Archive for December, 2007
Menoreh di Kacanya…
MENOREH DI KACANYA…
Puisi ini adalah awal dari puisi dwilogi saya yang berjudul Menoreh di Kacanya 2, sempat hilang bertahun-tahun dari tumpukan arsip di komputer saya, dan saya sempat putus asa untuk menemukannya. Bahkan sempat terlintas dalam pikiran saya untuk mengumumkannya di khalayak ramai tentang pencarian saya ini agar mereka yang mungkin masih mendokumentasikannya bisa berbagi kembali dengan saya. Karena saya ingat dulu saya membagikannya kepada banyak orang.
Tetapi sebelum niat mengadakan sayembara itu terlaksana, pada hari Sabtu (22/12/2007) kemarin di saat saya sedang menata dokumen-dokumen di komputer, saya menemukannya tersembunyi di dalam folder lama yang jarang saya sentuh sebelumnya. Alhamdulillah. Bagi saya sebuah karya tulis walaupun cuma beberapa kata saja tertulis, itu adalah sebuah kenangan yang layak untuk diberikan penghormatan sebagai sebuah hasil kreativititas. Perlu dijaga dan didokumentasikan dengan sebaik-baiknya, sebagai sebuah penggambaran utuh dari diri saya.
Tak perlu untuk diberitahukan latar belakang mengapa puisi ini menjadi sangat berharga bagi saya, karena ini adalah awal sebuah tragedi di tahun 2005. Di buat sekitar akhir tahun 2002 atau awal tahun 2003. Sejak tahun 2005 itulah ada sedikit penyuntingan pada tiga hurufnya sehingga terhapus dari puisi itu. Tapi, Insya Allah, tidak mengurangi makna yang ada di dalamnya.
Inilah puisi yang saya temukan kembali:
menoreh di kacanya
sampaikan itu,
sampaikan pada angin yang selalu
berkata tidak pada cahaya bulan
dan awan hitam dalam setiap detiknya
hingga tak perlu lagi kau
tergugu di jendela bus itu
melautkan angan yang kau yakini benar
datangnya dan hilang sekejap lalu
atau kau tambatkan semuanya
dengan tonggak pena dan perahu kertas
yang akan mengayuh dan membawamu ke sana
tanpa ada luka dan sayatan air mata
yang terpaksa membelah di pipimu
kau kan juga selalu tegar
ketika bah sepi datang tiba-tiba merangkulmu
karena kau selalu ukir bekas sujud di sajadahmu
pada malam-malam yang kian kering terbaring
hingga pada lesatan panah-panah do’a
dari bayang-bayang wajah ibumu
satu lagi,
jendela bus itu terpaksa bergetar
saat derit rem menyalak keras
dan membuyarkan rangkaian batu bata azzammu
hingga kau sadari bahwa telah sampailah
diri di punggung tanah ini
dan meninggalkan catatan rekaman memorimu
yang terlanjur tertoreh di kacanya.
***
Akhir 2002, awal 2003
Riza Almanfaluthi
dedaunan di ranting cemara
01:39 22 Desember 2007
Add comment Wednesday, 26 December 2007
HAJJAH INUL DARATISTA
Pada tanggal 13 Desember 2007, Inul Daratista, penyanyi dangdut yang terkenal dengan goyang ngebornya, pergi meninggalkan tanah air untuk menunaikan ibadah haji. Bersama sang suami tercinta, Adam Suseno, tentunya. Suatu saat saya membayangkan adanya dialog imajiner antara saya dan penyanyi tersebut pasca kepulangannya dari tanah suci. Saya berharap mendapatkan cerita perjalanan spiritual yang menggedor itu darinya.
Riza : Assalaamu’alaikum Mbak Inul, apa kabar?
Inul : Alhamdulillah baik Mas Riza.
Riza : Wah, saya bersyukur Mbak bisa naik haji nih. Kayaknya Mbak Inul punya panggilan baru sekarang. Boleh dong saya panggil dengan sebutan Hajjah Inul Daratista, atau ibu Hajjah gitu…?
Inul : Ndak perlu Mas. Panggil saya sebagaimana biasanya saja. Haji itu ibadah kok, bukan status. Dan enggak lucu kan kalau di atas panggung nantinya, dipanggil begini: “Selanjutnya, kita tampilkan Ibu Hajjah Inul Daraaaatistaaaaaa…!”
Riza : Raja danggut kita kan biasa disebut bang haji tuh Mbak.
