Archive for December 7th, 2007
Terpukul Telak
Hari ini adalah hari terberat yang pernah saya alami dalam tahun ini. Entah, bisakah saya menempuhi itu semua dengan elegan, kepala masih terdongak ke atas, dan dada membusung? Atau saya akan jatuh, limbung, hancur, dan pecah berantakan tiada berbentuk lagi? Dan semua ini belum selesai setelah beberapa hari ini berdiskusi panjang. Saya kira Ahad kemarin telah berbentuk solusi ternyata tidak. Puncaknya adalah hari ini.
Continue Reading Add comment Friday, 7 December 2007
Hanya Sebuah Buku Tamu
Setelah mengutak-atik dengan frontpage dan memahami filosofi pembuatan web, akhirnya ada dua hasil yang saya dapat pada hari ini. Pertama saya dapat membuat menu kategori, yang selama ini dengan “memanage”nya, tidak muncul-muncul juga di right side.
Dan yang kedua, pada akhirnya saya dapat pula membuat sebuah buku tamu walaupun masih ala kadarnya.
Sungguh suatu kehormatan yang sangat besar dapat berkenalan dengan semua penghuni ciblog ini, juga sebagai ajang untuk mengembangkan kegiatan tulis menulis. Menulis apapun. Menulis diari, paper, essay, cerita pendek, novel, renungan, atau yang hanya sekadar gerutuan, dan gundah gulana.
Continue Reading Add comment Friday, 7 December 2007
Both Sides Perspective
Bagaimana tidak jengkel ketika menyadari bahwa saya yang seharusnya tidak pernah terlambat dan tidak pernah pulang cepat di bulan Juli dinyatakan satu kali tb dan satu kali pc. Dan ini hanya gara-gara saya benar-benar lupa menaruh jari saya di atas scanner absen. What the…
Apalagi belum ada solusi tuntas yang diberikan oleh teman penanggung jawab absen untuk mengatasi permasalahan ini. Berarti siap-siap saja ada pengurangan nilai dari take home pay yang di dapat. Masalahnya bukan pula nilai yang akan kita dapat—tapi sesungguhnya dalam setiap nilai itu berharga karena tidak ada nilai yang besar kalau tidak diawali oleh nilai yang kecil—tapi adalah hak saya yang dirampas oleh sebuah sistem yang tidak mengakomodir sekecil apapun kekhilafan dan kealpaan manusia dan secara sewenang-wenang merebut hak-hak saya sebagai manusia. Ingat saya juga manusia (mengutip lirik seurieus).
Continue Reading Add comment Friday, 7 December 2007
Masjid Kita
Sekitar pukul 16.30 WIB dalam perjalanan menuju stasiun Gondangdia Ahmad terlebih dahulu singgah di suatu masjid yang terletak di komplek perkantoran untuk menunaikan Sholat Ashar. Masjid Kebon Sirih namanya. Untuk menuju masjid tersebut maka harus melewati pintu gerbang utama gedung. Ahmad meminta izin untuk masuk ke komplek perkantoran tersebut kepada Satpam yang bertugas di gerbang tadi. Dengan pandangan penuh selidik dan tanda tanya, Satpam mempersilahkan Ahmad untuk masuk setelah mendapat penjelasan bahwa dirinya mau menunaikan Sholat.
Continue Reading Add comment Friday, 7 December 2007
Selembar Daun
selembar daun
hijau mulai menguning
layu
terjepit lembaran kertas
di halaman dua
menyucikan jiwa
said hawwa
masih terasa di ujungnya
anyir getah putih
baru terpetik tadi siang
di pinggiran jalan penuh debu
dan malamnya
lalu kau lihat,
aku sudah berasyik masyuk
me-rodi mataku pada
‘segenggam gumam’
bahkan dengan
‘aceh dalam puisi’
saat itu kau ingat tentang selembar daun
***
kukutip budi arianto untuk :
maaf tak sempat menjamu pada persinggahanmu tadi siang
dedaunan di ranting cemara, 01 Juli 2005
di antara kerumunan orang menyemut
di book fair
Add comment Friday, 7 December 2007
Aku Takut Mati
Beberapa menit hanya memandangi layar kosong di depan mata. Tak tahu memulai dari mana untuk mengurai kejadian-kejadian tragis di depan mata selama sepekan ini. Bagaimana tidak, saya melihat dua kecelakaan membawa maut pada sore hari menjelang berbuka. Membuat saya tercenung cukup lama. Bergeming memikirkan sebuah awal mula episode kehidupan lain yakni kematian.
Selasa sore, seperti biasanya jalanan dari arah Pasar Minggu menuju Depok begitu padat, sampai menjelang flyover Tanjung Barat. Selepas itu barulah saya bisa menggeber kendaraan di atas enam puluh kilometer per jam. Tapi ada yang aneh di sore itu, sejak Stasiun Tanjung Barat kendaraan mulai memadat dan semakin lama semakin macet. Tapi dengan motor yang anti kemacetan ini, saya bisa terus melaju bersama motor-motor yang lain. Ini tidak seperti biasanya.
Continue Reading Add comment Friday, 7 December 2007
Kersem dan Monyet
Satu-satunya pohon yang berhasil saya tanam di depan rumah adalah Pohon Kersem —orang Indramayu atau Cirebon menyebutnya demikian, tapi entah mengapa Orang Citayam atau bahkan Jakarta menyebutnya Pohon Ceri (keren amat). Buahnya kecil-kecil, berwarna merah, dan rasanya manis.
