaarokaatuh.
Bismillahirrahmaanirrahiim.
Semoga Allah senantiasa memberikan dan menetapkan hidayah kepada kita semua. Semoga salam dan shalawat senantiasa tercurah kepada junjungan nabi kita Sayyidina Muhammad Saw.
Ikhwatifillah yang saya cintai karena Allah izinkan saya menulis untuk antum semua peserta forum tarbiyah di sini tentang sebuah kegundahan yang menggumpal dalam dada saya. Sebuah perenungan yang saya bawa sampai ke rumah dan yang membuat saya tidak bisa tidur tadi malam. Sebuah perenungan tentang apa yang telah saya perbuat untuk menyiarkan dakwah ini kepada sekitar dan terutama sekali kepada para peserta forum DSHNet. Ada dua poin sebenarnya yaitu gundah dan renung.
Saya utarakan kegundahan saya dulu yang pertama. Kemarin tepatnya hari senin tanggal 19 Nopember 2007, sekitar pukul 16.45 WIB di forum dakwah ada sebuah postingan yang judulnya adalah kurang lebih demikian Syiah dan Sunni Sama-sama bersihnya. Yang memosting saya lupa tapi saya tahu pasti tentang berapa IP Address-nya, Kantor Pelayanan Pajak (KPP) Batu. Kalau mendengar nama KPP ini maka yang telah berkecimpung lama di forum dakwah akan mengetahui ada saudara kita yang senantiasa membenci dakwah kita.tidak perlu disebutkan namanya di sini.
Saya memang selalu mencermati setiap postingan dari KPP batu sebagai bentuk pengawasan saya. Dan biasanya ketika ada sindiran-sindiran (dan celaan) darinya saya langsung melakukan tindakan untuk menonaktifkannya tanpa peringatan terlebih dahulu. Karena sudah berapa kali peringatan itu diberikan tetapi tidak pernah digubris oleh saudara kita itu—Semoga Allah memberikan kelembutan padanya. Dalam satu saat ia bisa mengganti nick beberapa kali untuk bisa bergabung kembali di forum. Dan saya melakukan apa yang sudah menjadi tugas saya. Tinggal siapa yang paling kuat sabarnya antara saya dengan dia saja.
Yang paling sering dilontarkan adalah tentang masalah gugatan terhadap moderator, politik, dan syiah. Terutama tentang syiah kurang lebihnya demikian: “Sudah tahu sesat tapi masih saja mengagung-agungkan para pemimpinnya.” Kali ini, sore kemarin itu, ia memosting satu paragraf saja sebagai berikut:

Continue Reading 9 comments Wednesday, 19 December 2007

GALAU VLADIMIR DONOMAKH

Vladimir Donomakh, seorang muallaf Rusia lagi semangat-semangatnya untuk menekuni dan mendalami syari’at Islam, agama yang dipeluknya tiga bulan lalu. Ia sering bertanya apa saja kepada imam masjid kota Toronto dan para imigran muslim lainnya. Ia bertanya tentang bagaimana tatacara sholat yang baik, tentang haji—sebuah perjalanan spiritual yang diidam-idamkannya, tentang puasa di bulan ramadhan, zakat dan masih banyak yang lainnya.
Tidak sekadar bertanya, setiap ada amalan baik yang dianjurkan dalam agama mulia itu dan ia tahu walaupun sedikit ia langsung mengamalkannya dengan sebaik-baiknya. Ia tahu ia harus beribadah sebanyak mungkin untuk menutupi kesia-siaan hidup 30 tahun yang ia lalui tanpa adanya sebuah kebenaran.
Tidak hanya dengan ilmu syariat yang ia pelajari, ilmu hati pun ia tekuni. Bagaimana ia harus belajar untuk mengendalikan lisan dan hatinya agar tidak terkotori oleh titik-titik dosa. Malam-malamnya ia lalui dengan tahajjud dan tangisannya kepada Allah. Mengharapkan dan merindukan surga-Nya dan takut akan neraka-Nya.

