Archive for December 13th, 2007
Saya Bukan Juru Ledak
Satu manfaat kita mengikuti milis adalah kita bisa berbagi. Yang paling penting adalah berbagi informasi dan apa saja terkecuali—seperti yang selalu teman saya bilang , Mas Soy—hati dan perasaan (halah…).
Tentunya milis yang benar-benar menjadikan diri kita insider bukan outsider. Maksudnya milis itu memang berkaitan dengan yang segala sesuatu kita sukai bukan yang tidak ada hubungannya sama sekali dengan kita. Tapi ada saja yang memang mengikuti milis bukan untuk take and give tapi memberi saja. Biasanya ini cuma untuk penyebaran opini, pemasaran bisnis pribadi, atawa spam tidak bermutu.
Kalau kita mengikuti milis yang tidak disukai, tepatnya memang tidak ada kaitannya sama sekali dengan kesukaan, hobi, atau pekerjaan kita maka bersiap-siaplah menjadi orang yang terasing, yang bloon dan melongo tidak tahu apa yang didiskusikan. Hasilnya ini membuang-buang bandwith saja. Lalu buat apa dipertahankan, so tinggal unsubscribe saja.
Continue Reading Add comment Thursday, 13 December 2007
”MENEMBAK” ANAK TETANGGA
Melihatnya dan mendengar curahan hatinya seperti melihat diri saya sendiri berumur belasan tahun. Kegundahan hati anak yang baru menginjak kelas satu SMP ini—sebut saja Alex—terasa sekali dari setiap gerakan matanya. Bahkan sangat mencolok dengan hembusan nafas yang ia perdengarkan ke sekeliling untuk meneguhkan hatinya yang tumbang karena penolakan.
Ya, anak tetangga saya satu RT ini baru saja ‘menembak’ Bunga—remaja perempuan yang umurnya pun baru belasan tahun dan duduk di kelas tiga SMP. Ia pun anak dari tetangga saya yang lain. Hasil dari tembakannya bisa ditebak karena selain tidak memenuhi kriteria menurut pandangan kapitalisme yaitu tinggi, putih, dan macho juga tentunya si Alex umurnya jauh di bawah Bunga. Walaupun sempat terucap dari Bunga: ”itulah namanya cinta”, saat ditanya oleh si Alex ”bolehkah saya mencintaimu walau engkau kakak kelas saya.”
Luar biasa filosofisnya perjalanan kehidupan anak-anak zaman sekarang. Filosofi yang dikarbit untuk mengejar waktu yang membuat mereka lebih cepat dewasa dari yang sebenarnya. Dengan bahan karbit berupa tayangan sinetron remaja penuh hedonisme di setiap malamnya dan pesan-pesan singkat yang bersileweran via telepon genggam yang sudah menjadi aksesoris primer.
Continue Reading 1 comment Thursday, 13 December 2007
Renda Cinta
renda cinta
setelah tiada jarak
tiada lagi resah kesah
tiada lagi lagu-lagu syahdu
tiada lagi sunyinya malam
tiada lagi dentingan yang mendayu
tiada lagi bening di sudut mata
tiada lagi merenung di balik jendela
tiada lagi memandang rintik hujan
setelah tiada jarak
saatnya merenda cinta bukan…?
kau dan ia tentunya
aku?
cuma desiran angin yang menerpa wajahmu
riza almanfaluthi
dedaunan di ranting cemara
Buitenzorg Semakin Dingin
04:42
04 September 2006
Add comment Thursday, 13 December 2007
SUATU SAAT SAYA AKAN MENGGIGIT KAMU
Berbulan-bulan sudah saya tidak pernah mencicipi kue ini. Ada sih kue sejenis ini: serabi solo. Kalau yang ini juga saya doyan dan sering makan di Kalibata sini. Tapi saya ingin yang klasik, yang konvensional. Kue serabi yang biasa saja itu loh. Yang sering saya jumpai di kampung halaman di setiap ahad pagi sehabis jogging.
Ada yang berwarna putih dan ada pula yang berwarna merah. Kalau yang putih tentu rasanya asin biasa atau gurih. Tapi yang merah tentunya manis karena ditambah dengan gula merah cair oleh bibik-bibik penjual kue serabi. Dan sedapnya….tanpa di tambah-tambah dengan cairan gula lainnya seperti kue serabi yang ada di Bandung atau Jakarta.