Bibit pohon itu memang asli saya bawa dari Indramayu di tahun 2002, saat berkunjung ke rumah orang tua yang memaksa saya untuk membawanya. Saya enggan membawanya karena selain repot diperjalanan juga tidak sekeren pohon mangga kalau di tanam. Di daerah saya, pohon itu cocok untuk tempat bermain monyet dan sudah tentu buahnya adalah makanan favorit mereka. Akhirnya dengan membawa tiga bibit yang diambil dari selokan sebelah rumah saya kembali ke Jakarta dengan diiringi tatapan menelisik para penumpang kereta Cirebon Express kearah bawaan saya yang memang menonjol dan menarik perhatian banyak orang.
Pohon itu saya tanam di bantaran kali depan rumah. Depan rumah adalah Kali Pesanggrahan—kalau terlihat deras dan tinggi permukaannya, maka Cipulir sudah pasti kebanjiran. Jalan selebar empat meter adalah sebagai pembatas rumah dengan bantaran kali.
Continue Reading 2 comments Friday, 7 December 2007
yang Muda Yang Naif
puisi yang muda yang naif
*********
Bisa saja kau bersuara lantang
bertanya
dimana adanya Tuhan
sampai suara habis
dengungkan posmo
sebagai ritual harian layaknya kitab suci
bisa saja kau bersuara lantang
kita sholat man (ditambah suatu tanda yang bergabung dengan angka satu
dalam satu tuts keyboard sekali saja)
tapi pikiran khusuk penuh wanita-wanita telanjang
bisa saja kau bersuara lantang
aku orang beriman man (ditambah suatu tanda yang bergabung dengan angka
satu dalam satu tuts keyboard sebanyak 999 kali)
tapi itu perlu diuji dan bukti
namun bagaimana bisa lulus
kalau masih bermimpi seksi
tebarkan seruan pada semua orang:
hei lihat, aku dekat dengan Zina
lihat aku sedang berzina,
nikmati saja kawan
bisa saja kau bersuara lantang
teriakkan kebebasan layaknya elang penguasa langit
tapi silakan kau hidup dimana hukum Tuhan tidak berlaku untukmu (emang
ada?)
naif
(bang naip, preman kampung depan komplek mati lehernya digorok setelah
pulang dari Bongkaran–Poskota)
atau silakan kau nikmati istidraj-Nya
sampai akhir itu tiba
dan hanya penyesalan menjadi kulitmu
dedaunan di ranting cemara
hanya di CITAYAM saja, 01.07 , 23 Juli 2005
menjura dengan pinta maaf yang tiada terkira pada semua
ampuni aku Ya Allah.
ps.
telah datang malaikat Jibril kepada Rosululloh dan berkata:
Ya Muhammad, hiduplah engkau sesukamu tapi ingatlah
sekali waktu engkau akan menjadi mayit;
cintailah orang yang kau cintai tapi ingatlah engkau akan berpisah
dengannya;
berbuatlah sesuka hatimu tapi sekali masa kau akan diminta
pertanggungjawabanmu dihadapan Allah.
(HR Imam Baihaqi)
Add comment Friday, 7 December 2007
Kamar-kamar Hatimu
Suatu malam ba’da tarawih yang hangat, saat aku merasa butuh banyak informasi maka tersambunglah aku segera dengan dunia maya. Ada yang terbersit cepat di benak tentang azimah rahayu, jadi kusapa paman google dan kutanya padanya, hasilnya sungguh mengejutkan, mungkin beratus halaman web tentang dirinya (tak sempat kuhitung, hemat pulsa).
Sampai kutertarik pada sebuah halaman website pribadi Unisah Raniyah. Kuklik saja. Oh… ia membicarakan tentang sebuah kamar hati. Ia teringat tulisan azimah rahayu, begini ceritanya:
…terhadap mereka , saya buatkan kamar-kamar di dalam hati saya. Masing-masing memiliki kamarnya sendiri, masing-masing memiliki kedudukannya sendiri. Tak tergantikan. Dan setiap kali mereka pergi dari hidup saya, pintu kamar mereka saya tutup rapat dan saya kunci, tak boleh ada yang mengisi. Sewaktu-waktu saya akan menengoknya dengan segala kenangan yang kami lalui bersama, hingga jika suatu saat mereka kembali saya tinggal membuka pintu kamar hati ini dan membiarkan mereka masuk.
Continue Reading 1 comment Friday, 7 December 2007
Istriku: Aku Minta Izin Berpoligami
Poligami, salah satu perbendaharaan kata yang jauh dari pencapaian pemikiranku. Indah tak tergapai. Suci namun tak ringan. Pahala jika adil. Mengutip perkataanku sendiri di era kampus dulu: “tak terlihat tak tersentuh”.
Diskusi poligami pun selalu mentok dengan “andai itu terjadi, biarkan aku pulang ke rumah orang tuaku”. Lalu pada akhirnya aku pun harus berkata: “aku belum (aku harap takkan pernah) bisa berpisah denganmu.”
Lalu dengan ini: “Walaupun kau tidak rela, jangan sekali pun keluar dari bibirmu yang manis, bahwa kau menentangnya. Karena sesungguhnya ia adalah suatu hukum yang niscaya adanya, qoth’i. Ia pun adalah salah satu fragmen indah kehidupan Teladan Agung Rosululloh SAW.”
Continue Reading 6 comments Friday, 7 December 2007







