BERTEMU MARK TWAIN
BERTEMU MARK TWAIN
Pedagang buku bekas di Stasiun Kalibata itu sudah barang tentu hapal dengan muka saya. Setiap sore sambil menunggu kereta rel listrik (KRL) yang menuju Bogor datang, saya selalu berdiri di lapaknya yang menjejerkan banyak buku dan majalah.
Beberapa tahun lalu ketika saya masih melaju dengan naik motor dan hanya sesekali naik dengan KRL, saya sempat membeli buku bagus di sana. Buku cetakan tahun 1986 itu berjudul Kerajaan Petrodolar Saudi Arabia
yang ditulis oleh
Robert Lacey. Sampai kemarin buku itu masih ada satu eksemplar lagi.
Kini setelah tiga bulan lebih menjadi pengguna KRL Depok Kalibata pulang pergi, rutinitias melihat-lihat buku itu selalu saya lakukan. Memang saya cuma melihat-lihat saja. Karena sampai kemarin sore saya belum menemukan buku yang benar-benar bagus. Walaupun murah harganya—berkisar antara 10 ribu hingga 20 ribu rupiah—saya tak mau membuang uang dengan percuma. Kalau menuruti hawa nafsu, saya inginnya membeli banyak buku di sana tapi saya khawatir buku tersebut tak terbaca dan hanya jadi aksesoris lemari belaka. Makanya saya selektif sekali. Saya hanya akan membeli buku yang benar-benar menarik dan pasti dibaca sampai selesai.
Continue Reading 3 comments Friday, 5 June 2009
JADILAH IKAN SEGAR!!!
JADILAH IKAN SEGAR!!!
Ayyuhal Ikhwah, kalau saja Ki Dalang tidak membuka kotak surat elektronik kemarin sore, bisa saja Ki Dalang tidak tahu bahwa pada hari ini adalah waktunya Ki Dalang kasih itu yang namanya taujih. Terimakasih kepada Kang Mas Sukeri yang telah mengingatkan Ki Dalang untuk nanggap pertunjukkan di Shalahuddin.
Ki Dalang semalaman tidak tahu lakon apa yang kudu dimainkan untuk taujih ini. Buka-buka buku selemari tak mampu memberikan cahaya pada ujung terowongan gagasan. Kemampuan Ki Dalang untuk nanggap semakin menurun karena jarang diasah. Masalahnya pada waktu yang dimiliki Ki Dalang—sebenarnya ini cuma alasan yang dibuat-buat, karena betapa banyak orang yang mampu untuk menuliskan ide di kepalanya dalam waktu sempit yang dipunyainya.
Tapi pada akhirnya Ki Dalang tahu ketika berkecimpung langsung di masyarakat, energi seakan tercurah dan tersedot untuk memikirkan dan mempersiapkan lahirnya prajurit-prajurit atau kader-kader yang mampu menegakkan syari’at Allah tegak di tengah-tengahnya. Dan mengesampingkan untuk sementara menuangkan kreatifitas di atas kertas.
Ayyuhal Ikhwah inilah yang membedakan Al-Banna dengan Al-Albani. Al-Albani, ahli hadits itu banyak melahirkan karya tulis tetapi tidak melahirkan kader. Sebaliknya Al-Banna sebagaimana pengakuannya ia tidak menulis buku tapi menulis laki-laki. Artinya ia tidak ingin terfokus melahirkan buku-buku yang berisikan pikiran, gagasan, dan seluruh pengalamannya. Tetapi yang lebih ia perhatikan adalah bagaimana melahirkan kader-kader yang akan meneruskan perjuangan yang telah ia rintis; perjuangan yang sesungguhnya tak akan pernah redup.