Waktu pulang ke Semarang kemarin (ini kemarinnya orang Jawa yah…) saya mencari-cari kue ini. Hasilnya nihil. Tidak barang sebiji pun yang bisa saya jumpai. Padahal saya sedang kangen-kangennya sama itu tuh barang. Uh…
Tapi, akhirnya Allah mempertemukan juga dengan kue itu. Tiga hari lalu, di rute baru yang saya tempuh dalam perjalanan menuju kantor, di dekat perlintasan kereta api Pasar Minggu menuju Condet, di ujung gang ada ibu muda penjual kue itu sedang asyik membakar serabi dalam gerabah hitamnya. Tapi karena saya sedang diburu oleh waktu untuk segera meletakkan jempol kiri ini di finger print maka saya tidak berhenti untuk mencicipi salah satu warisan kuliner nenek moyang kita itu. Tetapi saya sudah mengincarnya. ”Suatu saat saya akan menggigit kamu,”tekadku.
Continue Reading Add comment Thursday, 13 December 2007
SEMANGAT CINTA DI FORUM KELUARGA
Setelah sang penjaga DSHNet itu pergi meninggalkan kantor pusat untuk menjalankan tugas di tempat baru, dan setelah begitu terbengkalai halaman depannya dengan berita-berita basi yang tidak up to date, dan setelah tanggung jawab di forum diskusi dipunggawai oleh salah seorang al-akh yang lain, tiba-tiba saja DSHNet itu menghilang.
Apa yang saya rasakan? Kalau Anda yang pernah membaca tulisan saya sebelumnya yang berjudul: akhir dari penantian panjang? di http://10.9.4.215/blog/dedaunan/11493 maka Anda akan melihat betapa rindunya saya dengan DSHNet. Rindu yang membuncah kerana saya sendiri yang tidak merasakan kelezatan berita DSHNet, asyiknya mengirim tulisan di partisipasi, dan lain-lain.
Tetapi sekarang, saya belum merasakan kerinduan itu. Walaupun lagi-lagi serasa seperti tercerabut dari akarnya. Mungkin dikarenakan tidak hanya saya yang kehilangan tetapi banyak teman yang senantiasa di setiap harinya memantau dan menemukan eksistensi dirinya di DSHNet, entah sebagai komentator dari berita-berita yang ada, atau sebagai pengirim ucapan yang setiap setiap saat di menu Kirim Ucapan, atau sebagai seorang yang haus akan kekerabatan di forum keluarga, bahkan penempur sejati di forum dakwah dengan segala cacian dan makiannya.
Berkaitan dengan forum inilah yang membuat saya merasakan ketidakrinduan ini terkecuali untuk bersilaturahim dengan para peserta forum di Keluarga. Karena selain di forum Keluarga—terutama di forum dakwah dan politik yang ada hanyalah kecaman, celaan, dan fitnah yang dibungkus dengan nasehat manis belaka. Yang tiada habis-hasbinya setiap hari digunakan untuk membongkar kelemahan kawan atau manhaj tertentu lainnya. Yang sudah pasti memang sudah berbeda dari sononya dan tidak pernah akan ketemu kalau tidak ada salah satunya yang mengalah.
Ternyata, hikmah apa yang saya dapatkan dari kehilangan DSHNet ini. Ini pengakuan jujur dari saya. Saya bisa lebih concern untuk memikirkan yang lain. Untuk menulis, untuk beraktivitas pada kegiatan utama sebagai seorang petugas pajak, untuk menambah hafalan, untuk membuat proyek ebook dari kumpulan tulisan saya di blog dedaunan di ranting cemara.
Continue Reading 4 comments Thursday, 13 December 2007
Rawat Helm Kita: Kepala Kita Tidak Senilai Uang 20 Ribu
Tanggal 06 Februari 2006 yang lalu saya membeli helm ‘termahal’ yang pernah saya beli. Helm bermerk Agiva ini dikasih banderol ‘cuma’ Rp175.000,00 di toko kecil di bilangan Lenteng Agung arah ke Depok.
Helm full face ini benar-benar saya rawat. Tidak seperti kebanyakan helm yang pernah saya miliki dulu. Dulu waktu masih memakai helm pemberian dari toko, warna putih tentunya, saya terbiasa untuk menggeletakannya begitu saja tanpa ada sedikitpun keinginan untuk merawat, membersihkannya, atau tetap menjadikannya senantiasa kinclong setiap harinya.
Kalau jatuh pun, saya tidak merasa hati ini tergores (halah…). Lecet-lecet, berdebu, kumuh, dan penyak-penyok (saya belum menemukan kata dalam bahasa Indonesianya yang pas) menjadi pemandangan biasa pada helm itu. Tapi itu dulu.
Kini setelah saya memiliki helm ini saya benar-benar merubah kebiasaan saya. Saya yang jarang merawat suatu benda saat ini berupaya dan bertekad bagaimana supaya helm ini senantiasa indah di pandang mata. Maka coba tebak apa yang saya lakukan…?
