Archive for December 18th, 2007
MASIH KERE, MASIH MELARAT
Dulu sebelum moderenisasi pajak saya sudah dianggap sebagai orang “kaya” oleh teman-teman saya. Saya beri tanda kutip pada kata kaya karena kaya di sini bukan berarti saya punya rumah gedong, uang berlimpah di bank, punya banyak gebetan Wajib Pajak, punya sampingan mengajar di mana-mana, dan punya-punya yang lainnya.
Saya ingat betul seorang teman pernah bilang kepada saya, “Enak betul kamu Za, sudah punya rumah, punya motor, punya istri, punya anak, kerja di pajak, sudah sarjana pula.” Bagi teman saya itu, saya adalah sosok kesempurnaan dari sebuah kesuksesan. Padahal menurut saya banyak sekali orang pajak yang jauh melebihi segalanya daripada saya. Lebih kaya dan lebih sukses.
Pula rumah saya cuma rumah kreditan yang harus saya bayar selama lima belas tahun. Bukan di tengah kota tapi di pinggirannya malah. Yang orang pajak lain akan berkerut dahinya kalau saya sebutkan daerah itu. Motor memang tidak kreditan tapi itu pun diberi oleh teman baik saya. Saya memang punya istri biasa saja, bukan seleb yang luar biasa cantiknya, tapi cukup untuk meneduhkan mata dan hati saya.
Continue Reading 4 comments Tuesday, 18 December 2007
FALATEHAN
Ada lagi perbincangan menarik antara kyai dan santrinya. Tidak lagi tentang wanita idaman si Santri. Tapi, kini si Santri mulai memperbincangkan hal lainnya. Tentang sebuah sejarah masa lalu yang masih suram bagi dirinya.
Dan perbincangan itu tidak dilakukan di waktu ba’da subuh seperti dulu saat pagi masih bermandikan cahaya. Mereka berbincang-bincang saat mereka rehat di saung di tengah sawah setelah berlumpur-lumpur ria membersihkan tanaman padi dari rumput-rumput liar yang mengganggu.
Santri : Ki, kemarin dalam sebuah diskusi, seorang teman masih saja percaya bahwa sesungguhnya Fatahillah yang menakhlukkan Sunda Kelapa adalah Sunan Gunung Jati itu sendiri. Padahal dari sejarah yang saya baca dan juga dari film yang saya tonton dulu, Fatahillah dan Sunan Gunung Jati adalah orang yang berbeda. Mohon penjelasannya Ki?
Kyai : Kok tanyanya ke saya?
Santri : Ah, saya tahu Kyai sangat paham betul tentang sejarah ini. Di lemari buku Kyai saya lihat banyak sekali buku-buku sejarah. Apalagi kalau tidak salah Kyai juga keturunan Elang Cirebon.
Continue Reading 3 comments Tuesday, 18 December 2007
MAZHAB SELANGKANGAN
Saat ini saya tidak membahas masalah perbedaan pendapat di ranah fikih hanya gara-gara menampilkan judul dengan kata awal: mazhab. Karena sudah jelas tidak ada kata yang kedua dalam pemikiran Islam. Tetapi saat ini saya hendak mengutarakan sesuatu yang menjadi polemik belakangan ini. Polemik yang hampir-hampir menyerupai pertarungan pemikiran di tahun 70-an antara Nurkholis Madjid dan H.M. Rasyidi dan berpuncak di tahun 1994 antara Nurkholis Madjid dan Daud Rasyid di Taman Ismail Marzuki (TIM), yaitu polemik dan benturan pemikiran Islam versus sekulerisme.
Setelah rehat beberapa saat—walaupun masing-masing telah bermetamorfosis membentuk lembaga-lembaga sesuai dengan keyakinan pemikirannya masing-masing seperti partai politik atau jaringan komunitas—maka polemik itu muncul kembali. Tidak di ranah yang sama, tapi di ranah yang sepi dari publikasi dan apresiasi masyarakat secara luas yaitu sastra. Maka dari itu kebanyakan yang mengetahui polemik ini adalah mereka selaku pegiat sastra Indonesia, baik pelaku, penikmat, penggembira atau sekadar kepura-puraan dari ketiganya.