Ki Dalang yakin Al-Albani dengan melahirkan banyak buku tidak serta merta lalu ia meninggalkan diri dari medan laga perjuangan pembentukan kader-kadernya. Tidak. Begitupula dengan Hasan Al-Banna meskipun pernah mengatakan bahwa ia tidak menulis buku, tapi bukan berarti ia sama sekali tidak menulis. Ia juga menulis buku untuk mengabadikan pemikiran dan pengalamannya. Beberapa buku yang menjadi warisan untuk Islam khususnya kader Ikhwan, adalah buku hasil dari kumpulan ceramah dan khutbahnya. Diantaranya adalah: Ahâdîtsul Jum’ah, Da’watunâ, Ilâ asy-Syabâb, Da’watunâ fî Thaurin Jadîd dan masih banyak yang lainnya. 1)
Continue Reading 2 comments Wednesday, 3 June 2009
ALI SEMBIRING TAUBAT
ALI SEMBIRING TAUBAT
Ali Sembiring cuma seorang tukang ojek. Tapi jangan sangka, ia dulu mantan orang kaya. Kontraktor beken di kota itu. Bahkan sempat menjadi anggota DPRD. Tapi seiring dengan pertikaian penentuan nomor urut sesama anggota partai yang mengantarkan dirinya menjadi golongan masyarakat terhormat, akhirnya ia keluar dari partai yang membesarkan dirinya itu.
Bersamaan dengan itu ia menclok ke partai lain. Ia berjuang dan membiayai sendiri agar dapat menduduki kembali kursi empuk wakil rakyat. Tapi ia bertemu dengan calo politik yang kerjaannya cuma bisa menipu dirinya. Ia dijanjikan ribuan suara yang akan memilihnya dari calo itu. Dan ia percaya hingga menggelontorkan puluhan juta kepadanya. Pada hari-H pencoblosan (karena pada saat itu belum ada istilah contreng) ternyata di TPS dengan calo politik sebagai saksinya itu bahkan ia tidak mendapatkan satu suara pun.
Tragis. Ia gagal menjadi wakil rakyat. Tidak berhenti di situ ia diutak-atik oleh kejaksaan negeri. Kali ini pada kasus korupsi yang menimpa dirinya dan sebagian sejawatnya. Ia pun sempat merasakan dinginnya tembok hotel prodeo. Dengan kekuatan uang yang masih tersisa ia bebas. Tapi ditebus dengan menjual sebelas rumahnya. Plus bisnisnya yang ikut hancur-hancuran. Kini dia hanya bisa mengontrak rumah petak. Kawan-kawannya sudah banyak yang meninggalkan dirinya.
Continue Reading 3 comments Monday, 1 June 2009
SITU CINTA
Situ Cinta
Cinta,
malam ini akan aku peluk engkau
dengan rindu yang telah menguning di hati
tanpa ada dengkul yang mencoba menghujat langit
kerana tak ada pelangi di gulitanya
Cinta,
cukup sekian kata yang berpeluh
dari aku yang mengukir lima hurufmu
di atas air situ
tanpa ada titik,koma, dan tanda seru
*
riza almanfaluthi
dedaunan di ranting cemara
25 Juni 2009
1 comment Monday, 25 May 2009
KPU BERBENAH SETELAH DITERIAKI
KISRUH DPT BOM WAKTU MASA LALU
Setelah banyak yang memprotes tentang Daftar Pemilih Tetap (DPT) pemilu legislatif (Pileg) 2009 dan dituduh bersekongkol dengan penguasa bahkan akan ada upaya gugatan kepadanya, Komisi Pemilihan Umum (KPU) mulai berbenah diri. Untuk pemilihan presiden nanti KPU akan berusaha memperbaiki DPT-nya dengan cara memberikan kesempatan seluas-luasnya bahkan semudah-mudahnya agar mereka yang berhak mengikuti pesta demokrasi dapat benar-benar ikut secara riil berpartisipasi.