Pertama, saya selalu mengelapnya setiap hari body luar helm setelah saya pakai dalam perjalanan pulang pergi ke kantor. Tentu mengelapnya pun dengan bahan khusus, yakni dengan spray pengilat body motor. Sret…sret…sedikit, lalu saya lap dengan kanebo. ”Indah nian dikau…” kata saya dalam hati. Saking selalu mengilapnya saya kadang dalam perjalanan melalui spion motor berusaha melihat helm saya untuk mengetahui seberapa mengilatnya helm ini. Narsis sekali….
Tapi terkadang memang dalam sehari saya tidak membersihkan helm tersebut. Karena kecapekan setelah pulang kantor dan paginya tidak sempat karena terburu-buru harus berangkat lebih pagi. Maksimal dua hari sekali saya harus membersihkan helm tersebut, dengan bahan yang disemprotkan lebih banyak dan tekanan saat mengelap dobel juga. Idih…
Kedua, meletakannya dengan hati-hati di tempat yang bersih. Kalau di rumah ditempatkan di ruang tamu. Dengan menjauhkan segala benda dari dekatnya. Takut tergores gitu… . Saya selalu mewanti-wanti anak-anak saya agar berhati-hati di saat mereka saya suruh untuk menaruh helm ini. Dulu, saya punya helm ditaruh begitu saja di dapur, diatas rak sepatu, dan bercampur dengan berbagai macam benda, maka saksikan saja kepala selalu digaruk-garuk karena kegatelan.
Continue Reading Add comment Thursday, 13 December 2007
TUKANG SOL ITU TERNYATA….
Kembali saya diajak menuntaskan rasa rindu Qaulan Sadiida kepada ibunya. Dan daripada saya bete seharian di rumah sang Ibu, saya benar-benar berniat untuk hunting foto kota lama sepuas-puasnya. Ditemani dengan kakaknya saya kemudian kembali menuju lokasi tersebut.
Kini saya mengawalinya dengan mengambil gambar gedung bank mandiri, lalu gedung sebelahnya. Berlanjut dengan gedung GKBI lalu menuju Pabrik Rokok Praoe Lajar. Bangunan pabrik rokok ini, mungkin satu-satunya gedung yang masih menampakkan kekunoannya dengan sentuhan yang lebih terawat dan moderen dengan cat merah menyala yang amat artistik menurut saya.
Lalu kembali lagi menuju folder stasiun Tawang. Saya tidak ambil gambar bangunan stasiun Tawang, karena sudah pernah diambil setahun lalu. Setelah puas, lalu saya beranjak ke gedung yang dulunya merupakan rumah sakit jiwa untuk perempuan. Bangunannya sudah rusak berat tapi masih bisa dihuni oleh beberapa pedagang warung remang-remang. Sudah terkenal sekarang ini lokasi tersebut merupakan sarana pemuasan syahwat kelas bawah. Makanya jangan heran di sana setiap sorenya, sudah banyak wanita bergincu tebal menjajakan dirinya di depan pintu gedung itu yang kira-kira ada delapan buah .
Pantasan saja di saat saya mencoba mengambil gambar di sana, ada dua orang yang langsung masuk ke dalam bangunan tersebut. Mungkin mereka mengira saya wartawan dan takut diekspos di media. Ah, ada-ada saja. Masak tampang saya seperti ini dikira wartawan sih…
Perburuan terus berlanjut sampai di gedung Telkom dan gereja Blenduk serta bangunan di sekitar jalanan menuju Pasar Johar. Di tengah perburuan itu, saya berjumpa dengan tukang sol sepatu yang ternyata dia adalah penyuka fotografi dulunya. Kamera Canon ber-lensa tele sudah ia jual dulu sekali.
Padanyalah saya pun berkonsultasi masalah perawatan kamera dan bagaimana agar gambar yang diambil bisa bercerita banyak, tidak sekadar gambar belaka. Saya pun menegaskan kepadanya, saya itu cuma penyuka biasa saja. Dan belum mengerti sama sekali tentang fotografi.
Tuh kan… jangan pernah melihat siapa orangnya, tapi lihat apa yang ia katakan. Sambil meminum air es degan itulah saya mengambil banyak pengetahuan dari tukang sol itu. Setelah lama berdiskusi dan berbincang-bincang saya memutuskan untuk mengakhiri perburuan ini. Bukan masalah saya sudah bosan dengan sekitar tapi saya sudah tidak kuat sekali dengan terik matahari di siang bolong ini, apalagi kami belum mengisi perut. So, sekali lagi saya benar-benar tidak tahan dengan panasnya Semarang.
Continue Reading Add comment Thursday, 13 December 2007
HUNTING IMAJI DAN KULINER
Setelah semalamnya kami beristirahat total untuk merehatkan tubuh, pada hari ini kami sepakat untuk pergi ke rumah ibu yang berada di Poncol. Kami berempat pergi ke sana dengan mengendarai sepeda motor. Selalu saja antara Haqi dan ayyasy selalu bersaing untuk berada di depan. Pada akhirnya mereka selalu bertengkar pada masalah ini. Tapi saya tegaskan kepada mereka untuk gantian. Eh…maklum anak-anak. Padahal saya pikir apa enaknya sih duduk di depan. Tapi mungkin enggak enaknya kalau duduk di belakang pasti tidak bebas melihat pemandangan sekitar karena terjepit badan kedua orangtuanya.