Polemik itu dimulai dengan tulisan Hudan Hidayat (pengusung liberalisme sastra) di Jawa Pos (06 Mei 2007) yang “membuka front” dengan mengkritik Pidato Kebudayaan Taufik Ismail yang dibacakan (lagi-lagi) di TIM akhir tahun lalu. Dalam pidatonya itu Taufik Ismail membunyikan genderang perang terhadap para satrawan atau cuma setengah sastrawan yang mengusung Gerakan Syahwat Merdeka (GSM) di setiap karya mereka. Maka setelah dipicu demikian, perang pemikiran sastra meledak dengan hebatnya. Entah melalui media nasional ataupun lokal dan diskusi-diskusi komunitas.
Continue Reading 6 comments Tuesday, 18 December 2007
Lengkung Pelangi Senyummu
senja memeluk hangat
gunung-gunung di atas rawapening
citrakan seraut wajah
utuh penuh kesenduan
tanpa lengkung pelangi senyummu
yang dingin menelisik
reruntuhan renjanamu
Ambarawa, 12 Juli 2007
Riza
1 comment Tuesday, 18 December 2007
Jelmaan Kubur
Saya buat saat melihat di senayan sedang ribut-ribut mengenai dana DKP. Antara BK, Fahri, dan KPK. Tinggal melihat keadilan Allah saja nanti di Padang Mahsyar.
II.
Jelmaan Kubur
kubur menjelma di otakmu
yang berdenyut penuh kolesterol
batu nisan berkelindan kuat di perutmu
penuh duit proyek, sikat menyikat teman sejawat
kembang tujuh rupa menjadi penghias
kepala botakmu yang berminyak
air mawar adalah tenggakan terakhir
untuk mulut-mulutmu yang tak letih
tebarkan janji dan keadilan
tanah merah berkilo-kilo beratnya
menjadi pakaianmu
yang licin dan necis tanpa kusut
wahai manusia penghuni Senayan
aku Izrail siapkan diri
menagih tebaranmu
tiba-tiba matamu melotot
mendelik ke sana ke mari
keluar dari kelopak
saat aku cabut kehidupan
dari jempolmu yang bau,
ternyata kau dusta…!!!
Tlogosari, 11 Juli 2007
Fahri, bersabarlah.
Add comment Tuesday, 18 December 2007
Mencabik Luka
Saya buat di Semarang. Dalam secarik kertas bergambar F4 milik keponakan saya. Lengkap dengan foto-foto 4 pemuda pemeran utama di Meteor Garden. Ada tulisan besar di sana: I Love F4. Di sini tidak untuk membahas mereka, sekadar pembuka saja untuk puisi-puisi ini.
I.
Mencabik Luka
inilah sebongkah luka menganga di jemari lentikmu tak peduli pada debur asa yang menjilat-jilat relung peraduan batin tak peduli pada garam yang bertaburan di atasnya mencabik luka memerahkan nadi mengiris vena itupun tak berarti karena aku adalah keberartianmu?
Tlogosari, 11 Juli 2007
Add comment Tuesday, 18 December 2007
MUKA BANDIT
Sabtu pagi pukul 10.00 tepat saya meninggalkan halaman masjid tempat pertemuan pekanan dilakukan untuk menuju bandara Soekarno Hatta menjemput paman saya yang akan tiba dari Arab Saudi. Menurut SMS yang saya terima dari rombongan keluarga paman saya yang sudah terlebih dahulu sampai di bandara, rencananya pesawat yang membawa paman saya itu akan mendarat pukul 13.00 WIB.
Perjalanan yang biasa saya tempuh ke sana adalah dengan naik KRL di stasiun Citayam lalu turun di Stasiun Pasar Minggu. Kemudian melanjutkan perjalanan dengan Bus Damri yang biasa mangkal di Terminal Pasar Minggu. Sampai di bandara, di terminal 2, jam satu siang kurang sedikit. Ternyata berdasarkan jadwal yang terpampang di layar pengumuman pendaratan, pesawat Saudi Airlines itu baru tiba di Indonesia pukul 13.54 WIB.
Dan baru pada jam setengah empat sore, saya benar-benar dapat melihat paman saya keluar dari pintu kedatangan. Setelah berbasa-basi sebentar dia bilang, “Besok kita ke PRJ, antar yah…”
Siap…!