Antara lain dengan melibatkan Ketua RW dan Ketua RT dalam penyusunannya. Yang semula hanya stelsel aktif, yang berarti pemilih secara aktif mendaftarkan diri sebagai pemilih ke kelurahan, kini KPU berusaha pula menggunakan stelsel pasif yaitu dengan melibatkan para Ketua RT dan RW tersebut untuk mendatangi para calon pemilih yang belum terdaftar. Bentuknya adalah dengan menyebarkan formulir yang harus diisi oleh calon pemilih tersebut. Dan untuk menyukseskannya KPU akan menyosialisasikannya kepada masyarakat melalui spanduk-spanduk. Diharapkan dengan hal ini tidak lagi ada suara-suara miring terhadap DPT untuk pemilihan presiden nantinya.
Continue Reading 3 comments Tuesday, 21 April 2009
PKS SOMETHING BUKAN NOTHING
PKS SOMETHING BUKAN NOTHING
(WACANA PEMBELAJARAN POLITIK)
Pemilu 2009 telah digelar. Hasilnya sudah dapat dapat diperkirakan berdasarkan quick count yang diselenggarakan oleh sejumlah lembaga survey atau berdasarkan data real count yang dilakukan oleh Komisi Pemilihan umum (KPU). Sampai dengan tulisan ini dibuat hasilnya untuk sementara menempatkan Partai Demokrat sebagai jawara disusul oleh Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP) atau Golkar (Golongan Karya) yang saling bergantian menempati posisi kedua dan ketiga.
Dan dalam posisi keempat adalah Partai Keadilan Sejahtera (PKS) di atas Partai Amanat Nasional (PAN) yang diketuai oleh Sutrisno Bachir. Saya ingat dalam sebuah pemberitaan setahun lalu (18/4/2008), pada sebuah diskusi politik di Gedung DPR/MPR, Sutrisno Bachir sempat mengatakan, “Bagi kita, PKS tidak seksi dan nothing, bukan apa-apa.”
Continue Reading 1 comment Tuesday, 21 April 2009
KONTEMPLASI INAGURASI
KONTEMPLASI INAGURASI
Kawan, tak terasa waktu untuk berpisah telah menelanjangkan dirinya di depan mata kita. Pada akhirnya kebersamaan yang selama ini kita jalin dalam dua purnama lebih akan berujung pada sebuah kata yang bernama perpisahan. Itu semua mesti kita jalani sebagai sebuah takdir kita dari Yang Maha Pemberi Hidup.
Kebersamaan yang mengukir memori kita menjadi sebuah prasasti indah dalam benak masing-masing. Tak lekang oleh waktu. Ia akan selalu ada. Kita akan selalu ingat pada tawa dan canda yang selama ini terurai di setiap saat. Kita akan selalu terkenang pada momen-momen indah di sini. Pada malam-malamnya. Pada siang-siangnya. Pada kantuk-kantuknya yang melangutkan jiwa. Pada inci demi inci ruang-ruang kelas kita.
Pada diktat-diktat tebal yang menumpuk. Pada tugas-tugas yang membebani pundak kita hingga turun ke bumi. Pada lirikan mata pujaan hati. Pada kantung-kantung yang semakin tipis di akhir bulan. Pada dentingan sendok dan piring saat sarapan dan makan malam di kantin. Pada ingatan-ingatan kampung halaman. Bahkan pada tetesan air mata yang jatuh. Semuanya membuat kenangan itu lebih berwarna lagi.
Kawan, tak perlu kita pungkiri. Di sana ada juga ranah untuk murka yang menjelma menjadi rahwana. Ada benih benci yang tiba-tiba muncul menjadi onak yang menyakiti kita. Tapi kita sadar, pada akhirnya itu juga adalah warna yang memperindah kenangan itu. Pada akhirnya benci itu luruh menjadi cinta pada kali ini. Jelang perpisahan.
Kawan, lalu kita ingat tentang sebuah perjuangan. Perjuangan yang membutuhkan pengorbanan. Kita ingat dulu, waktu kita berdesak-desakkan mengambil formulir pendaftaran dengan ribuan pendaftar lainnya. Lapar dan lelah kita abaikan. Hanya untuk sebuah masa depan. Lalu kita berkeringat dingin untuk dapat menjawab dengan benar semua pertanyaan yang ada dalam lembaran-lembaran soal. Lalu dahi kita berkerut hanya untuk membuktikan otak kita waras atau tidak. Lalu kita terbata-bata menjawab pertanyaan dari para pewawancara hanya untuk membuktikan bahwa kita layak menjadi bagian takdir masa depan Indonesia. Lalu hati kita yang berdebar-debar mencari sederet nama pemberian orang tua kita terpampang di papan pengumuman atau di layar monitor komputer sebagai orang yang berhak lulus.