Inul : Beliau-beliau, saya-saya.
Riza : Mbak masih sakit hati yah dengan peristiwa dulu?
(Bang haji Rhoma Irama ‘mengharamkan’ lagu-lagunya dinyanyikan oleh Inul, alasannya ia telah menjual erotisme dalam musik dangdut yang telah diperjuangkan oleh Bang Haji dalam tiga dekade terakhir untuk menjadi musik kelas atas yang disegani oleh siapapun. Pen.)
Inul : Ndak juga.
Continue Reading Add comment Wednesday, 19 December 2007
RINDU TAK BERBALAS
Menunaikan ibadah haji adalah sebuah amal untuk memenuhi panggilan khusus dari Allah swt. Hanya orang-orang yang terpilih saja yang bisa menunaikannya. Ada begitu banyak muslim yang berpunya dari segi harta dan fisik tetapi tidak ada sedikitpun gerak dalam hati untuk memenuhi seruan-Nya. Ada banyak macam alasan yang biasa diperdengarkan. Mulai dari kesibukan mengurus penghidupan yang tiada habisnya, anak-anak yang masih kecil, sampai yang memang tidak punya niat sama sekali untuk pergi ke tanah suci.
Namun seringkali kita jumpai betapa banyak muslim yang begitu merindukan mengumandangkan teriakan “labbaik allohumma labbaik” dan merindukan tetesan-tetesan airmata jatuh dalam pemenuhan keharuan melihat rumah Allah tetapi Allah belum juga memanggilnya, karena ada sesuatu dan lain hal yang tidak bisa diketahui oleh para hamba-Nya. Entah karena ketidakmampuan dalam masalah finansial hingga fisik yang tidak mampu.
Contoh terdekat adalah Ustadz Fahruddin yang biasa mengisi pengajian malam ahad di masjid kami, Masjid Al-Ikhwan. Beliau ini berencana untuk pergi haji di tahun ini. Dulu ia pernah menapaktilasi kewajiban itu dua kali dalam jangka waktu sepuluh tahun. Dan ini untuk yang ketiga kalinya. Alhamdulillah, untuk masalah ongkos naik haji ia tidak perlu memikirkannya. Karena ada salah seorang muridnya yang bersimpati dengan beliau dan berniat untuk membiayai seluruh biaya perjalanan itu. Tetapi hanya untuk beliau saja sedangkan istrinya tidak diikutkan.
Mendapatkan rezeki yang besar tersebut maka bersiap-siaplah beliau untuk menempuhi seluruh rangkaian ritual haji yang akan benar-benar menguras fisiknya. Dan ia didaulat sebagai pimpinan rombongan karena dianggap sudah berpengalaman. Beliau juga meminta doa kepada jama’ah Masjid Al-Ikhwan agar Allah memberikan kekuatan pada dirinya. Sebaliknya kami pun meminta pada beliau agar mendoakan kami untuk bisa berangkat haji sebagai perwujudan pemenuhan kesempurnaan rukun Islam.
Continue Reading Add comment Wednesday, 19 December 2007
BIODATA PERNIKAHAN
Bagi para pemuda ataupun pemudi yang konsisten memegang teguh agamanya di zaman seperti ini, pacaran dengan lawan jenis sebelum menikah adalah sesuatu yang amat dijauhinya. Mereka tahu, bagaimana akan mendapatkan sesuatu yang berkah dan maslahat dalam kehidupan rumah tangganya, bagaimana akan mendapatkan generasi rabbani yang kuat dan menjadi pilar penegak sebuah peradaban Islam yang baru, jika segalanya diawali dengan sesuatu yang tidak baik dan diridhai oleh Allah.
Oleh karena itu dalam mencari pasangan hidupnya mereka menempuh jalur yang sudah dianggap kuno oleh masyarakat moderen sekarang ini. Yaitu yang pertama, orang tua mencarikan jodoh dan menikahkan anak perempuannya. Yang kedua, orang tua aktif mencarikan suami bagi anak perempuannya. Yang ketiga, diproses pernikahannya oleh orang-orang yang sholeh. Yang keempat, mencari sendiri jodohnya. Yang kelima, wanita menawarkan dirinya kepada laki-laki yang sholeh. Yang terakhir ini bukanlah aib atau cela. Yang penting teknisnya dilakukan dengan jalan yang bijak dan sesuai dengan fitrah wantia.
Continue Reading 18 comments Wednesday, 19 December 2007
Surat Terbuka Untuk Ikhwah
Assalaamu’alaikum warahmatullahi wabaarokaatuh.
