Archive for December 6th, 2007

5 Dasawarsa 12 Purnama

aku tak peduli
pada waktu yang terus berputar
bahkan aku tak mau tahu
pada waktu yang terus menancapkan seringainya
agar aku ingat masa kanak-kanakku
agar aku ingat masa-masa remajaku
agar aku ingat masa-masa kedewasaanku
tapi aku tetap tak mau tahu

Continue Reading Add comment Thursday, 6 December 2007

Novel Imperia

Tentang resensinya Bang Ekky terhadap Imperia-nya Bang Akmal, setidaknya saya sedikit banyak dapat memahami betapa ensiklopedisnya bang Akmal. Ini dapat dilihat dalam paragraph:
“Tetapi, semangat eksplorasi ensiklopedis ini ternyata juga menjadi
bumerang. Akibatnya, cerita menjadi tidak intens dan tidak fokus, di
beberapa tempat. Dan ini yang membedakannya dengan gaya Brown.”
Eksplorasi ensiklopedis ini juga pernah ditanggapi oleh Bang Herry Nurdi dalam resensinya:
“Cerita terakhir, tentang kesaktian Akmal Nasery Basral nampak ketika terjadi diskusi diruang maya milis Forum Lingkar Pena tentang film Kingdom of Heaven. Film yang berkisah tentang Sultan Saladin, King of Lepre, Balian of Ibelin, Tiberias dan berbagai tokoh lain dalam sejarah Perang Salib. Beberapa anggota milis berdebat tentang jalan cerita dan pemerannya. Tentang fiksi dan fakta, tentang eksis atau maya. Dan di antara perdebatan itu, Akmal muncul dengan postingan yang panjang menjelaskan sekian fakta tentang beberapa tokoh, lengkap dengan sejarahnya, asal kotanya, bahkan nama-nama kecil mereka dan nasib mereka setelah peristiwa yang digarap Ridley Scott dalam film itu.”

Continue Reading Add comment Thursday, 6 December 2007

1000 dan 1 Malam

Ada yang menarik dalam tema perbincangan di milis ini, yakni tentang menulis fantasi dalam Islam, hingga menghubungkannya dengan Kisah Seribu Satu Malam yang dianggap berasal dari sastra Islam, benarkah? Tulisan ini tidak membahas tentang penulisan fantasi dalam Islam namun berpokok pada apa dibalik Kisah Seribu Satu Malam.
Siapa yang tidak kenal dengan cerita Aladin dan Lampu Wasiat, Ali Baba dengan Empat Puluh Penyamun, dan Sindbad si Pelaut. Apalagi sejak ditayangkan secara visual di layar kaca ataupun layar perak produksi Holywood. Semuanya pasti setuju bahwa kisah itu diambil dari Kisah Seribu Satu Malam. Kisah yang amat terkenal dari abad-abad lampau hingga saat ini. Tapi tahukah Anda bahwa kisah itu adalah cuma terjemahan saja dan bukan buatan sastrawan-sastrawan ternama pada puncak kejayaan Baghdad?
Saat itu Kekhalifahan Abbasiyah berada pada puncak tangga tamadun. Politik, agama, ekonomi, sosial, budaya, dan di segala bidang lainnya mengalami kemajuan pesat daripada masa-masa sebelumnya. Salah satunya adalah di bidang sastra. Berbeda dengan pada masa Bani Umayyah yang hanya mengenal dunia syair sebagai titik puncak dari berkesenian—ini dikarenakan pula Bani Umayyah adalah bani yang sangat resisten terhadap pengaruh selain Arab, maka pada zaman Bani Abbasiyah inilah prosa berkembang subur. Mulai dari novel, buku-buku sastra, riwayat, hikayat, dan drama.
Bermunculanlah para sastrawan yang ahli di bidang seni bahasa ini baik pusi maupun prosa. Dari yang ahli sebagai penyair (seperti Abu Nuwas), pembuat novel dan riwayat (asli maupun terjemahan), hingga pemain drama.