Sebelumnya kita tahu, ada banyak doa yang menghunjam ke langit dan perut-perut lapar berpuasa agar Sang Maha Pengabul Segala Do’a memenuhi permintaan kita. Dan kita teringat pada wajah-wajah tua dan keriput yang mencintai kita dan tak pernah lupa menengadahkan tangannya pada Sang Maha Pemberi memohon kebaikan untuk kita semua
Kawan, coba bayangkan, andaikata bapak ibu kita hadir mendampingi kita hari ini. Bukankah kita melihat mereka begitu gembira. Hadirkan wajah mereka dan lihat, mereka, ayah ibu kita tersenyum bangga kepada kita. Seakan-akan terlepas satu beban berat yang membebani punggung mereka. Andaikata kita bertanya kepada mereka bagaimana harus membalas jasa yang amat besar yang telah mereka berikan untuk kita, mungkin kita akan melihat ayah ibu kita berurai air mata dan mereka akan berkata “Nak, kami tak butuh ganti rugi atas pengorbanan kami, karena itu adalah ketulusan cinta kami kepadamu. Melihat kamu sukses itu sudah cukup memberi kebahagiaan kepada kami,” dan mereka pasti berkata kepada kita “Kami hanya meminta, ketika usia kami sudah tua, tolong jangan lupakan kami.”*)
Ah, lalu kita pun cuma berdo’a, ” Ya Ilahi, ampunilah kedua orang tuaku, dan kasihilah
mereka sebagaimana mereka mengasihi aku diwaktu kecil.”
Cukupkah itu kawan?
Tidak! Tidak cukup! Perjalanan itu niscayanya tidaklah berhenti di sini. Masih panjang. Kita perlu membuktikan kepada mereka berdua bahwa kita memang layak menjadi kebanggaan mereka. Dan bukan untuk mempermalukan mereka karena wajah kita terpampang di layar televisi, ditonton jutaan mata penduduk republik ini karena tertangkap tangan oleh KPK menerima satu koper kertas merah bergambar Soekarno Hatta atau Hijau bergambar Benyamin Franklin. Tidak! Bukan untuk itu!
Tapi untuk menjadi seorang professional yang mempunyai integritas pada sebuah lembaga yang berusaha meninggalkan masa lalunya, mereformasi dirinya, menggapai cahaya di ujung terowongan gelap gulita. DE JE PE! Ya DJP. Dan kita akan katakan pada dunia nantinya, dengan lantang–tak perlu berbisik-bisik seperti yang biasa dilakukan pegawai pajak dulu—”kita adalah aparat pajak!”
Kawan, itu semua tak akan terjadi jikalau dari hati kita masing-masing ada kehampaan dari sebuah niat yang baik. Bukankah semua perbuatan itu tergantung dari niatnya? Maka sudah semestinya kawan, untuk memasukinya, untuk mengawalinya ada sebuah niat baik hanya karena Yang di Atas Semata. Bukan karena gengsi, bukan pula karena remunerasi, bukan pula untuk melanggengkan trah keluarga birokrasi, apatah lagi karena ingin korupsi. Aih, apa kata dunia?
Kawan, negara butuh kita. Negara butuh kejujuran kita. Dan rakyat telah menanti pelayanan kita di luar sana. Karena sejatinya kita bukanlah penguasa, bukan pula orang yang minta dilayani, tetapi kitalah yang melayani mereka. Kitalah khadimul ‘ummah, pelayan rakyat. Klise bukan? Seperti jargon masa lalu yang nihil pada tataran aplikasi. Sekarang, saatnya untuk membuktikan bahwa itu tidak klise. Bukan mengulang-ulang. Itu baru. Dengan jiwa baru, dengan semangat baru.