Pekan Raya Jakarta
Perjalanan kemarin amat melelahkan menurut saya. Selain karena harus mampir di rumah teman paman saya di daerah Ciledug, kapasitas angkut yang berlebih sehingga kami harus berdesakan, juga perjalanan pulang ke tempat saya yang memakan waktu lama. Kini esoknya, di hari ahad ini, saya pun harus menemani paman saya yang ingin berjalan-jalan di Pekan Raya Jakarta (PRJ). Rencananya pula sehabis dari PRJ kami akan mengunjungi Masjid Kubah Emas. “Mumpung di Jakarta, ” kata bibi saya.
Oke deh…walaupun lelah dari kemarin belum juga kunjung hilang, saya menyanggupi untuk mengantar mereka. Dalam hati saya berkata “kepada keluarga siapa lagi saya akan berbakti setelah ibu saya meninggal?”
Perjalanan di mulai dari pintu tol Cieutereup lalu keluar di pintu tol Ancol-Mangga Dua. Tidak berapa lama kami pun sampai di arena PRJ. Setelah memarkirkan mobil, kami bergegas untuk memasuki tempat pameran. Tiket masuk per kepala sebesar Rp20.000,00 di hari libu. Anak umur 3 tahun ke atas diharuskan memiliki tiket pula.
Terus terang saja, saya termasuk orang yang tidak menyukai keramaian pasar atau mal. Selain karena bisa menaikkan syahwat belanja juga bisa meliarkan hasrat hedonisme manusia—dan untuk mengatasi ini saya cuma membawa uang tunai seratus ribu saja agar saya menyadari saat “ingin” sesuatu, uang saya hanya segitunya saja.
Semakin siang semakin banyak pula pengunjung yang datang. Dan tidak terasa saat saya berkunjung di stand daerah dan UKM, saya telah berpisah dari rombongan utama. Saya raba saku saya, hp saya masih ada ditempatnya. Tapi ada yang aneh, kok selama ini tidak ada aktivitas getar dari hp itu. Alamak, ternyata hp saya sudah mati. Lalu bagaimana saya harus mencari mereka di antara puluhan ribu orang yang berada di tempat itu.
Saya lakoni cara manual, berkeliling ke berbagai tempat utama pameran. Dari hall ke hall, dari stand ke stand, dari counter ke counter. Tidak ketemu…! Kaki saya sampai pegal-pegal. Istirahat deh di salah satu sudut counter penjual makanan ringan. Sambil melihat-lihat sekeliling, kali aja ada yang bisa meminjamkan charger atau hp—ingat loh saya tidak meminta pulsa kepada mereka.
Continue Reading 1 comment Tuesday, 18 December 2007
Biola Tak Berdawai
Biola Tak Berdawai
:Sebuah Roman
Seno Gumira Ajidarma & Sekar Ayu Asmara
Penerbit PT Andal Krida Nusantara (Akur)
Cet. II Maret 2004
Tanpa dawai, bagaimanakah biola bisa bersuara? Biola bagaikan tubuh, dan suara itulah jiwanya—tetapi di sebelah manakah dawai dalam tubuh manusia yang membuatnya bicara? Jiwa hanya bisa disuarakan lewat tubuh manusia, tetapi ketika tubuh manusia itu tidak mampu menjadi perantara yang mampu menjelmakan jiwa, tubuh itu bagaikan biola tak berdawai. (Prolog, hal 1)
Buku ini ditulis berdasarkan skenario dan film karya Sekar Ayu Asmara. Dengan cara pandang seorang anak tunadaksa (dengan banyak cacat yang diderita) bernama Dewa. Autistik, bisu, tubuh kecil yang tidak bisa berkembang, mata terbuka tapi tidak melihat, telinga yang bisa menangkap bunyi tapi tidak mendengar, jaringan otak yang rusak, leher yang selalu miring, kepala yang selalu tertunduk, wajah bagaikan anak genderuwo adalah gambaran dari anak itu.
Sebagai salah satu bayi yang tumbuh besar sampai umur delapan tahun—yang di luar perkiraan kebanyakan orang di panti asuhan tersebut, ia adalah belahan jiwa dari salah seorang pengasuhnya, Renjani. Renjani bersama Mbak Wid adalah pengurus panti asuhan yang bernama Rumah Asuh Ibu Sejati, terletak di daerah para pengrajin perak bernama Kotagede di pinggiran kota Yogyakarta. Tempat di mana mereka menampung bayi-bayi yang tidak dikehendaki, karena cacat ataupun karena hasil dari hubungan gelap.
Continue Reading Add comment Tuesday, 18 December 2007