Bismillahirrahmaanirrahiim.
Semoga Allah senantiasa memberikan dan menetapkan hidayah kepada kita semua. Semoga salam dan shalawat senantiasa tercurah kepada junjungan nabi kita Sayyidina Muhammad Saw.
Ikhwatifillah yang saya cintai karena Allah izinkan saya menulis untuk antum semua peserta forum tarbiyah di sini tentang sebuah kegundahan yang menggumpal dalam dada saya. Sebuah perenungan yang saya bawa sampai ke rumah dan yang membuat saya tidak bisa tidur tadi malam. Sebuah perenungan tentang apa yang telah saya perbuat untuk menyiarkan dakwah ini kepada sekitar dan terutama sekali kepada para peserta forum DSHNet. Ada dua poin sebenarnya yaitu gundah dan renung.
Saya utarakan kegundahan saya dulu yang pertama. Kemarin tepatnya hari senin tanggal 19 Nopember 2007, sekitar pukul 16.45 WIB di forum dakwah ada sebuah postingan yang judulnya adalah kurang lebih demikian Syiah dan Sunni Sama-sama bersihnya. Yang memosting saya lupa tapi saya tahu pasti tentang berapa IP Address-nya, Kantor Pelayanan Pajak (KPP) Batu. Kalau mendengar nama KPP ini maka yang telah berkecimpung lama di forum dakwah akan mengetahui ada saudara kita yang senantiasa membenci dakwah kita.tidak perlu disebutkan namanya di sini.
Saya memang selalu mencermati setiap postingan dari KPP batu sebagai bentuk pengawasan saya. Dan biasanya ketika ada sindiran-sindiran (dan celaan) darinya saya langsung melakukan tindakan untuk menonaktifkannya tanpa peringatan terlebih dahulu. Karena sudah berapa kali peringatan itu diberikan tetapi tidak pernah digubris oleh saudara kita itu—Semoga Allah memberikan kelembutan padanya. Dalam satu saat ia bisa mengganti nick beberapa kali untuk bisa bergabung kembali di forum. Dan saya melakukan apa yang sudah menjadi tugas saya. Tinggal siapa yang paling kuat sabarnya antara saya dengan dia saja.
Yang paling sering dilontarkan adalah tentang masalah gugatan terhadap moderator, politik, dan syiah. Terutama tentang syiah kurang lebihnya demikian: “Sudah tahu sesat tapi masih saja mengagung-agungkan para pemimpinnya.” Kali ini, sore kemarin itu, ia memosting satu paragraf saja sebagai berikut:
Continue Reading 9 comments Wednesday, 19 December 2007
GALAU VLADIMIR DONOMAKH
Vladimir Donomakh, seorang muallaf Rusia lagi semangat-semangatnya untuk menekuni dan mendalami syari’at Islam, agama yang dipeluknya tiga bulan lalu. Ia sering bertanya apa saja kepada imam masjid kota Toronto dan para imigran muslim lainnya. Ia bertanya tentang bagaimana tatacara sholat yang baik, tentang haji—sebuah perjalanan spiritual yang diidam-idamkannya, tentang puasa di bulan ramadhan, zakat dan masih banyak yang lainnya.
Tidak sekadar bertanya, setiap ada amalan baik yang dianjurkan dalam agama mulia itu dan ia tahu walaupun sedikit ia langsung mengamalkannya dengan sebaik-baiknya. Ia tahu ia harus beribadah sebanyak mungkin untuk menutupi kesia-siaan hidup 30 tahun yang ia lalui tanpa adanya sebuah kebenaran.
Tidak hanya dengan ilmu syariat yang ia pelajari, ilmu hati pun ia tekuni. Bagaimana ia harus belajar untuk mengendalikan lisan dan hatinya agar tidak terkotori oleh titik-titik dosa. Malam-malamnya ia lalui dengan tahajjud dan tangisannya kepada Allah. Mengharapkan dan merindukan surga-Nya dan takut akan neraka-Nya.
Continue Reading Add comment Wednesday, 19 December 2007
PERGILAH KAU KARTU KREDIT
Saya ini orangnya enggak enakan sama orang lain. Makanya ketika salesman kartu kredit menghampiri saya, memelas, dan mendesak saya untuk membuat kartu kredit BNI, dengan terpaksa saya mengiyakan serta mengisi aplikasi pendaftaran.
