Archive for December 5th, 2007
Melatiku di Sabtu Malam
30.5.2005 – Melatiku di Sabtu Malam
Hai…bertemu kembali denganku, dalam keceriaan Sabtu Malam. Dengarkan Melati di Jayagiri dan Aryati di sepanjang ku menulisnya. Teringat suasana alam perjuangan para pendahulu kita melawan para penjajah dulu. Dengan setelan baju dan celana pendek warna coklat toska kumuh, topi miring dengan senapan ala kadarnya atau paling canggih senapan mesin penembak pesawat udara.
Bergerilya susuri lembah dan gunung, sampai berjalan mengendap-endap di jalanan Kota Cirebon. Lewati rumah-rumah Cina bergaya tempo doeloe. Wuih, melankolis nian daku tinggalkan sebongkah hati di belakang dengan senapan di pundak. Mula Bekasi, Tanjung Pura, Cilamaya, Cikampek, Pamanukan, Subang, Bandung, Sumedang, Cirebon, sampai ke Yogya.
Ah, sudahlah lupakan memori tentang perang kemerdekaan dulu, lupakan bertempur dengan Kolonel “Jantje” Meijer di Sekitar Gunung Slamet. Lupakan semuanya dulu hingga kau kembali teringat akan Aryati, kembali lagi kau bisa susuri ingatan dulu.
Sudah berapa tahun sih kita Merdeka Ternyata kita jelang 60 tahun usia republik ini. Tapi mengapa kalau aku berbicara dengan teman seperjalanan selalu berisi keprihatinan-keprihatinan dengan nasib bangsa ini Keprihatinan tentang nasib anak-anak jalanan, orang miskin, pengangguran, sistem pendidikan, mutu sumber daya manusia, sistem peradilan, para penegak hukum, nasib pulau-pulau di perbatasan, nelayan-nelayan miskin, para petani, sistem keuangan dan moneter, ketidakberdayaan bangsa ini di dunia internasional sungguh tiada izzah, korupsi yang berurat dan berakar, dan masih banyak ribuan permasalahan lainnya yang tak dapat ditulis satu persatu dan tak bisa di bahas dengan ribuan seminar pun.
Sedangkan di negeri ini sungguh banyak orang pintar, konon kata dosenku Indonesia ini mempunyai doktor terbanyak di dunia. Tapi kok yah..jadi begini nasib bangsa ini. So, ternyata kemajuan dan kemakmuran suatu bangsa tidak berbanding lurus dengan banyaknya orang pintar an-sich. Dibutuhkan juga mereka yang memiliki moral hazard, dan nilai-nilai kebaikan.
By the way, tiba-tiba aku jadi malas nerusin tulisan ini, mood saya kembali hilfil (hilang feeling ). Ya sudah, cukuplah di sini saya pikirkan bangsa ini. Berarti kemampuan saya cuma segininya. Urusan itu biarlah para petinggi kita yang memikirkannya. Terpenting, bagaimana sih kemajuan bangsa ini dimulai dari tindakan kebaikan kecil yang kita lakukan untuk kemaslahatan bangsa ini Sesuatu yang besar dimulai dari yang kecil.
Terakhir, jangan terlena dengan Melati di Jayagiri yah…coz, it was…
Add comment Wednesday, 5 December 2007
KENAPA HARUS FPI?
27.5.2005 – kenapa harus FPI gitcu loh…
wahai para pejuang
siapkan kuda-kudamu
dengarkan derunya
pekat debunya
teriakkan asma-Nya
sesungguhnya surga itu ada
di bawah kilatan pedang
………………………………….
Pagi ini, saya dapat email tentang pro kontra Miss Universe, bagi saya sudah jelas tidak ada pro kontra di sini. Sudah jelas, sudah terang seperti terangnya matahari yang menyinari kita di Jum’at pagi yang cerah ini. Sekali haram yah haram…
Tapi itulah negeri kita yang mengakunya bahwa Umat Islam mayoritas di negeri ini. Namun pemikiran sekuler melekat erat dan menyusup di saraf-saraf otak sehingga outputnya yah tetap sekuler juga. Apakah ini hasil dari pemikiran liberal dari orang-orang Utan Kayu Di mana mereka mengharapkan sekulerisme jadi patokan hidup kita. Yang mengharapkan ada energi kebaikan dan kemaksiatan berkumpul ada di negara ini. Ck…ck..ck…
Yah kita tahu siapa sih mereka.
Kembali ke Masalah Miss Universe…hari-hari kemarin kan FPI demo. Dan dengan itu banyak yang kebakaran jenggot.
Kenapa yah…kalau ada FPI beraksi banyak yang meradang…
Ditambah alasan: kenapa FPI gak demo artis-artis porno, gak demo TV, gak bakar Hailai dll
Harusnya yang mempertanyakan itu mikir juga…bahwa kalau dia muslim, maka kewajiban amar ma’ruf nahi munkar jadi kewajiban setiap individu muslim, tidak hanya FPI doang.
Punya kekuatan apa sih FPI, kalau harus ngurusin semua kemaksiatan di republik ini. Yang punya kekuatan itulah yang ’sewajib-wajibnya’ untuk memberantas kemaksiatan. Berarti pemerintahlah, yang setidaknya punya kekuatan besar sekali untuk menumpas semua itu. Lah, gimana mau menumpas sedangkan ada sebagian dari mereka menjadi ‘backing’ kemaksiatan. FPI disini setidaknya ‘trigger’ untuk action yang lebih besar lagi bagi yang punya power..
Kata Ustadz Wahfiudin tadi malam: sungguh tidak seimbang ketika kita mengajak orang untuk berbuat kebaikan sedangkan ia tidak melakukan nahi munkar, sedangkan ia tidak mengikis kemungkaran itu.
Oleh karena itu kalau kita tidak mampu untuk nahi munkar, yah setidaknya diam sajalah, jaga mulut dan omongan, ketika ada saudara-saudara kita yang melakukan pemberantasan kemunkaran itu. Sungguh tidak ada keberkahan di negeri ini kalau kemaksiatan jalan terus dan tidak ada upaya untuk melawannya. Maka bersyukurlah masih ada orang-orang seperti mereka, masih ada orang-orang yang melakukan nahi munkar dan orang-orang yang mengingat Allah. Bisa jadi tiadanya azab bagi kita adalah karena orang-orang seperti mereka. Allohuakbar…
Allohua’lam.
Catatan:
tulisan di atas hanya sekadar uneg-uneg saya, hasil tangkapan sekelebatan ide di kepala saya. So jangan harapkan ada analisis panjang, dalam, menukik (apaan tuh he…he..he..) di tulisan ini. Lain kali lah, ketika tidak ada pekerjaan yang menumpuk di sini.
Add comment Wednesday, 5 December 2007