Ah, sudah cukup berbanyak kata, berpanjang kalimat, yang hanya menegaskan kita hanyalah sekumpulan orang yang banyak omong tanpa aksi. Inagurasi ini hanyalah satu lecutan cambuk helaan yang membuat kita bersemangat lari mengejar sebuah cita, sebuah asa yang masih ada. Bahwa Indonesia adalah negeri yang bebas dari noda hitam perilaku ketidakjujuran.
Itu dimulai dari kita sendiri, hal yang terkecil, dan saat ini.
Semoga.
***
riza almanfaluthi
14 April 2009
dedaunan di ranting cemara
*) Satu paragraf ini saya ambil dan edit dari seorang penulis di http://encung.multiply.com/journal/item/10
Add comment Tuesday, 21 April 2009
USTADZ DAN KELEDAI
USTADZ DAN KELEDAI
Malam ini saya bangun tidak biasanya. Pukul 01.40 WIB. Mungkin ini dikarenakan saya tidur tidak terlalu larut. Ada yang saya pikirkan memang. Sesuatu yang amat mengganjal dan ingin saya tuliskan di sini. Sebuah fenomena seminggu jelang pemilu 2009 yang dilakukan oleh para ustadz, guru, kyai, habib atau panggilan kehormatan lainnya dalam strata masyarakat kita kepada orang yang mempunyai kapasitas mengajarkan kebaikan atau nilai-nilai agama.
Tidaklah masalah bila mereka mengajak orang untuk memilih calon anggota legislatif (caleg) yang menurut mereka ideal. Karena banyak para caleg mendompleng ketenaran mereka. Ada poster caleg dari salah satu partai politik yang menampilkan tokoh-tokoh keagamaan mereka. Tidak masalah sih. Tapi sungguh ironi jika dengan menggencet saudara-saudara muslim lainnya. Dengan menyeru untuk tidak memilih partai ini dan partai itu. Orang ini dan itu. Dibilang pemerkosalah, antimaulidlah, antiyasinanlah, antitahlilanlah, munafiklah, dan masih banyak lagi yang lainnya di hadapan ribuan jama’ahnya.
Fitnah, cacian, makian, hinaan, gossip, ghibah pun bertaburan keluar dari mulutnya yang senantiasa menyenandungkan dzikir-dzikir maulid Nabi SAW. Apatah lagi dengan serius menyebarkan selebaran-selebaran fitnah itu di angkot-angkot kepada masyarakat umum. Ya Allah ya Robbi.
Aih…entah kemana ayat-ayat Al-Qur’an yang ia hafal dan ia berusaha transfer untuk ditiru oleh jama’ahnya. Bukankah seorang ulama hendaknya menunjukkan keteladanan dan ketinggian akhlak? Kalau saya jadi ustadz itu saya takut untuk melakukannya? Mengapa? Karena beberapa sebab ini:
Saya takut dengan apa yang saya lontarkan dari mulut saya dan belum jelas kebenarannya itu nanti akan menyebabkan banyak orang yang tersakiti dan terzalimi. Dan doa’ dari orang-orang yang terzalimi tidak ada hijab antara dirinya dengan Rabbnya.
Bukankah ayat-ayat Al-Qur’an sudah banyak menjelaskan cara-cara yang terbaik dalam menerima suatu berita, fatabayyanu, periksalah dengan teliti agar tidak terjadi suatu penyesalan.
Bukankah pula dalam kitab mulia itu kita sesama saudara beriman dilarang untuk merendahkan segolongan saudara-saudara kita yang lain dikarenakan belum tentu kita lebih baik dari mereka bahkan bisa jadi kita lebih buruk dari mereka.
Bukankah sudah dibilang pula bahwa kita kudu menjauhi kebanyakan purba sangka, karena sebagian purba sangka adalah dosa Dan janganlah mencari-cari keburukan orang dan janganlah menggunjingkan satu sama lain. Adakah seorang diantara kita yang suka memakan daging saudaranya yang sudah mati? Maka tentulah kita merasa jijik kepadanya.