Continue Reading 3 comments Thursday, 6 December 2007

Akankah Mereka Akan menjadi Pahlawan?

Tak terasa, liburan akhir telah datang. Saya sebagai “Kepala Sekolah” kudu mempersiapkan acara liburan bagi anak-anak TPA Al-Ikhwan—tempat bagi anak-anak di RT. 011 belajar Islam dan mengaji setiap Senin, Rabu dan Kamis. Tahun kemarin kami berlibur di sebuah kolam renang khusus milik perorangan di Jalan Dahlia I, Depok.
Ternyata setelah diadakan pemungutan suara—ada pembelajaran demokrasi sejak dini—dari berbagai pilihan lainnya seperti di Kebon Raya Bogor, Kebun Binatang Ragunan, mayoritas anak-anak sepakat untuk kembali liburan ke kolam renang. Kata mereka Bogor macet, soalnya ada anak presiden kawinan (loh kok mereka tahu), sedangkan kalau ke Ragunan mereka takut wajahnya disamakan dengan para monkey. “Emang kita saudara mereka…?” cetus salah satu dari mereka. “Nehi….tum mereke jenehe” sahut yang lain. Apaan tuh artinya? Ada-ada saja.

Continue Reading Add comment Thursday, 6 December 2007

Almari Penuh Buku

Seorang pemburu harta karun terperangah, takjub, memandang tumpukan harta benda yang menggunung di dalam sebuah gua bawah tanah. Menyilaukan mata. Pun naluri awal manusia yakni keserakahan muncul seketika. Raup sana dan sini. Tidak puas dengan yang ini maka ia melempar benda yang sudah di tangannya dan mengambil yang lainnya yang lebih indah, lebih berharga, lebih mahal. Akhirnya ia pun tak sanggup mengambil apa pun, karena menganggap semuanya indah di mata.
Begitulah apa yang saya alami saat memasuki ruangan ber-AC di arena Bookfair. Benar-benar saya seperti pemburu harta karun tadi. Yang begitu takjub melihat apa yang ada di dalam. Yang saya takjub bukan pada harta benda seperti yang ditulis di awal, namun begitu banyaknya buku bagus. Yang saya takjub adalah tebaran buku di setiap stand yang memaksa pikiran saya untuk bisa memiliki semuanya.

Continue Reading Add comment Thursday, 6 December 2007

Hari Ini Aku Berburu Buku

Wahai ukhti fillah….
(istilah ini saya pakai lagi setelah 8 tahun sudah tertinggal di kampus)
Semoga Allah memberikan kita yang terbaik.
Dua minggu tidak menulis “sesuatu”?
Ah masak….
Bukankah setiap perbuatan-perbuatan kebaikan itu adalah upaya menulis juga, menulis hati kita, agar senantiasa ter-relief indahnya sinaran kebaikan. Bukan selalu kelamnya keburukan-keburukan saja yang ada pada segumpal darah itu.
So, bukankah setiap email yang engkau kirim kepada sahabat-sahabat tercinta adalah suatu upaya menulis juga, upaya menuangkan gagasan dari pikiran kita? Bagi kami hal-hal kecil semacam ini adalah upaya melatih kepekaan kita dalam mengolah gagasan-gagasan tersebut ke dalam kata-kata yang tertulis.

Continue Reading Add comment Thursday, 6 December 2007

ATM Tertelan

Hari ini banyak pelajaran penting yang saya dapat. Di tengah tumpukan pekerjaan yang menggunung, di tengah tekanan tugas kuliah yang harus segera dikumpulkan, di tengah ancaman sanksi denda 50% bila tidak membayar tuition fee hingga tanggal 10 Juli 2005 ini, ternyata tetap dibutuhkan akal sehat agar saya bisa lolos dari tekanan-tekanan itu.
Maka apa yang terjadi pada saya saat akal sehat tidak digunakan maka timbul aksi terburu-buru yang pada akhirnya membawa saya kepada kesulitan lainnya. Contohnya adalah saya yang biasanya hapal nomor pin ATM Bank Muamalat tiba-tiba kehilangan memori untuk mengingat empat digit yang harus saya masukkan ke layar. Dan bodohnya saya memaksakan diri. Sutttt…..bunyi suara ATM menelan kartu begitu menyesakkan dada.