Continue Reading Add comment Wednesday, 19 December 2007

PERGILAH KAU KARTU KREDIT

Saya ini orangnya enggak enakan sama orang lain. Makanya ketika salesman kartu kredit menghampiri saya, memelas, dan mendesak saya untuk membuat kartu kredit BNI, dengan terpaksa saya mengiyakan serta mengisi aplikasi pendaftaran.
Padahal dari dulu saya sangat berhati-hati sekali dengan kartu kredit. Karena sudah banyak saya dengar dan saya baca bagaimana akhir dari orang-orang yang tidak bijak memakai kartu kredit. Mulai dari diteror dan diintimidasi oleh para juru tagih, bunga yang mencekik tinggi, atau tagihan asal-asalan karena kelalaian administrasi dari penerbit kartu itu. Alasan satu lagi sebenarnya adalah saya sedang belajar untuk menghindari transaksi-transaksi ribawi.
Lalu pada kasus ini kenapa saya menerima dan mengisi aplikasi tersebut? Waktu itu saya berpikir karena tahun pertama tidak ada iuran gratisnya, juga beralasan bisa membeli barang-barang 0% bunga dengan cara mencicil, fasilitas gratis di eksekutif lounge dan banyak tempat lainnya. Itu saja sih.
Kejadiannya sudah setahun lalu di bulan November tahun 2006. Akhirnya saya dapat kartu kredit BNI VISA GOLD yang limit pengambilan tunainya bisa lebih dari 10 juta. Sesuatu yang diirikan oleh teman saya karena kenapa dirinya tidak mendapatkan limit yang tinggi seperti yang saya dapatkan. Dan apa yang terjadi teman-teman setelah saya mendapatkan kartu emas itu?

Continue Reading 3 comments Wednesday, 19 December 2007

Mencari Kawan Lama

Pagi ini setelah tiba di kantor saya langsung membuka Ciblog, lalu login dan saya mengklik tombol Add New Entry. Bukannya langsung menuliskan apa yang ingin ditulis, saya cuma memandang layar komputer dengan lama. Bingung apa yang mau ditulis.

Karena lama tidak mendapatkan ide maka saya melakukan kegiatan lain yaitu membuka-buka email di inbox pajak. Membaca beberapa email dan pada saat saya membaca salah satu email itu mata saya tertumpu pada sebuah nama penerima email dari sekian banyak penerima email forward-an itu: Sulis. Saya tidak mengenalnya, tapi saya jadi teringat seorang teman saya yang juga ada nama-nama sulisnya. Tapi saya lupa nama lengkapnya.

Untuk itu saya membuka homepage browser saya: situs kepegawaian. Lalu mengetik nama sulis di kolom pencarian data kepegawaian. Byarrr…dari result-nya bisa banyak juga nama yang mengandung kata sulis didalamnya. Dan saya melihatnya satu persatu fotonya yang sudah lama tidak saya lihat. Yup, akhirnya ketemu juga. Foto itu dari zaman dulu belum diganti pula, masih dengan jilbab birunya.

Continue Reading 1 comment Wednesday, 19 December 2007

MENGELUHKU TENTANG HUJAN

Pagi itu cuaca mendung, langit hitam tidak membiarkan mentari pagi memberikan secercah sinarnya pada bumi. Saya sudah berpikir bahwa biasanya kalau Citayam sudah gelap, berarti di Jakarta juga sama akan turun hujan. Dan saya melihat ke langit utara, betul sama gelapnya. Saya sudah menyiapkan mantel yang kugantungkan di buntut motorku. Saya tidak ingin kehujanan masuk ke kantor seperti dulu saat saya meremehkan alam dengan mengatakan, “ah, paling hujannya sebentar.”
Saya sudah terlambat lima menit dari kebiasaan berangkatku setiap paginya. Apalagi tangki motorku kosong, maka saya harus mampir dulu ke kios penjual bensin untuk mengisi bensin barang satu atau dua liter. Sudah barang tentu ini akan memperlambat perjalanan lagi. Ditambah kalau benar-benar hujan dengan ban sudah hampir gundul dan jalanan Jakarta yang tidak bisa diprediksikan kemacetannya saya tidak akan bisa melajukan kendaraan dengan cepat. Hati saya sudah deg-degan. Khawatir terlambat.
Dan betul tidak lama kemudian, hujan turun walaupun baru rintik-rintiknya. Saya harus menepi untuk memakai mantel hujan. Ini pun memakan waktu. Setelah selesai memakainya, saya pun kembali melanjutkan perjalanan ke kantor. Saya baru teringat bahwa walaupun saya memakai mantel tapi mantel ini belumlah mampu untuk menahan air hujan yang amat deras masuk membasahi pakaian saya. Kalau gerimis-gerimis saja sih Insya Allah mantel itu mampu melindungi saya dari kebasahan.