Saya khawatir ketika saya melakukan semua fitnahan itu, cacian itu, hinaan itu, ejekan itu maka ketika itu tidak benar dengan apa yang saya tuduhkan maka semuanya akan kembali kepada diri saya lagi. Na’udubillah.
Sahabat Ibnu Umar ra berkata: Rasulullah saw pada suatu ketika naik mimbar, lalu dengan suara lantang beliau memanggil: “Wahai orang yang beriman hanya dengan lisan, dan perkataan iman itu tidak sampai di hati, janganlah kamu menyakiti kaum muslimin dan jangan pula membuka rahasia mereka. Barangsiapa membuka rahasia sesama muslim, maka Allah akan membuka rahasia dirinya. Dan barangsiapa suka membuka rahasia orang lain, pasti rahasia dirinya akan terbuka dengan lebih keji sekalipun rahasia itu berada di dalam perut binatang kendaraannya.” (HR. Tirmidzi).
Dan terakhir yang saya takutkan adalah hisab di yaumil akhir, ketika optimis tiket ke surga sudah ada di tangan dan tinggal berusaha melangkahkan kaki saya ke surga-Nya Allah ternyata dihambat dengan tuntutan dari banyak orang yang disakiti dengan lisan saya waktu di dunia. Akhirnya pengadilan yang sebenar-benarnya pengadilan itu akan bertambah lama lagi di sana. Satu hari di sana seperti 1000 tahun di dunia. Allah Karim.
Ya Allah saya hanya meminta kepada-Mu janganlah engkau jadikan aku keledai yang menggendong banyak kitab di atas punggungnya, atau seperti manusia yang banyak hafalan ayat Alqur’an dalam tempurung otak tetapi tidak diamalkan. Bukankah murka-Mu sungguh besar?
Hasbunallah wa ni’mal wakiil… Cukuplah Allah menjadi Penolong kami dan Allah adalah sebaik-baik Pelindung.
Ni’mal maula wani’mannashiir… Dia adalah sebaik-baik Pelindung dan sebaik-baik Penolong.
***
Maraji’: 3-173 dan 8:40 serta 22:47
riza almanfaluthi
dedaunan di ranting cemara
catatan sepertiga malam terakhir
03:00 04 April 2009
1 comment Monday, 6 April 2009
JANGAN KAYAK ANJING
JANGAN SEPERTI ANJING YANG MEMAKAN MUNTAHANNYA
Dir, seorang al-akh dari kami, hidupnya serba kekurangan. Sampai ia punya anak lima tak punya rumah untuk ditempati. Selama ini ia hanya menempati rumah yang tidak ditinggali oleh al-akh yang lainnya. Tapi hafalannya banyak, juga aktivitas dakwahnya jangan ditanya. Ia siap untuk berkeringat bahkan berdarah-darah kalau diminta untuk memasang panji-panji dakwah di seantero Pabuaran.
Suatu ketika ia terpaksa untuk menjual telepon genggamnya (HP) untuk sekadar menyambung hidup. Otomatis banyak al-akh yang membutuhkan tenaganya tidak bisa menghubunginya. Komunikasi pun terputus berbulan-bulan. Alhamdulillah ada dana dari kami—tepatnya dana dari teman kami di Jakarta guna kepentingan dakwah di Pabuaran—untuk membelikannya sebuah HP murah. Yang terpenting ia bisa dihubungi dan kembali beraktivitas kembali untuk dakwah.
Lalu kami serahkan HP baru itu kepadanya. Beberapa minggu sebelumnya tanpa sepengetahuan kami ternyata Akh Dir juga sudah menerima pemberian al-akh lainnya sebuah HP untuk digunakan olehnya. Walhasil ia memiliki dua HP saat ini.