Continue Reading Add comment Thursday, 6 December 2007

Biarkan Aku Menulis Hari Ini

Banyak sekali yang ingn saya tulis pada hari ini. Sampai suatu titik dimana gejolak hati tak mampu menahannya dan mendesakku untuk segera meraih secarik kertas dan menggoreskan pena biru padanya. Menulis tentang apa saja. Tentang pekerjaan, kenangan, keluarga, cinta, dan senyuman terindah milik seseorang.
Apalagi pagi ini saya mendapat hadiah istimewa dari ukhti kita: azimah rahayu, sebuah sequel dari buku pagi ini aku cantik sekali. Buku yang ditandatangani langsung olehnya dengan catatan kecil: sekadar pengikat tali persaudaraan. Judul buku itu adalah hari ini aku makin cantik. Membacanya membuatku bersegera menulis di halaman ini. Tentang obsesi saya padanya. Tentang tema-tema cantik dan indah pada buku itu, dan lain-lain.

Continue Reading Add comment Thursday, 6 December 2007

Dua Kertas dan Satu Kamboja

Qi, ummi titip ini untukmu…” suara berat menyadarkanku dari lamunan. Memaksaku memalingkan wajah pada sosok tua yang tengah menyodorkan amplop putih.
Aku terdiam
“Buka saja,” sambil membereskan letak duduknya di samping gundukan bermawar merah masih basah. Dengan papan tertera nama Sabrina Hanifa. Ummiku.
Ada dua lembar kertas usang di dalamnya. Dengan sisi-sisinya tampak bekas terbakar.
“Hanya dua itu yang bisa ummimu selamatkan waktu rumah kita terbakar,” suara berat itu kembali mengguncang kesunyian.
Aku pun memeras memori mengenang dengan jelas peristiwa 20 tahun lampau. Rumah kami setengah hancur saat terjadi kebakaran besar menimpa komplek perumahan kami. Namun kami sempat menyelamatkan diri dengan membawa barang sebisanya. Ummi kulihat masih sempat membawa buku diarinya yang setengah terbakar.
“Jangan kau baca, Qi!” seru ummi menegurku, saat aku intip isinya. “Kelak ini akan ummi berikan padamu,”tambahnya. Aku masih mengokang tanda tanya yang siap kuberondongkan padanya.
“Cukup sayang…, ayo bereskan lagi rumah kita ini,” sambil ada jari lembut menempel di bibirku.
Hari ini ia meninggalkan dua lembar itu padaku. Tapi tanpa ia yang siap menerima serangan pertanyaanku. Sudah terpejam abadi adanya. Tulisannya indah sekali. Ya, Ummiku selalu dapat nilai paling bagus untuk pelajaran menulis halus di sekolah dasar dulu.

Continue Reading 1 comment Thursday, 6 December 2007






Palestine Blogs - The Gazette



KampungBlog.com - Kumpulan Blog-Blog Indonesia

Telah Dikunjungi

 

December 2007
M T W T F S S
« Nov   Jan »
 12
3456789
10111213141516
17181920212223
24252627282930
31  

Categories

Arsip

Blogger

Blogroll

Situs-situs Khusus

Ikhwan & Akhwat Tarbiyah

Best Friends

Downloads

Recent Posts

Recent Comments

rara on OBAT MANJUR BUAT AMBEIEN …
Dian on TATA CARA / PROSEDUR PENDAFTAR…
yuni on OBAT MANJUR BUAT AMBEIEN …
asep on OBAT MANJUR BUAT AMBEIEN …
Akhmad Zainuddin on Istriku: Aku Minta Izin B…
Akhmad Zainuddin on Konsultasi Pajak

Top Clicks

Top Posts

Feeds

Meta

Spam Blocked