Continue Reading Add comment Wednesday, 19 December 2007

KUHADIAHI DIA DENGAN CIUMAN GANASKU

Di saat pulang kerja, atau pulang dari mana saja, atau di saat apapun, dan di saat kerinduan saya merayap ke sekujur tubuh pada anak-anak saya, maka seringkali saya meminta pada anak-anak saya untuk berkumpul setelah mereka mencium tangan saya.
“Haqi, Ayyasy ke sini! Abi bawa hadiah nih,” teriakku kepada mereka berdua. Mereka kalau sudah mendengar kata ‘hadiah’ girangnya bukan main.
“Hadiah apaan Bi?” tanya si bungsu, Ayyasy, yang biasanya paling antusias. Iya, dia yang paling duluan merebut kantong plastik hitam yang biasa tergantung di stang motorku kalau saya pulang dari kantor. Kayaknya dia seneng banget kalau ada saja yang dibawaku.
Kali ini tidak ada kantong plastik hitam itu. “Hadiahnya adalah cium abi dong,” jawabku. Serempak mereka berdua berkata, “yahhhh….” Walaupun demikian mereka tetap menciumku. Caranya adalah saya menyodorkan pipi kanan saya kepada mereka lalu mereka mencium pipi saya itu. Lalu menyodorkan pipi kiri saya dan mereka melakukan hal yang sama. Terakhir saya akan mencium bibir mereka masing-masing. Tapi, sejak Haqi sudah kelas dua, Ia sudah tidak mau lagi dicium bibirnya oleh saya. Geli kali…Untuk Ayyasy kuhadiahi dia dengan bonus ciuman ganasku pada pipinya, karena pipinya yang tembem itu loh, menggemaskan.
Di saat saya memberikan hadiah yang sebenarnya kepada mereka atau membawa oleh-oleh untuk mereka, maka seringkali saya meminta kepada mereka untuk menciumku. Setelah itu terasa ada kebahagiaan pada diri saya. Indah nian…

Continue Reading Add comment Wednesday, 19 December 2007

540

Adalah kilometer yang harus saya tempuh dalam perjalanan balik saya dari Tlogosari, Semarang ke Pabuaran, Bojonggede. Ini adalah pengalaman pertama dalam seumur hidup saya mengendarai sendiri mobil yang menempuh jarak ratusan kilometer. Waktu mudik di H-1, hari Jum’at (12/10) keluarga di Semarang belum memercayai saya untuk memegang sendiri kemudi sehingga harus mengirimkan orang terpercaya di keluarga kami untuk pegang kendali perjalanan mudik itu.
Ohya, perjalanan mudik kami saat itu terasa menyenangkan. Mengapa? Karena perjalanan kami lancar-lancar saja dan tidak terjebak kemacetan berjam-jam seperti yang diberitakan di malam sebelumnya atau di H-2 dan H-3-nya. Ini dikarenakan kami berangkat ba’da shubuh, tepatnya pukul 05.30 WIB di Jum’at itu. Coba kalau kami memaksakan diri untuk berangkat di malamnya, pasti kami terjebak di Tol Cikampek atau Tol Kanci yang padat merayap.
Dari pengalaman mudik dari Jakarta ke Semarang yang menarik itu saya bertekad bahwa nanti kalau balik dari Semarang ke Jakarta, saya sendiri yang harus menyupiri. Orang lain? No way. “Bener, nih?” tanya ipar saya setengah tidak percaya. “Insya Allah,” tegas saya.
Maka untuk mempersiapkannya, saya sering jalan-jalan menyusuri jalanan Semarang dan paling jauh ke rumahnya Mbah Redjo*) di sekitar Borobudur, Magelang dengan menempuh jarak 80 kilometer lebih dengan jalan dua arah yang sempit dan tidak selebar jalan pantura Jawa Barat. Apalagi terasa beratnya menaiki jalanan mendaki di sekitar Ungaran dan berliku di Bawen. Alhamdulillah berhasil juga sampai ke Magelang. Ini menambah kepercayaan diri saya bahwa saya bisa pergi ke Jakarta sendiri.

Continue Reading 1 comment Wednesday, 19 December 2007

Previous Posts






Palestine Blogs - The Gazette



KampungBlog.com - Kumpulan Blog-Blog Indonesia

Telah Dikunjungi

 

December 2007
M T W T F S S
« Nov   Jan »
 12
3456789
10111213141516
17181920212223
24252627282930
31  

Categories

Arsip

Blogger

Blogroll

Situs-situs Khusus

Ikhwan & Akhwat Tarbiyah

Best Friends

Downloads

Recent Posts

Recent Comments

rara on OBAT MANJUR BUAT AMBEIEN …
Dian on TATA CARA / PROSEDUR PENDAFTAR…
yuni on OBAT MANJUR BUAT AMBEIEN …
asep on OBAT MANJUR BUAT AMBEIEN …
Akhmad Zainuddin on Istriku: Aku Minta Izin B…
Akhmad Zainuddin on Konsultasi Pajak

Top Clicks

Top Posts

Feeds

Meta

Spam Blocked