Senin pagi, hari libur memperingati Maulid Nabi Muhammad SAW, ada sebuah syuro ikhwah Pabuaran. Di sana tercetus ide dari saya untuk meminta kembali HP tersebut darinya dan diberikan kepada al-akh lainnya yang kebetulan hilang dua hp yang ia miliki saat sholat Jum’at di Istiqlal. Karena saya berpikir HP itu adalah untuk kemaslahatan dakwah maka demi kemaslahatan dakwah yang lebih luas lagi maka HP itu akan lebih berguna lagi di tangan al-akh yang lainnya. Pun, saya berpikir Al-Akh Dir masih punya HP yang satunya lagi. Tapi syuro tidak mengagendakan ide saya ini sampai ke sebuah keputusan. Tidaklah mengapa bagi saya.
Siangnya saya tidur siang. Baru kali itu selama tiga hari libur panjang saya menyempatkannya. Sore hari saya bangun. Sambil masih terbengong-bengong karena kesadaran belum juga penuh—mungkin ruh saya yang bepergian selama tidur tadi belum sepenuhnya merasuki tubuh—saya duduk di meja makan. Di sana ada kitab Riyadhus Shalihin jilid 2 karangan Imam Nawawi. Iseng saya membukanya. Sekali buka mata saya langsung terantuk pada sebuah judul subbab dalam kitab itu. Subhanallah. Apa coba?
Judulnya? Makruh Menarik Kembali Sesuatu Yang Telah Diberikan. Hurufnya kapital semua dan ditebalkan. Saya membaca dua hadits Rasulullah SAW yang ada di sana. Berikut haditsnya:
Dari Ibnu Abbas ra. bahwasanya Rasulullah saw bersabda: “Orang yang menarik kembali pemberiannya, bagaikan anjing yang memakan muntahannya.” (HR. Bukhari dan Muslim). Dalam riwayat lain dikatakan: “Perumpamaan orang yang menarik kembali sedekahnya, bagaikan anjing yang muntah kemudian mencari kembali tumpahannya (muntahannya) lantas dimakannya.” Dalam riwayat lain dikatakan: “Orang yang menarik kembali pemberiannya adalah bagaikan orang yang memakan muntahannya.”
Hadits lainnya. Dari Umar bin Khaththab ra. ia berkata: “Saya menyedekahkannya seekor kuda kepada seseorang yang berjuang di jalan Allah, tetapi kuda itu disia-siakan olehnya, maka saya bermaksud membelinya dan saya berprasangka bahwa ia mau menjualnya dengan harga murah, kemudian saya menanyakan hal itu kepada Nabi saw., beliau lantas bersabda: “Janganlah kamu membeli dan janganlah kamu menarik kembali sedekahmu itu, walaupun ia memberikan kepadamu dengan harga satu dirham, karena sesungguhnya orang yang menarik kembali sedekahnya, bagaikan orang yang memakan kembali muntahannya. (HR. Bukhari dan Muslim)
Coba bayangkan anjing yang sedang memakan muntahannya. Jijay banget gitu lohhhh (tolong mengucapkannya dengan gaya anak muda zaman sekarang, o-nya diperlebar, h-nya dipanjangkan agar terdengar desahannya). Bahkan kalau membeli kembali sedekah yang kita berikan pun dianggap sama dengan laku binatang tadi.
Benar-benar nih Allah memberi teguran kepada saya langsung. Pas banget. Pagi bicara masalah ini. Sore ditunjukkan jalannya. Sekali kebet. Ada dua peringatan itu. Ustadz yang ada di sono pernah bilang, “jangan berlebihan dengan sesuatu yang mubah karena akan menjerumuskan diri kepada hal yang makruh. Jangan berlebihan dengan sesuatu yang makruh karena akan menjerumuskan diri kepada hal-hal yang haram.” Nah loh…
Satu saja dari saya akhirnya: “jangan kayak anjing”.
riza almanfaluthi
dedaunan di ranting cemara
17:41 09 Maret 2009
maulid nabi muhammad saw
3 comments Tuesday, 10 March 2009