Padahal dari dulu saya sangat berhati-hati sekali dengan kartu kredit. Karena sudah banyak saya dengar dan saya baca bagaimana akhir dari orang-orang yang tidak bijak memakai kartu kredit. Mulai dari diteror dan diintimidasi oleh para juru tagih, bunga yang mencekik tinggi, atau tagihan asal-asalan karena kelalaian administrasi dari penerbit kartu itu. Alasan satu lagi sebenarnya adalah saya sedang belajar untuk menghindari transaksi-transaksi ribawi.
Lalu pada kasus ini kenapa saya menerima dan mengisi aplikasi tersebut? Waktu itu saya berpikir karena tahun pertama tidak ada iuran gratisnya, juga beralasan bisa membeli barang-barang 0% bunga dengan cara mencicil, fasilitas gratis di eksekutif lounge dan banyak tempat lainnya. Itu saja sih.
Kejadiannya sudah setahun lalu di bulan November tahun 2006. Akhirnya saya dapat kartu kredit BNI VISA GOLD yang limit pengambilan tunainya bisa lebih dari 10 juta. Sesuatu yang diirikan oleh teman saya karena kenapa dirinya tidak mendapatkan limit yang tinggi seperti yang saya dapatkan. Dan apa yang terjadi teman-teman setelah saya mendapatkan kartu emas itu?
Continue Reading 3 comments Wednesday, 19 December 2007
Mencari Kawan Lama
Pagi ini setelah tiba di kantor saya langsung membuka Ciblog, lalu login dan saya mengklik tombol Add New Entry. Bukannya langsung menuliskan apa yang ingin ditulis, saya cuma memandang layar komputer dengan lama. Bingung apa yang mau ditulis.
Karena lama tidak mendapatkan ide maka saya melakukan kegiatan lain yaitu membuka-buka email di inbox pajak. Membaca beberapa email dan pada saat saya membaca salah satu email itu mata saya tertumpu pada sebuah nama penerima email dari sekian banyak penerima email forward-an itu: Sulis. Saya tidak mengenalnya, tapi saya jadi teringat seorang teman saya yang juga ada nama-nama sulisnya. Tapi saya lupa nama lengkapnya.
Untuk itu saya membuka homepage browser saya: situs kepegawaian. Lalu mengetik nama sulis di kolom pencarian data kepegawaian. Byarrr…dari result-nya bisa banyak juga nama yang mengandung kata sulis didalamnya. Dan saya melihatnya satu persatu fotonya yang sudah lama tidak saya lihat. Yup, akhirnya ketemu juga. Foto itu dari zaman dulu belum diganti pula, masih dengan jilbab birunya.
Continue Reading 1 comment Wednesday, 19 December 2007
MENGELUHKU TENTANG HUJAN
Pagi itu cuaca mendung, langit hitam tidak membiarkan mentari pagi memberikan secercah sinarnya pada bumi. Saya sudah berpikir bahwa biasanya kalau Citayam sudah gelap, berarti di Jakarta juga sama akan turun hujan. Dan saya melihat ke langit utara, betul sama gelapnya. Saya sudah menyiapkan mantel yang kugantungkan di buntut motorku. Saya tidak ingin kehujanan masuk ke kantor seperti dulu saat saya meremehkan alam dengan mengatakan, “ah, paling hujannya sebentar.”
Saya sudah terlambat lima menit dari kebiasaan berangkatku setiap paginya. Apalagi tangki motorku kosong, maka saya harus mampir dulu ke kios penjual bensin untuk mengisi bensin barang satu atau dua liter. Sudah barang tentu ini akan memperlambat perjalanan lagi. Ditambah kalau benar-benar hujan dengan ban sudah hampir gundul dan jalanan Jakarta yang tidak bisa diprediksikan kemacetannya saya tidak akan bisa melajukan kendaraan dengan cepat. Hati saya sudah deg-degan. Khawatir terlambat.
Dan betul tidak lama kemudian, hujan turun walaupun baru rintik-rintiknya. Saya harus menepi untuk memakai mantel hujan. Ini pun memakan waktu. Setelah selesai memakainya, saya pun kembali melanjutkan perjalanan ke kantor. Saya baru teringat bahwa walaupun saya memakai mantel tapi mantel ini belumlah mampu untuk menahan air hujan yang amat deras masuk membasahi pakaian saya. Kalau gerimis-gerimis saja sih Insya Allah mantel itu mampu melindungi saya dari kebasahan.
Continue Reading Add comment Wednesday, 19 December 2007