Perjalanan kami tidak jauh, cuma menempuh sepuluh kilometer saja dari rumah kakak. Melewati kota lama yang dipenuhi dengan bangunan kuno saya berniat berhenti sebentar untuk potret-potret dengan kamera digital yang saya bawa: Nikon Coolpix 5700 bekas lungsuran teman yang mau berbaik hati merugi sekitar lima jutaan dari harga barunya untuk dibeli oleh saya.
Qaulan Sadiida tidak setuju untuk hunting foto pada saat ini. Kangen pada sang Ibu membuatnya tidak betah berlama-lama berhenti. “Sore saja nanti saat pulang,”katanya. Akhirnya saya menurut. Seharian kami di rumah sang Ibu.
Continue Reading Add comment Thursday, 13 December 2007
SEMARANG MEMANG PANAS
Tepat pukul 05.00, ba’da shubuh, kami berempat sudah bersiap-siap menuju Stasiun Jatinegara, karena Kereta Api Bisnis Fajar Utama jurusan Semarang Tawang sudah bersiap di stasiun itu pada pukul 07.30 pagi.
Tukang ojek yang biasanya banyak di pangkalan dekat rumah, ternyata pada saat itu tidak ada batang hidungnya satu pun. Akhirnya kami harus berjalan sekitar tiga ratus meter untuk mencari tukang ojek lain, sampai ketemu juga ojek langganan kami.
Sepuluh menit kemudian, saya, Qaulan Sadiida, Haqi, dan Ayyasy sudah berada di stasiun Citayam untuk naik KRL Jurusan Kota menuju Stasiun Tebet. Tidak lama KRL itu pun datang. Penuh juga ternyata. Kami pun harus berdesak-desakan. Saya sampai heran kenapa hari libur seperti ini masih KRL dijejali oleh banyak penumpang. Saya akhirnya menyadari bahwa ternyata banyak PNS yang berseragam Korpri masuk kantor untuk mengikuti upacara tujuh belas agustusan.
Continue Reading Add comment Thursday, 13 December 2007
KADO TERAKHIR BUAT TIBO, DOMINGGUS, DAN MARINUS
Eksekusi yang saya tunggu-tunggu Sabtu dinihari kemarin ternyata batal juga. Tibo Cs tidak jadi ditembak oleh satu regu eksekutor. Yusuf Kalla–di Kompas hari ini (senin, 14/8)–menyatakan ada pertimbangan yang diberikan oleh SBY sebagai presiden yakni pertama adanya kesibukan dalam memperingati hari ulang tahun kemerdekaan Indonesia dan kedua suara-suara protes dari elemen masyarakat, juga dari Vatikan.
Mantap, Indonesia, sekali lagi, selalu lemah di bawah tekanan asing. Dan lagi-lagi tidak berdaya. Apapun alasannya pemerintah bagi saya ini merupakan suatu bentuk kelemahan. Memperpanjang ketidakpedulian terhadap penegakan hukum. Tapi kita lihat apakah pemerintah juga bersikap adil terhadap rencana eksekusi Amrozi dkk. Saya tidak mempunyai urusan kepada para pelaku bom bali tersebut. Tapi bila tetap dipaksakan juga untuk dilakukan eksekusi terhadap mereka, sedangkan kepada Tibo Cs ditunda-tunda lagi, maka tampak sekali bahwa ketidakadilan sudah dilakukan oleh pemerintah. Tentunya kita tahu siapa pihak asing yang bisa menekan pemerintah kita.
Dan saya setuju pula bahwa eksekusi pun harus dilakukan terhadap para narapidana yang sudah habis upaya perlawanan hukumnya sampai ke tingkat grasi. Entah itu dari kasus narkoba atau kasus pembunuhan. Hendaknya pula agar menimbulkan efek jera–sebagaimana amanat falsafah hukum–maka eksekusi itu dilakukan di hadapan khalayak ramai, di lapangan terbuka dan diliput oleh media. Jangan ditutup-tutupi seperti sekarang ini. Yang eksekusinya dilakukan dinihari dan hanya orang-orang tertentu saja yang boleh melihatnya. Maka saya yakin tidak ada terapi kejut yang bisa diterima oleh masyarakat. Dan saksikan saja angka kriminalitas pun tidak mempunyai perubahan yang signifikan ke arah penurunan.
Continue Reading 2 comments Thursday, 13 December 2007







